Sungguh menarik mengamati Malaysia dalam mengembangkan perminyakan nasional mereka. Petronas yang pernah berguru kepada Indonesia disebut sebut telah jauh meninggalkan Indonesia yang terus jalan ditempat , bahkan produksi migas Indonesia pun terus melorot, penemuan cadangan baru yang sangat sedikit dibandingkan dengan produksi nya. Semua hal tersebut sangat memprihatinkan.

Pembahasan – Sulistiyono

Sungguh menarik mengamati Malaysia dalam mengembangkan perminyakan nasional mereka. Petronas yang pernah berguru kepada Indonesia disebut sebut telah jauh meninggalkan Indonesia yang terus jalan ditempat , bahkan produksi migas Indonesia pun terus melorot, penemuan cadangan baru yang sangat sedikit dibandingkan dengan produksi nya. Semua hal tersebut sangat memprihatinkan.

Para cerdik pandai, apalagi partai politik, hanya mampu memprihatinkan Pemerintah yang menyerahkan cadangan besar minyak Indonesia ‘dikuasai’ asing ketimbang memahami bagaimana sejatinya Kontrak KKS itu, apalagi memikirkan bagaimana Kita bisa menemukan cadangan baru yang besar, syukur bisa ditemukan perusahaan migas nasional.

Setahun yang lalu saya paling tidak mendapat kesempatan untuk meng ‘inspeksi kapal seismik milik perusahaan Malaysia di Kinabalu Dan Penang yang akan dipergunakan untuk melakukan site survey di selat Makasar. Kapal tersebut ternyata juga dipergunakan untuk survei seismik 2D Dan 3 D Dan telah melanglang buana melakukan survei seimik di pelbagai negara meskipun telah berusia agak tua, namun terawat baik. Petronas Malaysia pun memanfaatkan kapal tersebut secara optimal.

Yang saya kagum adalah bagaimana Malaysia mendukung Perusahaan nasionalnya baik perusahaan migas maupun pendukungnya untuk maju bersama. Perusahaan jasa yang lain tentunya juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah. Indonesia sebenarnya juga mempunyai perusahaan pendukung perminyakan yaitu Elnusa. Dulu juga punya kapal seismik membeli kapal Rio das Contas dari Delta ,yang sekarang nggak tahu kemana rimbanya. Jangankan melanglang keluar negeri, mengerjakan seismik di dalam negeri pun nampaknya kurang laku, sehingga kapal tsb pun almarhum ….. Beruntunglah Elnusa yang merupakan anak perusahaan Pertamina, sehingga memperoleh banyak pekerjaan dari Pertamina. Komitmen Pemerintah pun akhir2 ini muncul untuk membantu Perusahaan Nasional termasuk komitmen dari Ka BP Migas.Semoga dapat memajukan perusahaan jasa nasional, karena apabila migas nasional sudah habis maka apabila perusahaan jasa nasional bisa bisa go internasional, maka perusahaan jasa tsb lah yang bisa membantu Pemerintah untuk mendapatkan devisa Dan menciptakan lapangan kerja bagi tenaga nasional.

Memang seyogyanya Indonesia meniru Malaysia untuk mendorong perusahaan migas. Dan jasa migas nasional untuk maju Dan bila mungkin juga merebut pasar internasional. Dengan jalan apa ? Serifikasi internasional dulu untuk operasi dalam negeri atau SNI ?Entahlah. Mungkin rekan milis dapat memberi pencerahan.

Tanggapan 1 – Arnold

Jika diperhatikan lebih mendalam, maka sistem dan kebijakan yang pro usaha nasional di Indonesia sendiri yang masih lemah. Usaha anak bangsa di negaranya sendiri bukannya dipermudah tetapi malahan dipersulit.

Ada idiom yang mengatakan bahwa bangsa kita sulit melihat teman sebangsa senang, dan senang melihat teman sebangsa mengalami kesulitan. Sehingga kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah. Ini adalah etika nasional.

Kalau bicara masalah etika dan sistem nasional, maka kita semua ikut bertanggungjawab, tetapi tanggungjawab utama tetap di tangan pemerintah. Untuk itu kita yang sudah mempunyai dasar pendidikan yang cukup, haruslah berani melakukan perubahan. Pilihlah di pemilu mendatang, pemerintahan yang nasionalis dan pro rakyat sendiri, dan mampu melakukan perubahan besar untuk menata kembali etika dan sistem nasional yang lebih nasionalis dan lebih pro rakyat sendiri.

Tanggapan 2 – rahmat ardiansyah

Maaf, saya boleh nembahin ya Pak.

Sekali waktu saya pernah nonton TV3. Disana ditayangkan sejarah perkembangan perusahaan perusahaan nasional Malaysia, antara lain Petronas (industri migas), Felda (industri perkebunan) dll. Diterangkan disana oleh Datok Musa Hitam, kalau tidak salah waktu itu dia masih wakil perdana mentri (timbalan), bahwa keberhasilan mereka tidak terlepas dari bantuan ahli-ahli dari Ingris dimana setelah Malaysia merdeka mereka tidak serta-merta mengusir orang-orang Ingristersebut. Mereka masih mengharapkan keahlian dan prilaku industri orang Ingris ditularkan ke orang-orang pribumi. Jelas tergambar di film lama tersebut ratusan bahkan ribuan Mat Saleh (sebutan untuk orang kulit putih) bekerja di berbagai sektor seperti perkebunan, perminyakan, guru dll. Singkatnya, mereka tidak menasionalisasikan perusahaan milik bekas secara membabi buta. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Bangsa Indonesia. Bahkan prilaku industri yang sangat baik dari orang-orang Belanda tidak kita laksanakan sama sekali. Saya saat ini bekerja di perusahaan eks peninggalan Belanda, berdiri tahun 1928. Sampai dengan tahun 2007 kami masih dipimpin oleh orang Eropa. Banyak nilai-nilai positif yang kecil-kecil yang dapat kita terapkan antara lain, kebersihan, pemeliharaan masin-mesin, dll. Kami masih punya mesin tua tahun 50 an yang masih baik. Saya pernah mengerjakan beberapa pekerjaan kecil di Pertamina, dari kacamata saya banyak hal yang tidak sesuai dan tidak mencirikan perusahaan nasional milik Rakyat Indonesia. Saya tidak bisa sebutkan hal itu…..ini hanya opini saja, tentu dibandingkan dengan perusahaan kami yang sangat kecil dibanding dengan Pertamina. Satu hal yang cukup menggelitik nilai keadilan adalah, apakah komputer laptop perlu disewa dari perusahaan lain………ini celah kecil pemborosan. Sementara saya melihat PC tergeletak dimana-mana. Di perusahaan saya yang kecil, kami masih bisa memproduksi gambar dengan printer tahun 1995 loh….

Jadi beban Ibu Keren berat loh….

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: