Hal pertama yg harus diperhatikan sebelum mendesign tank ini adalah: 1. Cari tahu dulu explotion radiusnya minimum kalau ada fire case. Kalau tank tersebut hanya menampung vol. Yg kecil radiusnya kan tak perlu jauh dg tank yang lain; 2. Tinggi bund wall itu di sesuaikan dg vol dari setiap tanki kalau ada kebocoran. Jadi kalau ketemu semisal isinya 200 barel, ya gak perlu bikin tinggi. Minimum bundwall 1 mtr cukup. Coba buka code API 650 kayaknya di situ ada penjelasan yg cukup; 3. Utk jarak aman dg control room, kembali lagi lihat explotion radiusnya. 100 mtr cukup.

Tanya – mahmudins@technip

Dear All

Mohon bantuannya kalau mau mendesign fuel oil tank, diesel oil tank dan kerosene tank untuk mining Standard Indonesia apa atau yang mana dipakai utk menentukan beberapa hal di bawah ini sebagai contoh :

1. Minimum jarak antara tank dengan tank

2. Minimum tinggi bandwall

3. Jarak minimum antar tank dengan kantor (contro room)

4. DLL

Terimakasih atas bantuannya.

Tanggapan 1- sugeng.hariyadi

Mas mahmudin,

Hal pertama yg harus diperhatikan sebelum mendesign tank ini adalah:

1. Cari tahu dulu explotion radiusnya minimum kalau ada fire case. Kalau tank tersebut hanya menampung vol. Yg kecil radiusnya kan tak perlu jauh dg tank yang lain.

2. Tinggi bund wall itu di sesuaikan dg vol dari setiap tanki kalau ada kebocoran. Jadi kalau ketemu semisal isinya 200 barel, ya gak perlu bikin tinggi. Minimum bundwall 1 mtr cukup. Coba buka code API 650 kayaknya di situ ada penjelasan yg cukup.

3. Utk jarak aman dg control room, kembali lagi lihat explotion radiusnya. 100 mtr cukup.

Mungkin ada kawan dari milis yg lain ada pendapat, monggo.

Tanggapan 2 – okto

Pak Mahmudin,

Untuk mining standard Indonesia saya tidak tahu, sekedar perbandingan dan menambah wacana.

(1) kl untuk aplikasi di refinary ada standard API yg mengatur jarak tanki,

(2) dalam satu bundwall bisa ada beberapa tanki (dalam kasus saya didisain maks. 4 tanki), tinggi bundwall akan tergantung pada berapa luas area yg dikelilingi bundwall. Karena bundwall harus bisa menampung tumpahan oil dalam kondisi satu tanki terbesar atau worst case yg mungkin terjadi. Volume inside bundwall > volume tanki terbesar.
Luas area didalam bundwall selain terbatasi oleh area yg ada juga harus dipertimbangkan fire water ring yg didisain diluar bundwall, water jet dari hydrant harus dapat mencapai center tanki yg dilindungi bila dioperasikan dalam jarak aman.

(3) safety adalah pertimbangan utama dan jika ada batasan area, jarak minimum bisa diperkecil dengan memanfaatkan blast wall.

pls process safety to CMIIW.

Tanggapan 3 – mahmudins@technip

Pak Okto/buat rekan yang menjawab

Yang saya maksud di sini adalah peraturan pemerintah Indonesia untuk pertambangan, saya sudah punya salah satunya Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 555.K/26/M.PE/1995 saya merasa masih sangat kurang, maksud saya di sini adalah apakah sudah ada diantara rekan yang familiar dan sering/pernah memakai dengan SNI atau Keputusan Menteri dll. Dengan tidak bermaksud apa-apa dan tidak mengurangi rasa hormat saya, kalau Internation Standard baik dia API dan NFPA dll, Insya Allah saya sudah familiar yang belum familar adalah SNI, Keputusan Menteri dll. Ma’af pertanyaan saya sebelumnya mungkin kurang specific.

