Metoda insersi HDCB (High Density Chained Balls) yang dilakukan di
kawah utama semburan lumpur panas Sidoarjo bertujuan untuk mengurangi
debit dan energi semburan lumpur di kawah utama dipelopori oleh Bagus Endar
B. Nurhandoko, Satria Bijaksana, dan Umar Fauzi yang ketiganya merupakan
dosen yang tergabung di Kelompok Keahlian Fisika Sistem Kompleks, FMIPA,
Institut Teknologi Bandung. Tim HDCB ini mempunyai tim pendukung yang
cukup solid dari ahli instrumentasi, mesin, komputasi, geofisikawan,
hydrogeologi, serta ahli safety (HSE). Untuk tahap kedepan kami mendapatkan
bantuan dari rekan‐rekan ahli dari ITB untuk masalah mekanika fluida,
instrumentasi dan mekanika batuan. Sampai dengan hari ini beberapa pihak
mulai bersimpati pada usaha keras kami, dengan memberikan sumbangan
material, alat dan saran‐saran yang sangat berguna bagi keberhasilan misi ini.
Pemberi sumbangan ini mulai dari perusahaan terkemuka di bidang material
bahan yaitu menyumbang penyediaan bahan insulator tahan panas teknologi
terbaru (nanoteknologi) sampai dengan pemilik bengkel di sebuah gang kecil di
kawasan Gunungsari Surabaya. Kami berharap metode ini menjadi solusi
nasional yang dikembangkan oleh ahli‐ahli domestik, setidaknya ini nanti bisa
menjadi pembangkit harga diri bangsa, pembangkit kepercayaan diri bangsa dan
pemicu semangat inovasi bangsa.

Oleh : Bagus Endar B. Nurhandoko

Ketua Tim Supervisi dan Monitoring Insersi HDCB LPPM ITB

Hampir genap satu tahun sudah, lumpur panas terus menyembur dari
dalam perut bumi hingga nyaris menggenangi bumi Porong
Sidoarjo. Bahkan, total volume lumpur yang menyembur sejak 29
Mei 2006 pun diperkirakan sudah mencapai lebih dari 10 juta meter
kubik ( Sumber : Timnas). Kini dua belas desa di tiga kecamatan
sudah tergenang. Berbagai penangananpun telah diupayakan untuk menutup
semburan lumpur panas tersebut, mulai dari: Snubbing Unit, side‐Tracking, Relief
Well‐1 dan Relief Well‐2 menelan biaya sekitar 800 milyar dengan teknologi
import dari negara asing (US). Parallel dengan metode sebelumnya, muncul
metode yang diusulkan oleh dosen‐dosen dari Institut Teknologi Bandung, yaitu
metoda Insersi HDCB (High Density Chained Balls) yang sebetulnya pada awalnya
hanya didesain dan diniatkan hanya untuk membantu metode sebelumnya yaitu
hanya untuk mengurangi debit dan energi semburan di pusat semburan lumpur.
Kami mendesain insersi HDCB ini dengan bahan dan teknologi cukup terdepan
namun semuanya diusahakan harus dilakukan dengan biaya cukup murah
(rencana awalnya kurang dari 4 milyar rupiah) namun tidak mengurangi kaidah
kecanggihan dan resolusi alat, karena kesemuanya dibangun didalam negeri
berbekal pengetahuan kami melayani Industri perminyakan baik didalam
maupun diluar negeri. Kemudian, kabar santer yang terpantau dari media massa
bahwa setelah metode ini juga akan diterapkan teknik Double Coffer‐Dam dari
Jepang dengan biaya 600 milyar.
Hingga kini baru 398 untai HDCB yang sudah berhasil menembus sumber
lumpur dari 2000 untai HDCB yang direncanakan ( baru 1/5 target), untaian
HDCB itu menembus hingga kedalaman lebih dari 1000 meter (> 3000 kaki) dan
sebagai perbandingannya sepatu (shoe) casing terdalam dari BJP‐01 adalah 3550
kaki (sumber Timnas) dan ini adalah target kedalaman yang akan ditembus oleh
teknik HDCB ini. Banyak kendala teknis maupun non teknis menghadang misi
ini, namun kami merasakan yang non teknis ini lebih dominan, bisa mencapai
lebih dari 75% dari total kendalanya. Jatuh bangun misi ini mulai dari pendanaan
yang tak kunjung turun hingga ancaman teror di HP kami, cemoohan di mailing
list maupun di media massa serta lamanya pengambilan keputusan oleh
pengambil kebijakan. Disamping panasnya terik matahari, panas‐sesaknya asap
semburan, guyuran hujan dan jauhnya keluarga. Namun ini semua memacu
semangat dan ketabahan tim kami untuk melaksanakan niat kami menolong
korban semburan lumpur disamping tantangan ilmiah yang luar biasa dari misi
ini.

