Untuk Kapasitas Cahaya anda bisa merujuk ke SNI-16-7602-2004 bila bermaksud mengukur intensitas cahaya di ruang kerja. UU 1970 tidak akan menjawab hal yang anda cari lebih tuntas.
Kalo menurut KepMenKes 1405/2002 -> min 100 lux – hanya ini angka yg sangat generik, tentu akan bergantung pada luas ruangan, kondisi ruangan dan lainnya).
Pemilihan warna lampu memang akan berpengaruh pada sisi health dari kelelahan mental dan mata, dan warna yang membawakan (rendering) kenyamanan bagi mata yang akan dipilih, dan warna putih akan punya ‘color rendering’ yang lebih baik. Warna kuning berfungsi untuk penerangan dan sinyal yang mudah dilihat bagi mata. Oiya, selain itu pemilihan lampu juga harus diperhatikan instalasi listrik yang anda punya, secara generik untuk aplikasi office jenis lampu energy saver dan fluorescent mungkin sudah cukup, lebih jauh untuk pemilihan spesifikasinya anda bisa konsul pada electrical engineer di tempat anda.

Tanya – ali azizan

Dear All mohon pencerahannya.

Bagaimana cara mengukur Fluks lampu yang di butuhkan untuk suatu ruangan dan berapa lampu yang harus di sediakan ????

Apakah lampu neon berwarna kuning di perbolehkan di gunakan di kantor untuk bekerja sehari hari ???

Atas penceahannya kami ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – andi hidayat

Ato bisa juga memakai software luxicon….. sesuai dengan kebutuhan atau standar barapa candela yang di inginkan.dan yang pasti juga akan ada sedikit perbedaan antara hasil illuminasi software dengan hasil illuminasi actual di lapangan. dan apabila lumen dari hasil actual dilapangan tidak mencapai target cendela yang di inginkan maka kita harus menabah jumlah lampu sehingga bisa mendapatkan hasil lumen yang di inginkan…..

sedikit saran… menurut saya akan lebih baik menggunakan lampu TL (fluorescent)untuk ruangan kantor..

sedikit mungkin bisa membantu….

mohon bimbingan juga dari senior2 lainya…

Tanggapan 2 – Eko Arif

Bapak Ali yth :

Pertama bapak merujuk ke PERMEN no.7/1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja.di UU 1970

Untuk pengecekan gunakan alat: luxs meter disitu akan tertera tingkat penerangan dalam satuan Luxs dan nanti akan disesuaikan dg tabel / kondisi ruangan dan jenis pekerjaanya.

Untuk lampu yg kuning bisanya hanya dipakai dalam ruangan terbuka, yg mana hanya sebagai penerangan saja, tetapi bukan sbg penerangan orang bekerja, karena akan mengganggu kondisi mata,

Ok, silahkan baca buku keselamatan dan kesehatan kerja… disitu bapak akan dapat jawaban….

Tanggapan 3 – ali azizan

Pak Eko Arif ,

Di UU 1970 ini di atur di pasal berapa ?

Tanggapan 4 – Alvin Alfiyansyah

Pak Ali,

Anda bisa merujuk ke SNI-16-7602-2004 bila bermaksud mengukur intensitas cahaya di ruang kerja. UU 1970 tidak akan menjawab hal yang anda cari lebih tuntas.
Kalo menurut KepMenKes 1405/2002 -> min 100 lux – hanya ini angka yg sangat generik, tentu akan bergantung pada luas ruangan, kondisi ruangan dan lainnya).
Pemilihan warna lampu memang akan berpengaruh pada sisi health dari kelelahan mental dan mata, dan warna yang membawakan (rendering) kenyamanan bagi mata yang akan dipilih, dan warna putih akan punya ‘color rendering’ yang lebih baik. Warna kuning berfungsi untuk penerangan dan sinyal yang mudah dilihat bagi mata. Oiya, selain itu pemilihan lampu juga harus diperhatikan instalasi listrik yang anda punya, secara generik untuk aplikasi office jenis lampu energy saver dan fluorescent mungkin sudah cukup, lebih jauh untuk pemilihan spesifikasinya anda bisa konsul pada electrical engineer di tempat anda.

Bila anda tertarik memakai practise luar, maka ANSI IESNA RO-7-01 ttg Industrical Facilities dan IESNA RP-04 ttg Office Lighting dapat anda jadikan panduan juga. CMIIW….hope it will help you.

Tanggapan 5 – Eko Arif

Pak Ali yth :

Untuk referensi lihat di PERMEN no.7/1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja.di UU 1970. tentang keselamatan kerja, pasal 14…..

Nanti bapak buat matrik disesuaikan dg kondisi tempat kerja & jenis pekerjaan yg dilakukan bapak, jika setelah pebgukuran tidak sesuai dg ( kurang dari standard minimal) maka bapak harus menambah lampu sampai didapatkan intensitas penerangan yg sesuai. Selanjutnya setiap 2 bulan bapak lakukan inspeksi untuk monitoringnya.

Tanggapan 6 – Erwin Huntangadi

Dear Pak Ali,

Apakah maksud pertanyaan bapak adalah tingkat pencahayaan (luks)untuk ruangan?

Jika bapak maksudkan Fluks atau lengkapnya Fluks Luminus (Lumen) lebih tepat untuk kuat pencahayaan lampu (sumber penerangan) dan besarnya tergantung jenis lampunya seperti Fluorescent, pijar, halogen, dll.

Standar tingkat pencahayaan minimum ada dijelaskan di SNI (Standar Nasional Indonesia) dan standar internasional (maaf saya lupa juga tepatnya yang mana tapi nanti saya cari lagi, kebetulan saya baru saja pindah kantor jadi masih banyak barang didalam kardus).

Setahu saya, untuk ruang kerja adalah minimum 350 lux.

Rumus-rumus sederhana yang biasa saya pakai sbb :

Indeks Ruang/K = (P x L)/(H x (P + L))

N = (E x P x L)/(Q x myu x 0,8)

dimana

N = jumlah armatur terpasang,

E = Luks Minimum Ruangan,

P = panjang ruangan (meter),

L = lebar ruangan (meter),

H = Jarak Armatur/Lampu ke bidang kerja dalam meter (meja jika ruang kantor/kerja),

Q = Fluks Luminus/Lumen Lampu yang dipakai,

myu = Faktor Refleksi (dicari didalam tabel standar setelah mendapat K),

0,8 = Faktor Perawatan

Setelah dapat N, kita cari lagi E-nya dengan rumus :

E = (N x Q x myu x 0,8)/(P x L)

Berdasarkan pengalaman saya mendesain pencahayaan ruangan di gedung sekolah, perkantoran maupun plaza/mal (dari tahun 2000), dengan rumus sederhana diatas, luks yang didapat dari perhitungan tidak jauh berbeda dengan hasil pengukuran dengan Luks meter.

Ada lagi rumus lebih lengkap dari SNI atau standar lainnya, jika sudah ketemu, saya akan share lagi.

Untuk ruang kerja/kantor direkomendasikan menggunakan lampu warna putih atau tipe Cool White (3300 – 5300 K) atau Daylight (>5300 K) agar tidak cepat melelahkan mata.

Di pasaran, Lampu dengan Cahaya Putih biasanya disebut Cool Daylight tapi saya lupa berapa Kelvin-nya sedangkan Lampu dengan Cahaya Kuning biasa disebut White/Warm White.

Jika ada pertanyaan lain, silahkan email saya secara pribadi.

Demikian semoga dapat membantu.

Tanggapan 7 – ali azizan

Pak Erwin ,

Saya akan coba pakai rumus yang bapak berikan ini , mudah-mudahan ada angka yang keluar , saya akan pakai angka ini untuk rekomendasi kepada manajemen di sini ,

Terus terang agak berat tanpa angka karena ujung dari semua ini adalah masalah budget .

Tanggapan 8 – ali azizan

Dear pak Erwin H,

berarti untuk mencari Q kita harus punya Fluks meter ya ?

oh ya boleh kirimkan ke saya Tabel standar untuk mencari myu/Faktor Refleksi .

Tanggapan 9 – Erwin Huntangadi

Dear Pak Ali,

Untuk besaran Q (dalam Lumen) sudah ada standarnya. Kita bisa dapatkan dari SNI, standar internasional, dokumen teknis produsen lampu seperti Philips atau Osram atau yg lainnya.

Seingat saya, 1 buah Lampu Fluorescent Tubular 18 Watt sebesar 1050 Lumen atau 1 buah lampu Fluorescent Tubular 36 Watt sebesar 1800 Lumen. Mungkin ada perbedaan diantara merk lampu atau standar.

Untuk perkantoran biasanya dipakai armatur lampu 2 x 36 Watt sehingga Lumen total menjadi 3600 Lumen.

Jika armatur lampu dilengkapi dengan gril/parabolic mirror dikalikan lagi dengan faktor pengurang kira2 sebesar 20% sehingga menjadi 2880 Lumen.

Saya sedang cari-cari cetakan SNI beserta tabel Faktor Refleksi dan Tabel Lumen Lampu karena masih didalam kardus.

Jika sudah ketemu, saya akan scan dan emailkan ke bapak.

Mungkin sekarang Pak Alvin Alfiyansyah memegang cetakan dari SNI-16-7602-2004 karena beliau sudah menyebutkan diemail sebelumnya dan bisa bantu scan tabel Lumen Lampu dan Faktor Refleksi.

Fluks meter digunakan untuk mengukur besarnya tingkat pencahayaan luks di bidang kerja.

Misalnya standar minimum 350 Luks, kita buatkan perhitungan didapat ternyata 354 Luks karena penyesuaian jumlah armatur dengan layout ruangan. Untuk memastikan sebenarnya berapa luks, setelah pemasangan armatur lampu, kita ukur tingkat cahaya dibawah lampu di bidang kerja dengan Fluks meter.

Ada software untuk menghitung Luks ini jika menghitung manual membingungkan.
Yang saya tahu DiaLux (gratisan). Mungkin bapak bisa googling.

Tanggapan 10 – Dadan

software gratisan seperti Dialux atau Calculux ditambah dengan database produk dari vendor mungkin akan membantu, Disamping ada calc. report juga ada modeling serta renderingnya.