Istilah precom-com ini tak lepas dari satu step sebelumnya, yaitu Mechanical completion, dimana semua technical document di compile sehingga ini bisa dijadikan indikasi bahwa pekerjaan ini siap untk di precom kan (walau kadangkala mechanical completion ini masuk dalam precom activity). Dan yang tak kalah penting, apabila pekerjaan ini mencakup pekerjaan besar, perlu juga dilakukan line check, untuk memastikan drawing dalam PID sudah terakomodir semua.

Tanya – Febrian

Salam rekan2 millis,

Saya ingin menanyakan prosedur untuk Precom & Comissioning untuk Gathering Station, mohon bantuan dari rekan2 untuk dapat memberikan contoh2 prosedur tersebut via japri, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Bagus Nugroho

Terminology Gathering station masih general, belum spesifik. Mestinya ada utility dan process system di gathering station tsb. Di utility dan process pun masih ada system2 yg lain yang bisa dibreakdown. Bisa saja ada Power Generation System, HVAC System, Compressed Air System, Hydraulic Power System, etc…

Di process pun masih bisa dibreakdown lagi bbrp system, tergantung functional process nya, bisa saja ada Pig Receiver/Launcher, Scrapper/Slug Catcher, Produced water, Gas Metering, Flare, fuel gas, gas compression (kalo ada), etc…

Masing2 system yang disebutkan di atas punya commissioning prosedur sendiri2. Untuk mendevelop nya perlu mengacu kepada vendor manual/operation manual/control narative, cause&effect matrix, etc…

Kalau untuk precomm procedure, biasanya general saja. Isinya bagaimana strategi anda melakukan function test untuk instrument, etc…

Tanggapan 2 – Sketska Naratama

Atau,

Jika memang concern nya di operation maka hal ‘kecil’ seperti ini dikontrakkan menjadi pekerjaan engineering. Sebagai client kita dapat learning by doing dan juga fokus kepada target produksi.

Sekalian pula dengan doc2 pendukung terutama untuk tujuan sertifikasi alat2 operasi ke regulator.

Tanggapan 3 – Swastioko Budhi Suryanto

Maksudnya Mas Bagus ini adalah membagi Gathering Station menjadi beberapa system dan Subsystem. Masing-masing subsystem akan mempunyai precommissioning dossier sendiri yang berisikan check list, test sheet, punch list dan clearance sheet. Pada umumnya pengertian precommssioning adalah energi listrik belum masuk ke system. Jadi test sheet nya kalau instrumentasi berisikan continuity and megger test untuk cable, calibration sheet untuk field instrument, dll. Untuk Check Listnya akan berisikan beberapa pengamatan terhadap instalasi field instrument apakah sesuai dengan hook-up drawing, apakah posisinya sudah sesuai dengan instrument plot plan, apakah pemasangannya dapat diakses dengan mudah untuk maintenance, dsb.

Sesudah aktivitas precomm selesai, maka mulailah energi listrik dimasukkan ke system. Disinilah aktivitas commissioning berupa function test / loop check dimulai. Saya akan coba cari dokumen-dokumen mengenai precomm & commissioning untuk di-sharing, karena kebetulan pernah terlibat didalamnya. Yang terakhir bahkan beberapa bulan yang lalu melakukan precomm & com untuk F&G system. Untuk sementara, silahkan download dokumen “Functional Flowchart” di URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=297&Itemid=42. Ada rekan-rekan milis yang bisa menambahkan koleksi folder ini ?

Tanggapan 4 – Irwan A. Kurniawan

Pak Budhi Pak Bagus,

Terima kasih atas pencerahan akan hal ini…saya merasa sangat terbantu dan kedepannya saya bisa merencanakan estimasi waktunya dengan lebih efisien.

Tanggapan 5 – Gustiyanto

Mungkin tambahan Pak,

Istilah precom-com ini tak lepas dari satu step sebelumnya, yaitu Mechanical completion, dimana semua technical document di compile sehingga ini bisa dijadikan indikasi bahwa pekerjaan ini siap untk di precom kan (walau kadangkala mechanical completion ini masuk dalam precom activity).
Dan yang tak kalah penting, apabila pekerjaan ini mencakup pekerjaan besar, perlu juga dilakukan line check, untuk memastikan drawing dalam PID sudah terakomodir semua.

Tanggapan 6 – Bagus Nugroho

Dear Pak Gusti,

Ngomong2 ttg mechanical completion, saya sependapat dengan anda. Di tempat saya nyangkul sekarang memakai produk OMEGA-PIMS utk construction dan commissioning activity. Di PIMS ini ada tahap sebelum Precomm yang namanya Mechanical Completion yang terdiri dari beberapa MC-ITR (Inspection Test Record). Di Mechanical completion semua ttg construction completion dicek ttg kelengkapan konstruksi seperti cable continuity, insulation cable test, pengecekan terminasi, pengecekan tagging, dll… Selanjutnya setelah MC selesai di sebuah subsystem lanjut dengan dikeluarkannya DMCC (Discipline Mechanical Completion Cert), setelah semua disiplin komplit DMCC nya dilanjutkan dengan diisunya LUN (Livening Up Notice). Barulah dilakukan power up utk subsytem yg berkaitan, seterusnya dilakukan PC (Precomm) dan akhirnya lanjut dengan diisunya RFCC (Ready for Commissioning Cert) sampai akhirnya FTP (Functional Test Procedure) dieksekusi, dst…

Pengalaman projek lalu, beberapa owner (seperti Total) yang memakai OPERCOM philosophy tidak melakukan MC (Mechanical Completion), melainkan langsung melakukan Precomm dan Commissioning activity. Di Precomm tersebut ada yg namanya Checklist dan Testsheet yang hampir mirip dengan MC-ITR, pengecekan continutiy cable, insulation dll dilakukan. Setelah Precomm selesai selanjutnya di-issue RFCC (Ready for Commissioning Cert) dan LUN, dan lanjut dengan Commissioning FTS (Functional Test Sheet). Di tahap ini, semua functional dari field instrument ke controlroom sampai kembali ke output keluaran seperti control valve ditest dalam satu loop secara mendetail, setelah itu baru dilakukan OTP (Operational Test Procedure), selesai OTP baru subsystem bersangkutan bisa di-handover ke owner.

Tanggapan 7 – Khalis

Dear all,

salam kenal. Seingat saya ini posting/reply pertama saya di milis ini .
Kebetulan saya merasa kesentil dikit, krn terkait dg produk/tempat saya ikut nyari nasi :).

Betul kata mas Bagus (tanpa bermaksud promo produk), dg tools ini, banyak standard/procedure MC-commissioning, bisa terhandle dan termonitor dg baik lewat system.
Monggo kalau ada yg perlu japri discuss lebih detil (krn terkait produk).

anw, ini mas Bagus yg saya kenal di mcD batam kemarin kan ? :).

Tanggapan 8 – Bambang Cahyono

Hallo Kang Bagus Kang kalis, apa kabar?

menarik nih, kalau pims seperti itu ya, bagaimana dari winpc, fintel ada yg tahu?

Tanggapan 9 – Riki Sapari

Dear Pak Bagus dan rekan lainnya,

Sebelumnya terima kasih atas penjelasan Pak Bagus dan rekan lainnya mengenai aktivitas Pre-Comm dan Comm ini, saya jadi ada sedikit pertanyaan mengenai penggunaan produk yang di pakai Pak Bagus ini. Apakah pada aktivitas Pre dan Comm ini semua disiplin ilmu yang terkait seperti Mekanikal, Elektrikal, Instrument dll nya tercover semuanya….?. Karna dominan yg saya temukan di wacana di bawah berkaitan dengan Mekanikal Completion sahaja, sedangkan untuk disiplin yang lain tidak di sebutkan, apakah hal ini sudah menjadi otomatis ataukah tidak…..?, Serta apakah urutan Pre dan Comm di kegitan TAR/Shut Down hampir sama atau berbeda…..?. Mohon advisenya dari para pakar Pre Comm dan Commissioning.

Jikalau tidak berkeberatan bolehkah di breakdown step by step dari kegiatan pre-comm dan comm ini baik dari sisi Mekanikal, Elektrikal dan Instrument dll ini.

Tanggapan 10 – Khalis

Pak Riki,

Kalo yg dimaksud PIMS, semua work-disciplines bisa tercover, sebagaimana System/subsystem mencover semuanya. Hanya ada yg khusus seperti Structural/Architectural/Painting biasanya memakai MC/PC by Area/module, tidak by S/SS.

Untuk urutan pekerjaan dari MC-PC-Comm setahu saya itu mengikuti flow yg sama (seperti yg digambarkan pak Bagus), hanya detil check items dan eksekusi di lapangan pati beda sesuai discipline.

Dari sisi system, nampaknya semua (mungkin) mempunyai global flow yg mirip. Yg penting menurut saya kemampuan sistem untuk mengakomodasi requirement project dan kemudahan customisasi.

Demikian sedikit dari saya, dari sisi System Engineer.

Tanggapan 11 – Bambang Cahyono

Bapak2

Saya tambahkan sedikit, MC/PC atau Comm kalau yang ditanya prosedure biasanya terkait dgn vendor2 dari masing2 discipline dan terakhir terkait dgn program yg dipakai pims, winpc, ataupun yg lain. masing2 punya sifat yg berbeda juga. pims untuk SS sangat fix beda dgn winpc maka prosedure pun berbeda, yg jelas histori setiap project pasti berbeda shg prosedurenyapun berbeda.

