Untuk pindah bekerja ke perusahaan EPC, sudah harus bersiap untuk berganti status dari karyawan tetap/permanent menjadi kontrak, yang suatu saat bisa diputus sewaktu2 dengan atau tanpa pemberitahuan.

Tanya – Amirudin@yamaha-motor-elec

Terima kasih saya bisa join mailist Migas,

Walaupun saya sekarang kerja di perusahaan manufactur Jepang, tapi saya berkeinginan untuk pindah ke perusahaan EPC, mohon masukannya apa yang perluh dipersiapkan.
sekarang saya sedang ikut kursus piping stress analysis dengan software CaesarII di Ap-greid.
Mungkin ada informasi lowongan piping stress Engineer, bisa diinformasikan.

Tanggapan 1 – chepy_permana

Salam kenal juga pak..

Sudah pas ikut training pipe stress dg software caesar sehingga bisa menambah competensi disisplin ilmu yg kita geluti.

Jadi jika ada lowongan tinggal apply saja, dan biasanya lowongan job slalu ada di milis ini jd pantau aja terus.

Tanggapan 2 – Eko Drajat, Nugroho

salam kenal juga pak,

bila mau berhasil, teteplah fokus dan jaga terus mimpi dan pikiran bapak kepada tujuan. banyak berdoa dan berusaha. kirim lamaran sebanyak2 nya ………… Insya Allah berhasil.

Tanggapan 3 – hotma parasian

Pak Amir, dengan background bapak dibidang teknik walau bukan di EPC bekerja sekarang, bapak berhak melamar kesana, apalagi pak amir telah mengikuti satu kursus dibidang piping, walau sebenarnya itu tidak menjadi jaminan, karena ada juga teman2x saya lho yg bekerja dibidang itu tanpa embel2x mesti ikut kursus pipe stress analis,karna nanti belajar didalam kok, walau ini case-nya tidak major, seperti cerita teman saya yg sedang bekerja diluar, tapi karna dia lulusan katakanlah teknik mesin maka itu sudah relevan dengan yang dilamrnya,memang tidak menutup kemungkinan jurusan lain boleh selama backgroundnya dari teknik. Saya yakin pasti satu saat nanti akan ada user yg kontak pak amir asal tetap tekun,fokus dan berserah kepada Sang Pencipta.

Tanggapan 4 – Eko Drajat, Nugroho

tambahan lagi

kalau memang sdh berketetapan hati utk pindah ke kumpeni EPC, sdh harus bersiap utk berganti status dari karyawan tetap/permanent menjadi kontrak, yang suatu saat bisa diputus sewaktu2 dengan atau tanpa pemberitahuan ……….

Tanggapan 5 – dimas yudhanto

oh ya? yg bener pak?

setau saya, EPC dan perusahaan2 minyak di Indonesia ini mengikuti aturan disnaker, kontrak maksimum diperpanjang sekali, kemudian diangkat jadi pegawai tetap.

kontrak atau probation juga punya sisi positif, sebagai filter terhadap komepetensi, performance & kinerja pegawai yang bersangkutan.

memang ada beberapa kasus, seorang pegawai bisa sampe 10 tahun dengan status kontrak (level engineer), yg saya ketahui, company berbaik hati & ngga tega untuk memutus kontrak nya.sehubungan dengan kinerjanya yg payah – logikanya, kalau pegawai tersebut memang pintar & high perform, tentu tidak sulit untuk loncat ke company lain, bahkan menjadi world wide professional.
sebaliknya, kalo seseorang punya expertise & performa yg prima, tidak sampai setahun pun company akan mengangkatnya, bahkan di perusahaan2 asing sekali pun, bisa promosi setiap tahun.

maka, tak heran, kadang kita temui, tidak sedikit petinggi2 di perminyakan, bukan lah sarjana, mereka mengawalinya dari STM/SMA, namun kemauan belajar yg tinggi mengalahkan ‘pegawai kuliahan’.
sudah lazim, ketika bekerja, orang berhenti belajar.

Tanggapan 6 – riksha lenggana

Cuma menambahkan komentar Pak Chepy.

Selain ikut training yg bermutu, Pak Amiruddin juga sempatkan untuk BISA baca International Codes yg ada korelasinya dengan piping/pipeline.
Juga bapak bisa cari referensi yg relevan ttg Pipe Stress Analysis dari rekan2 yg duluan berkecimpung [network sangat penting] atau rekan2 baru di KMI.

Bukunya L.C. Peng ttg Pipe Stress Analysis juga bagus tuh..
Jadi tidak hanya mengandalkan ilmu dari Training & kemampuan Software saja.

Kadang-kadang Engineering Practice juga bermanfaat.

Tanggapan 7 – Muhtar Alim

Pikir masak2 dulu Pak kalo mau ke EPC.

Nah, kenapa ingin pindah ke EPC Pak? ada alasan tertentu sehingga pengen ke EPC?
Mungkin ke PT lain selain EPC juga pilihan yang masuk akal.
Tapi, selagi ada kesempatan dan rejeki, pindah kerja bidang-bidang lain sesuai dengan disiplin ilmu (atau juga tidak sesuai) juga bukan masalah.

Begitu banyak EPC kumpeni di negeri ini. Dari Rekayasa, Tripatra, Ikpt, Punj Lloyd, Wasamitra, Adhi Karya, Wijaya Karya, Indo Fuji Energi, dll.

