Pada dasarnya kontrak itu mengalihkan resiko dari Client ke Kontraktor. Kontrak yang baik akan mengalihkan resiko-2 kepada pihak yang paling mampu untuk mengatasinya (Client / Kontraktor). Alokasi resiko yang tidak tepat, akan menghasilkan banyak surprise atau dispute waktu pelaksanaan. Untuk contoh, Client ingin membangun Chemical Warehouse baru di existing facility. Estimasi Client, nilai proyek adalah USD 5 juta + nilai pekerjaan engineering USD 500 ribu.

Tanya – kristiawan

Rekan Migas,

Mau diskusi tentang alokasi resiko dalam kontrak, dimulai dari kutipan e-mail dibawah :

‘Kalau menurut logika saya, krn FEED engineering bukan scope EPC (dimana “E” adalah detail engineering) , mestinya Kontraktor bisa back charge ke Klien, dan klien bisa back charge ke perusahaan FEED Engineering yang membuat kesalahan. Itu lebih adil. Kalau tidak bisa di back charge, keenakan dong perusahaan FEEDnya?’

Pada dasarnya kontrak itu mengalihkan resiko dari Client ke Kontraktor. Kontrak yang baik akan mengalihkan resiko-2 kepada pihak yang paling mampu untuk mengatasinya (Client / Kontraktor). Alokasi resiko yang tidak tepat, akan menghasilkan banyak surprise atau dispute waktu pelaksanaan.

Untuk contoh, Client ingin membangun Chemical Warehouse baru di existing facility. Estimasi Client, nilai proyek adalah USD 5 juta + nilai pekerjaan engineering USD 500 ribu. Sekarang lihat skenario penawaran yang diajukan Kontraktor Engineering untuk 2 kondisi resiko kontrak yang berbeda :

Kontrak Kondisi 1 :

‘…, bila terjadi kegagalan konstruksi, Kontraktor bertanggung jawab untuk memperbaiki design yang salah. Client akan bertanggung jawab untuk pengadaan material dan pekerjaan konstruksi’.

Dengan kondisi ini, Kontraktor akan menghitung biaya manhours ( incl. allowances & contingency ) + profit, mengajukan penawaran misalnya USD 500 ribu.

Kontrak kondisi 2 :

‘…, bila terjadi kegagalan konstruksi, Kontraktor akan bertanggung jawab untuk memperbaiki design yang salah, procurement dan konstruksi baru untuk kegagalan tersebut’.

Setahu saya tidak ada asuransi untuk pekerjaan profesi (design oleh engineer atau malpraktek oleh dokter – CMIIW). Jadi worst scenario, untuk meng-cover resiko, Kontraktor akan mengajukan penawaran USD 5.50 juta hanya untuk men-design Chemical Warehouse … :-). Tapi umumnya Kontraktor akan menolak untuk mengajukan penawaran jika menemui resiko kontrak yg terlalu besar.

Biasanya kontrak engineering akan meminta Kontraktor untuk menghitung resiko yang berkaitan dengan manhours saja, tidak lebih.

Adakalanya, Client ingin Kontraktor bertanggung jawab untuk kesalahannya. Meneruskan contoh diatas, Client mencantumkan clause ‘limit of liability’ berikut pada tender pekerjaan konstruksi :

‘Kontraktor bertanggung jawab atas kerugian/kerusakan yang dialami Client akibat kegiatan konstruksi. Nilai total penggantian kerugian oleh Kontraktor dibatasi sejumlah 10% nilai kontrak’.

Resiko yang terbatas ini masih memungkinkan Kontraktor untuk mengajukan harga penawaran yang wajar, misalnya Kontraktor mengajukan penawaran USD 5.50 juta untuk pekerjaan konstruksi.

Jika pada saat konstruksi kompor sang Kontraktor meledak dan api menghanguskan existing facility senilai USD 750 juta, Kontraktor akan mengganti kerugian sejumlah USD 550 ribu (~10% nilai kontraknya). Sisa kerugian umumnya akan dicover oleh asuransi yang dimiliki oleh Client untuk facility tersebut.

Ada yang mau menambahkan ?

Tanggapan 1 – Firdauzi

Rekan2,

Ikut nimbrung masalah alokasi resiko dalam kontrak, kebetulan saya dari sisi klien.
Terkadang project team mengetahui risk terkait masalah seperti ini. Dalam penyusunan kontrak biasanya kita mengalokasikan resiko ke kontraktor, pada saat bidding kontraktor yg teliti akan menemukan hal ini dan akan mengeluarkan banyak klarifikasi. Terkadang lsg dengan solusi praktis, dan semua resiko yang diketahui akan dimasukan dalam harga penawaran. Dan klien harus mampu menjelaskan resiko ini ke semua bidder.
Pada intinya kemampuan pemahaman kontrak di kedua sisi akan mempengaruhi penyelesaian masalah. COMPANY akan selalu mentransfer resiko ke CONTRACTOR, dan CONTRACTOR akan mentransfer resiko ke COMPANY atau nge back charge lewat change order.

