Select Page

Mohon sharing pengetahuan dan pengalaman teman2 sekalian mengenai listrik pra bayar sbg salah satu produk PLN. Berapa tarif per kwh-nya. Lalu bagaimana dg maintenance meteran digital yg dipasang berkenaan dgn periode kalibarasinya dll yg berhubungan dgn LPB ini. Apakah seluruh Indonesia sudah bisa menikmati produk LPB?

Tanya – ari widodo

Dear rekans,

Gk tau masuk bidang keahlian apa nih, jadi saya tulis ‘Rumah Tangga’ saja, silahkan dikoreksi bila keliru.
Mohon sharing pengetahuan dan pengalaman teman2 sekalian mengenai listrik pra bayar sbg salah satu produk PLN. Berapa tarif per kwh-nya. Lalu bagaimana dg maintenance meteran digital yg dipasang berkenaan dgn periode kalibarasinya dll yg berhubungan dgn LPB ini. Apakah seluruh Indonesia sudah bisa menikmati produk LPB? Saya berpendapat produk ini bagus krn kita bisa mengontrol pemakaian listrik sendiri. Soalnya beberapa teman kerja mengatakan klo pemasangan listrik baru di perumahan di pekanbaru butuh wkt 2 th. Lama sekali bukan? Saya gk tau pasti juga, soalnya tiap telpon ke kantor PLN, jawabannya selalu,’Pak… saya ini cuman operator, gk bisa mutusin … bla bla bla…’
Klo pelanggan baru yg mengajukan daya 2200 lebih, malah bisa diprioritaskan (berita RRI pekanbaru tp tanggalnya lupa).

Tanggapan 1 – Rony Rahmat Saputra

Pak Ari,

Saya kebetulan menggunakan LPB ini dari PLN. kebetulan rumah saya di daerah Cimahi. setelah hampir setahun memakai LPB ini (dari bulan Juni 2009) rasanya lebih praktis dan lebih ngirit dari listrik biasa Pak, sebab dengan meteran konvensional 1300 W, biasanya membayar sekitar 170 ribuan/bulan, namun dengan LPB ini habisnya sekitar 100 ribuan/bulan, pemakaian kurang lebih sama. mohon maaf saya lupa mencatat pemakaian KwH-nya. tapi rasanya lebih irit.

kerugiannya kita harus sering mengecek availability listriknya, sebab menurut petugas PLN kalau sampai nol maka meteran harus diprogram ulang (mungkin rekan-rekan ada yang bisa mengkoreksi hal ini?).

untuk masalah kalibrasi, karena masih baru jadinya belum ketahuan Pak. for additional info, meter LPB ini masih diimpor dari South Africa (saya baca di meter LPB).

terima kasih,

Tanggapan 2 – bambang saefu

Pak Roni,

Rumah saya, di daerah ciwaruga-bandung barat, kebetulan sdh pakai LPB juga. Pernah listrik tiba2 mati, ternyata angka di meterannya sudah nol (waktu itu emang kelupaan ngecek meterannya ). Tp begitu diisi lagi seperti biasa, tanpa diprogram ulang meterannya, listrik udah bisa nyala lagi.

Tanggapan 3 – Isya Muhajirin

Pak Bambang,

Cara ngisinya apa kaya’ kita ngisi HP pake voucher pulsa? Dimana aja kita bis beli pengisi meter listrik tersebut?

Saya pikir kalo beli isi ulangnya mudah, saya akan coba pasang. Terima kasih.

Tanggapan 4 – Rony Rahmat Saputra

Pak Isya,

karena kebetulan rumah saya dekat dengan loket pembayaran PLN, jadinya bisa beli di situ. Tapi dari beberapa surat kabar yang saya baca rasanya ada juga di beberapa bank seperti Bank Mandiri. cara isi ulangnya juga mudah pak, tinggal memasukkan 20 digit di voucher isi ulangnya (persis seperti isi ulang pulsa hp prabayar).

Pak Bambang, terima kasih informasinya Pak 🙂 . Soalnya selama ini saya belum pernah (amit-amit) sampai habis pak.

Tanggapan 5 – ananda abdurasyad

sayangnya….. tetengga di sebelah rumah saya menggunakan metode pembayaran prabayar tersebut dan sering meninggalkan rumahnya dalam waktu lama….. sehingga pada saat rumah tersebut kosong dan belum membayar voucher alarm di meteran listrik akan berbunyi terus menerus baik siang maupun malam….. (sangat mengganggu karena bunyinya terdengar sampai ke dalam rumah kami)….. adakah metode lain untuk mengingatkan pembayaran tagihan selain dengan alarm tersebut?? (via sms misalnya…).