Tanggapan 4 – Crootth Crootth

Dear Mas Mahmudin dari technip (indonesia apa mana?)

Jika kita membicarakan mengenai jarak – siting antara tangki dengan tangki, atau secara umum antara unit pemroses yang satu dengan unit pemroses lainnya, maka kita sudah masuk dalam area Process Safety, bukan lagi Mechanic, karenanya saya ubah topic nya.

Cara paling sahih untuk menghitung jarak unit pemroses dengan bangunan, sebagaimana telah di-endorse oleh API RP 752 (2009) untuk permanent building, dan API RP 753 (2007) untuk bangunan portable (bukan permanen) adalah dengan melakukan Risk Assessment.

Hasil risk assessment akan menunjukkan secara detail, berapa resiko yang diterima personil baik di dalam atau diluar gedung, jika gedung diletakkan sekian meter dari – dalam kasus ini tangki?

Melakukan QRA (quantitative risk Assessment) – yang notabene merupakan salah satu metode risk assessment terbaik dan ces pleng – tentu tidaklah mudah dan membutuhkan waktu dan sumberdaya manusia (dan modal) yang tidak sedikit, namun ini bisa juga didekati dengan metode risk assessment lainnya, menggunakan DFEI (Dow’s Fire and Explosion Index) misalnya. Mengenai QRA dan DFEI banyak sekali diulas oleh mailing list IIPS –> mailto subscribe-iips_online@yahoogroups.com

Jika yang diinginkan adalah metode deterministik (dalam banyak hal saya nilai sangat konservatif dan tidak ekonomis jika diukur dengan cost benefit analysis) maka buku panduan IRI yang paling cocok digunakan (IRI IM 2.5.2). Buku ini memuat panduan penentuan jarak minimum baik untuk jarak antar tangki ke tangki (antar unit pemroses ke unit pemroses lain), jarak antar fasilitas pemroses yang satu dengan lainnya, maupun jarak antara unit pemroses dengan bangunan.

Jika yang diinginkan adalah jawaban cepat yang tanpa menggunakan Risk Assessment, berikut adalah jawabannya:

1. Jarak antar tangki dengan tangki lain?

Berdasarkan IRI , semua bergantung pada parameter prosesnya…berapa tekanannya? berapa volumenya? tipe apa tangkinya? OK, kita asumsikan itu tangki adalah Floating Roof tank dengan tekanan atmosfer (mendekati atmosfer) dan volumenya 10001 barrel (1590 m3), maka jarak minimum antara tangki adalah 1 kali diameternya. Untuk yang kurang dari 10000 barrel (atmosferik floating roof tank) maka jarak antar tangki minimum adalah setengah diameter.

2. Berapa tinggi bundwall minimum?

NFPA menyarankan 1.83 m; AS1940 menyarankan minimal 1.5 m dan Singapore
Standard menyatakan 2 m sebagai nilai minimal.

Selengkapnya silahkan simak jawaban saya atas pertanyaan sama di milis ini pada hari selasa 4 September 2007 pukul 5.32 melalui link berikut:

http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/52618

3. Jarak minimum antara tangki dengan bangunan kantor (control room)?

Jika merefer pada parameter proses pada point 1 di atas, jarak minimumnya adalah 76 m. Tidak disebutkan apakah itu control room memakai blast proof wall apa bukan, jika memang yang dipakai adalah aturan deterministik seperti ini anda tidak bisa menghindar dari kewajiban, kecuali anda telah melakukan QRA atau metode risk assessment mumpuni lain yang bisa menunjukkan resiko yang tolerable if ALARP pada penempatan tangki/control room.

Demikian jawaban singkat saya karena pertanyaannya anda JAUH DARI DETAIL maka jawabannya juga JAUH DARI DETAIL, mohon jika menanyakan sesuatu itu yang DETAIL (berisi detail spesifikasi peralatan, detail flammble yang mengisi tangki, detail parameter proses, dst).