Di tempat saya crane diinspeksi dulu oleh 3rd party company sebelum diinspeksi oleh MIGAS dan di sertifikatnya setelah diinspeksi ada di tulis berapa beban aman maksimum (SWL) pada panjang boom, sudut boom, radius, jenis wire rope, jumlah part line tertentu, dll di main/auxiliary hoist dan juga datanya ada di spesifikasi manufacture crane (standard hoist reeving). Untuk lifting operation plan (LOP) yang seharusnya ada dilakukan sebelum pengangkatan terutama untuk beban sebesar 33T, sudah banyak masukan dari rekan2 sebelumnya. Banyak kasus crane terbalik/tipping terjadi pada saat pengangkatan beban ringan karena kurangnya pengawasan dan persiapan sebelum pengangkatan, apalagi bila beban 33T.

Tanya – alam parulian

selamat pagi rekan-rekan senior sekalian, apa kabar semuanya, mudah2an kita semua dalam keadaan sehat2 saja yak, oia rekan2 saya ada sedikit uneg2 yak mengenai peralatan berat yang saya rental mudah2an ada beberapa rekan2 senoir yang kiranya sudi membantu saya dalam memberikan solusi mengenai uneg2 saya, begini uneg2 saya rekan2: saat ini alat berat untuk mengangkat beban (Kobelco Crawler Crane) sebesar 33t yang saya rental dengan kapasitas 180t mengalami sedikit trouble pada bagian wire rope nya, dimana pada saat pengangkatan yang baru saja mencapai +- 60 cm dari ground level mengalami momen puntir pada wire ropenya, elevasi yang akan dituju adalah 39m, jarak antara beban yang akan diangkat dengan centre point alat berat adalah +- 16m, tinggi boom alat 61m, tinggi bangunan 41m, saat ini pada alat berat sudah saya tambahkan satu alat yang bisa menetralisir puntiran tersebut, akan tetapi hasilnya tidak lah maksimal, yang ingin saya tanyakan adalah:

1. apa penyebab terjadinya puntiran tersebut pada wire rope tersebut yak….???

2. bagaimana cara mengatasinya yak….???

terima kasih atas saran dan bantuan dari rakan2 senior.

Tanya – Teguh Santoso

Coba lihat spec wire rope-nya pak. Seharusnya kalau spec-nya non-rotating wire rope harusnya puntiran tidak terjadi…CMIIW.

Tanggapan 1 – cak.topan@batam

Saya kurang jelas dengan kasus bapak, nih.

Tapi kalo boleh saya berasumsi, dan dengan asumsi2 itu saya akan menjawab masalah bapak.

Saya pikir ini tidak terjadi di wire rope di crane, tapi di lifting arrangement barang tersebut. Karena, muntir itu bisa terjadi jika adaa satu lifting sling saja. Kondisi natural saja karena konfigurasi itu sedang mencari titik imbangnya. Di samping itu, sling tersebut juga terbuat dari pilinan. Sehingga ada kecenderungan untuk memutar balik pilinan tersebut. Nah, itu sebabnya saya bilang kondisi ini tidak terjadi di wire rope crane, karena wire rope crane terdiri dari beberapa part line yang saling meniadakan faktor pilinan tersebut.

Jika terjadi di lifting arrangement yang menggunakan 3 legs, 4 ato selebihnya (ato 3 titik angkat, dan selebihnya), faktor diatas juga tidak mungkin terjadi, karena saling meniadakan juga.
Jika masih terjadi, maka kemungkinannya adalah titik angkat tidak satu line/perpendicular dengan actual COG (center of gravity ato titik berat). Dia akan muter terus kalo tidak ada tugger line ato titik pegang, pak. Bahkan yang diitung dengan teliti pun, sehingga titik angkat tersebut perpendicular dengan calculated envelope COG, kondisi ini masih bisa terjadi dengan efek yang minimal. Biasanya muter sebentar, ditahan dengan tugger line sebentar uda berhenti.

Cara mengatasinya kira2 gini, pak. Ini serangkaian ceklist saja:

Hitung ulang titik berat benda tersebut. Jika itu adalah equipment, kita juga bisa memakai Weight report.

