ASME VIII Sec 1 (UW-40 (e), sudah jelas bahwa PWHT harus dilakukan sebelum hydrotest dan untuk kasus ini hydrotest yang sudah dilakukan sebelum PWHT dianggap sbg preliminary hydrotest.

Tanya – Rudyansyah

Kabar baik aja Mas,

Aku suntuk nih, ada masalah di lapangan.

O ya, mas bisa bantu ga ? siapa tahu ada pencerahan.

Kami baru aja nambah 2 nozel baru 2′ sch 40 SA-106 SMLS Pipe untuk di separator, sekalian Flange 2′, 150#, sch 40, WNRF, A105 Gr. B. tanpa repad.
FYI, nozzle2 lama semua pakai di atas sch 160.
dari ASME VIII, thk segitu masih cukup untuk pressure yg kami pakai.

THK shell separatornya 1 1/4′ (31.75mm). DP : 250 PSIG, Hydrotest : 325 PSIG.
Waktu di Hydrotest, semua OK & no leakage.

Setelah di cooling down 1 hari, esoknya kami local PWHT di 2 nozzle itu.
Nah, setelah PWHT baru ada masalah.
2 pipa nozel tsb membengkak di daerah weldingan (shell to nozzle neck).

Kok bisa begitu ya, mas ?

bantuin ya…

Tanggapan 1- riksha lenggana

Dear Rekan-rekan milis,

Rekan saya ada minta bantuan u/solve problem di tempatnya kerja.

Infonya :

Setelah penambahan 2 nozzle & flange baru di separator dengan THK 1 1/4′ (31.75mm) DP : 250 PSIG, Hydrotest : 325 PSIG
2 nozzle neck tsb mengembang setelah di PWHT.

data nozzle :

2′, smls pipe, sch 40, SA-106

data flange :

2′, rating 150, sch 40, SA-105 Gr. B

Tanpa Repad.

Ada yang bisa memberi penjelasan, kenapa bisa terjadi ?

terima kasih atas masukannya.

Tanggapan 2 – juli_karyanto05

Mungkin lebih spesifik maksudnya mengembang spt apa yg terjadi dilasan? Just asking: design welding joint nozzle to shell spt apa? Apakah penambahan 2 ea nozzle tersebut sudah sesuai req. ASME VIII? Hal kritis adalah adanya tebal yg cukup besar sehingga perlu pwht utk mengurangi residual stress dari proses p’lasan.

Saran sy adalah bila memungkinkan usahakan defect weld tersebut dapat diambil (sebelum direpair) utk dievaluasi failure analysis sehingga akan ketahuan penyebabnya. Apakah ada cacat material, pengelasan or pwht yg tidak sempurna, etc sy kira akan terjawab.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah pwht yg tidak proper pada saat dilakukan sehingga residual stress masih besar dan hal ini mungkin juga ada kontribusi dari hydotest sehingga kejadian tersebut baru muncul kemudian.

Tanggapan 3 – Agus Setijono

cukup menarik, sayang belum ada data tentang

1. Holding Temp?

2. Holding Time?

3. Soaking temp?

kalau dilihat dari type materialnya kayakanya PWHT gak diperlukan, tapi ini bisa refer ke ASME B31.3 TABEL 331.11. kalau nozzle itu di Heat treatment karena attached dengan pipa yang lebih tebal dan perhitungannya ikut yg lebih tebal sebaiknya diperhitungan berapa lama untuk Holding time? karena yg paling utama akan menurunkan value Tensile nya; dan bisa jadi ‘mengembang’ karena sudah melewati batas ‘elongation’nya. Kalau hal ini benar bisa dipastikan akan mudah putus. kalau mau diselidiki berapa mm atau micron displacementnya.

Dalam term metalurgi, microstructurnya memang sudah berubah akibat besarnya temperaturnya? dan lama waktu yg dipakai untuk heat treatment?

saya sarankan supaya nozzle itu diganti/dipotong. nozzle 2′ sch 40 sangat riskan untuk di repair weldingnya, apalagi ada dugaan laminasi. sebelumnya harus dipastikan dengan radiography bahwa tidak ada laminasi yang merambat dan semua sisa heat affected zone akibat PWHT harus dipastikan dibuang, sebelum pengelasan ulang.

semoga dapat membantu.

Tanggapan 4 – Leryflounder

kemungkinan over heat,Kira kira berapa temp pwhtnya,arangementya seperti apa?

Apakah semua alat penngukur temp semuanya terkalibrasi ?

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Dear Pak Riksha,

menarik persoalan dilapangan yang anda posting , terus terang saya belum pernah mengalami apa yang bapak atau rekan bapak alami seperti ini .

tapi yang bisa saya urunan ,

post weld heat treatment terdapat kesalahan sehingga di daerah yang terjadi pengembangan terjadi bright white, sehingga pipa dua inchi nya kehilangan strength karena terlalau panas dengan berat dr flanges dia mengembang.

pada saat post weld pipa itu buntu sehingga udara yang di dalam mengembang meniup bagian yang strentgth hilang krn panas.

terdapat laminasi di daerah yang mengembang,

barang kali hanya ini yang saya bisa urun rembuk,

action selanjuta nya potong ganti dan ulang procedurenya , tentunya check dulu apa pipa nya ada laminasi atau tidak xray mencukupi.

