Saya mau menanyakan masalah ‘kebijakan PLN Jabar menaikkan tariff listrik untuk pemasangan baru atau penambahan daya di tahun 2009’. Karena beberapa bulan ini saya merasa bingung mau bertanya kemana. Setelah melakukan tambah daya dari 1300 kWh menjadi 2200 kWh dikenakan tariff Rp. 1000/kWh. Begitu saya Tanya dari mana dasarnya, pihak PLN menjelaskan kalau itu dari Kebijakan tahun 2009. Tapi begitu saya mau tahu isi kebijakannya, pihak PLN tidak bisa menunjukkan. Pertamyaan saya, apakah menaikan Tarif Dasar Listrik tidak perlu persetujuan pemerintah pusat?

Tanya – Amy Siswandi

Dear Milister,

Perkenalkan data diri saya:

Nama saya Amy Siswandi (Mr). Apakah boleh kalau saya mau menanyakan masalah ‘Kebijakan PLN Jabar menaikkan tarif listrik untuk pemasangan baru atau penambahan daya di tahun 2009’, di milist migas?

Karena beberapa bulan ini saya merasa bingung mau bertanya kemana. Setelah melakukan tambah daya dari 1300 kWh menjadi 2200 kWh dikenakan tarif Rp. 1000/Kwh. Begitu saya tanya dari mana dasarnya, pihak PLN menjelaskan kalau itu dari Kebijakan tahun 2009. Tapi begitu saya mau tahu isi kebijakannya, pihak PLN tidak bisa menunjukkan.

Pertanyaan saya, apakah menaikkan Tarif Dasar Listrik tidak perlu persetujuan pemerintah pusat Pak?

Mohon pencerahannya Pak, karena menyangkut kepentingan bersama, terima kasih.

Tanggapan 1 – mujibul anam

Pak Amy Siswandi,

Untuk ‘tarif pemakaian listrik’, kayaknya TDL 2003 masih berlaku sampe sekarang, saya sih belom mendengar kabar bahwa TDL 2003 sudah tidak berlaku…

untuk simulasi ‘biaya tambah daya’, coba dicek ke link berikut:

http://www.pln.co.id/PelayananPelanggan/ChangeofConnectedCapacity/tabid/61/Default.aspx
kalo golongan tarif sudah dinaikan (tambah daya) dari 1300VA menjadi 2200VA, otomatis ‘biaya pemakaian per kwh’ juga naik, lebih jelasnya coba dicek ke link berikut:

http://www.pln.co.id/PelayananPelanggan/TDL/TDL2003/TDLKeperluanRumahTanggaJuliDesember/tabid/153/Default.aspx

Tanggapan 2 – Amy Siswandi

Dear Pak M. Suprihat,

Maaf e-mail saya tadi mungkin kurang jelas. Maksudnya setelah pemasangan menjadi 2200 kWh, biaya per kWh = Rp.1000.

Dear Pak Mujibul Anam,

Terima kasih atas informasinya Pak.

Sebelumnya saya juga pernah cari tahu di http://www.pln-jabar.co.id/info_daftar_tdl.htm (karena saya tinggal di Bekasi – Jawa Barat), tarif untuk R2 (2200 ~ 6600 kWh) hanya Rp. 560/kWh.
Tetapi begitu tagihan listrik melonjak, saya check slip-nya ternyata Biaya per kWh = Rp.1000.

Lalu saya coba datang ke Kantor PLN cabang Bekasi dan bertanya pada karyawan PLN (sampai 3 kali ganti PIC),
dan yang terakhir bilang harga Rp. 1000/kWh adalah Kebijakan PLN Jabar untuk yang tambah daya / pasang instalasi listrik di tahun 2009.
Begitu saya mau lihat isi kebijaknnya, katanya gak ada. Hanya dari surat perjanjian kontrak kerja saja ditulis Rp. 1000/kWh.

JAdi yang benar yang mana ya?

Tidak ada sosialisasi, tidak ada bukti tertulis, kok tarifnya langsung dinaikkan. Sedangkan untuk pelanggan yang tidak melakukan perubahan daya tarifnya tetap menggunakan TDL tahun 2003.

Mungkin ada yang bisa kasih pencerahan dari rekan2 milist.