P Kalis, untuk FPSO SS selalu diakhiri modulenya.

Tanggapan 12 – waluya_priatna

Prinsip sama fintel maupun pims hanya formatnya yang beda.

Tanggapan 13 – Febrian

Pak Budi dan pak bagus terima kasih atas masukannya, ada beberapa hal yang belum saya mengrti yaitu :

untuk pembagian system menjadi subsystem ( Check list, test sheet punch list ) apakah diluar Comissioning ( QA/QC scope ) CMIIW dan apakah yang membedakan pekerjaan comissioning dan star up. sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 14 – Swastioko Budhi Suryanto

System dan Subsystem merupakan referensi yang sangat penting bagi aktivitas precommissioning dan commissioning. Misalnya anda menentukan sebuah system mengenai export crude oil, yang subsystemnya dapat berupa booster pump A/B dan Crude Transfer Pump A/B/C. Form check list, test sheet dan punch list adalah tetap, bisa digunakan di setiap subsystem yang berkaitan. Contoh di booster pump atau crude transfer pump ada pemasangan pressure gauge untuk mengetahui besarnya tekanan kerja. Maka item-item pemeriksaan dan pengetesan pressure gauge yang ada di check list dan test sheet adalah sama, tidak tergantung subsystem. Punch list yang akan dibuat, yah bergantung pada aktivitas precomm dan comm. yang anda lakukan.

Untuk Start-up, satu step sesudah commissioning dimana gas dan minyak sudah bisa masuk ke system. Apabila pekerjaan precomm dan comm berjalan dengan lancar, maka diharapkan startup dapat berlangsung dengan mulus. Kalaupun ada sedikit masalah, troubleshootingnya dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Tanggapan 15 – Bagus Nugroho

Dear pak Febrian,

System/subsystem akan didefinisi pada tahap awal project. System/subssytem akan dimark-up di P&ID utk ditandai boundary nya.

Seperti contoh di projek yang saya ikut bantu sekarang, Compressed Air dijadikan sebuah system sendiri, dan dibreakdown jadi subsystem termasuk air compressor package dan area distribusinya. Yang melakukan boundary markup drawing, assignment system/subsystem dan ITR/checklist/testsheet teteup tugasnya commissioning. Punchlist cleareance bisa jadi construction atau commissioning, tergantung ditemukannya punchlist sebelum di handover ke commissioning atau masih under construction, tapi tetap juga biasanya commissioning yang closing pada akhirnya.

Di beberapa projek QA/QC dipisahkan dari commissioning team. QA/QC hanya terlibat sampai Mechanical Completion saja, stelah itu baru commissioning yang handle.

Silakan kalo ada yang mau menambahkan.
Semoga membantu.

note: pembagian system/subsystem tergantung projek, bisa saja air compession malah menjadi subsystem, terpulang lagi kepada ownernya dan completion systemnya.

Tanggapan 16 – Bagus Nugroho

Dear Pak Riki,

Saya pakai daily digest utk milis jadi baru bisa saya reply sekarang.

Utk completion system yang saya pakai sekarang ini, semua disiplin di-cover (electrical, architectural, mechanical, telekom, piping, instrument). seperti structure+painting akan dicover oleh Mechanical Completion yang di-define by area/deck level (ataupun module)…

Mechanical completion adalah tahap pengecekan pada equipment (baik itu elektrikal, mekanikal, instrument, telekom, dst…) yang telah dipasang/diinstall yang sesuai dengan approved drawing/specs dan in line dengan project requirement, sehingga apabila equipment itu dihandover ke pihak commissioning, maka bisa dilakukan fungsional test sesuai dengan peruntukannya.

Setelah commissioning selesai akan dilanjutkan dengan start up activity yaitu hydrocarbon introduction di facility tsb (contoh kasus oil and gas platform), sampai nanti facility nya berjalan nanti lanjut dengan TAR/shutdown maintenance (untuk ini belum menjadi domain saya utk menjawabnya :))

Kalau step by step nya mungkin akan panjang sekali email ini. Mungkin bapak bisa refer ke format ITR/checlist dan testsheet di tempat Bapak.

Mohon koreksi atau bila ada comment dari yang lain.

Tanggapan 17 – Dirman Artib

Pak Febrian,

Kira-kira urutan nya begini :

1. Rencana besar dari QA/QC Management (high level management plan) dituangkan dalam Project Quality Plan (PQP), ini adalah rencana yang terdokumentasi untuk memastikan (atau mendekati kepastian) bahwa semua persyaratan-persyaratan produk/service (product/service requirements) maupun persyaratan proses-proses (process requirements) akan dipenuhi selama project berjalan. Cakupan rencananya adalah mulai saat project di ‘award’, sampai project ditutup (close out).

Yang penting dalam PQP adalah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam project, proses-proses yang terlibat dalam tahapan tersebut, dan kemudian menetapkan cara dan metode dalam mengendalikan operasional agar bisa dicapai dan dibuktikan bahwa kita telah memenuhi semua persyaratan. Contoh saja : jika ada cakupan pekerjaan mendesign dan membuat presurre vessel, maka kita akan merencanakan secara garis besar pendekatan management kita (management approach) tentang bagaimana nanti akan dihasilkan presurre vessel yang memenuhi persyaratan standard ASME Sect. VIII dan persyaratan Dirjen Migas (untuk di Indonesia). Tentulah dalam ASME Sect VIII dan Kep. Dirjen Migas ditetapkan syarat-syarat tersebut, yaitu si welder harus certified sesuai dengan persyaratan standard ASME Sect. IX dan pengujian sang welder harus disaksikan Pak Dirjen atau wakil yang di tugaskan seperti Sang Migas Inspector. Bukti dari kesaksian tersebut adalah berupa sertifikat juru las yang diakui Pak Dirjen Migas. Di akhir cerita, kita akan membuktikan bahwa kita membuktikan telah memenuhi syarat-syarat proses dan syarat syarat produk dan syarat-syarat pihak berwenang (authority party) yg dalam konteks ini Bapak Dirjen Migas Indonesia.

2. Pemantauan, Inspeksi, Pengukuran dan Pengujian-PIPP (monitor, inspection, measure and test) adalah sebahagian aktivitas dari keseluruhan project yang bersamaan dengan tahapan merealisasikan produk/service (product realization processes) yang juga ikut direncanakan dan ditetapkan di dalam PQP. Tetapi, adalah praktek yang baik (best practices) dan sudah menjadi persyaratan yang umum (common industrial requirements), bahwa PIPP dituangkan dalam bentuk rencana terdokumentasi yang biasa disebut di regional kita ini Inspection and Test Plan (ITP), terkadang di beberapa country lain disebut QA/QC Inspection and Test Plan (QCITP). Dalam ITP, akan dijelaskan, secara teknis dan administrative apa yang akan di PIPP, bagaimana cara/nya dan siapa yang akan melakukan PIPP, siapa yang akan menjadi saksi aktivitas Inspeksi, Ukur atau Uji, apa kriteria keberterimaan (acceptance criteria) dengan tetap berpedoman kepada praktek-praktek keselamatan dan perlindungan lingkungan dan planet bumi. Salah satu cara yang umum (best practices) adalah mengembangkan dan menetapkan instruksi kerja-instruksi kerja, form-form isian, checklist, dan punch list, sebagai fasilitas atau alat bantu untuk mencatat aktivitas-aktivitas PIPP. Ini yang dimaksud dalam ISO 9001 sebagai ‘record shall be established…….’. Dalam pengembangan form-form, checklist, tersebut harus berpedoman kepada standard-standard keberterimaan yang diacu agar mampu didemonstrasikan bahwa kita memenuhi persyaratan tersebut.

3. Urutan-urutan dari PPIP pun harus direncanakan dengan baik, mulai dari raw material didatangkan, diterima, dibawa, diangkut, dipotong, dilas/sambung/joint dan dipasang. Di antara aktivitas-aktivitas tersebut harus lah direncanakan dengan tepat kapan PPIP dilakukan.

4. Khusus, aktivitas Pre-commisioning, Comissioning dan Star Up dan hubungan dalam cakupan kerja QA/QC akan tergantung dari cakupan kontrak yang sudah disetujui. Akan tetapi, secara umum bahwa pihak pelaksana seperti EPCI company paling tidak akan termasuk cakupan pekerjaan ‘pre-comissioning support’, yang sebenarnya adalah final inspection dari individual equipment, sub-installation maupun whole installation dan biasa juga dijadikan event untuk handover kepada commissioning. Jika memang ‘pre-commisioing’ termasuk cakupan kontrak, maka PQP dan ITP juga harus diextent sampai ke aktivitas ini, dan pertanyaan Pak Febrian terjawab sudah.

Sila, kalau ada yang mau menambahkan.

Tanggapan 18 – Bagus Nugroho

Saya baru pakai 2 system completion yaitu OMEGA-PIMS dan OPERCOM-ICAPS.
Jadi belum bisa banyak bicara ttg WINPC dan FINTEL. Boleh lah kalau ada yang mau share di sini ttg completion system tsb?