Tanggapan 6 – riksha lenggana

Pak Roeddy & rekan milis,

Terima kasih atas urun rembug anda.

menurut informasi dari rekan saya, Temp PWHT yang mereka pakai adalah 582 Deg Celcius.

Semua alat telah terkalibrasi dengan baik & sesuai prosedural PWHT mereka.
Untuk Weld Joint juga sudah mengacu ke ASME VIII Div.1, dengan internal projection 80 mm & fillet-butt weld 10mm Shell-Nozzle.

Kalau sependek pengetahuan saya, nozzle neck pipa 2′ tsb bisa mengembang (menggelembung seperti ban yg udah botak) adalah karena perlakuan PWHT dengan memakai temperatur & waktu yang sama pada THK yang berbeda.
Maksudnya adalah, temperatur untuk pipa 2′ ( thk 3.9mm) harus mendapat angka yg lebih rendah / PWHT Time yg berbeda dari THK Shell ( 38, sekian).

Karena perbedaan thickness antara Shell & nozzle sangat jauh (38mm vs 3.9mm).
Sehingga, saat PWHT berlangsung, nozzle 2′ telah melepas Stress-nya. TETAPI Shell belum sepenuhnya melepas Stress-nya.

Jadi, karena kelebihan PWHT Time lah yang membuat nozzle menjadi mengembang karena mendapat panas yg terlalu lama.

Perkembangan terakhir mereka, skrg 2 nozzle tsb sudah di repair & di ganti dengan SCH160.
Hydrotest & PWHT menyusul kemudian.

Tanggapan 7 – Dirman Artib

Selain daripada penyebab fenomena mengembang, saya lebih tertarik untuk ingin tahu kenapa dilanjutkan kepada proses hydrotest padahal kita melihat ada indikasi masalah.
Lalau kalau sudah hydrotest dan ganti nozzle kan harus hydrotest lagi, bukan ? or just PT and X-ray cukup ?

Tanggapan 8 – riksha lenggana

Mas Dirman,

Masalah nozzle mengembang itu, terjadi setelah sequence hydrotest lalu PWHT. jadi nozzle bengkak setelah di PWHT.

action yang mereka ambil skrg adalah :

1. mereka repair nozzle & mengganti dgn sch 160

2. setelah repair, mereka akan mengulang prosedur hydrotest kembali

3. setelah hydrotest & holding time selesai, lanjut PWHT ulang.

jadi bukan terjadi setelah hydrotest, kemudian di-hantam PWHT.

Tanggapan 9 – azizar lawer

Mas Riksha,

Apa tidak terbalik sequence nya? Hydrotest harus nya dilakukan setelah PWHT.

Tanggapan 10 – Dirman Artib

Kayaknya kita harus baca lagi references,, hydrotest itu adalah tahap akhir dari verifikasi dan examinasi, jika setelah hydrotest baru di PWHT kayaknya kebalik, kalau ITP begitu, coba ditinjau lagi referensi dari proses keberterimaan.
Apa jaminan hasil PWHT tak menimbulkan defect kepada material ?

Silahkan cek lagi referensi standard, baik ASME maupun BS EN ISO ataui API.

Tanggapan 11 – Yosie Andrianto

ASME VIII Sec 1 (UW-40 (e), sudah jelas bahwa PWHT harus dilakukan sebelum hydrotest dan untuk kasus ini hydrotest yang sudah dilakukan sebelum PWHT dianggap sbg preliminary hydrotest.

Tanggapan 12 – riksha lenggana

Mas Dirman & Uda Lawer serta rekan milis semua.

Mohon maaf, sepertinya rekan saya salah tulis.

Parahnya lagi, saya teruskan ke milis tanpa konfirmasi.
Anda benar, sequence-nya adalah PWHT dulu baru lanjut Hydrotest
(mungkin saat itu, rekan saya sedang bingung).

Setelah bertemu langsung, barulah dapat cerita sebenarnya.
Saat PWHT berlangsung, QC mereka ‘not aware’ apakah ada perubahan / deformasi pada joint yg di PWHT.
Setelah di lanjut Hydrotest, baru mereka melihat keganjilan.
Jadi, agak susah untuk analisa. Apakah mengembang terjadi setelah PWHT atau setelah Hydrotest.

Saat ini, proses repair mereka sudah ke tahap PWHT (lagi). Besok lanjut Hydrotest.
Dan analisa QC mereka masih berjalan.
Akan saya update setelah mereka selesai investigasi.

Terima Kasih atas respon rekan-rekan sekalian.

Tanggapan 13 – Dirman Artib

Salut kepada rekan yang mau berbagi cerita seperti Riksha ini, karena belajar dari pengalaman orang lain akan membantu kita membangun kualitas pengalaman diri kita sendiri.
Demi ilmu pengetahuan, jangan malu berbagi masalah.