Mohon sharing knowledgenya untuk metode pole mounting postcrane dengan design SWL 1 Ton dan panjang boom 6 meter. Load assessment sudah dilakukan. Dari design, home made Postcrane tersebut akan saya lokasikan diatas concrete slab dengan menggunakan dynabolt M16. Yang ingin saya tanyakan adalah standard kedalaman dynabolt dari ground surface. Design untuk pole, saya menggunakan pipe 8′ x 6mtr length SCH 80.

Tanya – Parana

Rekan Milis,

Mohon sharing knowledgenya untuk metode pole mounting postcrane dengan design SWL 1 Ton dan panjang boom 6 meter. Load assessment sudah dilakukan. Dari design, home made Postcrane tersebut akan saya lokasikan diatas concrete slab dengan menggunakan dynabolt M16. Yang ingin saya tanyakan adalah standard kedalaman dynabolt dari ground surface.

Design untuk pole, saya menggunakan pipe 8′ x 6mtr length SCH 80.

Tanggapan 1- badaruddin kendari

Pak Anca,

Sebaiknya slab lantai tidak difungsikan sebagai dudukan/pondasi dari pole mountion post crane (fly jib crane), karena slab lantai tidak didesain dan diperuntukan untuk itu.

Hal-hal yang harus dichek untuk mendesain dudukan atau pondasi pole crane adalah:

1. Kemungkian anchor bolt tercabut dari pondasi, referensi desain anda bisa merefer ke AISC design guide series 1 ‘base plate and anchor design’ atau apabila anda menggunakan dynabolt, perhitungan anda bisa merefer ke katalog atau manual book dari dynabolt, setahu saya hilti bahkan punya sofware sendiri untuk menghitung ini (bukan promosi, tapi pengalaman menggunakan produk hilti), anda juga bisa coba produknya ramset.

2. Kemungkian pondasi mengalami punch akibat up-lift force dari post crane, anda harus check untuk dua kemungkianan, punch one way atau two way, anda bisa merefer ke ACI 318.

3. Anda harus check, bahwa pondasi tidak tercabut, bisa disiasati dengan membuat counter weight pada pondasi dengan membuat footing lebih lebar.

4. bearing capacity tanah, kemungkinan sliding & settlelemnt, tapi menurut saya ini tidak govern.

Tanggapan 2 – Thomas Yanuar

Pak Badar dan Pak Anca,

Saya mempunyai pandangan sedikit berbeda.

1. Jika melihat dari SWL ‘hanya’ 1 ton dan jika ketebalan slab lebih dari 12 cm serta slab (dan reinforcementnya) adalah two ways, peletakan pole mounting masih dapat diakomodasi. Dengan catatan karakteristik kuat tekan minimal 225 kg/cm2 (K 225).
Terlebih lagi jika slab berada langsung diatas tanah (paving), meskipun dalam kriteria light pavement (ketebalan paving minimum 12 cm), beban sebesar tersebut masih dapat dipertahankan.

2. Untuk memperkecil kemungkinan jebolnya beton karena tegangan tarik, paling tidak jarak minimum antar anchor bolt minimal 10 cm (ctc), jarak dimana anchor dipasang terhadap tepi beton minimal 7,5 mm. Tapi karena memakai pole dia 8′, tentu jarak antar anchor bakal lebih dari 10 cm. Jarak tersebut dimaksudkan supaya tahanan tarik anchor bekerja maksimal sesuai desain dari manufakturer. Paling tidak untuk keseimbangan penyaluran beban, minimal 4 anchor dipasang.

3. Merujuk pada pertanyaan berada dalam anchor bolt/dynabolt tersebut dipasang, tergantung dari diameter yang dipakai. Manufakturer selalu mencantumkan dikatalog. Kedalaman anchor/dynabolt memberikan besaran kuat tarik. Kecuali dynabolt-nya buatan abal-abal.

Saya sependapat dengan Pak Badar, HILTI lebih direkomendasikan. Perilaku anchor bolt mereka dapat disimulasikan berdasarkan kondisi lapangan dan beban ditanggung melalui software mereka. Ada perhitungan teknisnya dan setahu saya itu gratis sebagai bagian dari servis mereka. Tetapi ini bukan promosi lho.
Dynabolt sendiri sebenarnya juga merek dagang dari Ramset Australia.

Tanggapan 3 – parana_mechanical

Pak Thomas dan Pak Badar,

Terimakasih atas rekomendasi dan sarannya. Karakteristik dari existing concrete slab yang akan dijadikan posisi pole mounting adalah K300 dengan concrete thickness 30 cm, dan memang benar bahwa slab berada langsung diatas tanah (paving). Dengan berlandaskan karakteristik existing concretenya maka saya berani untuk mempropose pole postcrane dimounting di slab surface.

Concern yang diutarakan pak Badar mengenai rusaknya concrete dikarenakan pembebanan saat lift-up dan down activity dari postcrane dan juga saat postcrane melakukan swing load juga sudah di antisipasi dengan metode bracing yang setelah di kaji dapat meredam / membalance efek vibrasi dari pole yang dapat merusak concrete disekitar mounting area.

Terimakasih atas saran dan rekomendasinya, sangat membantu sekali.