Mohon informasi apakah normal saat ini, bahwa dalam project Migas requirement Operation dioutsource ke kontraktor? Dan apakah saat ini sudah tersedia kontraktor yang berkecimpung di bidang Opeations Services Consulting?

Tanya – Machmud Riyadh

Migas Expert,

Mohon informasi apakah normal saat ini, bahwa dalam project Migas requirement Operation dioutsource ke kontraktor? Dan apakah saat ini sudah tersedia kontraktor yang berkecimpung di bidang Opeations Services Consulting?

Terima kasih banyak sebelumnya.

Tanggapan 1 – slamet supriyadi

Dear Kang Machmud Riyadh,

Saya rasa sudah terjadi. Contoh BP laut jawa. Mereka sudah dapat kontrak perpanjangan 5 tahun ke depan. Scope of work-nya anda bisa tanyakan ke orang2 yang berkepentingan Kontraktor yang menangani adalah PT. Indoturbine utk O&M.

Semoga informasi ini valid adanya.

Tanggapan 2 – Satyo Hadi Wibowo

Met siang cak machmud, lama tidak jumpa.

Mengenai pertanyaan bapak bahwa operation dioutsource ke kontraktor memang ada. Misalnya PLTG Sengkang Sulsel dimana Client menggunakan PT. Alstom untuk maintenaince & Operator. Mengenai normalnya ya Saya kira biasa saja tidak masalah. Tergantung Clientnya yang menggunakannya.

Tanggapan 3 – Machmud Riyadh

Hallo juga Mas Satyo,

Mengenai contoh PLTG Sengkang, saya melihatnya kurang tepat, karena PLTG adalah downstream / user dari Migas product. Bukan producernya. Untuk user Migas product memang banyak scheme outsource seperti ini. Yg jadi pertanyaan saya adalah apakah hal ini juga terjadi pada industri producer Migas yg notabene kebanyakan adalah PSC?

Tanggapan 4 – Renaldi Faizal

Pak Machmud,

Mungkin bisa check beberapa link berikut:

1. http://www.fpsoventures.com

2. http://www.bakerenergy.com

Semoga berguna…

Tanggapan 5 – Teguh Santoso

Ada lagi yang PSC cuma sampai drilingnya saja, sedangkan produksinya (alat dan orangnya) di kontrakkan ke PT lain. Jadi pemilik ladangnya pertamina join PSC dengan kontraktor A (assetnya sampai ke X-mast treesaja ), untuk menghemat modal maka kontraktor ini sewa pemilik fasilitas produksinya yaitu B dengan skema tol fee. sedangkan tenaga kerja ambil dari perusahaan lain lagi C. Nah, menghitung cost recoverynya gimana ya? kalau semua sewa, setelah kontrak selesai pertamina dapat warisan asset apa ya?

Tanggapan 6 – Machmud Riyadh

Pak Teguh,

Itu yang ada di pikiran saya juga. Dan bagaimana dengan kebijksan BPMIGAS sendiri? Mohon penjelasan bagi Bapak/Ibu yang seudah pernah atau sedang menangani kasus seperti ini.

Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 7 – slamet supriyadi

Dear All,

Hanya sekedar sharing,

Bisnis macam ini memang sedang popular.
Dalam terminologi yang lain (negative) bisa diartikan bisnis hit, hide and run atau lempar batu sembunyi tangan.

Pihak yang tidak teliti terhadap detail contract (scope of work) akan dirugikan.
Apalagi jika orang2 yang terlibat tidak mempunyai integritas yang tinggi.
Ending-nya mungkin akan ada orang yang dipenjara bila pihak yang dirugikan membawa kasus ke pengadilan. Pihak End User sendiri tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang di declare di kontrak !

Sangat menarik bila ada member MIGAS yang berminat untuk sharing dokument
Service Contract semacam ini. Sejauh mana celah yang bisa dikurangi oleh End User untuk me-review Contract kerja.