Pada dasarnya bekerja sebagai owner atau perwakilan owner (seharusnya) memerlukan pengetahuan melebihi pihak contractor, vendor, atau supplier. Disamping tentu saja memiliki keuntungan yakni kita bisa menggali ilmu lebih dalam dari para contractor, vendor, atau supplier, jika dirasa pengetahuannya kurang. Mereka tentu akan senang hati membantu kita, karena demi kesinambungan pekerjaan mereka di masa depan. Para contractor, vendor, atau supplier sebagian memang sangat menguasai jasa, atau barang yang mereka berikan pada owner. Karenanya kita musti pinter pinter mengorek ilmu mereka.

Tanya – ricky Samuel

Halo rekan milis,

Saya ada keluhan neh, saya bekerja ikut owner, walau saya buakn owner tapi perwakilan satu perusahaan yang dtempatkan utk membatu mereka2 owner itu(para bule), dimana disitu tugas kita pengawasan, monitoring, sementara yang langsung berhadapan sama pekerjaan adalah subcontractor, jadi jenis kerjaan kita lebih kepada komplain sana komplain sini, jalan sana jalan sini sambil melihat-lihat mana yang bisa dikomplain, lalu disampaikan utk besok paginya ketika meeting pagi jam 8 bersama owner dan beberapa perwakilan subcontractor seperti piping, sructure, painting, electrical, carpenter and so on. Secara teknis memang saya tidak terlibat langsung, apalgi yang berhubungan dengan review drawing, make progress report, piping and structural inspection list, material inspection and so on. Sehingga akibatnya jika saya keluar kelak dari sini dengan modal pengalaman pengawasan seperti itu, saya ragu dgn pengalaman yang hanya gitu doang! Sehingga utk jadi seorang construction atau engineer di EPC tempat lain, rasanya tidak mungkin dengan hanya bermodal pengalaman seperti itu! Mungkin ada rekan milis yang bisa kasih saran sehingga saya bisa berjiwa besar dalam menghadapi situasi ini, dan memang saya mensyukuri bahwa ini adalah berkah dari Allah, karena tidak semua orang mengalami hal seperti ini.

Tanggapan 1 – parindang

Pak Ricky,

Mgkn bisa jd bahan renungan;

Kalau kita tidak bisa merubah sesuatu sesuai keinginan, maka coba rubahlah cara pandang kita thd sesuatu tsb,

Mudah2an pak ricky bisa ‘enjoy’ dgn keadaan yg ada pak.

Tanggapan 2 – Admin Migas

Lho… bukannya pekerjaan melakukan pengawasan dan monitoring itu membutuhkan pengetahuan lebih ?.

Tidak bisa anda komplain sana-sini kalau tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai apa yang sedang dikerjakan.
Kalau ini yang terjadi, bisa-bisa pekerjaan yang salah anda terima, tapi yang benar anda reject.

Saran saya, sambil melakukan pengawasan pekerjaan, anda bisa belajar sama para pekerja itu. Selama anda menanyakan dengan baik kepada para pekerja, mereka akan menjawabnya dengan baik juga kok. Bagaimana melakukan pekerjaan pulling cable, bagaimana mengelas dengan yang baik, dll.

Kalau bisa, coba sekali-kali rasakan pekerjaan mereka yang anda awasi pekerjaannya.
Seperti contoh pada fase konstruksi, saya pernah memanjat tower flare untuk merasakan bagaimana anak buah saya bekerja di ketinggian.
Ternyata tidak gampang dan penuh resiko untuk memasang thermocouple dan pulling cable di ketinggian 50 meter.
Jadi saya mengucapkan syukur alhamdulillah begitu pekerjaan selesai dan anak buah saya selamat.

Para pekerja yang anda awasi itu sebenarnya pintar-pintar lho.
Asal kita punya hubungan baik dengan mereka, pasti hasilnya bisa melebihi target.
Saya banyak belajar dari mereka.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Setuju sekali dengan Mas Budhi,

Pada dasarnya bekerja sebagai owner atau perwakilan owner (seharusnya) memerlukan pengetahuan melebihi pihak contractor, vendor, atau supplier. Disamping tentu saja memiliki keuntungan yakni kita bisa menggali ilmu lebih dalam dari para contractor, vendor, atau supplier, jika dirasa pengetahuannya kurang.

