Batam yard sanggup untuk memproduksi jack-up rig dan lainnya. Memang perusahaannya bukan punya Indonesia, tapi pekerjanya tentu saja bangsa Indonesia. Paling kurang ini telah mengangkat nama Indonesia, dan sekaligus memberi kesempatan kerja bagi anak bangsa. Juga memberi kesempatan bagi yang ingin memupuk karir di offshore construction. Sangat membanggakan.

Pembahasan – Isra

Pak Budhi,

Terlampir saya kirimkan artikel di Offshore Engineering terbaru (December 2009) tentang kesanggupan Batam yard untuk memproduksi jack-up rig dan lainnya. Memang perusahaannya bukan punya Indonesia, tapi pekerjanya tentu saja bangsa Indonesia. Paling kurang ini telah mengangkat nama Indonesia, dan sekaligus memberi kesempatan kerja bagi anak bangsa. Juga memberi kesempatan bagi yang ingin memupuk karir di offshore construction. Sangat membanggakan.

Tanggapan 1 – Budhi Swastioko Suryanto

Silahkan download “Graha jumps to it with jackups” dari URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=250&Itemid=42.

1. Aker Brings Mega Structure to PKFZ 20 Sep 2009

2. Global Deepwater Prospects

3. Global FPS Prospects

4. Global Market Prospects

5. Global Offshore Prospects 01

6. Global Offshore Prospects 02

7. Graha jumps to it with jackups

8. Outlook for the Oil and Gas Sector

9. Rig Census 2009

10. Ships, Oil, Gas & Money

Tanggapan 2 – Yuyus Uskara

Sebetulnya Indonesia sudah pernah melaunching jack up sebelumnya, yaitu Naga 2 (Hull no L201), sister jack up-nya Perro Negro 6 (Hull no L201). Naga 2 di launching bulan August 2008.

di berita di majalah offshore engineer kurang akurat, soalnya disebutkan kalo Perro Negro 6 itu first new build jack up buat Graha.

Tanggapan 3 – novembri nov

Betul kata Mas Yuyus ini….

Denger denger graha akan buat 8 atau 10 jackup under dubay drydock.

Inti dari konstruksi ini sebenarnya Egn design nya…kalau masalah konstruksi dan fabrikasi dimana saja bisa dibuat sepanjang facility memadai…

Beberapa eng Indonesia sudah mendapatkan kesempatan berkiprah dalam bidang design eng ini…kita harapkan akan ada transfer ilmu ke tanah air…salah satunya Mas Yuyus ini….

Mari melangkah lebiih maju tidak hanya sebagai fabricator tapi juga engineeringnya.

Tanggapan 4 – Gary

Yup benar…:D

kebetulan produk kita juga nempel di jack-up rig ini. Kita memakai beberapa local engineer dan local project manager. Tapi pengawasan tetap dari principal.

Tanggapan 5 – budi setyo

Betul Pak Nov …

Tinggal nunggu kesempatan, peluang dan kepercayaan dari pemilik modal.
Mari kita satukan kemampuan dari engineer engineer indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini.
Fabrikasi bangunan lepas pantai (BLP) sulit, design BLP lebih sulit … tapi yang paling sulit … dapat kepercayaan supaya dapat garapan baik garapan fabrikasi maupun design.

Tanggapan 6 – El Mundo

Salah satu alasan Drydock World (Dubai World) take over beberapa shipyard di Batam al: Pan United, Nan Indah, Pertama, Graha dan Tg. Api (Kabil), karena DW berniat menguasai pasar Jack Up. Pan United, Nan Indah dan Graha sdh mulai merintis pembanguan Jack Up sejak 10 thn yg lalu. Mulai dr menjadi subconnya FELS utk pekerjaan repair kemudian membuat sendiri. Dengan suntikan dana DW (mudah2 tidak terpengaruh jatuhnya Dubai World) ketiga shipyard ini sudah mulai memproduksi (bukan membangun) Jack Up rig. Bravo Batam shipyard!

Tanggapan 7 – Sketska Naratama

Congrats bagi rekan-rekan Migas,

Minimal jika dapat menjadi kompetitor spt Keppel mk akan lebih salut dan banyak membutuhkan tenaga lokal. Dibuat spt industri di Sembawang / sekitar nya 🙂

Tanggapan 8 – sabandi

Dears rekan-rekan semua

Apakah dalam pembuatan De-Rig dibutuhkan teknisi Rope Access…? Biasanya mereka memerlukan untuk Bolt tightening inspection….

Tanggapan 9 – Yuyus Uskara

Pak El,

denger denger katanya FELS udah mulai mengurangi project Jack-Up-nya, dan mulai melirik ke project-project laut dalam dan FPSO. kalo FPSO dan conversionnya memang udah lama di pegang Keppel Shipyard, tapi katanya FELS juga udah melirik-lirik ke situ.
kalo deepwater dengan Deepwater Technology Groupnya (Keppel Offshore and Marine’s Deepwater Technology Group)Â sudah berhasil, dengan peluncuran DSS38 Deepwater (semi sub-nya QGOG, brazil) pertama mereka untuk deepwater, oktober 09 kemaren.
gimana nih Pak El, rumornya bener gak, kalo iya, mungkin Dubai Drydock World ini bakalan mimpin pasar (yang akan ditinggalin FELS).

Tanggapan 10 – El Mundo

Benar,

Ini karena trend ke deepwater, keppel sekarang sedang develop semisub generasi VI, dan konversi LNG carrier ke LNG F(P)SO. Diperkirakan permintaan LNG F(P)SO dan semisub utk laut dalam akan naik significant di dekade akan datang, oleh karenanya FELS di persiapkan utk take over order2 yg tradisional dari keppel, yaitu F(P)SO, sehingga keppel lebih konsentrasi pada deepwater semisub dan LNG F(P)SO. (Keepel sudah mulai masuk kesana dgn mengkonversi LNG Libra milik GOLAR menjadi LNG FSO).

Dgn demikian FELS juga akan meninggalkan pekerjaan tradisionalnya, (membuat Jackup and semisub utk shalow water), nah sektor inilah yg di bidik oleh Drydock World.. di Batam!

Tanggapan 11 – Teguh Santoso

Secara kemampuan teknis saya tidak meragukan kemampuan Batam, tetapi bukankah untuk berkembang diperlukan kemudahan yang lain seperti murahnya pembiayaan (bank loan, dll) dan pajak? apakah di Batam diberlakukan free tax? sehingga alat alat, material, equipment menjadi lebih ‘murah’? dengan dukungan bank loan yang lunak, pajak yang kecil atau bahkan free tax, saya yakin dry dock di Batam bisa bersaing dengan dry dock yang lain. FYI, tahun 2005 di Sharjah dimana diberlakuan bebas pajak dan soft loan, banyak sekali jack up rig yang sedang docking baik untuk direfrubished maupun dimodifikasi menjadi production unit. CMIIW…

Tanggapan 12 – rio.hendiga

Betul, saya setuju banget. Pemerintah mustinya bisa melihat peluang ini, sayangnya status FTZ di Batam yang kurang didukung dengan sarana & infrastruktur menyebabkan Batam jauh tertinggal dengan Port Klang Malaysia. Bahkan rencana membuka pelabuhan cargo Internasional untuk menyaingi Singapura pun cuma isapan jempol.

Actualnya, Batam dibandingkan dengan Malaysia dan negara tetangga menang di cost tenaga kerja yang murah ( ndak heran sering ada demo mengenai upah minimun ). Jalan-jalan pendukung transportasi menuju Tanjung Uncang ( menuju Dry Dock,Batamec & perusahaan shipyard lainnya ) belum juga kelar menjadi 2 jalur. Akibatnya sering terjadi macet, kecelakaan, dll.

Sekarang ditambah lagi adanya issue banyak pekerja asing yang bekerja di batam dengan gaji yang lebih murah ( bukan dari golongan profesional ).