Seleksi masuk perusahaan migas hampir selalu menggunakan psikotes pada tahap awalnya. Tetapi ada2 saja orang yang kerjaannya tidak lulus psikotes padahal mereka sudah mempersiapkan diri dengan background pendidikan yang cocok, pengalaman, komitmen, dlsb sampai-sampai akhirnya putus asa.

Pembahasan – Umar Handoko

Seleksi masuk perusahaan migas hampir selalu menggunakan psikotes pada tahap awalnya. Tetapi ada2 saja orang yang kerjaannya tidak lulus psikotes padahal mereka sudah mempersiapkan diri dengan background pendidikan yang cocok, pengalaman, komitmen, dlsb sampai-sampai akhirnya putus asa.

Saya secara pribadi memiliki pengalaman yang janggal dengan hasil psikotes :

Pertama : Pada waktu SMA dulu oleh psikolog saya dilarang masuk IPA, harus masuk IPS (padahal dahulu saya paling tidak bisa IPS, kebayang kalau dipaksa masuk IPS pasti saya bisa stress berat), lalu nekatlah saya masuk IPA nyatanya saya baik-baik saja sampai lulus kuliah Mechanical Engineering.

Kedua : Saya pernah mengikuti psikotes baik dalam rangka rekrutmen karyawan maupun inisiatif sendiri, keduanya menunjukkan bahwa saya dilarang berprofesi sebagai engineer & memiliki sifat-sifat negatif yang belum pernah dikenali baik oleh saya sendiri maupun orang lain di sekitar saya. Saya heran seheran-herannya dan tidak habis pikir dengan hal tersebut. Padahal saya sekarang berprofesi sebagai engineer dengan amat baik walaupun bukan di perusahaan yang cukup terkenal.

Teman saya ada juga yang disarankan psikolognya masuk kuliah teknik kimia, eh tahunya setelah masuk situ selang setahun dia pindah kuliah ke jurusan lain karena merasa tidak cocok.

Tes psikotes yang menilai kepribadian : gambar pohon, gambar orang & memilih ratusan pertanyaan yg terkadang bikin pusing2.

Kalau menurut saya pribadi sebaiknya penilaian atas kepribadian seseorang dilakukan dengan lebih bijaksana dan transparan. Bukan dengan gambar-gambar dan pernyataan yang sulit dimengerti. Seharusnya faktor moral dan integritas juga menjadi pertimbangan utama dalam penyeleksian pegawai. Sepengalaman saya seseorang yang awalnya memiliki sifat kurang baik pasti dapat cepat berubah jka memiliki moral dan integritas yang baik.

Tanggapan 1- muhammad rifai

yang saya pahami tentang psikotest,

yang pertama, psikotest hanya salah satu tool… dimungkinkan skali ada yang terlewat, lagian kalau psikotest yang dipakai itu2 aja, apalagi yang test sudah sering ber psikotest yang sama, hasilnya bisa nggak sesuai

kedua, hasil psikotest itu bukan lulus nggak lulus,…tapi cocok nggak cocok atau lebih cocok dan kurang cocok

ketiga, psikotest itu untuk mengetahui karakter dasar seseorang… makanya, biasanya untuk psikotest itu dibatasi waktu biar yang ditest itu menjawab sesuai dengan dirinya… lah kalo yang ditest itu masih memandang bener nggak bener, lalu untuk menjawab satu pertanyaan dipikir matang2… sudah mesti hasil nggak akan cocok dengan dirinya

kalau pengalaman mas-nya, mungkin :

– bisa jadi kalau dulu masuk IPS, skarang sudah jadi orang top yang mungkin nggak terbayang sbelumnya

– bisa jadi waktu itu menganggap IPA lebih top dari IPS (atau sebaliknya), atau IPS isinya yang nggak banyak main logika… (wah ini salah kaprah, lihat aja banyak produk2 (hukum) kita yang kurang logis…, selain mungkin karena kekuatan uang )… jadi waktu test berusaha menyesuaikan dengan apa yang diinginkan… ahirnya hasil bisa terbalik

– bisa jadi pengetesnya yang salah kasih saran

untuk pengalaman yang kedua,

bisa jadi memang mas lebih cocok jadi engineering manajer (karir managerial) dari pada mechanical engineer (karir teknikal), … kalau bener hasil tesnya seperti itu, mending nggak usah ngotot jadi principal mechanical engineer, kalau ada tawaran jadi manager ambil aja (apalagi sementara ini, di tempat kita karir manajerial masih dianggap lebih dan lebih dari karir teknikal)

emang psikotest itu dibuat pusing, biar tidak ada celah untuk memilih bukan sesuai dengan pribadinya… kalau perlu dibuat pertanyaan yang semua pilihan ABCD benar semua

menurut si pengetest, (orang psikologi tentunya) psikotest itu satu2nya cara mengetahui kepribadian seseorang dengan transparan, hayooo apa ada lagi cara mengetahui kepribadian seseorang dalam sehari… lah yang pacaran tahunan aja bisa tertipu koq

gambar dan pertanyaan sulit dimengerti karena mas-nya bukan psikolog, buat psikolog itu semua sangat dimengerti (kecuali psikolog yang sudah disarankan ambil kedokteran masih aja milih sekolah psikologi)

moral dan integritas nggak mudah untuk di test…

pengalaman saya, lingkungan sangat berpengaruh terhadap seseorang, meski sifat2 asli nggak mudah lepas begitu aja,

kebetulan lingkungan kita penuh KKN, jadi yang nggak ikut KKN kadang2 jadi seperti alien
kebetulan bibit orang indonesia cocok dengan badminton, jadi kalau ada kabar waktu olimpiade ‘all indonesian final’ nggak kaget.. (setau saya bibit yang cocok badminton baru dari cina, denmark dan indonesia… )

dah punya anak blom mas?… pernah memperhatikan tingkah lakunya?.. pernah membayangkan kerja apa yang cocok dengan anaknya?… jadi mechanical engineer kah atau psikolog?

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: