Prosedur leak test : Untuk welding plate (modul) bisa menggunakan gas campuran H2 (15%) dan N2 (85%) dengan tekanan total , bisa di test dengan alat test flamable gas detector. Atau bisa dengan menggunakan gas N2 saja kemudian menggunakan air sabun (bukan detergen) yang disemprotkan di bagian luar HE. Pada saat operasional, jika medium berupa gas yang mengandung keasaman atau kebasaan, bisa digunakan kertas lakmus, flamable gas detector.

Tanya – cvt_development@asc

mohon informasinya tentang HE Plate

1. Bagaimana prosedur Leak Test untuk setiap plate yg benar, selama ini ditempat kami menggunakan visual (diterawang) dan penetrant test, namun hasilnya tidak memuaskan, masih saja ketemu bagian2 yg bocor.

2. Scaling (Carbonizing sludge) problem Adakah metode cleaning yg efektive untuk HE Plate dg tanpa merusak Gasket yg terpasang. Selama ini kita menggunakan metode basa, namun hasilnya belum juga memuaskan. Masih ada scale2 yg tertinggal, sehingga efisiensinya tidak bisa optimal.

Jika ada rekan yg berpengalaman dalam men-treatment HE Plate dg problem diatas, minta bantuannya untuk men sharing kan pengalamannya.
Thanks

Tanggapan 1 – Imam Mahmudi

Dear Pak Putu and milister,

Barangkali ini bisa membantu, namun kami butuh beberapa informasi untuk melengkapi penjelasannya:

Info yang dibutuhkan:

1. Medium apa yang digunakan dalam Plate HE tersebut gas-liquid atau liquid-liquid?

2. Jenis Plate nya dengan welding (double plate) atau tanpa welding (hanya gasket)?

3. Berapa jumlah plate, berapa ukuran antara first plate dan end plate, berapa bar masing-masing medium?

4. Material platenya jenis apa (1.4401/1.4301/lainnya)?

Prosedur leak test

1. Untuk welding plate (modul) bisa menggunakan gas campuran H2 (15%) dan N2 (85%) dengan tekanan total , bisa di test dengan alat test flamable gas detector. Atau bisa dengan menggunakan gas N2 saja kemudian menggunakan air sabun (bukan detergen) yang disemprotkan di bagian luar HE. Pada saat operasional, jika medium berupa gas yang mengandung keasaman atau kebasaan, bisa digunakan kertas lakmus, flamable gas detector.

2. Untuk lebih rinci tentang leakage test dan cleaning plate, saya menunggu informasi Bapak lebih lanjut dari pertanyaan saya di atas.

Terimakasih semoga membantu.

Tanggapan 2 – Yohanes Subono – EGD

Dear Mas Putu,

Kalau diperkenankan, saya mau kirim anggotaku untuk memberikan presentasi. Kira – kira kapan dapat appointment dengan anda?

Terima kasih,

Tanggapan 3 – Saiful, Erwan

1) Udah coba ‘ultrasonic’ method (kalo mungkin??)

2) Bukankah gasket termasuk ‘mono-use’ parts?

Tanggapan 4 – Toto Sugiharto

Dear pak Putu,

Masalah ke-1 adalah mengenai ada tidak metode leak test untuk HE-Plate yang paling update. Sementara ini kita masih menggunakan metode penetrant dan visual. HE plate yang digunakan merupakan penukar panas liquid dengan liquid. Sekarang ini kita memiliki banyak stock HE plate bekas yang direncanakan untuk dipakai ulang. Hanya saja metode leak test dengan menggunakan penetrant dan visual ini masih saja ada yang fail. Kita membutuhkan metode leak test yang bagus untuk diaplikasi, apakah ada
procedure leak test HE-Plate yang paling mutakhir/update? Atau kita harus meng-improve metode visual check dengan lebih teliti? Misalnya tidak Cuma dengan menerawang plate ke arah yang lebih terang.

Masalah ke-2 yakni mengenai membersihkan scale (menurunkan fouling factor) dari HE shell and tube di sisi shell-nya. Kita mempunyai HE shell and tube yang fixed-type, maksudnya tube bundle tidak movable, artinya kita tidak pernah tahu kondisi shell side dari HE itu secara persis semenjak ia dioperasikan. Sekarang ini terdapat indikasi kenaikan temperature di outlet side (gas chlorine) yang diduga disebabkan oleh turunnya harga OHTC karena fouling factor shell side naik, akibat pengerakan (scale) air laut di shell side. Chemical treatment dengan alkali base solution pernah dilakukan, namun fail. Percobaan dengan metode magnetic (piezo electric method) juga dinilai lamban untuk menghilangkan kerak serupa ini. Ada usulan untuk melakukan chemical treatment dengan acid base solution, namun kami tidak memiliki guidance ataupun literature untuk acid base treatment ini, kami khawatir menyebabkan korosi pada sisi shell-nya. Apakah ada usulan prosedur scale removal pada shell side untuk Shell and Tube HE fixed-type seperti ini? Apapun itu procedurnya.

Masalah-3 kami hanya ingin mengetahui, material HE plate yang dinamai Carpenter-20. Sebetulnya apa bahannya? Paduan logamnya apa saja? Dan apakah cocok untuk L-NaOH 50% dengan temperature tinggi (100 – 160 oC). Handbook atau ensiklopedi apa saja yang dapat dicari untuk mengetahui Carpenter-20 ini?

