‘Cost Recovery’ (CR) sebenarnya lebih tepat apabila diartikan sebagai ‘Cost Recoverable’, maksudnya biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh KKKS yang dapat diganti (bukan dibayar).
Untuk mendapatkan CR harus memenuhi beberapa syarat: 1. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh KKKS harus disetujui BPMIGAS; 2. CR yang diganti ‘hanya’ diperoleh dari produksi komersial (migas sudah laku dijual), yang biasa disebut sebagai ‘lifting’; 3. Maksimum biaya yang diganti adalah ‘lifting’ dikurangi FTP (‘First Tranche Petroleum’), biasa disebut sebagai ‘cost recovered’ (cr).

Cost recovery wasRe: [Oil&Gas] Pls comment : Ladang Gas Dikuasai Asing

Pembahasan – oka

Saya tahu topik ini sensitif, tapi saya yakin kita semua yang ada disini engineers, akuntan dan ekonom seperti saya adalah patriot2 yang dalam kapasitas masing2 berusaha berbakti pada keluarga dan pada negara. Mohon untuk tidak saling menyalahkan, menuding atau bersikap defensif. Toh kita tak cari sapa yang salah, tugas kita memperbaiki keadaan jika memungkinkan.

Untuk orang yang berada diluar industri migas banyak sekali issue yang tidak dipahami, misalnya apa itu KPS, bagaimana cara kerja KPS. Kenapa investasi disektor ini hanya didominasi big names, kenapa investor lokal hanya mau ambil sumur tua dst…. belum lagi masalah cost recovery, pasokan minyak dan gas dll….Kita tak bisa asyik dengan dunia kita sendiri… at least menurut saya, kita harus bisa memberikan pencerahan.

Jangankan migas pak, industri retail saja mungkin sebagian besar added value, lari ke Perancis negara asal Carefour. Pertanyaan mendasar dapat kita ajukan, selain mematikan pedagang tradisional, NOL BESAR. Padahal, dari sisi teknlogi, investasi, retail tidak bisa dibandingkan dengan migas. Jadi issue kontrol pihak asing bukan hanya terjadi di industri migas.

Untuk komunitas sebesar Migas_indonesia@yahoogroups.com sudah punya pengurus diberbagai daerah, kenapa tidak membuat kertas kerja? saya lihat dari berbagai posting kawan2 disini banyak sekali yang bernas dan akademis. Saya paham, bahwa mungkin diantara Anda yang skeptikal, ngapain seminar capek2 berdebat, buat proposal terus entah diserahkan kemana, trus cuma jadi file yang tak pernah dibaca? Saya percaya, banyak member disini yang menempati posisi strategis…pasti banyak yang bisa dilakukan, saya sangat percaya itu.

Kembali ke Laptop, berita kesulitan pasokan gas, tak akan muncul kalo tak ada case. Seorang member bilang diforum ini, ladang gas masih dikuasai BP Migas, cuma pelaksanaannya diberikan kepada kontraktor…maaf pak, itu betul tapi tak bisa menjawab berita.

Saya ekonom yang tidak percaya dengan sosialisme Amerika Latin yang digemborkan Chaves, yang menasionalisasi ladang2 minyaknya. Walau demikian, feeling saya mengatakan bahwa business model yang sekarang berlaku di Indonesia masih bisa diperbaiki, dengan tanpa mengusir investor namun bisa memperbanyak kemasalahatan orang banyak. Caranya gimana? yuk mari kita duduk bersama…..pasti ada jalan, cuma satu syaratnya, idealisme kita jangan sampai padam.

Tanggapan 1 – OK Taufik

Saya lebih tak percaya dengan system yg kapitalis di sektor migas kita, kenapa musti alergi dengan penguasaan sektor migas oleh negara?…apa lagi di Indonesia soal ini memang di atur di UUD kita. Saat ini 40L gasoline=9 ribu rupiah saja di caracas, terserah lah mereka sosialis atau apapun..taroklah esok hari Chaves tak berkuasa dan investasi migas mereka tak dikuasai negara, namun sudah berapa tahun rakyat mereka menikmati gasoline murah??..10 tahun?..tentunya lebih menarik dari system pengelolaan migas yg kita anut. Mereka bukan negara industri, namun ada prioritas pemanfaatan migas untuk DN sebelum kelebihan produksinya di ekspor dengan harga pasar ke LN (Iran, USA dll) dan apakah Veneuzela mengontrol semua kegiatan ekonomi oleh negara?, tentu tidak. Sementara Indonesia sendiri apa boleh buat, memang harus mengikuti kekuatan pasar dalam pengelolaan migasnya, disaat kondisi kita harus bersaing bebas dengan negara Industri lainnya (paling utama Cina), malah kita tak bisa mendapatkan manfaat dari migas untuk keunggulan komparatif bagi sektor industri kita. Ini merupakan fakta, bahwa industri kita sangat terganggu dengan kesulitan pasokan energy bagi kelangsungan produksi industri. Dilain pihak cina sendiri begitu dalamnya campur tangan pemerintah dalam kelangsungan industri mereka.
Mudah2an seminar-seminar yg kita lakukan bisa memberikan pencerahan bagi pemanfaatan migas untuk bangsa.

