Tips2 mengenai bagaimana membuat CV yg baik dan bagaimana menjalani interview ada banyak, namun umumnya isinya kurang lebih sama antara yang satu dengan lainnya. Tetapi meski demikian, nggak banyak orang yang mempraktekan tips2 tsb. Contohnya aja ketika sedang menjalani proses interview di suatu perusahaan, saya sering bertemu dengan sesama calon, tetapi penampilan mereka (maaf) jauh dari rapi, bahkan ada yang membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh lebat. Padahal dalam setiap tips menghadapi interview pasti ada tips yang menyebutkan bahwa penampilan itu penting. Dan dari pengalaman saya menginterview orang, salah satu kriteria yang dinilai adalah penampilan, apakah calon itu penampilannya rapi, tidak rapi atau sangat rapi.

Tanya – Sapto Hari Wibowo

Setelah sekian lama/ bertahun2 saya menerima CV atau surat lamaran dari teman2 milis ada sesuatu point yg tidak mengena :

1. English (jangan menggunakan bhs indonesia dlm cv atau surat lamaran anda kalau melamar di oil & gas company).

2. Kalau anda lulusan Diploma atau S1, tidak perlu mencantumkan nama SD ~ SMU anda. Cukup pendidikan terakhir anda.

3. Ceritakan CV anda yg berkenaan dg posisi yg anda lamar.

Sbg contoh : kalau anda melamar sbg Project Engineer/Planning/Mechanical buat apa anda bercerita ttg WI atau UT? Tdk ada hubungannya dgn posisi yg dilamar. Kalau anda pengalaman QC & pingin melamar ke bag lain, update CV anda yg bercerita ttg pengetahuan anda dlm bid yg anda lamar.

4. Tdk perlu mencantumkan sertifikat sarjana kalau tdk diminta. Kalau anda sdh experience, mrk tdk akan lihat anda dari lulusan mana tp mrk lihat kemampuan anda sekarang. Pengalaman saya, ijazah cuman dipake buat proses working permit atau visa itupun tdk mutlak.

5. Persiapkan diri anda dgn segala pertanyaan yg mungkin muncul waktu interview/ teleconference sesuai dgn bidang yg anda lamar.

6. Dll

Tanggapan 1 – Endri Prasetyo

Tambahan dari saya Pak Sapto,

Yakinkan kualifikasi cocok dengan requirement yg diminta.
Kadang2 saya diminta tolong oleh MPS untuk mencarikan kandidat (baca mengumpulkan CV) dan cukup banyak yg respon. Tetapi dari sebagian CV yg masuk, kualifikasinya tidak sesuai. Sehingga mau tidak mau CV yg tidak sesuai ini tidak saya forward ke MPS yang membutuhkan. Yg diforward juga belum tentu akan masuk shortlisted di MPS.

1 tips dari saya, ketika ada info job yang disertai dengan JobDes, baca dengan teliti JD tersebut. Jika kita yakin bahwa kita mempunyai pengalaman seperti tertulis di JD tetapi kita belum mencantumkannya di CV kita, maka rubahlah CV dan buat relevansinya dengan posisi yg dilamar. Dengan catatan kita benar2 mempunyai pengalaman itu.
Tapi ada juga recruiter yang pelit kasih JD, menurut saya ini untuk meminimalkan manipulasi isi CV.

Sependek yg saya tahu, kadang2 user atau MPS tidak punya waktu lebih untuk mengevaluasi apa yg kita tulis di CV. Mereka hanya mencari ‘kata kunci’ tertulis di CV atau tidak.

Tanggapan 2 – Syafrial Anas

Menurut pengalaman saya,

Membuat CV cukup yg simple, dan main point nya saja. Mengenai detailnya kita jelaskan saat interview dgn user. Karena kunci keberhasilan terbesar diperoleh saat interview. CV yg terlalu panjang mirip cerpen kemungkinan besar membuat user lelah membaca dan tong sampah alamat terakhir.
Benar, untuk skala int’l nama institusi tidak pengaruh, mereka lebih melihat skill&pengalamanan dan personal approach saat interview.

Tanggapan 3 – Sketska Naratama

By the way,

Saran dari kawan saya konsultan HR cukup simple yaitu: 1) tepat dan fokus pada kualifilasi dan pengalaman mu; 2) usahakan max 3-4 hal; 3) tidak terlalu personal (misal utk cv yg disubmit utk worldwide professional, terkadang menjadi penilaian negatif di awal pd saat kita mencantumkan tgl lahir)

Tanggapan 4 – WIdy Rotib

trima kasih atas saran yang rekan2 milis migas berikan dlm pembuatan CV dan surat lamaran. Apabila ada waktu, saya berkenan untuk mengikuti seminar yg akan KMI selenggarakan d UI. Sebagai fresh graduate, saya memang masih perlu banyak belajar dari rekan2 yang telah berpengalaman. Juga sebagai salah satu oknum yang telah mengirim email kpd Bpk Sapto Wibowo dengan format yang salah, akan saya perbaiki kemudian.
Terima kasih

