Select Page

SNI seismic design code sudah berlaku sejak lama. Proyek tahun 1986 sudah mensyaratkan pemakaian SNI seismic design code apalagi kalau proyek tsb perlu IMB, yang harus lolos tim evaluasi struktur (kalau di DKI tim ini disebut tim TPKB) code ini adalah code seismic yang mutlak harus diikuti kecuali bangunan kita tidak ter’cover’ dalam code tsb, kita boleh mengusulkan code dari luar, namun tetap harus dengan persetujuan tim evaluasi ini.

Tanya – Bandung Winardijanto

Mungkin ada rekan2 yang bisa bantu ??

a. Apakah SNI 03-1726-2002, Seismic Design Code sudah sepenuhnya berlaku dan harus kita pakai ?

b. Apakah Dalam pengajuan IMB gedung berlantai lebih dari 10 lantai perhitungan berdasarkan SNI diatas juga harus dilampirkan ?

c. Apakah SNI tersebut hanya berlaku untuk gedung saja ataukah juga juga berlaku untuk Oil & Gas Processing equipment (Vessel, Tanks, tower, heat exchanger, dll) terutama steel structure nya ?

d. Apakah Processing equipment memerlukan IMB ?

e. Pernahkah ada rekan Civil / Piping / Mechanical menggunakan SNI sebagai basic design referensi nya ?

Jika jawaban rekan2 cukup panjang .. silahkan Japri.

Tetapi jawaban di milis ini mungkin akan berguna untuk saling share pengalaman.

Tanggapan 1 – Suparman Chandra

Mas Bandung,

Wah anda kelihatannya lagi sebel sama SNI nih?

Sedikit masukan apa yang terjadi diproyek2 saya terdahulu.

a. SNI seismic design code sudah berlaku sejak lama. Proyek pertama saya th 1986 sudah mensyaratkan pemakaian SNI seismic design code apalagi kalo proyek tsb perlu IMB, yang harus lolos tim evaluasi struktur (kalau di DKI tim ini disebut tim TPKB) code ini adalah code seismic yang mutlak harus diikuti kecuali bangunan kita tidak ter’cover’ dalam code tsb, kita boleh mengusulkan code dari luar, namun tetap harus dengan persetujuan tim evaluasi ini.

b. jelas lampiran hitungan perlu diberikan agar tim evaluasi bisa menilai, bahkan bukan hanya melampirkan, tapi juga ada presentasi dan sidangnya pak.

c. mengenai batasan berlakunya peraturan tersebut (bangunan apa saja), bisa langsung dilihat pada code seismic dan penjelasannya.

d. Processing equipment (Mechanical, Electrical, Plumbing) design dievaluasi oleh suatu tim sebelum dikeluarkannya IMB dan di DKI tim ini namanya TPIB.

e. saya rasa item ini sudah saya jawab.

Sedikit tambahan bahwa untuk proses IMB di DKI yang megevaluasi adl:

1. TPAK –> untuk arsitektur

2. TPKB –> untuk civil dan struktur.

3. TPIB –> untuk MEP.

Anggota tim tsb adalah para pakar dibidangnya yang kebanyakan dari universitas/institute tekemuka di Indonesia. Dokumen2 yang disiapkan untuk proses sidang TPAK, TPKB, TPIB masing2 harus ditandatangani oleh yang perencana punya ijin sesuai bidangnya.

Perlu ditegaskan disini bahwa belum tentu tiap daerah mempunyai ketentuan yang sama dengan DKI, namun dari kasus yang saya hadapi pola DKI ini menjadi acuan di hampir diseluruh daerah di Indonesia. Dan ini biasanya dimasukkan dalam perda masing2 daerah.

Namun proyek2 oil and gas (gathering plant, offshore platform) yang pernah saya alami, tidak pernah meminta saya sebagai konsultan untuk membuat dokumen2 TPAK, TPKB, dan TPIB, waktu itu saya menangani proyek PSC.

Tapi waktu petrochemical ada tim yang mengevaluasi design kita untuk IMB.

Mengingat saat ini kita sedang gencar2nya melakukan otonomi daerah, banyak perda telah dibuat di masing2 daerah dan apa yang dulu tidak terjadi dalam proyek2 oil and gas, bisa saja sekarang menjadi harus. Bahkan perda tsb melalui Rencana Umum Tata Ruang bisa mengatur berapa KDB (perbandingan luas tapak bangunan thd luas tanah), KLB (perbandingan total luas bangunan thd luas tanah), ketinggian bangunan, fungsi bangunan, dll, dalam kawasan industri tsb, ini perlu dilihat dalam perda di masing2 daerah.

Semoga membantu.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia untuk pembahasan diatas dapat dilihat dalam file berikut:

Share This