Mereka tentu akan senang hati membantu kita, karena demi kesinambungan pekerjaan mereka di masa depan. Para contractor, vendor, atau supplier sebagian memang sangat menguasai jasa, atau barang yang mereka berikan pada owner. Karenanya kita musti pinter pinter mengorek ilmu mereka.

Memang, tak jarang mereka kemampuannya lebih rendah dari personnel di pihak owner sehingga tak jarang owner nya bekerja lebih capek karena memberikan masukan lebih banyak daripada jasa yang diberikan oleh contractor. Jika memang demikian, ujung ujungnya ya salah owner juga kenapa pilih contractor yang ‘how how’ seperti ini.

Tanggapan 4 – Arbie

Two Tumbs Up buat Pak Budi ,

Sekedar tambahan didunia MiGas mungkin jg dunia pekerjaan yang lainnya adalah pembelajaran bahwa tidak selamanya memiliki posisi bagus ( Owner/Client Rep.dll yg sejenis ) adakalanya suatu saat berada diposisi Sub-Sub-Subcontractor yang sudah gaji kecil dikejar kejar target disalahkan pula.

Jadi ‘berbaiklah kepada mereka yg berada dibawah pengawasan kita’ ( Jika benar ya katakan benar ,jika salah ya katakan salah namun jangan cari2 kesalahan hanya untuk buat Laporan ke Bos ).

Kalau perlu sambil belajar kita coba perbaiki sendiri apa yang kita anggap salah ( kecuali yg harus memiliki skill tertentu ya jangan ).

Tanggapan 5 – Sariep Bachruddin

Setuju pak budhi,

Saya kerja sbg marketing di bidang suatu engineering, awalnya saya sangat awam sekali bidang ini, bener2 brand new! Tapi saya mencoba berhubungan baik dengan client terutama user, dan saya sangat2 banyak belajar dari mereka, karena sebenarnya mereka senang berbagi ilmu dan pengalaman, asalkan kitanya jangan sotoy (sok tahu) heheh.

Tanggapan 6 – Mubarok

Mas Ricky,

Mungkin ini yang saya nggak pernah bayangkan sebelumnya ya. Posisi mas Ricky sekarang berarti Client Rep/Owner Rep ya?

Kalo di tempat saya (shipyard) Owner Team merupakan kasta tertinggi dari rantai pekerjaan. Jadi justru engineer dan inspector yang ada di fabricator berlomba2 untuk mengasah diri supaya suatu saat bisa menjadi seorang Client Rep.

Jadi untuk mas Ricky saya menyarankan agar justru disyukuri karena dari experience seorang client jika benar2 menggunakan acuan yang benar dalam memberikan complaint ato non conformance justru akan lebih dihargai ketika balik lagi ke fabricatornya.

Tanggapan 7 – Eko Drajat, Nugroho

Yang saya tahu selama ini, pada umumnya kawan2 yg saat ini bekerja di owner/client (baca kumpeni KPS) di berbagai posisi dan disiplin ilmu pada awalnya adalah para senior yg sdh punya jam terbang tinggi di kontraktor (baca kumpeni EPCI). kerana ada utk bisa sekedar melakukan penilaian thdp pekerjaan kontraktor EPCI diperlukan skill dan pengetahuan yg lebih tentunya terhadap pekerjaan tsb.

nah dalam hal ini Mas Ricky tanpa harus melakukan tapa brata di EPCI sdh berada di posisi tsb, tentunya harus disyukuri ….. ambil kesempatan ini sebanyak2 nya utk belajar dari kontraktor tsb, sehingga akan lebih menambah skill dan pengetahuan.

Tanggapan 8 – dimas yudhanto

Pada umumnya memang demikian mas,

Namun, oil company (KPS), banyak juga yg memberikan kesempatan (rekruitment) kepada pegawai2 fresh graduate – bisa melalui program magang formal (trainee), magang informal, kontrak atau pun permanent employee (probation 3-12 bulan).
karena di milis ini banyak rekan-rekan mahasiswa, saran saya, selain belajar & menekuni disiplin ilmunya, juga banyak mengembangkan networking, terutama kepada senior2 kampus yg sudah belasan tahun malang melintang berkubang lumpur minyak- biasanya jalur ini lah yang paling efektif untuk fresh graduate belajar (magang) di oil kumpeni.
koq bisa?