Konfigurasi ulang rigging-nya. Kalkulasi semua jarak antara titik angkat dan titik berat. Dengan menggunakan trigonometri ato gambar autoCAD, anda bisa mendapatkan teoretikal lifting height + rigging length. Catat available rigging gears (slings, shackle de el el) yang anda punya. Dengan 2 data tersebut, anda meng-arrange ulang konfigurasi lifting anda. Jangan sampai terlalu pendek salah satu leg. Batas yang diijinkan berdasar API RP 2A adalah 3 inch antara teoretikal dan actual rigging length. Ini supaya titik angkatnya bener2 mendekati teoretikal COG.

Jika sudah, aplikasikan semua pada lifting bapak. Kalo masih miring ato gimana, tergantung bapak deh. Kalo di company kami, kondisinya strict. Harus level. Sementara pada company lain, saya lihat ga terlalu ngaruh selama ga keterlaluan. Kalo miringnya dikit, ya…tambah shackle aja pak. Kalo banyak, ya muntir lagi plus miring juga. Itu berarti calculated COGnya berbeda jauh dengan actual COGnya.

Gitu saja pak saran saya. Hehehe… pernah 2 tahun bantu2 rigging engineer. hihihi..

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – Praditya Wira Satria

Pak Alam,

Besar kemungkinan wire rope di crane tsb bukan tipe Non Rotating ropes (mungkin pernah diganti, kalau aslinya saya yakin tidak mungkin karena semua crane yg saya pernah lihat pasti memakai jenis NR). Wire rope jenis ini memiliki konstruksi & jenis lay yang berbeda antara inner strand & outer strand nya dengan tujuan menghindari berputarnya ropes saat dibebani. Penjelasan ringkas bapak bisa coba lihat disini (sori saya cuma googling aja):

http://www.inventionfactory.com/history/RHAwire/introwr/introwre.html

Jadi coba selidiki jenis wire rope yang terpasang di crane tersebut & caranya pun cukup melalui visual membandingkan strand bagian dalam dengan strand bagian luar. Utk strand bagian dalam bisa bapak intip dengan meregangkan (membuka) strand bagian luar. Semoga membantu.

Tanggapan 3 – M. Teguh

Mas Alam,

Kalau wire rope nya muntir, coba dilihat diameter wire rope nya berapa?

apa beban 33 ton masih masuk SWL (safe working load) si wire ropenya?

rule of thumb nya SWL (ton) = (diameter rope ^2) x 8. Diamater rope dalam inch.
Saran saya sebaiknya di inspect dulu wire ropenya, dilihat sertifikat nya, kalau perlu di adakan load test dulu. Karena beban 33 ton cukup berat.

Mungkin rekan2 senior bisa menambahkan.

Tanggapan 4 – Nugroho .

Untuk beban seberat ini mustinya anda membuat lifting plan. Apakah sudah ada study lifting plan?? Apakah penggunaan wire rope sling sudah cocok? mengapa tidak menggunakan webbing sling? apakah sudah dipertimbangkan menggunakan spreader bar?

Tanggapan 5 – alam parulian

@ Bpk, mas teguh

sebelunya saya minta maaf kalo data yang saya sampaikan kurang detail, untuk diameter wire ropenya adalah 1 inch, dan kondisinya bagus (tidak terdapat ‘cacat’ yang terlhat secara visual yang terlihat ketika wire rope/sling pada kondisi naik dan turun), hanya saja saya tidak memperhatikan certificate dari sling tersebut, hanya visual cek saja pak

@Bpk, mas Nugroho

untuk lifitng plan saya sudah membuatnya dengan data yang telah saya sampaikan, dan saya juga sudah melakukan simulasinya pak dengan bantuan beban yang kruang dari beban yang harus diangkat, akan tetapi puntiran tersebut masih terjadi.

Tanggapan 6 – Teguh Santoso

mungkin yang dimaksud disini adalah fast line-nya atau load line-nya… kalau wire rope tidak memakai tipe NR (non rotating), maka ketika digulung pada winch drum-nya akan terjadi twisting dan pada beban akan terjadi pusingan..CMIIW

Tanggapan 7 – Jeremia, Jerry (Jakarta)@WorleyParsons

Dear Pak Alam,

Berapa lifting point/sling/wire rope yang digunakan? Jika dipakai hanya 2 ya siap2 saja tidak stabil tapi jika >2 semisal 3 atau 4 mestinya stabil dengan memperhatikan point ke-2 yang saya utarakan.

