TAC (Technical Assistant Contract) merupakan kontrak kerjasama khusus merehabilitasi sumur2 tua/ lapangan2 tua milik PERTAMINA. Kenaikan hasil produksi dari kontrak kerjasama ini yang kemudian dibagi antara PERTAMINA dan Partner.
Wilayah yang di TAC-kan hanya sebagian kecil dari Wilayah Besar yang dikuasai oleh PERTAMINA.

Tanya – A su

Saya ada sedikit pertanyaan mengenai masalah kontrak TAC, mohon pencerahannya.

1. Dalam sistem kontrak TAC antara Pertamina dangan Pihak ketiga apa status blok produksi tersebut, apakah milik Pertamina sebagai pemilik konsesi wilayah kerja melalui Pertamina EP atau milik negara yang dikelola oleh BP migas ?

2. Jika kontrak sebuah kontrak TAC berakhir, baik karena gagal atau memang masa kontraknya habis apakah Pertamina berkewajiban mengembalikan hak blok itu ke negara ?

3. Dan apakah wilayah kerja yang dikelola menggunakan mekanisme TAC dapat dialihkan (dijual) ? lalu hasil penjualan ini hak milik Pertamina atau BP migas.

Maaf jika pertanyaannya agak banyak, maklum nasih newbie dalam sistem kontrak ???

Tanggapan 1 – Haryo Bawono

TAC (Technical Assistant Contract) merupakan kontrak kerjasama khusus merehabilitasi sumur2 tua/ lapangan2 tua milik PERTAMINA. Kenaikan hasil produksi dari kontrak kerjasama ini yang kemudian dibagi antara PERTAMINA dan Partner.
Wilayah yang di TAC-kan hanya sebagian kecil dari Wilayah Besar yang dikuasai oleh PERTAMINA.

1. Pertamina sebagai Pemilik Wilayah dan Partner (kontraktor TAC) yang menawarkan Teknologi rehabilitasi sumur/ lapangan tsb.

2. Jika TAC gagal (Partner tidak berhasil meningkatkan produksi) maka sumur tsb kembali ke Pertamina. .

3. Wilayah TAC bisa ditawarkan ke kontraktor TAC lain, apabila terjadi kegagalan (namun tetap milik Pertamina) .

Gampangnya: .

Pada prinsipnya Kontraktor TAC lebih cenderung kontrak jasa.
Status kedudukan kontraktor TAC berbeda dengan kontraktor KPS, dimana kontraktor TAC berkewajiban untuk menyerahkan performance bond sebelum melaksanakan kegiatan operasi, sehingga memberikan indikasi kuat bahwa status kontraktor TAC hanya sebagai kontraktor jasa biasa, dimana PERTAMINA adalah pemberi Jasa dan Partner adalah penerima jasa, dengan ketentuan bahwa seluruh pengeluaran dan resiko kegagalan menjadi tanggungan Partner/ Kontraktor.

Semoga Membantu. .

Tanggapan 2 – Sulistiyono

Risiko memang ditanggung Kontraktor, tapi mengenai SELURUH PENGELUARAN apa anda yakin kalo ditanggung Kontraktor ?Kedepan kontrak semacam TAC tidak lagi ada tapi digantikan dengan KSO ( Kerjasama Operasi). Bagi TAC yang berniat memperpanjang kontraknya tentunya namanya tentunya akan menjadi KSO. Bajunya diganti. Tentunya ada Non Sharable Oil (NSO) sebagai baseline production yang harus disetor ke Pertamina. Kelebihan produksi dari baseline tsb yang akan diagi antara Kontraktor dan Pertamina. .

Tanggapan 3 – A su

thanks untuk pencerahannya.

Saya tertarik mengenai masalah pengeluaran ‘seluruh pengeluaran’ ditanggung kontraktor apa memang demikian ?, sementara kalo pemenang kontrak TAC adalah join company antara Pertamina dan pihak ketiga dengan persentase kepemilikan tertentu bagaimana ?.apa ini tidak sama dengan pertamina juga ikut membiayai melalui joint company. .

Tanggapan 4 – Sulistiyono

Sepengetahuan saya sih ada sistim cost recovery TAC TAC ke Pertamina .
Lha Pertamina nanti meng- cost recovery ke BP MIGAS bersama pengeluaran Pertamina Hulu yang lain. Yang dimaksud risiko disini adalah bila hasilnya nggak bisa melebihi Non Sharable Oil ya gigit jari. .

Tanggapan 5 – Kuswo Wahyono

Mohon maaf sebelumnya, hanya hanya ingin sekedar sharing saja. .

1. Sejak semula, dalam Technical Assistant Contract (TAC) tidak ada peraturan khusus yang membatasi bentuk kontrak kerja sama tersebut, misalnya hanya diperbolehkan untuk rehabilitasi sumur2 tua, dsb. Yang dapat kita jumpai adalah pembatasan-pembatasan dalam kontrak yang mungkin bisa berbeda untuk setiap TAC, boleh kontrak jasa, pengembangan, atau bahkan eksplorasi. .

