Secara fungsi I/P Transducer berbeda dgn Positioner. I/P transducer itu meng-convert analog signal 4 – 20 mA menjadi Pneumatik signal 3 – 15 psi. Sedangkan Positioner (Pada Control Valve) itu berfungsi untuk : 1>. menerima signal pneumatic 3 – 15 psi untuk kemudian dirubah ke tekanan kerja untuk membuka/menutup Control Valve; 2> Mengatur posisi opening valve sesuai signal pneumatic yg diterima.

Tanya – Novriandy D

Rekan2 milist sekalian,

Kepada bapak2 semua ada gak yang bisa sharing mengenai kelemahan dan kelebihan I/P Tranducer vs Positioner..?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih..

Tanggapan 1 – Teguh Widhiarsono

Secara fungsi I/P Transducer berbeda dgn Positioner.

I/P transducer itu meng-convert analog signal 4 – 20 mA menjadi Pneumatik signal 3 – 15 psi.

Sedangkan Positioner (Pada Control Valve) itu berfungsi untuk :

1>. menerima signal pneumatic 3 – 15 psi untuk kemudian dirubah ke tekanan kerja untuk membuka/menutup Control Valve.

2> Mengatur posisi opening valve sesuai signal pneumatic yg diterima.

Tanggapan 2 – budi yuwono

just sharing,

I/P transducer (kami biasa disebut I/P converter) di tempat kami dipasang barengan sama P/P positioner, karena I/P converter yg kami pakai memiliki karakteristik :

-. linear, jd 4-20 mA di convert secara linear ke 3-15 psi.

-. signal output dari I/P converter 3-15 psi.
dua hal tersebut akan jika kami apply langsung ke control valve akan berakibat :

-. ukuran aktuator akan besar, karena tekanan pneumatic yg masuk ke actuator chamber hanya 3-15 psi. sementara jika dipakai P/P positioner tekanan yg masuk ke chamber bisa dipilih sampai mendekati tekanan maksimum I/A supply. di tempat kami output positioner bisa sampai 5 bar (tekanan maksimum I/A compressor sekitar 6.5 bar), sehingga ukuran aktuator bisa optimal.

-. jika diinginkan perubahan karakteristik valve agak susah. misalnya kami punya butterfly valve, akan sulit menggunakan I/P converter kami yg juga linear jika kami menginginkan flow across valve tsb memiliki karakteristik equal percentage (=%), sementara kalau ada positioner maka tinggal dicari positioner yg memiliki karakter =%.

kelemahan dari sistem ini, jika ada masalah di valve, misalnya start openingnya lambat (signal udah diatas 5% tp valve belum gerak) sementara data bench-set terakhir masih sesuai, maka selain I/P converter, P/P positionernya juga harus di check, artinya item pekerjaan bertambah. saat ini kami malah banyak pakai E/P positioner, jadi gak perlu pake I/P converter lagi.

demikian dari saya mohon diluruskan jika ada yg kurang pas.

Tanggapan 3 – Novriandy Darmawan

Pak Budi,

Jadi maksud pak Budi I/P converter dipasang berbarengan dengan positioner ya, gimana ngaturnya tuh pak?
Trus kalo misalnya saya pasang positioner di control valve pressure yang berkarakteristik equal % sedangkan positionernya type linear apakah bisa diatur dgn mudah ya, saya blm pernah mencobanya. Control valve kami itu seblumnya cuma menggunakan I/P converter akan tetapi saat tuning susah sekali smooth. Nah kami berencana utk mengubahnya dgn menggunakan positioner. Sebelum membeli positioner baru, kami mencoba dengan memasang positioner dgn type linear (krn cuma itu yang ada) Tetapi percobaan ini belum dilakukan berhubung plant kami masih normal running. Mungkin Pak Budi bisa sharing pengalaman..

Oh ya E/P positioner itu maksudnya apa pak?