Selama menunggu penantian perihal kelanjutan insersi HDCB ini, tim
insersi HDCB ini melakukan beberapa hal yaitu membangun perangkat ukur
untuk mengukur tekanan dan temperatur pada kedalaman hingga 1000 meter
serta perangkat untuk mendeteksi bentuk geometri dari kawah semburan lumpur
hingga kedalaman 1000 meter. Semuanya diukur tanpa kabel ke permukaan, ini
dikenal sebagai perangkat wireless logging (di Industri perminyakan yang umum
adalah wireline logging). Inipun juga merupakan proyek peluncuran logging
pertama kali di dunia untuk pengukuran parameter kawah hingga kedalaman
sedalam itu. Proyek misi prestisius secara ilmiah, meski hampir semuanya
mengandalkan sumber daya manusia dalam negeri dengan biaya yang relatif
murah, namun tetap handal baik secara kelayakan dan perolehan datanya. Setelah
pengukuran itu dilaksanakan, strategi insersi HDCB pasca 398 untai adalah
penggunaan penambahan teknologi baru yang disebut sebagai Insersi HDCB
plus Spider‐web technology® alias insersi HDCB plus jaring laba‐laba. Teknik ini
layaknya jaring laba‐laba akan membentuk sistem jaring yang akan dibuka pada
kedalaman 1200 meter (3600 kaki), benda ini jika terbuka akan berdiameter 3
meter. Jaring ini yang akan menahan bola‐bola beton ini pada kedalaman yang
kita harapkan dan mengantisipasi sifat multifasa aliran lumpur. Dengan demikian
insersi bola beton akan terkonsentrasi pada kedalaman tertentu dan hasilnya
menjadi kian signifikan. Semua ide ini bisa muncul dari hasil kami mengamati
perilaku unik nan aneh dari aliran lumpur dari atas tanggul semburan lumpur
dan dari atas tanggul‐tanggul lumpur selama hampir 5 bulan.
Metoda insersi HDCB (High Density Chained Balls) yang dilakukan di
kawah utama semburan lumpur panas Sidoarjo bertujuan untuk mengurangi
debit dan energi semburan lumpur di kawah utama dipelopori oleh Bagus Endar
B. Nurhandoko, Satria Bijaksana, dan Umar Fauzi yang ketiganya merupakan
dosen yang tergabung di Kelompok Keahlian Fisika Sistem Kompleks, FMIPA,
Institut Teknologi Bandung. Tim HDCB ini mempunyai tim pendukung yang
cukup solid dari ahli instrumentasi, mesin, komputasi, geofisikawan,
hydrogeologi, serta ahli safety (HSE). Untuk tahap kedepan kami mendapatkan
bantuan dari rekan‐rekan ahli dari ITB untuk masalah mekanika fluida,
instrumentasi dan mekanika batuan. Sampai dengan hari ini beberapa pihak
mulai bersimpati pada usaha keras kami, dengan memberikan sumbangan
material, alat dan saran‐saran yang sangat berguna bagi keberhasilan misi ini.
Pemberi sumbangan ini mulai dari perusahaan terkemuka di bidang material
bahan yaitu menyumbang penyediaan bahan insulator tahan panas teknologi
terbaru (nanoteknologi) sampai dengan pemilik bengkel di sebuah gang kecil di
kawasan Gunungsari Surabaya. Kami berharap metode ini menjadi solusi
nasional yang dikembangkan oleh ahli‐ahli domestik, setidaknya ini nanti bisa
menjadi pembangkit harga diri bangsa, pembangkit kepercayaan diri bangsa dan
pemicu semangat inovasi bangsa.

Tanggapan selengkapnya :