Tanggapan 6 – And Riawan

Pak, bagi tetangga saya yg baru bikin rumah petak/ kontrakan cukup membantu, karna jika penghuni kabur tidak perlu melunasi listrik yg sudah dipakai . . .

Saya kira terobosan PLN perlu di apresiasi, nanti setelah masa uji dan masukan2 dari pengguna, kualitas alat dan sistem pasti lebih baik lagi, dan ini seharusnya lebih murah karna tidak ada biaya pencatatan meter tiap bulan nya . . . (mohon PLN juga memperhatikan teman2 tukang catat meter/ outsourcing, karna sistem pulsa tersebut mungkin mengurangi volume kerja mereka yg berakibat PHK) . . .

Tanggapan 7 – bambang saefu

Pak Isya,

Iya, cara pengisiannya mirip HP. Kita bisa beli voucher LPB di bank mandiri, bukopin, nisp, bri, bpr ks atau kadang2 penjual voucher hp pinggir jalan juga ada. Nanti kita dpt sederet nomor (lupa berapa digit) yang tinggal dimasukin ke meteran listriknya.

Tanggapan 8 – Muhamad Romadhan

Pembelian Token setahu saya baru bisa di Bank Bukopin dan kantor pos. Sepertinya tidak bisa di retail seperti jualan voucher, karena nomer token harus ter’generate’ berdasarkan nomer mesin kWh yang terpasang. Kalau tidak salah info, token yang suda kita beli berdasarkan nomer mesin kWh kita, tidak bisa dipakai di mesin kWh yang lain.

Rp. 50.000 kira-kira dapat 70 kWh, Rp. 100.000 kira-kira dapat 146 kWh. Dengan beban 1300 VA, Jika pemakaian masih di bawan 186 kWh (~IDR 123.000) per bulan, masih hemat dengan LPB (Sistem Token). Jika lebih, lebih hemat dengan sistem pasca bayar.

Tanggapan 9 – ari widodo

Terimakasih atas sharing dari teman2. Inilah anehnya, lebih mudah mendapat informasi dari milis ketimbang mencari berita dari institusi terkait (PLN, red). Saya tinggal di pekanbaru, dan minggu lalu hunting informasi ke call center PLN pekanbaru, tapi koq aneh ya… mereka (kata operatornya) blm dengar tuh ada listrik pra bayar. Pdhl klo di Jawa kan sudah byk yg menggunakan. Yg di pontianak sudah byk yg pakai juga. Malah ada beberapa cerita dari rekan2 di daerah lain klo mau pasang baru, pasti ditawarkan yg prabayar dulu. Memang programnya yg belum sampai ke pekanbaru, atau saya saja yg sedang sial bertemu dgn operator yg tdk punya cukup informasi?

Pengen tau saja berapa harga per kwh-nya (dgn catatan meterannya bener2 calibrated). Klo dari emailnya mas Romadhan, 50rb/70 kWh = Rp 714/kWh, atau 100rb/146 kWh = Rp 685/kWh, asumsi saja Rp 700/kWh.

Saya coba bandingkan dgn TDL yg saya ambil dari situs PLN.co.id:

TDL utk keperluan rumah tangga (1,300 VA), biaya beban Rp 30,500.

Blok I : 0 s.d 20 kWh: 395

Blok II : di atas 20 kWh s.d 60 kWh: 490

Blok III : diatas 60 kWh: 530

Setelah saya hitung, pemakaian 154 kWh biayanya sama2 Rp 107,900 baik utk prabayar maupun pascabayar. Artinya klo lebih dari 154 kWh, memang lebih hemat pakai pasca bayar.

Klo sistemnya seperti membeli pulsa HP, kita memang harus merencanakan dan menghitung berapa penggunaan listrik per bulan sehingga bisa memilih mau prabayar atau yg konvensional agar lebih hemat. Masalahnya klo listrik ‘byar pet’… wah, gk adil juga buat yg pakai prabayar. Beli listrik ke PLN-nya kontan, tapi PLN kasih barangnya ‘nyicil’.

Tolong donk kasih sharing lagi buat yg udah pasang LPB ini. Apa kerugian dan keuntungannya? Apakah ada kasus2 tertentu, misalnya pulsa tersedot jauh lebih cepat dibanding pemakaian normal?

Share This