Pengkajian ulang mengenai kelayakan operasi dari tabung gas beserta accessories perlu dilakukan guna mengurangi korban jiwa yg berikutnya akibat dari meledaknya tabung gas khususnya 3 kg. mengingat tabung 3 kg tersebut dibagikan secara gratis di berbagai pelosok daerah, ini merupakan ancaman bagi masyarakat akan adanya korban jiwa yg berikutnya karena belum adanya standard yg khusus mengatur mengenai penggunaan serta accessories dari tabung gas tersebut.
Ada baiknya mungkin dari pihak SNI mengeluarkan standard khusus mengenai kasus tersebut.

Pembahasan – rdanisworo

Pagi pagi baca koran Kompas minggu,

Tentang ledakan tabung gas lagi, yang diduga karena kebocoran hose.

Kebetulan Kamis kemarin , saya mampir ke pemasok komponen automotive rubber terbesar di indonesia, yang juga membuat hose.

Komentar nya cuma satu :

Mereka nggak bisa bersaing jualan hose selama ini karena harus ikut specnya.

Kalau mau jualan , ya harus nurunin spec. Tapi mereka ngga boleh dan nggak mau.

Jadi kalau mau ambil kesimpulan: hose yang beredar dipasaran sebagian tidak memenuhi syarat, entah sebagian besar atau sebagian kecil.

Tanggapan 1 – Endri Prasetyo

Memang, untuk tahu rubber product yang sesuai spec memang agak susah. Masalahnya kompon yang dipakai bisa ‘dimainin’ formulanya. Kita hanya bisa tahu pasti jika dilakukan pengujian.

Tanggapan 2 – Cahyo Laksono Hadinoto

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana orang2 awam seperti masyarakan disekitar kita mengetahui hose mana yg benar2 asli dalam arti memenuhi spec standard tersebut? ya bukan hal tabu lagi, saat ini kan banyak barang2 ASPAL, Asli Tapi Palsu, bener ndak?

Terus terang, setelah rentetan kejadian tabung gas meledak, saya pribadi menjadi miris dan bertanya-tanya, siapa sebenernya yg harus bertanggung jawab disini? Dari berita di TV, jikalau tidak salah tangkap Pihak Pertamina sendiri sdh melontarkan pernyataan bahwa ini bukan tanggung jawab mereka, dan sdh semestinya Pemerintah lah yg mengontrol semua ini termasuk distribusi dari tabung gas beserta asesorisnya.
Jadi tambah bertanya2, bukannya Pertamina juga perusahaan milik negara, mengapa harus menjadi simpang siur seperti ini?

Well, jangan sampai masalah meledaknya tabung ini menjadi berlanjut dan bertele2, bisa saja hal semacam ini menimpa keluarga anda juga.

Tanggapan 3 – I Made Sudarta I Made Sudarta

Pertanyaan berikutnya adalah supaya masyarakat tahu yang mana hose asli maupun bukan, seharusnya masyarakat sudah tahu mana barang yang asli dan mana yang palsu. Kalau kita mau jujur sebagian dari kitapun saya yakin tidak dapat mengenali mana hose palsu dan asli atau ASPAL. Karena kita kan berfikir untuk itu kapan kita akan mengatakan itu asli ataupun palsu kalau kita dan masyarakat tidak punya kriteria ‘ASLI’ yang dapat dibuktikan secara kasat mata, kalau disuruh uji laboratorium wah keterlaluan itu namanya. Jadi apa ya harus dilakukan maka buatlah pembuktian atau pembelajaran ke segenap lapisan masyarakat untuk mengetahui mana asli dan mana palsu atau pihak terkait melakukan enforcement secara besar-besaran untuk menghindari penggunaan hose yang out of spec. Tetapi apakah kecelakaan akan berhenti. nanti dulu. Salah satu Teori kecelakaan mengajarkan bahwa kalau ada ketidak sesuaian hubungan antara manusia dengan manusia, kemudian manusia dengan alatnya/peralatannya, manusia dengan perangkat lunaknya (kalau ada) dan manusia dengan lingkungannya, maka kemungkinan akan terjadinya kecelakaan tinggi, oleh karena itu untuk menghindari kejadian serupa sebaiknya pihak berwenang atau perguruan tinggi melakukan kajian-kajian secara komprehensip untuk menemukan akar permasalahannya sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali dan tidak saling menyalahkan satu sama lain.

Tanggapan 4 – gusti04

Saya rasa sudah benar apa yang diminta Pertamina agar Pemerintah lebih memperhatikan dan menyeleksi spare part kompor dan tabung gas yang banyak beredar ditengah masyarakat. Jika memang diharuskan mengikuti standard nya Oil and Gas spec, maka pemerintah harus memberikan subsidi, karena biasanya masyarakat kita hanya melihat dari sisi harga.

Tanggapan 5 – I Made Sudarta I Made Sudarta

Pak supaya lebih menarik lagi diskusi ini nantinya mungkin dapat dijelaskan oleh pemasok rubber tersebut mengenai term of nurunin spec. sebelum menurunkan specifikasi berarti sudah ada standard atau kriteria yang dapat diterima yang dipegang oleh perusahaan tersebut. Tetapi mereka hanya bilang nurunin spec, kira-kira apa yang diturunkannya pak?

Tanggapan 6 – rdanisworo

Betul pak,

Kajian tentang hose untuk lpg belum pernah saya dengar di Indonesia.

