Ada yang sering bertanya, kapan waktu yang tepat mengganti oli, apakah setelah menempuh 2000 km, 3000km, 5000 km atau 10000km? Tidak ada yang bisa menjawab secara pasti, tapi kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang adalah di kisaran 3000-5000 km. Banyak produsen atau pedagang pengecer yang merasa senang, jika para pengguna oli mengganti oli lebih sering atau lebih awal karena dapat dipastikan produk mereka lebih cepat terjual. Tapi bagi mereka yang peduli lingkungan, penggantian oli sebaiknya selama mungkin (tentu sampai batas yang benar) karena itu berarti potensi resiko limbah oli bekas akan lebih rendah.

Pembahasan – imam rozali

Ada yang sering bertanya, kapan waktu yang tepat mengganti oli, apakah setelah menempuh 2000 km, 3000km, 5000 km atau 10000km?

Tidak ada yang bisa menjawab secara pasti, tapi kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang adalah di kisaran 3000-5000 km. Banyak produsen atau pedagang pengecer yang merasa senang, jika para pengguna oli mengganti oli lebih sering atau lebih awal karena dapat dipastikan produk mereka lebih cepat terjual. Tapi bagi mereka yang peduli lingkungan, penggantian oli sebaiknya selama mungkin (tentu sampai batas yang benar) karena itu berarti potensi resiko limbah oli bekas akan lebih rendah.

Nah, berikut ada beberapa indikator yang dapat digunakan :

* Bila telah terdapat emulsi air maksimal 0,2%v

* Bila telah terjadi oksidasi maksimal 0,5%wt

* Bila viskositas oli telah naik/turun lk 25%

* Bila TBN telah turun maksimal 50%

* Bila debu, sabun hasil oksidasi, partikel keausan mesin dan produk oksidasi lainnya maksimal 3%

* Bila telah terjadi fuel dilution maksimal 5 – 10% volume

* (sumber : handbook Pelumas Pertamina)

Jika sudah demikian sebaiknya segera ganti oli

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 1 – Bambang Cahyono

Pak,

Ada nggak cara yang lebih simpel, kan nggak mungkin kita beli nih alat ukurnya kalau untuk pribadi. Mungkin dgn cara penglihatan biasa gitu, thanks.

Tanggapan 2 – Razali

Pak Imam,

Memang seharusnya begitu Pak, tapi kalau di apply pada kenderaan pribadi tentu bakalan repot dan mahal.

Tanggapan 3 – Erwin (Jakarta)

Kalo di lihat dari Bahasa ( Indicator nya )..ini mah perlu Investasi alat untuk men-ditek..Perubahan dai “ OLI” tersebut….lah kalo Harga Alat tersebut lebih dari 50 juta..dan mobil saya Cuma Sekelas angkot yg di hargai orang Cuma 15 Juta…wah bias tekor donk saya…he….he..he…Maaf ya pak Cuma mencoba melihat dari sisi lain….

Tanggapan 4 – Rawindra

Betul sekali mas …, kita yang awam perlu metode deteksi yang kualitatif saja. Idealnya dpt dilakukan cukup dgn pancaindera; ujung jari, hidung dan sepasang mata bola!

Kalo tidak memungkinkan, trpaksa mengikuti user manual mobil kita. Bukan rekomendasi penjual oli atau bengkel servis (walau merangkap dealer) …, yang jelas punya konflik kepentingan dgn kita.

Tanggapan 5 – Amy Siswandi

Dear Pak Rawindra,

Saya pernah mendengar dari salah satu rekan, untuk pengecheckan oli bisa dilakukan dengan merasakannya dengan tangan. Jika masih terasa syntetic-nya (untuk oli syntetic) dia bilang masih layak digunakan.

Tanggapan 6 – imam rozali

Berbagai pertanyaan dan masukan sekitar topik yang saya kirim beberapa hari yll telah bermunculan. Sesungguhnya kapan waktunya mengganti oli. Jika harus mengacu kepada parameter tersebut, tentu dibutuhkan peralatan laboratorium yang memadai.

Sebenarnya tidak terlalu sulit dan tidak harus memenuhi keenam parameter/indikator tersebut, jika bisa mengacu pada 1 atau 2 indikator juga sudah bisa menyimpulkan bahwa oli sudah waktunya untuk diganti. Indikator yang dimaksud adalah perubahan viskositas oli atau kekentalan oli, biasanaya oli tsb akan lebih kental atau lebih encer dari oli yang masih baru (fresh oil) dan parameter kedua adalah jika TBN telah turun 50%. Jika TBN telah turun itu berarti pH oli akan turun atau menjadi lebih asam dibandingkan oli yang masih baru.

Kedua indikator tsb tidak membutuhkan peralatan yang mahal.

Ada cara sederhana yang diajarkan di lapangan, saya menyebutnya ‘ilmu lapangan’, dimana kita bisa ambil beberapa tetes oli dari mesin dan lalu gosokkan ke jari telunjuk dan jempol kita> Setelah digosokkan, cobalah dilap menggunakan kain bersih atau kertas tissue, lalu gosokkan lagi jari telunjuk dan jempol kita setelah dibersihkan dengan kain bersih atau kertas tissue tadi. Jika masih terasa ‘licin’, tandanya oli tsb masih cukup baik digunakan dan jika sudah terasa kesat-tidak licin sama sekali, maka sebaiknya dipertimbangkan untuk diganti.

Cara ini memang tidak refresentatif, tidak ilmiah, namun cukup efektif digunakan untuk mengetahui apakah oli sudah waktunya untuk diganti.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 7 – ari widodo

Mas Ilham,

Saya kutip sedikit ya mas,

‘… biasanya oli tsb akan lebih kental atau lebih encer dari oli yang masih baru (fresh oil)…’

Mohon dijelaskan lebih dalam mas, kenapa bisa lebih kental ya? To be honest, saya biasanya ngetest oli dgn meneteskan oli ke kertas tisue yg paling tipis, klo cepat menyebar, asumsi saya oli sudah encer dan harus segera diganti. Mirip2 dgn teknik yg bapak sarankan koq. Tapi klo tyt oli bisa lebih kental dari fresh oil, asumsi saya selama ini bhw oli hrs diganti jika lebih encer salah donk…