2. Status Wilayah Kerja (WK) adalah dikelola oleh Pertamina (bukan dipegang/dimiliki), tetapi tetap dikuasai (milik) negara RI. Kontrak dibuat atas persetujuan Pertamina (bukan Pemerintah) dengan TAC, untuk sebagian WK Pertamina. .

2. Pada prinsipnya kontrak adalah ‘Contractor assists to Pertamina’, kebalikan dengan JOB yang menyebutkan ‘Pertamina assists to Contractor’..

3. Semua hasil produksi migas adalah milik negara. Setelah komersial dan dikurangi biaya-biaya produksi, maka produksi migas dibagi untuk negara RI dan Pertamina (bukan Pertamina dan TAC). TAC memperoleh bagian produksi dari bagian Pertamina, sesuai kontrak antara Pertamina-TAC. .

4. Biaya-biaya produksi yang dapat menjadi Cost Recovery adalah: Unrecovered Cost tahun sebelumnya, biaya non-capital (expenses TAC dan Pertamina), depresiasi (untuk biaya capital) dari WK Pertamina yang di’TAC’kan. Artinya Cost Recovery atas nama Pertamina. .

5. Wilayah Kerja TAC tidak boleh ditawarkan/dijual ke pihak lain, karena WK tersebut adalah WK Pertamina. Yang diperbolehkan adalah interes (kontrak) TAC dialihkan ke pihak lain atas persetujuan Pertamina. .

6. Sebagai tambahan, bukan hanya perusahaan TAC yang harus menyerahkan Performance Bond, melainkan perusahaan KKKS juga harus menyerahkannya, sebagai jaminan pelaksanaan pekerjaan. .

Mohon maaf kalau kurang berkenan; –ksw—.

Tanggapan 6 – Tri Hartarto

Dear rekan2, .

Apabila saya boleh menambahkan sedikit, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan Pak A Su, sebagai berikut: .

1. Dalam sistem kontrak TAC antara Pertamina dangan Pihak ketiga apa status blok produksi tersebut, apakah milik Pertamina sebagai pemilik konsesi wilayah kerja melalui Pertamina EP atau milik negara yang dikelola oleh BP migas ? .

Sejarah dari adanya TAC lahir dari UU 8/1971, dimana Pertamina sebagai pemegang Kuasa Pertambangan (KP) berhak melakukan kerjasama dengan kontraktor asing dengan jenis kontrak lain selain Kontrak Bagi Hasil. Sehingga dulu ada lapangan-lapangan minyak yang di operasikan oleh Pertamina dan kontraktor asing. Dahulu kontraktor asing melakukan penandatangan PSC dengan Pertamina karena status pertamina sebagai pemegang KP. Berbeda dengan PSC, TAC berlaku dalam lapangan-lapangan yang sebelumnya dioperasikan oleh Pertamina dan wilayah pertambangan yang awalnya dicadangkan untuk Pertamina. Namun implikasi berlakunya UU Migas menyebabkan tidak dikenalnya lagi adanya jenis kontrak ini, karena status pertamina bukan lagi sebagai pemegang KP. TACditerjemahkan oleh Rudi M. Simamora sebagai Kontrak Bantuan Teknis. Kontrak Bantuan Teknis dapat digunakan dalam hal Negara mempunyai cadangan sumur minyak yang telah terbukti (proven) dan membutuhkan bantuan manajemen, operasional, pemasaran atau keahlian teknis asing untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi (Hal ini berarti secara konsep, TAC diterapkan pada sumur-sumur tua atau sumur marginal). Dalam TAC, pihak kontraktor memberikan bantuan teknik pengeboran pada daerah-daerah WK yang dikuasai oleh Pertamina, sehingga kontraktor tersebut tidak memiliki area pengeboran sendiri. Sifat kontrak TAC sekilas serupa dengan kontrak pemborongan pekerjaan biasa, namun kontraktor menanggung resiko jika pengeboran yang dilakukannya tidak mendapatkan deposit/cadangan dalam jumlah yang cukup. .

2. Jika kontrak sebuah kontrak TAC berakhir, baik karena gagal atau memang masa kontraknya habis apakah Pertamina berkewajiban mengembalikan hak blok itu ke negara ? .