Tanggapan 2 – Admin Migas

Mas Oka, kalau menurut saya pribadi hal ini tidak sensitif untuk didiskusikan, silahkan saja dilanjutkan untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperluas cakrawala berpikir kita. Hanya saja untuk bisa menjawab semua permasalahan yang ada, dibutuhkan pengetahuan yang luas dan menyeluruh, dan pengetahuan ini hanya dimiliki oleh segelintir orang. Jujur saja, saya yang 9 tahun mengikuti diskusi di milis dengan tekun dan mempunyai banyak referensi mengenai migas, minggu yang lalu selama 3 hari mempelajari secara khusus dari pakarnya mengenai konsep PSC dan PTK-007, mulai dari aspek regulasi, hubungan antar lembaga, sejarah PSC, aspek finansial, POD, WP&B, AFE, dll. Tapi masih tetap saja belum berani turun gelanggang untuk berdiskusi. Mungkin nanti kalau softcopy pelatihan sudah saya baca berkali-kali dan paham 100%, saya akan mencoba berdiskusi dengan yang lainnya.

Selama kursus itu, ternyata rekan-rekan lain yang sudah puluhan tahun bekerja di industri migas juga mengalami problem yang sama, banyak pemahaman yang kita anggap benar sebelumnya, ternyata dikoreksi oleh pakarnya. Sebagai contoh mengenai cost recovery, ternyata semakin besar cost recovery, KPS juga dirugikan lho, ada contoh-contoh perhitungannya. Seringkali kita menganggap bahwa cost recovery adalah uang negara yang diberikan kepada kontraktor untuk mengganti biaya operasi yang telah dikeluarkan KPS. Padahal berdasarkan konsep PSC, semua biaya ekplorasi, pengembangan, dan operasi ditanggung oleh Kontraktor dan akan di-‘recover’ dari produksi komersial. Catatan : PSC philosophinya adalah Produksi setelah cost recovery dibagi antara Pemerintah dan Kontraktor berdasarkan suatu persentase tertentu (misalnya 85-15).

He…he… sudah larut malam, besok disambung lagi.

Tanggapan 3 – oka

Mas Admin,

Copasan posting sampeyan sebelumnya bagi saya menarik. Saya ngak paham…mohon pencerahannya, bagaimana penjelasannya ‘semakin besar cost recovery, KPS juga dirugikan?’

Cost recovery selama ini selalu digunjingkan, karena dianggap terlalu berlebihan. Umumnya orang mengerti bahwa cost recovery adalah keharusan dan common practice yang terjadi diindustri migas. Cuma, orang selalu menganggap dengan adanya cost recovery, contractor menggunakan kesempatan untuk me-reimburse biaya2 sebesar2nya.

Tanggapan 4 – Admin Migas

Mungkin kita mulai dari berbagai jenis kontrak kerjasama di industri migas nasional biar lebih mudah.

Konsesi, Kontraktor memiliki kekuasaan penuh atas hasil pertambangan yg diproduksikan, hanya wajib membayar royalti kepada negara.
Tidak ada lagi (1961).

Kontrak Karya, merupakan kontrak profit sharing di mana manajemen ada pada kontraktor.
Tidak ada lagi (1983).

Production Sharing Contract, merupakan kontrak profit sharing di mana produksi dibagi berdasarkan suatu persentase tertentu yg disepakati.
Dimulai 1965.

Masih ada lagi TAC, JOB, dll.

Simulasi dari perhitungan ada di gambar di bawah ini.
Kalau anda sudah mengenal dengan baik mengenai FTP, DMO, dsb, contoh perhitungan di bawah ini dapat dengan mudah dipahami.
Mudah-mudahan Bpk. Kuswo Wahyono bila tidak sibuk dapat memberikan pencerahan kepada kita semuanya, karena beliaulah pakarnya.

Attachment : Cost recovery wasRe: [Oil&Gas] Pls comment : Ladang Gas Dikuasai Asing

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas pembahasan bulan Februari 2010 ini dapat dilihat dalam file berikut: