Temen2 apakah ada yang punya info/pengalaman mempersiapkan Risk Assesment & Mitigasi u/ suatu bangunan yang kena pngaruh effect Blast Over Pressure (Blast Zone Area). just info blast effect 42Mbar.

Tanya – abdul f

Temen2 apakah ada yang punya info/pengalaman mempersiapkan Risk Assesment & Mitigasi u/ suatu bangunan yang kena pngaruh effect Blast Over Pressure (Blast Zone Area). just info blast effect 42Mbar.

Tanggapan 1 – saiful erwan

Selamat pagi Pak Abdul,

42Mbar = 42 megabar(??) atau 42 milibar.

jika 42 milibar (42 kPa) ada 2 alternatif yang dapat dioptimasi:

* menjauhkan/menggeser lokasi building, atau

* to upgrade by reinforcing the wall facing to VCE (blast) source

criteria: 34.5 kPa (5 psi): Most buildings completely destroyed, except for concrete reinforced (or mansory) shear wall buildings. Effets on unprotected people (direct exposed) is eardrum rupture.

Mudah-mudahan mejawab persoalan anda.

Tanggapan 2 – Darmawan A Mukharror / Crootth Crootth

Pak Abdul,

Melihat kasusnya blast effect, saya yakin itu 0.42 milibar.

Pertanyaan saya:

Anda mendapatkan angka 0.42 mbar ini dari mana? simulasi PHAST? simulasi FRED? simulasi CIRRUS? FLACS? AutoReaGas? ANSYS? Atau menghitung sendiri (manual)? karena berbeda sedikit saja (katakanlah menjadi 0.7 mbar), akan merubah konsekuensi yang diterima gedung anda.

Bangunan rumah pada umumnya yang berdinding semen / batu bata yang terekspos oleh 0.42 mbar, besar kemungkinan bangunan anda akan mengalami:

– kerusakan pada atap, plafon (dari bahan hardboard)

– kerusakan kecil pada plastering

– kerusakan struktur yang minor

– terlepasnya / tersobeknya panel asbes

– kerusakan kecil (10 – 25 %) pada kaca jendela (pecah)

Sumber: Jeffries dkk (1997), CCPS-AIChE (2000)

Jadi jawaban Mas Saiful Erwan saya kira terlalu berlebihan dan kurang tepat jika harus : 1) memindahkan / menggeser building, 2) reinforce wall facing blast source.

Kalaupun ada reinforce itu saya kira minor beayanya, yakni dengan melakukan:

– laminated glass window/ double glass window,

– melapisi/memperkuat plafon dan atap (minor),

– membuang panel asbes (memang ga sehat kan?) dengan menggantinya dengan plywood

– memperkuat plastering

– memeriksa ulang struktur/ jika perlu saja diperkuat (most likely dinding tidak akan roboh)

Harap diingat, jawaban di atas hanya berlaku untuk rumah biasa berdinding semen/batu bata. Untuk tipe tipe bangunan lain yang lebih kuat (claded steel frame, reinforced concrete, corrugated steel panel, dll) kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih kecil.

Semoga membantu

Tanggapan 3 – abdul fatah

Thanks Pak Darmawan,

Data baku blast contour dari Process Engineering (katanya dari Consultant) adalah 42mbar atau radius 1000 meter ato 1 km.

Focusnya adalah jika mempertahankan bangunan bagaimana Risk Assesmentnya serta Mitigasinya.

Just info, bangunan adalah tempat makan siang pekerja, sedang jarak dari sumber kurang dari 1km.

Thanks a lot.

Tanggapan 4 – Darmawan A Mukharror / Crootth Crootth

Wah,

kalau deal dengan ‘katanya’ yah susah.

Hati hati dengan konsultan, tidak semua dari mereka benar benar faham mengenai risk assessment itu sendiri. banyak dari mereka menyertakan fresh graduate sebagai tukang hitungnya, musti dilihat dan diawasi. Kalau suatu proyek konsultannya belum begitu faham risk assessment, dan usernya sami mawon, inilah yang berbahaya.

Tanggapan 5 – Dirman Artib

Betul kata Mas Crooth, ‘hati-hati’ dengan konsultan.
Nah term ‘hati-hati’ juga harus diterjemahkan sebagai perluasan cakupan ‘QHSE’ Management terutama area Risk Assessment terhadap konsultan anda.