Tanggapan 3 – Jono

Dear Pak Amy,

Saya hari ini baru saja menyelesaikan urusan untuk penambahan daya di rumah saya.
Daya semula 900 W ————> 2200 Watt dengan beberapa perincian:

1. Tanpa ganti kWh meter : biaya 620 ribu rupiah (tiap bulan 850 rupiah per kWh dan abodemen 120 ribu rupiah)

2. Ganti kWh meter menjadi kWh meter Prabayar biaya 620 ribu rupiah+ harga kwH meter Prabayar 850 ribu rupiah dengan nilai per kWh 660 rupiah

Demikian pak infonya,

Tanggapan 4 – Amy Siswandi

Dear Pak Jono,

Nah kan berbeda lagi tarif yang di kena kan ke Pak Jono. (BTW thanks infonya Pak, bisa jadi referensi untuk saya).
Sebenarnya saya sudah minta pihak PLN menurunkan tarif per kWh (kalau bisa), tapi katanya berkasnya sudah masuk Bandung (Pusat) jadinya susah.

Saya jadi bingung, tidak ada standard tarif seperti ini…kalau orang yang tidak tahu apa-apa tentang administrasi seperti ini berarti bisa rugi banyak dong?

Tanggapan 5 – ROSES-Man

nah ini juga lucu ya, PLN… masa pelanggan yang minta ganti ke KWH prabayar harus dikenai biaya ganti juga. memangnya itu peralata jadi milik customer? kan itu barang diambil lagi oleh PLN. kl kita ganti hape, kan operator seluler gak men-charge biaya ganti hape….. malah beberapa penyedia tv satelit aja ngebebasin peralatan (dengan status pinjam). ganti MCB juga bayar, sampe ratusan ribu… padahal kl kita modalin aja MCBnya kan gak seharga gitu…. toh ganti daya sebenernya cuma ganti MCB aja.

sayangnya gak ada listrik swasta, jadinya gak bisa saingan….. padahal saya berencana mengganti meterannya dengan yang prabayar, tapi kl biayanya 850rb itu lumayan juga….. lah kl ganti hape aja, hape lama masih bisa dijual bekas jadi tinggal bayar selisihnya…. nah kl ini masa dikenain harga sama dengan pemasangan baru…. PLN… PLN….. dari sini aja dah keliatan banyak untung (abunemen, harga meteran, pasang baru, dsb), gimana bisa dibilang rugi…………..

Tanggapan 6 – Jono

Alhamdulillah….saya sih bersyukur….masih bisa nambah daya…….dan saya tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti yang Pak Roses…because I’m living in Indonesia , it’s different when I was in Qatar……so…yaa….ikutin aja deh…sistem yang ada di Indonesia…

Tanggapan 7 – benny hery ritanto

Idem apa yg dialami Pak Jono, saya pernah minta ganti MCB karena di meteran terbakar, mungkin karena usang ato karena high ampere.
la hak milik kan milik company bukan kami, lalu rusaknya bukan karena salah kami sebagai konsumen, kami minta ganti diminta bayar yg baru (after saya cek selisih 500 rupiah dr harga pasar), itu belum selesai,yg baru itu gak bisa kepakai karena tiap beberapa jam trip.lalu kami minta baru, diminta bayar lagi.Hal seperti juga pernah saya alami untuk masalah air, dll.ada BPK, BPKP, badan pengawas BUMN, dll.pada kemana ya????nanti nulis di kolom keluhan publik bernasib kyk ibu prita, agak susah ya hidup di negara semrawut hukumnya????istighfar aja bapak2.Ato kita tanya ke rumput yg bergoyang??

Tanggapan 8 – eKo_pRasT

Mgkn PLN ‘berkelakuan’ sperti itu krn mreka pgn coba cari untung pak, coba kalo smpyn bisa dapet hasil pembukuan mreka, emg kapan PLN pernah dpt benefit? Wong utk modal bahan bahan bakar aja kalo gak disubsidi pemrintah udah tutup itu PLN, anehnya pemrintah, mreka lebih suka jual bahan bakar k asing, bkn utk kelangsungan & hajat hidup org banyak, dlm hal ini melalui pemberian bahan bakar murah dan continuous k PLN. Daripada ngasih subsidi TDL, mending bahan bakar PLN dilancarin aja n ganti itu smua PLTD, beres, tapi UUD juga sih, repot.

