Pemilihan jenis bangunan pantai tergantung dari apa yg akan dilindungi. Selain menggunakan batu alam sebagai pelindung (armour), beberapa jenis batu cor lain yg lazim digunakan antara lain : tetrapod, A-jack, kubus beton, dll. Mangrove dapat digunakan sebagai pelindungan pantai, namun tidak di semua pantai cocok menggunakan mangrove sebagai tameng utama untuk menahan gelombang apalagi pantai yg memiliki gelombang besar. Mangrove yg digunakan umumnya di tanam dari berukuran kecil (approx. 30 cm), kemudian dibiarkan tumbuh. Agar mangrove dapat tumbuh, di pantai tsb diperlukan tanah yg cocok bagi mangrove tsb. Ketahanan dari Mangrove untuk menahan gelombang bergantung pada akar yg tumbuh di dalam tanah, apabila akar tidak cukup kuat menahan gelombang, maka Mangrove tsb akan tumbang. Mohon koreksi apabila ada yg salah.

Tanya – Antoni Ginting@kpi

Mohon informasinya kalau ada yang punya gambar batu cor untuk penahan abrasi pada pantai.

Saya sudah coba cari lewat mbah google, tapi informasinya minim sekali.

Kami berencana memasang batu penahan abrasi di pantai (dekat jetty), rencananya dengan menggunakan batu Gunung, tapi saya pernah lihat batu yg sudah di cor yang bentuknya seperti angkur ada di pasang di pantai balikpapan.

Mohon kalau teman2 milis ini bisa member informasinya.

Tanggapan 1 – Feri Herliawan

Dear Bang Antoni,

Untuk shore protection baiknya ya disesuaikan dgn kondisi di lapangan, kalau banyak tersedia batu gunung kenapa tidak pakai itu saja daripada mesti buat artificial armour seperti tetrapod, A-jack, xblock, dll.
intinya cek overall costnya dan workability-nya.

Semua selalu menuju kesetimbangan, kalau di daerah sekitar jetty dipasang shore protection atau breakwater dengan harapan bisa menangkap pasir pasti di tempat lain tidak jauh dari situ akan terjadi abrasi.

Saran saya, karena ini jetty, lebih baik pasang scour protection di sekitar abutment jetty bisa pakai batu2 tersebut, sisa di pinggir kanan-kiri jetty yg tidak menggangu akses kerja bisa di tanam mangrove atau sejenisnya.

Tanggapan 2 – Yuyus Uskara

Pak Antoni,

banyak sih sebenernya referensi buat coastal erosion prevention (Abrasi), seperti yang dibilang teman-teman juga, tapi saya biasanya ga begitu setuju sama penggunaan beton atau batu alam sebagai breakwater, kalau asal taruh aja, kecuali ada study lebih jauh mengenai bagaimana nanti sedimentasi dari pasir bisa membentuk kembali pantai yang terkena erosi (abrasi).

seperti contoh, di lokasi kerja Pertamina West Java (MikeBravo 2), di pasang breakwater di pinggir pantainya dari batu alam, ternyata ya tetep aja erosi, dan erosinya makin parah di bagian yang ga pake breakwater dari batu alam (ga mungkin dong sepanjang pantai d pasang breakwater).

saya kok lebih tertarik ke geosynthetic material yah, seperti geotextile etc etc, silahkan lihat di attachment.

untuk mangrove sendiri, sebenernya itu paling alami yang bisa dilakukan, tapi ga semua pantai bisa ditanami mangrove (kecuali yang muddy pasir pantainya).

(Pak Budi, mohon attachmenta bisa dikirim ke migas)

Tanggapan 3 – Abrar Prasodjo@mahakarya

Pak Antoni,

Jauh lebih murah menggunakan mangrove ( Bakau ) karena beberapa studi dengan dipasang tetrapod justru menyebabkan aberasi pindah ke tempat lainnya ; studi daerah pariwisata dekat Uluwatu Bali juga seperti itu, di pantai utara Indramayu juga sama setelah menggunakan bangunan fisik, aberasi masih jalan terus ; dan akhirnya dilakukan menggunakan pohon Bakau; disekitar pantai Pertamina UP V Balikpapan dilakukan penanaman Mangrove dan kalau tidak salah merupakan success story untuk CSR; sehingga secara general dapat disimpulkan yg efektif dan berbiaya murah untuk menganggulangi aberasi di pantai adalah menggunakan mangrove ;

Apalagi daerah disekitar Bontang banyak ditemukan mangrove, banyak endapan lumpur sebagai lokasi ideal tumbuhnya mangrove;

Tanggapan 4 – rio.hendiga@akersolutions

Betul sekali pak Abrar, di Batam ada juga ada dalah satu club yang bekerja sama dengan kelompok pecinta alam Sun Green Jepang dan Marine Biologist dari Malaysia.
saya sertakan artikel yang dikirim dari salah seorang anggotanya.

