Sudah kita ketahui bahwa discovery cadangan migas baru kita setiap tahunnya selalu tekor dibandingkan dengan produksi kita. Oleh karena itu suatu hari nanti , migas kita bakalan habis. Oleh karena itu seharusnya dikembangkan perusahaan jasa yang dapat mendukung kegitan migas baik hulu maupun hilir, sehingga sewaktu cadangan migas habis maka perusahaan jasa pendukung itulah yang dapat memperoleh devisa bagi Indonesia.

Pembahasan – Sulistiyono

Sudah kita ketahui bahwa discovery cadangan migas baru kita setiap tahunnya selalu tekor dibandingkan dengan produksi kita. Oleh karena itu suatu hari nanti , migas kita bakalan habis. Oleh karena itu seharusnya dikembangkan perusahaan jasa yang dapat mendukung kegitan migas baik hulu maupun hilir, sehingga sewaktu cadangan migas habis maka perusahaan jasa pendukung itulah yang dapat memperoleh devisa bagi Indonesia.

Para pendahulu Pertamina seperti Pak Ibnu Sutowo, Pak Sudiono, Pak Sutan Assin dll membentuk PT Elnusa untuk mendukung perminyakan nasional. Pertamina sangat membantu agar Elnusa mampu berkembang. Perusahaan seismic data processing , jasa survey seismic , penyimpanan data dll terus dikembangkan, sehingga selanjutnya berkembang jasa pemboran, informatika dll. Saya ketahui Jasa survey seismic darat dan processing nya telah digunakan oleh beberapa KPS, namun kebanyakan pekerjaan diberikan oleh Pertamina dan para TAC dan JOB nya.

Seismik laut ? Pada tahun 1980 an Elnusa pernah mencoba peruntungannya dengan membeli kapal survey seismic Rio das Contas dari Matra Delta, namun nampaknya tidak berhasil.

Pertamina juga telah membangun PT Krakatau Steel untuk menunjang industry berat nasional, agar peralatan berat untuk menunjang industry perminyakan dan lainnya dapat berkembang. Pertamina juga membiayai pembangunan Batam pada awalnya untuk menyaingi Singapura, agar perusahaan perminyakan dan jasa penunjangnya pindah dari Singapura. Namun semua nya menjadi kurang berhasil .

Sementara itu Malaysia, para pengusahanya dipacu untuk m,embangun perusahaan jasa pendukung perminyakannya dan berhasil bahkan sudah mendunia.

Tidak hanya di hulu di hilir pun Petronas juga sudah bergerak mendunia. Lihat saja oli nya , dan SPBU2 nya .

Sebenarnya apa sih yang harus kita luruskan agar perusahaan jasa perminyakan kita juga bisa maju dan mendunia ? Mohon pencerahan.

Tanggapan 1 – Bambang Satya Murti

Pak Sulis,

Yak, tul tu.

Setelah hampir dua dekade berkecimpung di dunia hulu industri migas, aku sering kepikiran juga, kenapa kaum industrialis di negeri kita sangat sedikit yang menaruh concern terhadap pengembangan industri pendukung indistri hulu migas ini? Kalaupun ada, itu tidak lebih sebatas ‘agen’ atau ‘makelar’ dari industri pendukung hulu dari luar negeri.
Atau, ini sudah menjurus ke ‘prejudice’, jangan-jangan kita ini lebih menyukai menjadi bangsa ‘penikmat’ yo? Semuanya mau serba instant. Kalau kita bercermin ke negri seberang, OK, aku ambil contoh yang kongkrit, untuk kegiatan pengeboran, cementing dan wireline (logging). Diawal dasawarsa 70’an, kita melihat perusahaan jasa pengeboran dari negeri Paman Sam yang berlalu lalang dinegeri kita dengan membawa bermacam brand (Skytop, Cooper, etc), demikian juga dengan perusahaan jasa cementing & pengukuran (Atlas, Gearhart, Halliburton, Schlumberger).
Lha sampai sekarang, 40 tahun kemudian, apa yang terjadi? Pengusaha kita tidak lebih dari sekedar PEDAGANG yang mengambil rente. Industri Casing? Waduh, jauh panggang dari api. OK-lah, kalau membayangkan akan terjadi quantum leap untuk membuat industri manufaktur mungkin terlalu berlebihan, mungkin kita perlu bercermin ke negeri Tirai Bambu, saat menyadari potensi migas negaranya yang melimpah, mereka mendukung proses alih teknologi yang berkesinambungan, bukan instant, dan sekarang, kita bisa melihat sendiri, kita menjadi terjajah secara ekonomi di negeri kita sendiri. Drilling? Ada Da Qing dan teman-temannya. Marine Seismic Vesssel? Ada COSL juga. Casing? Contohnya buanyakkk… Lha kita?
Threading doang.
Negeri kita memiliki banyak potensi untuk industri ekstratif, tetapi, lagi-lagi, kita hanya menjadi bangsa penikmat yang semu.
Mumpung belum terlambat, kita harus bisa membalik paradigma tersebut, kita mulai dari diri sendiri.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: