Catamaran floatover umumnya digunakan untuk single shaft stucture seperti monopod, condeep dgn monocaisson atau spar. Practically catamaran float over hanya ekonomis dan safe jika dilakukan pada saat laut tenang dan berjarak dekat dari lokasi loadout. Akan tetapi dengan tersedianya falisitas simulasi seperti yang ada di STS Roterdam, catamaran float over ini dapat dilakukan dengan aman.

Tanya – Gamayoga

Bapak-bapak/mas2, apa ada yang pernah mengerjakan ataupun menemui kasus instalasi deck menggunakan metode floatover dengan 2 barge?
mohon penjelasannya mengenai kasus tersebut. apa dapat d analisa menggunakan Moses mengenai motion dan stabilitasnya. apabila diperkenankan, perusahaan mana yang pernah menangani kasus serupa dan dalam project apa.

Terimakasih.

Tanggapan 1 – Henry Margatama

Setahu saya project terakhir yg paling berat di install menggunakan metoda float over adalah ‘Sakhalin Project’ dgn berat 27,000 MT di Rusia. Dan proses instalasinya pun hanya menggunakan 1 barge. Pertanyaannya kenapa proses installasi harus dilakukan dengan menggunakan 2 buah barge?

Tanggapan 2 – Gamayoga

Sebenarnya terdapat 2 kasus, yang pertama adalah installasi deck pada struktur jacket. jacket tersebut tidak dapat dimasuki oleh barge yang ada, sehingga dibutuhkan cara lain untuk installasi. namun untuk kasus ini mungkin lebih efektif bila menggunakan tambahan kantilever untuk membawa deck dan melakukan Float over.

kasus kedua adalah installasi deck yang cukup besar pada struktur spar. dan mungkin yang paling sesuai untuk installasi adalah dengan menggunakan metode flot over dengan 2 barge.

Terimakasih.

Tanggapan 3 – Henry Margatama

Komentar untuk paragraf 1.

Jacket tidak dapat dimasuki oleh barge yg ada, berarti pada tahap conceptual design sudah dipastikan bahwa instalasi topside deck akan dilakukan dengan cara lifting. Perlu diingat bahwa capability teknologi dan peralatan yg ada harus diperhatikan ketika melakukan perencanaan thdp struktur platform yg akan dibuat. Sama halnya untuk kasus ke 2. CMIIW !

Tanggapan 4 – Yuyus Uskara

saya pernah lihat waktu ada seminar offshore di NUS, kalo gak salah ada projectnya McDermott Batam (Su Tu Vang? – Vietnam) yang memakai sistem Catamaran Float Over (atau hanya deliverynya aja ya).

sayang saya gak minta slide-nya 😀

Tanggapan 5 – El Mundo

Catamaran floatover umumnya digunakan utk single shaft stucture seperti monopod, condeep dgn monocaisson atau spar. Practically catamaran float over hanya ekonomis dan safe jika dilakukan pada saat laut tenang dan berjarak dekat dari lokasi loadout. Akan tetapi dgn tersedianya falisitas simulasi seperti yg ada di STS Roterdam, catamaran float over ini dapat dilakukan dgn aman.

Tanggapan 6 – johan noviansyah

Mas Gamayoga,

Kalo catamaran floatover installation topside yg pernah melakukan adalah Technip Malaysia project Kikeh untuk instalasi topside 4000t sekitar tahun 2007-2008, dulu pernah diulas di majalah Offshore Engineer..tp saya lupa edisi berapa.
Setelah searching2 ternyata benar projectnya Kikeh. kalo perlu saya ada OTC journalnya tentang spar topside installation nya, japri saja.

Tanggapan 7 – Henry Margatama

Mungkin ini yg dimaksud oleh Mas Yuyus

http://www.offshorekinematics.com/projects/sutuvang.html

Dan hal serupa untuk project Kikeh

http://www.offshorekinematics.com/projects/kikeh.html

Tanggapan 8 – Aria Baskara

sy pernah baca article ini bbrp waktu yg lalu…. from one of this magazine: ‘offshore’ or ‘offshore magazine’, coba di-googling atau di-bing mas…

Tanggapan 9 – Uci Sanusi

Menambahi tentang catamaran floatover,

Setau saya yg bisa melakukan analisa multiple body diffraction adalah WAMIT software MIT karya Prof Lee dan kawan2.
Yg lain blum tau saya.

Apakah tidak bisa didekati dgan analisa 1st order diffraction terpisah kemudian hasil inertia acceleration di inputkan ke dalam structural analysis sebagai dynamic analysis modal superposition sehingga bisa didapat unity check.

Jadi topside hanya sebagai beban pada waktu melakukan analisa 1st order diffraction.

Tanggapan 10 – Jerry J. Mintaredja

Rekan Gama dan rekan2 milist migas,

Kita bahas secara garis besarnya terlebih dahulu.

Proses instalasi deck/topside dengan menggunakan metoda floatover memiliki alasan/pertimbangan tertentu antara lain:

1. Crane Capacity

1. Berat deck/topside kurang dari 2500T (mungkin saat ini sudah ada crane yang memiliki kapasitas angkat sd 4000T) dapat diinstall dengan menggunakan metode lifting.

2. Berat deck/topside yang melebihi kapasitas crane dapat diinstall dengan menggunakan metode floatover.

2. Very Shallow Area/Swampy Area

1. Karena kedalaman yang perairan yang dangkal; heavy lifting vessel – derrick barge yang biasanya memiliki draft besar tidak dapat memasuki perairan tsb.

Mengenai macam metoda floatovernya ada beberapa macam antara lain:

1. Self float over

1. Menggunakan satu buah barge.

2. Barge menginstall deck dengan cara memasuki jacket melalui bagian dalam.

2. Deck float over

1. Menggunakan dua buah barge

2. Barge menginstall deck dengan cara melalui bagian luar dari jacket/hull tersebut.

Dalam mendesain jacket (structure) agar metode 1 bisa diterapkan; kita perlu memperhatikan dimensi barge, terutama lebar dan draft barge yang akan mengangkut topside – parameter ini akan menentukan dimensi jacket secara keseluruhan. Parameter-parameter lainnya yang tentunya perlu dipertimbangkan pada kedua metode floatover ini adalah:

1. Ocean parameter (water depth-tide-lat-hat)

2. Matting analysis (analisa kekuatan stuktur dalam mengantisipasi besaran-besaran gaya (impact) yang mungkin terjadi seperti tumbukan kapal ke jacket, transfer beban topside ke jacket dsb – selama proses float over berlangsung) yang meliputi kondisi2 sbb:

1. Docking condition – pada saat barge entering jacket

2. Engagement (First Contact) – pada saat satu atau dua buah kaki dari deck/topside sudah mulai duduk di jacket.

3. Engagement (Intermediate Contact). – pada saat seluruh kaki dari deck/topside sudah mulai duduk di jacket.

4. Undocking Analysis – pada saat seluruh kaki dari deck/topside sudah duduk di jacket dan barge menuju keluar.

3. Requirement dari LMU (leg matting unit), DSF (deck support frame) dan DSU (deck support unit) – komponen2 ini (LMU dan DSU) memang optional bisa saja installasi dilakukan tanpa menggunakan komponen2 tsb (hanya menggunakan stabbing guide seperti proses installasi jacket pada umumnya dengan metode lifting). Komponen-komponen tsb efektif untuk meredam besaran gaya (impact force) pada saat transfer beban deck/topside ke jacket – prinsip kerjanya kurang lebih sama dengan shock cell pada boat landing dsb.

Sementara untuk barge sendiri hal2 yang perlu diperhatikan adalah:

1. Metode Ballasting

2. Pergerakan/barge motion (heave, pitch, roll dsb) – mengintroduce force/reaction based on barge motion untuk analisa struktur pada saat transportasi.

3. Hull design – dalam penentuan lokasi penempatan DSF (deck support frame)

Untuk kasus2 tertentu seperti jacket yang memang tidak di-design untuk installasi dengan metode floatover pada awalnya/karena ada pertimbangan lain, sementara deck/topside harus diinstall secara floatover adalah dengan menggunakan metode double barge atau kantilever. Metode kantilever ini pernah diterapkan di indonesia untuk memindahkan deck/topside ke lokasi lain.

Untuk metode analisa saya akan ulas japri ke rekan Gama.

Tanggapan 11 – johan noviansyah

Wah ulasannya bagus Mas Jerry…terima kasih.

tambahan sedikit untuk pemilihan metode floatover dari sisi tender/commercial.
Menurut saya, pemilihan metode floatover jg memperhitungkan aspek competitiveness harga dan kesetaraan dari contractor2 instalasi yg ikut tender.

Dgn berat topside sprt yg dijelaskan dibawah (mis.beratnya 2500t), jika metode instalasi topside yg dipilih dgn lifting maka efeknya banyak contractor kecil/menengah yg hanya punya crane barge dengan capacity lifting terbatas tidak bs ikut tender dan hanya contractor2 besar saja yg punya crane barge dengan capacity lifting besar yg bs ikut. Dan harga sewa crane barge besar pun bs sangat mahal.
Nah jika metode floatover yg dipilih, baik contractor besar atau contractor kecil sama2 punya peluang untuk memenangkan tender dan tentunya harga jadi lebih competitive. cmiiw