DFEI adalah salah satu teknik analisis Quantitative untuk melihat Hazard Rating, Nilai maksimum property yang rusak (Maximum Parobable Property Damage-MPPD) dan juga nilai interupsi bisnis yang hilang. Kelebihannya adalah metode ini menggunakan semua sifat fisika bahan yang terkait dengan potensi bahaya kebakaran dan peledakan dalam F2 (special faktor). Kekurangannya adalah ketika bahan tersebut campuran homogen dengan titik didihnya azeotrop maka kesulitan pada penentuan sifat campuran bahan pasti terjadi, terutama jika akan menentukan MF ( Material Factot) ini dibutuhkan pengetahuan termodinamika yang lumaya.

Tanya – Henry

Yth. rekan-rekan Process Safety,

mohon bimbingannya mengenai metode Dow’s F&EI..

Apakah kekurangan dan kelebihan dari metode ini?

Bagaimanakah filosofi penentuan angka kredit penalti pada General process hazard factor dan special process hazard factor? kredit faktor untuk loss control credit factor??

Pada saat dan kondisi seperti apa, metode ini cocok untuk digunakan??

Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah

Mas Henry,

Dow’s F&EI adalah index yg robust buat chemical loss prevention dan risk management, sudah dikenal dan bisa dipakai dalam process design dan optimization, tentu index rankingnya relatif berdasar hasil study Dow’s dan AICHE. Tentu jika anda ingin menggunakannya secara efektif maka berbagai data process dan literatur dibutuhkan, serta support software optimization dibutuhkan utk study Dow’s F&EI yang komprehensif. Sepertinya hal-hal menarik ini yg membuat Dow’s F&EI cukup populer digunakan, beberapa study di S2-UI sepertinya ada yg pernah menggunakan ini walau bukan utk optimization process design. Harap diingat metode ini akan selalu menitikberatkan pada worst case yg dapat terjadi. Dow’s F&EI adalah penentuan kuantitatif berdasar data history, energy potensial material yg dievaluasi dan hal2 lain dalam konteks study loss prevention. Teknik lain yg dikenal sejajar seperti Dow’s F&EI adalah SWeHI, Mond Index, ERMST, HWI, Inherent Safety Index, Overall Inherent Safety Index, Transportation Risk Screening; masing2 teknik punya kelebihan dan kekurangan serta aplikasinya yg mungkin cocok hanya buat kasus tertentu.

Penalty yg anda maksudkan akan dirujuk berdasar process safety information (e.g. plot plan, material MSDS, kondisi process, tipe unit equipment yg dipakai, dll.). Tidak semua penalty cocok bagi kondisi proses yg dievaluasi jadi judgement dan diskusi dengan expert akan diperlukan. Kondisi reaksi yg terjadi, process unit, access, drainage & spill control, material handling akan menentukan angka penalty dalam general process hazards. Sedang dlm specific process hazards ditentukan oleh kondisi material, operasi dalam zona flammable, atmosferik condition, dust content (if applicable), relief condition, temperature, kondisi unstable material, korosi-erosi, leakage, rotating equipment yg mungkin dipakai, dll. termasuk data history proses yg mungkin diperlukan. CMIIW to expert & senior, i might loose some critical clarification here…

Kredit faktor buat LCCF (C total) ditentukan oleh kategori process control (C1), Material Isolation (C2), Fire protection (C3), C total = C1xC2xC3. Jika tidak ditentukan maka credit factor = 1. Masing2 kategori secara proses ada angkanya juga, agak susah kalo mau dijelaskan satu persatu…

Anda mau menggunakan Dow’s F&EI utk study apa ? Analisa process design atau analisa fire & explosion buat kegagalan material tertentu ?
Saya yakin Moderator KBK Process safety bisa turun tangan membantu anda…tapi kalo mau diskusi tuntas mungkin off line lebih baik kecocokan metode ini yg mungkin dianalisa lebih dahulu, saya cuma pembelajar biasa saja… i might be wrong…

Tanggapan 2 – Darmawan A Mukharror TUV FS Eng

Bang henry,

Silahkan dibaca juga tulisan saya dan Ronggo di Jurnal KMI pada link di bawah ini:

http://migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=72&Itemid=42

Jika anda sudah membacanya kita bisa diskusi lebih panjang dan lebih lebar mengenai hal ini

