Tidak semua Rig China performancenya tidak bagus. Biasa, dari China pasti ada KW1, KW2 dan KW3. Bahkan banyak Rig China dilengkapi dengan Auxiliary Equipment buatan US.
Dan Nabors, salah satu Drilling Contractor terbesar didunia menggunakan Rig China lebih dari 100 Units. Tiga component penting yang akan mempengaruhi performance adalah : 1. Rig itu sendiri;
2. Drilling Contractornya.

Pembahasan – pudjo sunarno

Sebenarnya tidak semua Rig China performancenya tidak bagus. Biasa, dari China pasti ada KW1, KW2 dan KW3. Bahkan banyak Rig China dilengkapi dengan Auxiliary Equipment buatan US.
Dan Nabors, salah satu Drilling Contractor terbesar didunia menggunakan Rig China lebih dari 100 Units.

Tiga component penting yang akan mempengaruhi performance adalah :

1. Rig itu sendiri

2. Drilling Contractornya

Mungkin masih ada yang lain bisa dishare. Semoga bisa bermanfaat.

Reiski Naserra

Memang banyak Rig China yg di lengkapi Auxiliary made in US. Tapi bila kita lihat Rig China ini Rate Daily cost nya bisa di bawah pasaran (mungkin drilling contractornya dari china juga) sehingga di tahun-tahun pertama sampai ketiga performance memang masih bagus karna kondisi equipment masih baru atau refurbish tetapi ditahun berikutnya akan perlahan-lahan menurun dikarnakan dengan rate cost yg rendah sehingga maintenance menjadi menurun dan juga performace dari crew nya diambil yg ingin digaji murah sehingga kualitas dari crewnya juga menurun.

Koreksi bila saya salah..

Ardianto H

Saya bertahun tahun nangani rig contract terutama sejak pertama kali Rig China mulai masuk ke Indonesia beberapa tahun lalu.

Kesimpulan yang bisa saya petik (pendapat pribadi) adalah banyak operator rig non china yang langsung gerah karena offer daily rate yang diajukan jauh dibawah pasaran. Akibatnya, selalu saja dikutak katik mengenai performance rig, kemampuan operator mengoperasikan rig baru china tsb, safety, equipmentnya non API standard dll. Celakanya lagi, perusahaan tempat kita bekerja sudah American Minded, jadi belum dicoba sudah dijelek jelekkan dulu karena nggak pakai standard yang sama.

Ini murni masalah bisnis, semakin banyak Rig China masuk, semakin tergusur Rig yang Non China. Kalau downtime sehari saja diekspose besar sekali sedangkan yang Rig Non China meskipun downtime seminggu dianggap biasa saja. Seharusnya kita tidak terlibat dalam hal politis bisnis seperti ini. Rig yang non Chinapun banyak juga yang amburadul.

Frans Tommy

Nambahkan sedikit, maaf kalau permasalahannya sudah agak lama.

Saya setuju dengan pendapat pak Pudjo yang mengatakan ‘Performance rig tergantung dari si Drilling Contractor-nya’. Kalau saya tegaskan lagi, tergantung dari Sistem Management si Drilling Contractor. Sistem Managementnya antara lain: HSE, Ketenagakerjaan, Maintenance dan masih banyak lagi. Kalau kita cari tahu lebih jauh lagi, ada juga rig non China yang beroperasi di Indonesia kehilangan kontraknya (putus kontrak sebelum habis masa kontrak) karena tidak sanggup memenuhi tuntutan client.

Saya juga setuju dengan pendapat pak Ardianto yang mengatakan bahwa ‘ada indikator bisnis sehingga menjelek-jelekan produk China’ dan ‘Adanya non China Minded’, dan itu semua demi kepentingan bisnis.

Ada beberapa kekurangan rig China yang menjadi kelebihan rig non China, seperti: Spare part rig china umumnya umur pakainya lebih pendek (harganya juga tentu lebih murah) dan ada bagian peralatan nya yang tidak standard API sehingga sulit untuk mencari spare part (biasanya dibubut).
Kelebihan rig China yang menjadi kekurangan rig non China: Lebih innovativ (seperti drilling console yang computerize dan dapat diprogram), Sistem mechanical dan electrical-nya lebih sederhana dan yang pasti harganya yang lebih murah.

Kalau soal tarif sewa, belum tentu rig non china disewa lebih mahal daripada rig china ataupun sebaliknya. Itu semua kembali kepada management drilling contractor dan yang pasti target bisnis masing-masing drilling contractor.

Kiranya apa yang saya tambahkan dapat berguna bagi rekan sekalian.