Tanggapan 5 – artha

Mas Widy,

Jangan khawatir mas… saran saya ikuti workshop tersebut…. coba buat cv yang menjual…
Banyak sekali pesaing kita dari negeri lain yang memang sangat pandai membuat cv… saya dengar malah di negara tersebut banyak lembaga training yang mengkhususkan untuk pembuatan cv ini…

Saya yakin mas Widy dan rekan2 lain sangat berpotensi, namun memang cv yang ‘menjual’ sangat penting…. dan tentunya referensi dari rekan2 yang sudah sukses sangat diperlukan karena bangsa yang tadi saya sebutkan itu terkenal dengan kekompakannya saat mereka kerja di LN… yang maaf kadang saya rasa agak kurang untuk bangsa kita… tentunya tidak secara keseluruhan ya…..

Karena memang kadang kita sendiri kurang pede, sehingga untuk mereferensikan orang lain pun jadi kurang pede juga… seharusnya kalau modal kita sudah cukup… kita ini sejajar dengan bangsa lain… bukan karena warna kulit atau dari negara maju berarti mereka lebih hebat dari kita, banyak yang malah kebalikannya… itu benar2 saya alami sendiri (meskipun mereka kerja di big four oil company)… dan dari situ jadi sadar bahwa image itu sangat penting…. pede saat berbicara di public yang multinational background adalah salah satunya… dan english skill sangat berperan…

Maaf kalau saran saya berlebihan… moga2 bermanfaat…

Tanggapan 6 – Indra Prasetyo

Ini sekedar sharing pengalaman saya aja, baik selama menjalani proses interview di bbrp perusahaan maupun ketika menginterview bbrp orang.

Tips2 mengenai bagaimana membuat CV yg baik dan bagaimana menjalani interview ada banyak, namun umumnya isinya kurang lebih sama antara yang satu dengan lainnya. Tetapi meski demikian, nggak banyak orang yang mempraktekan tips2 tsb. Contohnya aja ketika sedang menjalani proses interview di suatu perusahaan, saya sering bertemu dengan sesama calon, tetapi penampilan mereka (maaf) jauh dari rapi, bahkan ada yang membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh lebat. Padahal dalam setiap tips menghadapi interview pasti ada tips yang menyebutkan bahwa penampilan itu penting. Dan dari pengalaman saya menginterview orang, salah satu kriteria yang dinilai adalah penampilan, apakah calon itu penampilannya rapi, tidak rapi atau sangat rapi.

Dari pengalaman saya menginterview orang, dalam penilaian interview, job related experience dan knowledge hanya 2 dari total 10 poin yg dinilai. Sikap dan cara kita berkomunikasi juga sangat penting dan perlu diperhatikan. Kemampuan kita untuk dapat cepat menangkap ide atau maksud yang disampaikan oleh interviewer juga penting untuk diperhatikan (jangan telmi maksudnya heheh..). Kemudian sikap kepemimpinan dan kemauan kita untuk maju juga perlu ditonjolkan.

Mudah2an bisa membantu rekan2 yang sedang mencari pekerjaan.

Tanggapan 7 – Heru Sadmiko

Betul pak

Rata – rata factor teknis ( hard skills ) hanya mendapatkan poin 7 – 8 % dan sisanya dari soft competency yang diantaranya bapak sudah sebutkan. Dan jika boleh saya tambahkan ada beberapa hal lainnya yaitu, energy saat jabat tangan, kontak mata, cara jalan, kelancaran dalam menjawab pertanyaan, senyum & ekspresi wajah, cara berpakaian, cara merawat tubuh, pemilihan warna pakaian, aksesori penampilan agar terkesan professional, cara melakukan presentasi dan masih banyak hal yang perlu diperhatikan.

Terima kasih.

Tanggapan 8 – Shidqi Farros

Sepertinya tips dibawah hanya untuk company yg ada di Indonesia dan untuk posisi2 tertentu yg membutuh kan penampilan yg serba baik, dan ini cocok untk fresh graduate yg baru ngelamar kerja. Tapi, dari pengalaman saya beberapa kali ikut interview untuk ke middle east khususnya, kayaknya hal2 seperti sikap jalan, cara berpakaian dll, itu tdk diperhatikan (bukannya tidak penting). Banyak dari calon TKI yg datang untuk interview yg pakai jeans, pakai baju kaos yg ditutup jaket, pakai sepatu olahraga, bahkan masih ada yg pakai seragam kerja (mungkin plg kerja shift langsung ke Ritz Carlton) dan mereka itu lulus. Jadi berlakunya case by case.

Tanggapan 9 – Pungki Purnadi

Dear allz,

Memang benar bahwa dalam proses recruitment di setiap perusahaan, akan disesuaikan dengan budaya dan tata nilai atau values dari masing-masing perusahaan dan juga negara dimana serta darimana perusahaan tsb berasal.

Itu juga yang menjadikan kenapa CV yang dibuat haruslah disesuaikan dengan budaya dari perusahaan yang akan membaca CV anda.

Demikian pula dengan proses interview nya, dimana setiap negara setiap perusahaan akan memiliki kriteria yang berbeda-beda dalam proses recruitment khususnya di interviewnya.

Untuk itu setiap kandidat dalam tahapan recruitment harus jeli melihat apa yang menjadi budaya perusahaan dan values atau tata nilai perusahaan yang dilamar.

Namun pada intinya tahapan recuitment akan tetap sama, seperti :

1. Tahapan CV screening

2. Tahapan Test Tertulis

3. Tahapan Wawancara

4. Tahapan negotiation

5. Tahapan Medical

Lain ladang lain belalang, lain negara tentu saja akan lain pendekatan proses recruitment nya. Lain perusahaan lain industry, maka approach recruitment nya juga akan beda.

Salam dan mudah2an berhasil untuk setiap tahapan recruitment.

Tanggapan 10 – iskandar.wibowo

Iya,saya jg setuju dengan apa yg dikatakan Pak Shidqi. Pengalaman saya interview dengan perusahaan diluar jg begitu,mereka yg berpenampilan sporty banyak jg yg keterima,saya kira pengalaman dan kemampuan teknik masih menjadi pertimbangan utama.

Tanggapan 11 – mahir irfan irfan

Betul utk Marine and Offshore biasanya penampilan tak terlalu ribet dalam interview, selagi menurut kita sopan, boleh2 saja.

Tanggapan 12 – MJ Pasuman

maaf ikutan nimbrung,

saya setuju bahwa CV harus menampilkan job-specific skills yang dicari oleh employer karena itu adalah stage awal untuk menarik perhatian employer. sampai pada tahap interview maka maka soft skill cenderung menjadi penentu keberhasilan untuk di hire atau tidak (critical employability skills). Kata orang dan pengalaman pribadi saya dalam interview usahakan ada ‘chemistry’ atau kita bisa klik dengan interviewer. tentu saja job-spesific (kemampuan teknikal) adalah penting namun diluar itu *kemampuan* *komunikasi* dan *attitude* adalah hal yang paling penting terutama kalau kita sudah bekerja. tanpa komunikasi yang efektif maka kita tidak bisa memberikan kontribusi yang maksimum bagi organisasi. attitude itu bisa mencakup proaktif, fleksibilitas, teamwork, pandai menyesuaikan diri, kejujuran, dedikasi, tanggung jawab dll. dan dengan attitude yang baik maka hard skill bisa kita tingkatkan dari waktu ke waktu. dalam organisasi yang besar malah kemampuan politik diperlukan. ini kadang menjadi something we can not refuse to play because it exists. Dalam menjalankan tugas baik sebagai individu maupun bidang yang kita wakili ada banyak kepentingan. masing2 orang punya cara yg berbeda2 dalam memperjuangkan kepentingan. disinilah politik itu berperan bagaimana kita mampu bernegosiasi dan memanipulasi. it’s either you eat or be eaten. setidaknya itulah pengalaman saya. suka atau tidak pada akhirnya apa yang kita lakukan dan perjuangkan adalah mempertahankan dan meningkatkan kelangsungan sebuah bisnis. perusahaan harus untung. so it’s all about human. maaf kalau agak lari dari topik.

Tanggapan 13 – Indra Prasetyo

Menyambung diskusi tentang CV dan interview ini, memang beda negara beda budaya spt yg dikatakan Pak Pungky (Pak Pungky, apa kabar?? masih di petronas?? kl ada lowongan mau dong hehehe…, masih di HR kan??) Saya pernah kerja sama dengan expat/bule dari perusahaan kontraktor, sy inget bgt dia dtng ke kantor pake celana jin dan polo shirt, dan yg sy inget di tangannya itu ada tatto-nya tulisan namanya dia (ini tatto beneran loh, bukan tatto bo’ong2an oleh2 dari Bali apa Anyer), jabatan tuh bule lumayan tinggi, kl gak salah dia Operation Manager untuk Asia Pasific Region dan dia emang kompeten di bidangnya. Jadi mungkin kalo diluar sana penampilan gak jadi masalah. Tapi selama anda mau cari kerja di Indonesia, saya sarankan perhatikan penampilan waktu anda datang untuk interview.

Apa yg dikatakan Pak MJ Pasuman dibawah tentang adanya ‘chemistry’ memang betul. Oleh karena itu, kesan pertama, penampilan dan cara kita membawa diri, antusiasme, kepercayaan diri, dsb sangat penting untuk bisa menciptakan ‘chemistry’ antara kita dengan interviewer. Saya sendiri sudah pernah beberapa kali menginterview orang, dan seringkali saya dan HR manager yg ikut menginterview menolak calon hanya karena kita nggak ada ‘feeling’ dengan calon tsb meskipun secara pengetahuan dan pengalaman serta persyaratan lainnya memadai.