Cara terbaik dalam memberikan jarak aman dari pipeline (baik yang tertanam maupun yang ada dipermukaan) adalah dengan melakukan risk assessement. Hasil risk assessment ini dalam bentuk Risk Transect (banyaknya kematian / yr) yang sejatinya harus memenuhi regulasi yang berlaku di negara setempat – di UK misalnya resikonya harus di bawah 10E-04 kematian akibat pemasangan pipa/tahun untuk publik.

Sayangnya, untuk indonesia, tidak ada ketentuan mengenai aggregate risk sama sekali untuk fasilitas proses.

Tanya – Haryo Bawono

Rekan-rekan.

Mohon pencerahan mengenai ‘Jarak Aman untuk Pipa Penyalur Gas’.

1. Faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam menentukan jarak aman untuk Pipa Penyalur Gas.

2. Apakah ada Standard/ Kriteria yang mengatur hal tsb, sementara ini saya masih mengambil referensi dari SK Menteri Pertambangan dan Energi No.300.K/38/M.PE/1997 Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak Dan Gas Bumi.

Apakah ada sumber referensi lain?

Tanggapan 1 – Admin Migas

Coba lihat keputusan Ditjen Migas No. 84.K/38/DJM/1998 dan PTK BPMIGAS No. 012/PTK/II/2007. Tapi didalamnya juga mengacu pada Standard ANSI/ASME B-31.4 & B-31.8, ISO 13623, API 1104 dan API 1107.

Tanggapan 2 – Didik Pramono

Pak Haryo,

Menambahkan yang disampaikan Pak Budhi.

Untuk instalasi pipeline yang menggunakan (termasuk crossing) daerah milik jalan dan jalur kereta api, coba lihat PP No.34 tahun 2006 tentang ‘jalan’ dan Kepmenhub No.KM 53 tahun 2000 tentang ‘perpotongan dan/atau persinggungan antara jalur kereta api dengan bangunan lainnya’.

Untuk instalasi pipeline yang berdekatan (termasuk crossing) dengan jalur SUTT/SUTET, coba lihat Kepmen ESDM No.1457K/28/MEM/2000, Lampiran V tentang ‘kriteria tata ruang aspek pertambangan dan energi’ dan SNI 04-6918-2002 tentang ‘ruang bebas dan jarak bebas minimum pada SUTT dan SUTET’.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Dear haryo,

Cara terbaik dalam memberikan jarak aman dari pipeline (baik yang tertanam maupun yang ada dipermukaan) adalah dengan melakukan risk assessement. Hasil risk assessment ini dalam bentuk Risk Transect (banyaknya kematian / yr) yang sejatinya harus memenuhi regulasi yang berlaku di negara setempat – di UK misalnya resikonya harus di bawah 10E-04 kematian akibat pemasangan pipa/tahun untuk publik.

Sayangnya, untuk indonesia, tidak ada ketentuan mengenai aggregate risk sama sekali untuk fasilitas proses.

Tanggapan 4 – Akh. Munawir

Mas DAM,

Jika resikonya di bawah 10E-04 kematian/year, artinya tiap 10rb tahun sekali ada yang mati satu karena pemasangan pipa tsb.
Nah, kenapa ya mereka (UK) tidak bikin resiko 1 kematian / umur desain pipa (atau lebih sedikit) ?

Terima kasih tanggapannya.

Tanggapan 5 – peddy nesa

akan muncul juga pertanyaan yg sama seperti didunia aircraft risk acceptancenya 1E-09 fatality/yrs kenapa dibuat juga seperti ini…

Tanggapan 6 – Akh. Munawir

Tetapi tentu ada jawabannya kan?

Tanggapan 7 – Roslinormansyah

Untuk memastikan tingkat frekuensi memang harus ada data yang konkret. Tidak boleh asumsi. Cak DAM itu hanya ngasih contoh aja. Coba search ke CSB, atau MHSA atau OSHA untuk melihat ada tidaknya data kejadian tentang incident pipa gas yang menyebabkan LTI atau Fatality.
Khusus untuk penerbangan, bisa singgah di FAA atau NTSB….

Selamat berburu data dan meramu frekuensi….

Tanggapan 8 – Akh. Munawir

cuma frekuensi ya? konsekuensi apa ga punya value?

bukankah resiko sama dengan frekuensi dikalikan konsekuensi hingga didapatkan nilai resiko?

penting untuk tahu sejarah dan saya sangat sering belajar dari sejarah oleh karenanyalah saya bertanya kenapa/apa sejarahnya UK mematok max. risk value spt itu.

Tanggapan 9 – Roslinormansyah

Ya pastinya konsekuensi juga dihitung Gus Munawir. Kalo konsekuensi mah lebih gambang karena bisa dimodelkan entah pakai manual atau software. Yang agak rumit itu menentukan ‘frekuensi’ karena rata-rata berbasis data.
Untuk resikonya ya tinggal lihat Guidance Risk dari company-nya aja.

Tanggapan 10 – Crootth Crootth

Mas Munawir yang baik

Konsep risk di tiap negara sungguh berbeda beda. Agar fokus diskusinya, mari kita pake saja UK sebagai acuan.