Perhatikan Center of Gravity (CoG) – titik kumpul massa/berat dari object yang akan di-lift – Posisi hook disarankan untuk tepat berada di atas CoG tsb untuk kestabilan, menghindari posisi swing dsb.

(lokasi CoG ini juga yang akan mendetermine – dimana lifting point diletakkan dan berapa lifting point (+sling/wire rope) yang digunakan – posisi sling/rope dsb diusahakan membentuk sudut 60deg dari hook point thd bidang datar dari lifting point dari object yang akan di lift. – jika tinggi crane terhadap elevasi yang dituju object memungkinkan.

Posisi/jarak object yang dilift dengan posisi crane tidak mempengaruhi kondisi swing tsb, namun mempengaruhi kapasitas dari crane.
Untuk wire rope, webbing sling atau apapun lifting aids yang digunakan (semestinya/moga2) sudah melalui tahap penghitungan/analisa sehingga tidak ada masalah dengan kapasitasnya mulai dari crane, wire rope dsb.

Tanggapan 8 – Syarif Isa

Pak Alam,

Saya mau menambahkan saja :

1. Wire rope twisting, ini ada kemungkinan reeving pulley di boom head tidak center dengan pulley yg di hook block.

2. Harus dicheck berapa part line yg digunakan untuk lifting tersebut (kalikan jumlah part line dengan kapasitas sling dengan diameter tersebut), ini sangat berhubungan dengan kemampuan sling untuk mengangkat beban.

3. Ada kemungkinan anda sudah overload untuk mengangkat beban seberat 33 Ton dengan panjang boom 61 m dan radius 16 m untuk crane cap. 180 T. Anda harus menambahkan berat hook block dan rigging tools (sling, etc).

4. Pada saat pengangkatan slalu gunakan tag lines untuk mengontrol barang yang diangkat. Ini juga bisa digunakan untuk mencegah puntiran pada saat pengangkatan.

5. LMI (load moment indicator) yang sudah seharusnya ada dan berfungsi di cabin operator dapat menunjukkan beban angkat secara kesuluruhan dan kapasitas crane. Alat ini akan meng-cutoff operasi crane pada saat crane melewati 100% capacity. Di kasus anda ada kemungkinan LMI crane tersebut sudah tidak berfungsi/akurat.

6. Pada saat ini sudah seharusnya menggunakan crane yang benar-benar sehat, terutama untuk safety devices nya (ada LMI dan anti two block yang berfungsi). Jangan gunakan crane yang tidak lengkap safety devices nya demi keselamatan karyawan dan proyek anda.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 9 – wandry Simanjuntak

Pak Alam,

Mudah-mudahan masalah Bapak sudah terpecahkan.

Tambahan masukan berdasarkan pengalaman saya:

Puntiran pada wire rope biasanya terjadi karena sudah pernah terjadi overload pada saat pengangkatan sehingga pilinan wire ropenya mengembang. Coba dilakukan visual inspeksi pada wire sling saat tidak berbeban.

Fenomena ini sering terjadi pada wire sling overhead crane karena tidak adanya load indikator. Atau coba dilepaskan slingnya pada sisi dead end main hoist (bukan pada drum) dan dipasang kembali (tentunya oleh teknisi yang kompeten).

Di tempat saya crane diinspeksi dulu oleh 3rd party company sebelum diinspeksi oleh MIGAS dan di sertifikatnya setelah diinspeksi ada di tulis berapa beban aman maksimum (SWL) pada panjang boom, sudut boom, radius, jenis wire rope, jumlah part line tertentu, dll di main/auxiliary hoist dan juga datanya ada di spesifikasi manufacture crane (standard hoist reeving). Untuk lifting operation plan (LOP) yang seharusnya ada dilakukan sebelum pengangkatan terutama untuk beban sebesar 33T, sudah banyak masukan dari rekan2 sebelumnya. Banyak kasus crane terbalik/tipping terjadi pada saat pengangkatan beban ringan karena kurangnya pengawasan dan persiapan sebelum pengangkatan, apalagi bila beban 33T.