ini praktek yg lazim (common practce), semisal Project Manager, atau Project Engineer/Discipline Engineer, pas eksekusi major project, perlu supporting jr engineer, sementara slot untuk penambahan pegawai tidak ada, cara yg paling sederhana adalah merekruit anak2 magang, atau menawarkan sistem kontrak. paling gampang ya, menghubungi dosen2, misalnya: pak/bu, mohon bantuannya, kami lagi nyari mechanical engineer trainee (2 orang).

bbrp tahun lalu, saya pernah menawarkannya ke milis alumni, nyari rekan2 muda semester akhir atau yg fresh (from the oven), malah paling banyak, kebanjiran CV rekan2 yg udah expire masa fresh graduate nya (lewat 2 tahun wisuda) – lha ya opo, posisi supervisor/jr manager kembali jadi trainee? secara psikologis juga agak sulit ‘membentuk’nya.

Tanggapan 9 – harry alfiyan

Saya sependapat sekali dengan rekan-rekan senior milis yang sudah komen sebelumnya.
Menurut hemat saya, mas ricky bisa berperan dalam dua hal disini, yaitu sebagai client representative yang punya banyak kesempatan belajar dan satu lagi adalah memposisikan diri sebagai seorang ‘ owner ‘ (dlm tanda kutip) yg merupakan perpanjangan tangan/lidah dari si owner sendiri. Pengalaman dalam posisi ‘owner’ ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembelajaran untuk menjadi seorang owner yang sesungguhnya. (siapa tahu mas ricky minat buka company baru).

Ga ngomporin loh ya, tp seperti syair D’massive – Syukuri apa yang ada.. hidup adlah ANUGERAH..

Tanggapan 10 – Nurman Hidayat

Mas Ricky,

Secara umum saya juga sedang mengalami hal yang mirip dengan mas Ricky. Kantor tempat saya bekerja masih memiliki lingkup organisasi yang sederhana, secara karyawannya juga ga sampai puluhan – ratusan orang…sebenarnya banyak yang bisa di ambil dari situasi yang ms Ricky hadapin sekarang, meski tidak terlibat secara langsung dan berimbas perkembangan skill yang jadinya setengah2 pula,,,akan tetapi perkembangan skill dalam project dan bussiness management akan meningkat pesat, secara dapat berkomunikasi dan sharing langsung dengan owner bahkan dalam critical point…
Setuju dengan mas Hary, ada kekurangannya dan ada pula bagusnya, tinggal bagaimana kita meminimalkan yang kurang (belajar terus,tanya sana sini) dan memaksimalkan yang ada…beruntung saya punya owner yang tipikal dosen (ga pelit ilmu),,,tiap diskusi jadinya kayak lagi asistensi di kampus..huehehe… semangat!!!

Tanggapan 11 – Hadie

PJC dong petangtang petenteng jalan jalan complain, just joke.

kalau menurut hemat saya posisi QC inspector itu sangat bagus, banyak company yang membutuhkan jabatan tersebut.dan apalagi experience as representative owner.

Tanggapan 12 – nurul_kahir

Pjc, istilah bagus. Mudah2xan para inspectors 3rd party tidak PJC, apalagi klo sama subcont nasional dengan customer bule. Nasionalis dikit gitu looch.yang penting complaint diberesin. Oklah kalo beg gitu.

Tanggapan 13 – darmansyah

Saya kira jenis pekerjaan apapun memang pasti ada cela / missing-link nya dengan kehendak kita. Tapi satu hal yang perlu dibangun di setiap kita bekerja adalah paradigma kita bekerja. Semrawut apapun pekerjaan kita, bila paradigma kita itu teratur dan punya pondasi yang kokoh maka kita akan selalu tenang dan puas. Seperti pilihan hidup, kita mau bertarung di kolam yang kecil dan menjadi raja atau bertarung di kolam yang besar tapi cuma menjadi prajurit.

Tanggapan 14 – bontor edison

Pak Ricky,

kalau mau, ambil saja satu bidang untuk didalami lagi & sangat terbantu kalau didukung oleh latar belakang pendidikan bapak yang sesuai.

ngomon-ngomong, project management process yang sedang bapak jalankan juga merupakan satu bidang yang cukup bagus namun tentunya harus didukung pengetahuan bapak untuk work scope dari Contractors bapak.

semoga berguna.