Nah, mau ke EPC mana Pak? EPC bidang apa Pak? EPC power plant, EPC Oil n Gas? EPC Chemical atao petro chemical?

Memang sih, rasanya sekarang rata2 setiap EPC jadi ‘herbivora’. hehehe.
Jadi pemakan segala. maksudnya, bisa garap power plant, bisa petro chemical, bisa pula oil n gas.
Atau, mungkin ke PT M/E dulu sebelum ke EPC. Ada banyak PT M/E juga. Ada Serba Dinamik, Ada Gta Construction, ada YIN, dll.

Saya pribadi dulu juga sebelum kerja ditempat sekarang di kontraktor, saya orang Leasing/Finance Company. Lama2 menyelami dunia kontraktor ( dimana sering berhubungan dengan EPC kumpeni karena PT kami keseringan jadi sub kontraktor dari EPC2 kumpeni tersebut), kok rasanya pengen balik lagi ke dunia Leasing atau ke M/E.
Dorongan untuk pindah kerja timbul lagi. Dorongan pindah kerja, saya pribadi pengen ke M/E atau Leasing. Bukan EPC. Karena saya merasa ‘habitat’ saya disana. Sudahkah Bapak siap dengan ‘atmosfer’ dan ‘habitat’ kerja yang baru nanti?

Dan, kata Pak Eko, siap nggak memulai kerja dengan status probation dulu, abis itu kontrak selama 1 tahun. 1 tahun lagi perpanjang. Dan……mudah2 an bisa cepat jadi tetap.

Bukan nakut2 in lho Pak. Bagaimanapun…. mudah2 an some day bisa ke EPC kumpeni.

Tanggapan 8 – dimas yudhanto

dear Pak Amirudin,

apa Anda ngga eman2 mo’ meninggalkan yamaha motor.
anak tetangga depan, yg baru saja UN, dari dulu ngebet banget pengen masuk teknik, biar bisa jadi ahli mesin, mobil atau motor, apalagi yamaha punya valentino rossi.

kalo bapak pengen piping stress, khawatirnya lama2 jadi stress beneran (bercanda koq pak).

btw, selama ada niat, pengen jadi apa pun bisa, bahkan bisa jadi dokter (tentunya ambil kuliah lagi), mo jadi pengacara ya monggo (spt Alexander Lay, pengacara Bibit-Chandra, siapa yg nyangka bahwa beliau awalnya adalah insinyur perminyakan ITB yg pernah 3 tahun menjadi engineer di Middle East, kemudian kuliah lagi di Hukum Atmajaya, di usia yg menginjak 26 tahun).

saya berprinsip: kantong doraemon adalah niat & kerja keras
yang lain? …. pasti ketinggalan.

Tanggapan 9 – patra putra >

betul Pak Amirrudin.

Apa sudah yakin benar.. untuk menggeluti bidang Piping.
apalagi piping Stress Engineer…. takutnya nanti jadi Stress engineer beneran seperti yang dibilang pak Dimas. hehehehe. (becanda pak, tapi kemungkinan ada).

mungkin bapak masih dalam tahap training, setahu saya AP-Greid ada tugas akhir khusus untuk mendapatkan sertifikat.

dan pengalaman teman teman saya untuk mengerjakannya saja sudah tidak ada waktu.. sehingga tugas akhirnya belum terselesaikan. Untungya tidak ada batas waktu.

tapi kalo pak Amirrudin bisa menyelesaikan dan mendapat sertifikat, setidaknya pak amirrudin sudah ada bayangan. bagaimana menjadi seorang pipe stress engineer.

bedanya kalo di EPC Company. Yang selalu dijadikan Acuan adalah Schedule. sehingga tingkat stressnya bertambah, ditambah dengan data yang minim. tapi harus berlomba dengan orang yang harus masang bata di lapangan.

tingkat kesulitannya nya beda tapi waktu yang diberikan sama. Maklum pak EPC company, lebih berat ke Constructionnya, karena Itu yang lebih terlihat di lapangan.

semoga pak Amirrudin tetap bersemangat… sehingga bisa merasakan menjadi seorang Piping Stress Engineer, sesuai yang diinginkan.

Tanggapan 10 – Amirudin@yamaha-motor-elec

Terima kasih Pak atas masukannya,

memang harus dipertimbangkan juga untuk pindah ke lain bidang, tapi memang ada beberapa alasan kenapa saya pingin pindah.
Saya sudah beberaap pindah perusahaan kurang lebih 5 perushaan, tapi semua masih manufacturing. Sampai sekarang belum ada kemajuan yang significant. Memang syukuri apa yang ada. Tapi normal kalo manusia ingin maju.
Dan pastinya harus istikharah dulu kan. Niat harus mantep dan ikhlas.

Tanggapan 11 – adjie prahara

Pak Amirudin

Memang pak banyak yang perlu di pertimbangkan dan keberanian untuk siap bekerja berdasarkan proyek dan menjadi orang kontrakan,

Ada pengalaman teman sekelas ikut kursus WI+ NDT ,setelah lulus dari bebrapa perusahaan menawari pekerjaan tapi bebrapa kali juga dia menolaknya. akhirnya masih di pekerjaan yang sama dan tidak pindah jalur karna ketidak beraniannya mengambil pekerjaan yang notabene nya dari bawah lagi, level lapangan dan yang harus jauh dari keluarga apa lagi gaji disesuaikan pengalaman ( pindaj jalur).

Tetap Semangat pak.