Tanggapan 3 – Roslinormansyah

mas Henry,

DFEI adalah salah satu teknik analisis quantitative untuk melihat Hazard Rating, Nilai maksimum property yang rusak (Maximum Probable Property Damage-MPPD) dan juga nilai interupsi bisnis yang hilang. Kelebihannya adalah metode ini menggunakan semua sifat fisika bahan yang terkait dengan potensi bahaya kebakaran dan peledakan dalam F2 (special factor). Kekurangannya adalah ketika bahan tersebut campuran homogen dengan titik didihnya azeotrop maka kesulitan pada penentuan sifat fisika campuran bahan pasti terjadi, terutama jika akan menentukan MF (Material Factor) ini dibutuhkan pengetahuan termodinamika yang lumayan.

Pada penghitungan MPPD, cost yang dihitung adalah harga baru alat (biasanya pakai Chemical Plant Cost Index – bisa dicari di internet cari menghitungnya) nah lantas bagaimana costnya jika alat yang digunakan adalah ‘bekas’ alias second. Karena di ranah negara berkembang penggunaan peralatan second adalah sebuah keniscayaan meski tetap faktor safety yang di utamakan. JP Gupta, pernah membahas soal mengenai perhitungan MPPD dengan berbasis peralatan ‘second’ tersebut. JP Gupta juga pernah membahas correction factor pada DFEI dengan metode AOE (Area of Exposure).

Bila dibanding dengan Index-Index yang lain (I2SI, SWeHI, dll) maka DFEI cukup simple. DFEI juga agak sulit untuk mengukur MPPD pada kasus-kasus unit proses yang bergerak, semisal : Mobil Truck yang mengangkut Tangki LPG.

Ini saja yang sedikit sampaikan, klo mau diskusi silahkan mumpung di milist banyak teman-teman yang pernah coba hitung risk dengan DFEI.

Tanggapan 4 – Darmawan A Mukharror TUV FS Eng

Menambahkan apa yang diutarakan oleh Cak Rosli,

DFEI ini adalah mencerminkan cara cara amerika dalam mengevaluasi resiko. Orang amerika yang lebih pada goal oriented cenderung untuk mencari cara praktis, simple dan cepat dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Dan, karena kepraktisan, kesederhanaan, dan kecepatan nya pula DFEI laku di USA. Metode ini juga dapat digunakan untuk melakukan screening cepat sebagai inputan peralatan proses mana saja yang perlu dievaluasi dalam QRA (agar QRA yang dilakukan tidak terlalu makan waktu, tenaga, dan beaya), sebagaimana yang pernah saya tulis untuk jurnal KMI.

Sebaliknya cara pandang orang Eropa yang lebih process oriented dalam menyelesaikan masalah cenderung lebih thorough, more detail – sometimes very sophisticated, tapi sangat kuat justification dan defence nya apabila dipertanyakan. Kelemahannya tentu membutuhkan resources baik itu SDM maupun tools dan reference yang kuat, akibatnya akan lebih lama dan njelimet dalam menganalisa dan mengevaluasi resiko. Orang Eropa lebih menyukai menyelesaikan analisa dan evaluasi resiko menggunakan QRA atau PRA.

Jika DFEI cenderung terlalu ringkas sehingga beberapa faktor misalnya faktor letak fasilitas yang hanay disesuaikan dengan kondisi cuaca dan iklim amerika, akibatnya untuk menggunakan DFEI di Indonesia, diperlukan faktor koreksi khusus, sebagaimana pernah diajukan Gupta dalam J. Loss Prev, vol 10, Jan 1997. Jika tidak faktor consequence berpeluang untuk menjadi ketidakpastian.

DFEI tidak mengenal penggunaan analisa sensitifitas sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan, tidak menggunakan analisa komputasi 3-dimensi dalam menghitung konsekuensi, serta asumsi yang digunakan terbatas hanya pada yang telah diperikan dalam manualnya.

Hal lain yang harus menjadi catatan adalah perkembangan harga equipment untuk menghitung kerusakan serta harga nyawa manusia, kehilangan produksi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan harusnya menjadi perhatian karena disinilah letak ketidakpastian nya.

Semoga menjelaskan.