Saya kira akan sangat panjang bila saya harus menjelaskan di sini mengenai sejarah kenapa HSE UK mencantumkan frekuensi kematian 1x10E-04/yr sebagai ambang.

Sejarah penentuan ambang ini lebih tua dari usia saya bahkan, di mana pada tahun 1961 Factories Act di UK pertama kali mengutarakan konsep ALARP.

Untuk jelasnya silahkan baca dengan seksama dua dokumen di bawah ini:

1. R2P2 (reducing risk protecting people) http://www.hse.gov.uk/risk/theory/r2p2.pdf

2. The tolerability of risk from nuclear power stations, HSE-UK baik edisi pertama 1988 dan edisi kedua 1992.

Segera setelah Mas Munawir membaca dua dokumen di atas mungkin diskusi akan berjalan lebih menarik.

Selamat membaca.

Tanggapan 11 – Akh. Munawir

Mas Gharonk yang terhormat,

Terima kasih sharing reference yang diberikan,
Besar keinginan menambah wawasan untuk membacanya, tetapi kesibukan pekerjaan membuat untuk sementara menunda membaca mereka.

Setelah menulis imel sebelumnya, saya kemudian menyadarii bahwa failure tdklah hanya berasal dari single origin (e.g umur operasi pipa/instalasi), tetapi berasal dari banyak origins (i.e design, installation, maintenance, modification after commisioning, natural disaster, upleasent people behavior, etc) dan process sequence dari unexpected initial condition/fail hingga Accident dan perkalian dari tiap probability of event/fault kemudian didapatkan Probability of Accident/Fatality.
Dan kemudian faktor uncertainty yang di-consider dalam perhitungan diatas dan kemudian didapatkan 1x10E-4 sebagai acceptable/reasonable angka kematian per-tahun utk Instalasi Pipeline di UK.

Karena kurang banyak membaca, mohon dikoreksi jika keliru.

Tanggapan 12 – Haryo Bawono

Mas Garonk, Mas Munawir…..

Oke, kesimpulannya memang perlu Risk Assessment
Untuk Indonesia, apakah ada standard baku (pemerintah) yang mengatur Risk Assessment?

bagaimana dengan SK Mentamben No.300.K/38/M.PE/1997 apakah bisa kita gunakan sebagai referensi praktis? dalam Lampiran-2 (terlampir) SK tsb sudah mengatur jarak aman minimal dengan mempertimbangkan diameter dan operating pressure dari pipeline.
mengingat perilaku masyarakat kita sendiri yang (banyak) belum sadar atas HSE jika hidup berdampingan dengan jalur pipa gas.
meski sudah ada papan peringatan, terkadang masih mendirikan warung diatas ‘gelaran’ pipa gas tsb hehehe.
Mohon pencerahannya.

Tanggapan 13 – Akh. Munawir

Mas Haryo,

Jadi balik bertanya, apa objective pekerjaan tersebut ?

Apakah hanya sekedar menggugurkan kewajiban dgn mengikuti regulasi/standard ataukah memang serius & comprehensive utk mengkaji dgn kondisi yang ada dilapangan sblm eksekusi agar Zero Accident sbg Goal-nya bisa tercapai.
Pilihan mana pun dari keduanya adalah benar dan tergantung dari prespektive mana anda/perusahaan melihatnya.

Saya berpendapat mas DAM mengusulkan alternative cara yang lebih baik dan membuka wawasan yang lebih luas dengan do the risk assessment dari pada hanya sekedar following the regulation/standard untuk menyelesaikan permasalahan. Setidaknya itu akan menaikan faktor kepercayaan diri dalam memberikan angka required min. distance.
Selain itu saya yakin final recommendation-nya pun tidak akan mengabaikan min. distance yang tertulis/ditentukan oleh government regulation/standard.

Tanggapan 14 – Crootth Crootth

Mas Haryo,

Benar yang dikemukakan Mas Munawir, yang saya usulkan (melakukan risk assessment) adalah untuk maksud: ‘Beyond regulatory compliance’ atau ‘melampaui apa yang dipersyaratkan peraturan’. Sayang memang negara ini belum mengatur risk assessment, bahkan absen dalam persyaratan ‘pengurangan resiko, melindungi masyarakat’ (R2P2 a la
Indonesia). Jika mas haryo rajin ke Gresik, coba tengok pipa-pipa penyalur gas bawah tanah yang mengalir menuju PLN Gresik, silahkan dinilai sendiri resikonya..

Tanggapan 15 – Haryo Bawono

Mas Munawir,

Saya ingin menentukan seberapa luas tanah yang perlu saya bebaskan untuk ‘gelaran’ pipa gas tsb.
Sehingga kedepannya tidak terjadi Accident dan tentunya mengikuti regulasi yang ada.
Olehkarenanya saya pergunakan SK Mentamben tsb sebagai referensi praktis.
Ada saran?

Thanks atas tanggapannya.

Tanggapan 16 – Akh. Munawir

Sulit mas kasih saran krn blank ttg informasi pekerjaannya.
Tetapi anda perlu berhati-hati untuk menggelar pipa yg berada dilokasi keramaian (e.g pemukiman, sekolahan, pasar, jalan raya, rumah sakit, pedagang LPG, warung makan, dst) .. jarak lebih jauh akan lebih aman jika terjadi leak dan kebakaran/ledakan.