Untuk masalah kesalahan FEED, saya setuju dengan pak Darwis. Memang dari sisi kontraktual kewajiban kontraktor berakhir di submission final documentation, kecuali kalau kita menempatkan klausal design defect dengan periode waktu tertentu yang pasti akan membuat unit rate dia lebih tinggi.
Semoga dapat membantu. Thanks

Tanggapan 2 – Moh Darwis

Dear All,

Mau comment related statement dibawah ini :

‘Kalau menurut logika saya, krn FEED engineering bukan scope EPC (dimana “E” adalah detail engineering) , mestinya Kontraktor bisa back charge ke Klien, dan klien bisa back charge ke perusahaan FEED Engineering yang membuat kesalahan. Itu lebih adil. Kalau tidak bisa di back charge, keenakan dong perusahaan FEEDnya?’

Menurut saya, kita tidak bisa menyalahkan perusahaan pembuat FEED-nya. Yang perlu disalahkan adalah kliennya. Selama pembuatan FEED, klien harus supervisi apakah design yang dikerjakan sudah follow standard dan keinginan klien. Begitu pula pada saat Conseptual Study (before FEED dilakukan) dan phase Detail Engineering. Jadi Klien harus terus supervisi terus sejak Conseptual Study, FEED, Detail Engineering, Construction, Pre-Commissioning, Commissioning, Start-up hingga dioperasikan.

Pada dasarnya Klien-lah yang mengetahui lebih detail tentang apa yang akan dibuat.
Mereka-lah owner facility tsb, mereka mengetahui dan memiliki data-data perilaku dari facility tsb. Jadi diperlukan personal di pihak klien yang benar-benar menguasai apa yang akan dibuat, baik di team Conseptual Study, FEED, Detail Engineering, Construction, Pre-Commissioning, Commissioning, Start-up dan Operation.

Kontraktor (engineering consultant yang membuat FEED maupun kontraktor EPC-nya) hanya melakukan apa yang diinginkan Klien. Jika tidak ada comment dari Klien untuk suatu hal yang dikerjakan, Kontraktor akan terus continue untuk finishing project tsb.

Untuk mencegah banyaknya perubahan di fase detail engineering, fase Conseptual Study & FEED-nya harus sudah matang. Untuk itu diperluakan personal yang mumpuni dari kedua belah pihak pada saat pembuatannya, yaitu klien dan perusahaan yang membuat Conseptual Study & FEED-nya.

Tanggapan 3 – syadli

Kalaw menurut sy kita harus kembali ke klausul kontrak Pak. Biasanya ada masa edorsement dan certificate yg melimpahkan tanggung jawab basic engineering ke EPC kontraktor sehingga setiap kesalahan dr basic engineering yg ditemukan belakangan hari akan menjadi tanggung jawab kontraktor.
Dalam masa endorsement ini kontraktor bs saja mengklaim apabila ditemukan discrepany dengan SoW, tp setelah masa ini lewat semua defect basic engineering akan menjadi tanggung jawab kontraktor.
Apabila dlm kontrak tersebut tdk ada masalah endorsement, maka kita perlu melihat lagi ke bagian lain yg menjelaskan split tanggung jawab terhadap engineering. Kalau memang tdk jelas diatur mengenai hal ini terpaksa perang urat syaraf biar gak rugi
:).

Kontrak seharusnya dibuat sejelas2nya supaya bisa menghindarkan dispute dan setiap kemungkinan dispute harusnya diklarifikasi pada masa bidding sehingga belakangan hari tdk merugikan kedua belah pihak.
Dan salah satu yg terpenting adalah meng-attach semua point2 klarifikasi ini dlm final document contrac sehingga merupakan bagian dr keseluruhan document contract yg mengikat. Selain itu kalau org yg ngurusin bidding resign msh bs kita trace dengan baik ;).

Tanggapan 4 – Moh Darwis

Dear Pak Syadli,

Setuju dengan pendapat Bapak. Ada masa endorsement, dimana kontraktor dipersilahkan untuk review semua document. After that, semua menjadi responsibility kontraktor. Untuk itu diperlukan personal yang sudah experience di dalam project dan bisa menangkap apa saja yang harus diconsider carefully.

Tetapi tentunya klien tidak mau spekulasi dengan membiarkan (tidak care) hal-hal yang masih meragukan yang di kemudian hari akan menjadi bumerang buat project. Ini berdampak ke schedule, buyer dll.
Untuk itulah biasanya selalu diadakan HAZOP di setiap fase (FEED, Detail Engineering) untuk meminimize kesalahan yang mungkin terjadi. Bahkan pada sebuah Oil & Company, ada PTR – Project Technical Review yang juga diadakan setiap fase yang tujuannya untuk meminimize kesalahan yang mungkin terjadi. Mirip HAZOP, tetapi lebih luas lagi dan hanya di-attend by Personal dari Klien (Engineering Team, Construction Team, Operation, Start-up Team).
Jadi, kontrolnya ada di pihak klien. Klien-lah yang pro-aktif untuk control di setiap fase project agar semua berjalan seperti yang diharapkan.

Tanggapan 5 – Bambang Cahyono

Pak, bukannya kalau ada revisi biasanya material dan job revisi dicharge lagi ke klient, karena sudah diluar kontrak. biasanya job2 revisi ini kami kumpulkan dan kami charge ke klient.

Tanggapan 6 – Sukra Arnaldi Ahda

Pak Bambang,

Apakah proyek bapak menggunakan kontrak EPC?

Kalau bukan EPC memang revisi bisa diklaim, dimana skop engineering bukan skopnya kontraktor. Disektor property/building seperti ini kontraknya.