Untuk di Pulau Nipah reklamasi pulau tersebut juga diawali dengan pemasangan tetrafoot dan batu gunung sebagai pemecah ombak, kemudian dilanjutkan dengan penanaman ribuan batang tanaman bakau . Selain penahan abrasi juga sebagai awal terbentuknya ekosistem hutan manggrove, tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting,dll.

Semoga aja bisa terwujud harapan itu, karena saya dengar dari kontraktornya P. Nipah akan dijadikan tempat parkir sementara kapal2 yang berlabuh di Singapura guna menghindari biaya yang lebih besar. Karena mungkin ongkos parkir di Singapure lebih mahal dibandingkan di Indonesia, sedangkan waktu berlabuh masih cukup lama di area tsb.

Semoga aja di saat ekosistem hutan manggove dijalankan/dibuat, ekosistem terumbu karang di sekitar P. Nipah tidak rusak, atau tidak ada pencemaran limbah ( Oli, tumpahan minyak, dll) di sekitar P Nipah. Agar laut kita tetap terjaga kelestariannya, ikannya makin banyak, pendapatan negara masuk terus.

Tanggapan 5 – Wahyu Affandi

Setuju dgn Mas Abrar, bahwa Mangrove lebih baik,,,hanya waktu pembuatan dgn batu cor lebih bisa diprediksi dan kelihatannya (mungkin) terasa agak modern, sedang dgn Mangrove, waktu tumbuh + biaya total sampai jadi agak sulit.
Yang diperlukan info ttg Mangrove tsb, siapa ‘kontraktor’ yg sdh mampu melaksanakannya?

Tanggapan 6 – nurul_kahir@lintech

Biasanya mangrove itu csr saja, mngkin masuk di ohsas juga. Yang saya lakukan di lintech seaside facility (www.lsf.co.id) saya tanggul dengan wafe breaker, concrete block/ x block didepan lahan yang akan ditanami mangrove. Kemudian stelah ditanggul, lahannya diurug pakai tanah top/ topsoil, terus ditanami bibit mangrove. Insya Allah jadi hijau, banyak burung, kepiting dan ikan utk anak cucu. Amin.

Tanggapan 7 – Antoni Ginting@kpi

Tapi tidak semua pantai bisa aplikasikan mangrove, apalagi di tempat kami ada jetty buat loading product ke kapal. Jadi proteksi abrasi yg kami perlukan harus sesuai juga kan.

Terima kasih buat informasinya.

Tanggapan 8 – Henry

Sekedar menambahkan dari apa yg saya dapat di perkuliahan. Ada banyak macam bangunan pelindung pantai :

1) Breakwater ; berfungsi untuk pemecah gelombang, terbuat dari susunan batu alam/cor

2) Groin ; berfungsi untuk menahan laju sedimentasi akibat arus sejajar pantai, terbuat dari susunan batu alam/cor

3) Seawall ; berfungsi untuk menahan tanah dari gerusan, terbuat dari beton yg di cor di tempat membentuk satu deretan dinding

4) Revetment ; berfungsi untuk menahan tanah dari gerusan, namun konfigurasi dari struktur berbeda dengan seawall

5) Bulkhead ; berfungsi untuk menahan tanah, pada umumnya terbuat dari sheet pile (kayu,beton, baja)

Pemilihan jenis bangunan pantai tergantung dari apa yg akan dilindungi. Selain menggunakan batu alam sebagai pelindung (armour), beberapa jenis batu cor lain yg lazim digunakan antara lain : tetrapod, A-jack, kubus beton, dll. Mangrove dapat digunakan sebagai pelindungan pantai, namun tidak di semua pantai cocok menggunakan mangrove sebagai tameng utama untuk menahan gelombang apalagi pantai yg memiliki gelombang besar. Mangrove yg digunakan umumnya di tanam dari berukuran kecil (approx. 30 cm), kemudian dibiarkan tumbuh. Agar mangrove dapat tumbuh, di pantai tsb diperlukan tanah yg cocok bagi mangrove tsb. Ketahanan dari Mangrove untuk menahan gelombang bergantung pada akar yg tumbuh di dalam tanah, apabila akar tidak cukup kuat menahan gelombang, maka Mangrove tsb akan tumbang. Mohon koreksi apabila ada yg salah.