Jgn tll menyalahkan, mmg scara prinsip ekonomi yg anda bilang benar, tapi tlg dimengerti, posisi PLN bagai buah simalakama, tak pernah untung, tapi hrs sll jalan terus, mana dukungan pemrintah jg stengah hati, repot pak, coba tanya rekan2 di PLN, gmn sbenarnya kondisi keuangan di PLN, kalo utk ambil untung dlm kondisi saat ini tanpa subsidi, itu mrupakan hal yg almost impossible mnurut saya.

Tanggapan 9 – Yuyus Uskara

tapi ya gak bisa dengan cara menipu konsumen toh? soalnya kalo saya tangkap pernyataan Pak Eko Prast, ya kalo BUMN amburadul melayani pelanggan ya wajar. aneh.

coba diadukan ke YLKI dulu deh, dengan semua bukti yang lengkap.

Tanggapan 10 – eKo_pRasT

Waduh, bknnya sy anggap BUMN amburadul melayani konsumen itu wajar pak, mhn maaf kl pemahamannya sprti itu. Mksd sy, wajar mreka ngasih harga mahal gitu, krn mreka jg tdk bisa mengharapkan untung dr penjualan listriknya aja, wong TDL aja g nutup modal bahan bakar. Kalo emg dgn harga semahal itu dianggap merugikan konsumen, dgn mark-up harga MCB yg udah disebutkan sbelumnya, silakan saja, krn konsumen dlm hal ini berhak untuk komplain.

Tanggapan 11 – mujibul anam

pak amy siswandi,

menurut uraian bapak, sepertinya yang dipermasalahkan bukanlah mengenai ‘biaya tambah daya’ ataupun ‘biaya pasang baru’.
tetapi mengenai ‘biaya pemakaian listrik per kWh’ yag tidak sesuai dengan TDL 2003 setelah golongan tarif dinaikan (tambah daya) dari 1300VA menjadi 2200VA. mudah-mudahan saya tidak salah memahaminya.
mungkin sebaiknya bapak coba cari informasi dari PLN pusat misalnya, apakah memang PLN Jabar mempunyai kebijakannya tersendiri dalam hal TDL? aneh juga rasanya, saya sendiri kurang begitu paham.
kalo boleh saya tau, berapa biaya yang dikeluarkan waktu itu untuk tambah daya dari 1300VA menjadi 2200VA?

Tanggapan 12 – Amy Siswandi

Pak Mujibul Anam,

Maaf baru sempat di balas.
Betul seperti yang bapak bilang, masalahnya ada pada biaya pemakaian listrik per kWh.
Waktu itu kebetulan orang tua saya yang mengurus Pak, kalau tidak salah ± Rp. 1 juta untuk biaya tambah daya.

Kalau pun saya mau bertanya ke pihak PLN Pusat, apa ada referensi PIC nya Pak? Terima kasih

Tanggapan 13 – mujibul anam

Pak Amy Siswandi,

Maaf, pak… kebetulan saya sendiri tidak punya referensi PIC yang bapak tanyakan…

Sepertinya permintaan listrik yang terus meningkat malah membuat PLN kerepotan… 🙂

Tanggapan 14 – mohammadsuprihat

Pak Amy,

Beberapa bulan lalu saya tambah daya listrik di rumah dari 1300kWh ke 2200 kWh dan ketika saya tanyakan ke petugas PLN bagian gangguan yang datang ke rumah saya juga sama seperti bapak katanya biaya tambah daya sebesar Rp. 1000/kWh jadi untuk tambah daya ke 2200 kWh harus membayar sekitar Rp.900 rb. Saat itu saya tidak langsung percaya dan hari berikutnya saya mengubungi kantor PLN setempat untuk menanyakan biaya untuk menaikkan daya listrik. Ternyata biaya nya hanya sekitar Rp.300-400 rb dan akan dikerjakan oleh PLN paling lama 3 hari kerja. Biaya tersebut tidak termasuk penggantian MCB di rumah kita.

Saran saya coba tanyakan langsung ke kantor PLN setempat bila perlu datang lansung untuk mengetahui berapa biaya menaikkan daya listrik yang sebenarnya agar kita tidak di “kerjai” oleh oknum….