Tanggapan 5 – putri anindya

Dear pak Toto Sugiharto,

Saya mencoba menanggapi masalah material Carpenter-20. Dalam makalahnya, Robert S. Brown : Selecting Alloys for Severely Corrosive Environments, (September 1996, Carpenter Technology Corporation, PA-USA), tertulis bahwa:

1. Material Carpenter-20 (atau 20Cb-3) adalah masih satu kelompok dengan jenis Austenitic Stainless Steel (304, 316, dll), dengan paduan unsur sbb: (C=0.02;Mn=0.4;Si=0.3;Cr=20;Ni=33;Mo=2.2;Cu=3.2;Cb=0.5).

2. Sifatnya: karena merupakan paduan high alloy iron-based nickel-chromium-molybdenum stainless steel, material ini memiliki sifat ketahanan terhadap pitting (lebih bagus drpd 304 maupun 316, tetapi masih dibawah duplex 7-Mo Plus dan Cu-Ni 400). Ketahannya terhadap chlorid-ion stress-corrosion cracking (lebih bagus drpd 304, 316, 22Cr, maupun 7-Mo Plus). Kandungan Cu-nya menyebabkan material ini memiliki ketahanan terhadap sulfuric acid corrosion (lebih bagus drpd 304, 316, 22Cr, 7-Mo Plus, maupun Cu-Ni 400). Memiliki weld-ability dan fabricability yang bagus (karena penambahan columbium).

Setahu saya kalo senyawa NaOH bukanlah zat yang korosif (CMIIW)…dengan demikian, material Carpenter tersebut dapat dipakai untuk servis NaOH 50% pada temp. 100-160degC.

Tanggapan 6 – Yudatomo

Dear Pak Putu & Rekans,

Berikut sedikit sharing dari saya, semoga berguna.

Untuk permasalahan no.2 pembersihan scale, saya punya beberapa kali pengalaman chemical cleaning shell & tube HE. Bedanya, yg kita cleaning adalah sisi tube & air laut berada di sisi tube ini. Concern utk cleaning sisi shell adalah bagaimana memastikan chemical solution bisa meng-cover sebagian besar bagian2 shell dan methode flushing setelah selesai chemical cleaning, biasanya memerlukan waktu lebih lama utk memastikan seluruh system ter-flushing dengan baik.

Pada dasarnya ada dua tipe chemical solution yg digunakan, acid & alkaline. Acid bisa inorganic atau organic. Pemilihan chemical solution didasarkan pada jenis material shell/ compatibility material dengan chemical dan komponen2 scale/ kerak yg akan dihilangkan. Sample deposit/ kerak utk itu perlu disampling & dianalisa utk mengetahu komponen2 utama dari kerak yg akan dihilangkan. Untuk mengetahui compatibility material, jika tidak mempunyai cukup informasi, dapat dicapai dengan melakukan corrosion test pada material (dengan coupon/ specimen dari material tsb).

Inorganic acid yang biasa digunakan: Hydrochloric Acid (HCl), Formic Acid (HF), Sulfuric Acid, Sulfamic Acid, and Phosporic Acid. Strength-nya berkisar antara 5-15%.
HCl efektive menghilangkan kerak2 dari garam2 calcium (kecuali calcium sulfate memerlukan kontak time yg lama), senyawa2 magnesium, iron, copper, dan manganese. HF & Sulfuric acid efektive utk kerak2 dari garam2 Calcium, magnesium, dan iron.Sulfamic acid utk garam2 calcium dan iron. Phosphoric acid utk iron scale.
Utk kerak silica atau silicates (paling susah diremove) biasanya diperlukan kombinasi hydrochloric acid dengan ammonium bifluoride.

Sementara organic acid yg biasa digunakan utk chemical cleaning adalah citric acid + ammonia, akan tetapi hanya efektif utk menghilangkan kerak iron.

Demikian juga alkaline solution, umumnya hanya efektif utk me-remove kerak iron dan kotoran organic spt oil & grease. Penambahan surfactant akan meningkatkan efektiveness dari alkaline solution ini utk meremove oil & grease.

Hal lain yg penting utk sukses-nya chemical cleaning adalah tercapainya temperature, contact time, dan velocity dari chemical solution, yg semuanya bergantung pada kondisi & kebutuhan.

Tahapan2 umum chemical cleaning :

-Sirkulasi chemical solution, sambil ditambahkan corrosion inhibitor. Dosing inhibitor dihentikan saat laju korosi berhenti ( bisa diketahui dengan mengukur misalnya iron content dari solution yg disirkulasi).

-Sirkulasi ini dilakukan sampai deposit content yg ada di solution yg disirkulasi steady, berarti tidak ada lagi scale/deposit yg te-remove.

-Selama sirkulasi lakukan pengukuran strength dari chemical solution, jika sudah terlalu turun, perlu dilakukan penambahan strength. Sebelumnya kalau bisa, perkirakan jumlah kerak/ deposit yg akan dihilangkan, sehingga bisa di-prediksi holding volume chemical solution yg digunakan.

-Setelah selesai sirkulasi, lakukan flushing dengan air bersih. Yakinkan shell bersih/ bebas dari chemical solution.

-Lakukan netralisasi dengan alkaline solution (jika chemical solution adalah acid) utk menjamin residu acid yg tertinggal ternetralkan dan gas hydrogen yg terbentuk (sbg hasil reaksi korosi) keluar.

Selama sirkulasi chemical solution, harus dilakukan monitoring utk menjamin:

-chemical solution bekerja dengan efektif meremove kerak/ deposit

-laju korosi under control

Parameter yg perlu dimonitor: pH, TDS, iron (atau copper, dll tergantung jenis material HE), hardness/silica/ atau material lain yg dominan ada di kerak/ deposit yg akan dihilangkan, dan corrosion coupon.