Pada dasarnya TAC tidak dapat diakhiri sebelum lewatnya masa 3 (tiga) tahun pertama sejak tanggal efektif berlakunya TAC. Pengakhiran berdasarkan ketentuan TAC dapat dilakukan apabila dimintakan oleh kontraktor TAC pada akhir masa 3 (tiga) tahun pertama sejak tanggal efektifnya TAC. TAC akan berakhir dengan sendirinya apabila tidak ditemukan cadangan komersial setelah berakhirnya masa 3 (tiga) tahun pertama sejak tanggal efektifnya TAC atau setelah berakhirnya masa perpanjangan masa 3 (tiga) tahun pertama. Berdasarkan Pasal 104 huruf e PP 35/2004, Kontrak-kontrak antara Pertamina
dengan pihak lain yang berbentuk Technical Assistance Contract (TAC) dan Kontrak Enchanged Oil Recovery (EOR) beralih kepada PT Pertamina (Persero) dan berlaku sampai berakhirnya Kontrak yang bersangkutan.Lebih lanjut berdasarkan Pasal 104 huruf g PP 35/2004, setelah Technical Assistance Contract (TAC) dan Kontrak Enchanged Oil Recovery (EOR) sebagaimana dimaksud dalam huruf e yang berada pada bekas Wilayah Kuasa Pertambangan Pertamina berakhir, wilayah bekas kontrak tersebut tetap merupakan bagian wilayah kerja PT Pertamina (Persero). .

3. Dan apakah wilayah kerja yang dikelola menggunakan mekanisme TAC dapat dialihkan (dijual) ? lalu hasil penjualan ini hak milik Pertamina atau BP migas Umumnya, kontraktor TAC berhak mengalihkan interest berdasarkan TAC kepada perusahaan afiliasi; cukup dengan pemberitahuan tertulis kepada Pertamina. Namun dalam hal kontraktor TAC mengalihkan sebagian interest berdasarkan TAC kepada pihak yang bukan afiliasi, diperlukan persetujuan tertulis dari Pertamina. Umumnya, dalam hal kontraktor TAC mengalihkan semua hak dan interest berdasarkan TAC kepada pihak yang bukan afiliasi, maka wajib mendapatkan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Pertamina dan juga dari Pemerintah Indonesia (Menteri ESDM). .

Singkatnya, Participating interest TAC itu sendiri dapat dialihkan dengan memperhatikan syarat-syarat yang terdapat dalam masing-masing TAC (misalnya, tidak dapat dialihkan sebelum 3 tahun pertama masa kontrak, atau dahulu, apabila kita melihat TAC di Block Cepu yang pada saat kontraktornya masih PT Humpuss Patragas, terdapat klausul larangan mengalihkan sebagian atau seluruh hak maupun kepentingannya yang timbul dari TAC kepada pihak asing kemudian di amandement oleh Pertamina untuk masuknya Amploex yang kemudian diakuisisi oleh Mobil Oil). Hasil penjualan participating interest ini tentunya milik pihak yang melakukan farm out. Karena pihak yang mengalihkan sudah terlebih dahulu mengeluarkan biaya operasi / investasi pada wilayah kerja TAC dimaksud; meskipun nantinya di lakukan cost recovery oleh Pertamina. Tetapi yang dijual oleh pihak yang melakukan farm out ini tentunya bukan hanya investasinya tetapi hak untuk memperoleh pendapatan dari kontrak jasa tersebut di kemudian hari. Perlu diingat, kepemilikan atas barang-barang yang telah dibeli oleh kontraktor TAC yang telah sesuai dengan rencana kerja (dan telah dicost recovery) akan menjadi milik dari Pertamina. .

4. ‘seluruh pengeluaran’ ditanggung kontraktor apa memang demikian ?, sementara kalo pemenang kontrak TAC adalah join company antara Pertamina dan pihak ketiga dengan persentase kepemilikan tertentu bagaimana ?.apa ini tidak sama dengan pertamina juga ikut membiayai melalui joint company. .

Dalam TAC standar, terdapat klausul sebagai berikut: .

– Expenditures yang salah satu pasalnya menyatakan the amount to be spent by Contractor which stipulated in the agreement is for the first six (6) Contract Years following the Effective date. .

– Right and Obligations of Contractor yang salah satu pasalnya menyatakanContractor shall.

a. Advance funds and purchase or lease all equipment, supplies and materials; .

b. Furnish technical aid, including foreign personnel; .

c. Other funds, including payment to foreign third
parties for performing services as a contractor; .

– Recovery of Operating Cost and Handling of Production yang salah satu pasalnya menyatakan Contractor shall recover disposition of the required quantity of Crude Oil equal in value to Operating Costs to a maximum of eighty percent (80%)..

Jadi jelas bahwa Kontraktor menanggung biaya operasi kemudian akan direcovery maksimal 80% setiap tahunnya (gantinya FTP seperti yg terdapat dalam PSC dahulu). Dalam hal Pertamina juga ikut membiayai, umumnya skema yang demikian terdapat dalam JOB, bukan dalam TAC. .

Dalam JOB, terdapat JOA yang mengatur persentase kepemilikan participating interest masing-masing pihak. Dengan demikian, Pertamina juga mempunyai tanggungjawab seperti layaknya kontraktor lainnya yang ikut membiayai dan menerima hasil produksi sesuai dengan besarnya masing-masing interest. .

Mudah-mudahan penjelasan saya bisa sedikit membantu Bapak. Mohon maaf apabila terdapat kekeliruan. .