Dari pengalaman saya kerja sebagai konsultan sampai sekarang (maklum belum pernah kerja sbg Client/User), awal dari masalah dalam sebuah project justru ‘kegagalan’ saat Client melakukan seleksi terhadap konsultan. Tidak ada organisasi konsultan yang sempurna pada semua lini, apalagi organisasi yang project-based semacam ini Strong-Weakness sangat bervariasi dari waktu ke waktu. Sejarah sudah mencatat naik-turun nya engineering consultant, bahkan sudah tak terhitung jumlah yang gulung tikar, yang lagi megap-megap, atau justru yang sedang menikmati masa-masa keemasan.

Belum tentu pada project sebelumnya yang relatif sukses, maka pengerjaan project yang scope dan naturenya hampir sama akan konsisten dikerjakan dengan kualitas proses-proses manajemen yang akan menghasilkan kualitas produk/layanan yang sama. Sebagai sebuah organisasi berbasis project, banyak aspek yang sukar untuk dipermanenkan, contohnya adalah SDM yang selalu berganti atau keluar masuk. Walaupun sistem, proses-proses dan prosedur-prosedur tetap sama, akan tetapi manusianya yang berbeda akan berpotensi untuk menghasilkan output yang berbeda. Syukur-syukur kalau variasinya lebih baik, kalau variasinya cenderung lebih jelek (un-safe kan ?). Keluar-masuk-silih-berganti-tukar-tambah SDM dalam engineering company dipicu oleh banyak hal, terutama dinominasi oleh kepentingan economy yang juga dipicu oleh peristiwa-peristiwa di market, spt. oil prices, crisis, booming, distribusi dan alokasi project, trend of outsourcing/agency, head hunter, dll. Ini baru dari aspek SDM. Belum lagi dari aspek lain, yang juga dinamis misalnya tool/equipment, software, IT/IS e.g. AUTO CAD to PDMS, dan aspek peraturan perundang-undangan e.g. consultant FEED tak boleh/boleh melanjutkan ke detail, aturan tender, dll.

Rekomendasinya adalah, tingkatkan terus metode dan praktek dalam mengidentifikasi potential threat of consultant (threat dalam business equivalent dgn hazard dalam safety), serta cara-cara memitigasi resiko yang berasal dari threat tersebut.

Resiko yang dinamis vs waktu (spt yg saya sebutkan di atas) harus dimonitor dan diperbaharui dengan cara-cara yang sesuai, misalnya membangun relationship yang sehat, menciptakan forum komunikasi, joint strategy untuk added value bagi ke2 belah pihak, assessment/audit berkala yang timbal-balik. Sehingga Client mempunyai informasi yang cukup tentang Strong-Weakness si pemberi jasa konsultasi tersebut. Terutama pada area weakness harus dicari cara-cara yang sesuai agar paling tidak bisa memenuhi minimum keperluan/mutu standard.

Khusus masalah audit-timbal-balik, adalah masih sangat langka jika Client minta balik diaudit oleh Consultant, padahal sukses dan gagal sebuah objectives dalam project ditentukan oleh sistem ke2belah pihak. Keterlambatan project pun banyak ditentukan oleh tingkat efektifitas, efisiensi, kecepatan dan kematangan dari ‘QHSE’ Management System dari sang Client. Berapa banyak misalnya konsultan rugi besar dalam mengeksekusi ‘lump sump’ kontrak, karena si Client tak mampu-cepat (baca : bertele-tele ) dalam mengambil keputusan ? Atau karena standard/fungsi spesifikasi sang Client yang saling konflik ?
Kalau misalnya untuk alasan improvement, kenapa hanya dibatasi Client yang dipaksakan dalam klausul kontrak untuk punya hak mengaudit konsultan ? Padahal audit salah satu tujuan nya adalah untuk memfasilitasi improvement dalam Management System. Nah kalau begini, kan jadi teridentifikasi pihak mana yang tak memahami risk assessment, Client kah atau Konsultan kah atau ke dua-duanya Sami Mawon (ini bahasa Pyong Yang ya ?)