Tapi kalau secara mudah kita lihat, hose mempunyai shelflife.lihat hose anda didapur : kalau sudah lama pasti retak halus.
Spec hose juga mengharuskan rubber yg dipakai tidak boleh bereaksi dengan lpg. Pasti merujuk ke Astm, sni , dll.
Karena hanya itu yg saya tahu, mustinya diskusi ini bisa dilanjutkan oleh pakarnya.
Kita juga tidak tahu dari man material, methode , mana yg paling dominan menyumbang kecelakaan.
(Alm Ibu saya jg pernah sekamar dgn ibu rumah tangga yg terbakar tingkat 2, karena kompor lpg yg dinyalakan pada api pertama membesar dan menjilat pakaian polyesternya).

Jadi ??

Tanggapan 7 – ImMal Risk

Dear All,

Pengkajian ulang mengenai kelayakan operasi dari tabung gas beserta accessories perlu dilakukan guna mengurangi korban jiwa yg berikutnya akibat dari meledaknya tabung gas khususnya 3 kg. mengingat tabung 3 kg tersebut dibagikan secara gratis di berbagai pelosok daerah, ini merupakan ancaman bagi masyarakat akan adanya korban jiwa yg berikutnya karena belum adanya standard yg khusus mengatur mengenai penggunaan serta accessories dari tabung gas tersebut.
Ada baiknya mungkin dari pihak SNI mengeluarkan standard khusus mengenai kasus tersebut.

Tanggapan 8 – And Riawan

Ada Pak . . .

SNI Paket 3 kg (Paket Konversi): . . .

Kompor, SNI 7368:2007

Regulator, SNI 7369:2007

Katup Tabung, SNI 1591:2008

Selang Karet, SNI 067213:2006

Tabung, SNI 1452:2007.

Keamanan dan Keselamatan LPG

1. Keamanan Jaminan Pasok (Suplai);

2. Keamanan Tabung LPG, Spesifikasi Tabung LPG;

3. Keamanan Selang/ regulator;

4. Seal Tabung LPG;

5. Bau LPG (merkaptan);

6. Bahaya Ledakan/ Kebakaran;

Tanggapan 9 – untoro@batan

Mungkin pemerintah kita harus segera mulai dengan konversi ke bioetanol saja untuk kompor, karena walau bagaimanapun SNI telah lengkap tetap saja masyarakat kita masih belum siap menjalankannya sehinga tetap saja ada akal akalan untuk menurunkan kualitas dan yang penting murah dan nanti akan terjadi ledakan lagi.

Banyak sudah hasil-hasil temen peneliti yang menemukan kompor pengganti minyak tanah baik dengan biofuel, biomasa maupun biogas. Karena tidak ada yang mendukung untuk produksinya dan pemasarannya sehingga jalannya ya tersendat sendat. Padahal ada yang sudah menemukan misalnya kompor bioetanol seperti kompor gas yang aman.
Mudah-mudahan kita para peneliti yang belum seperti pegawai pajak masih punya idealisme untuk tetap jalan sendiri.

Tanggapan 10 – nurul_kahir

Saya pernah email dimailist ini, tebal shell tanki juga sesuai pesanan/specs dan harga. Bukan sesuai dengan tebal dan safety yg seharusnya.

Tanggapan 11 – Kang Deni

Kalau saya melihat ‘case’ yg terjadi, dapat menyimpulkan sbb:

1. Tabung gas LNG yang 3 Kg atau 12 Kg tidak meledak, masih utuh

2. Rata2 ledakan terjadi akibat acessories (selang, regulator, koneksi ke kompor) yang tidak dipasang secara benar atau sudah rusak tidak diganti

3. Bentuk ruangan dapur rumah tangga korban ledakan, rata2 dapur tertutup tanpa sirkulasi udara yang memadai

4. Pemahaman tentang safety yang rendah, pemilik rumah jarang melakukan pengecekan pada kelayakan koneksi kompor gas ke tabung, tidak paham bahaya, tercium bau gas di dapur dianggap biasa, dengan alasan keamanan dapur dibuat tertutup tanpa sirkulasi udara yang memadai

Solusi:

1. seharusnya dibuatkan brosur yg mudah dimengerti, bergambar menarik, dan bisa di simpan lama, yang berisikan panduan tentang cara pemakaian kompor gas yang baik dan benar, sehingga brosur ini bisa di simpan di dapur2 semua rumah tangga Indonesia yang memakai kompor gas.

2. Hotline services dan customer support Pertamina dan/atau PGN, apabila konsumen rumah tangga memiliki masalah dengan kompor dan tabung gas mereka harus menghubungi siapa dan dalam hitungan menit sudah datang di depan pintu rumah; mulai dari komplain isi yang kurang, kerusakan, ketidaklengkapan, ketidaktahuan penanganan, hingga inspeksi bagaimana pelanggan memasang kompor gasnya, kok belum ada ya? 🙂

Sekian pendapat dari saya…

Tanggapan 12 – Anpan

Saya bukan pemakai tabung gas 3 kg, tetapi sekitar 2 minggu yang lalu istri saya punya pengalaman dengan tabung gas yang 12 kg. Sewaktu dia mengganti
tabung gas yang baru, dan regulator sudah tersambung dengan baik, tetapi gas ngocor terus..dan dia takut dan akhirnya menunggu saya pulang kerja.

Segera setelah tiba, saya periksa tabung tersebut dan saya coba pasang beberapa kali, dan masih bocor. Ahirnya saya coba periksa regulator dan baik, kebetulan belum dua bulan di beli, menggantikan yang lama. Setelah saya perhatikan, dan saya mencoba mencabut seal yang didalam tabung ternyata seal sudah tidak elastis dan juga sedikit sobek. Saya balikan posisi seal, sehingga yang sobek ke bawah kebocoran berkurang. Ahirnya saya cabut seal tsb, dan ganti dengan seal dari tabung yg belum dipakai dan setelah saya pasang regulator hasilnya baik. Dan saya tunggu sekitar 10 menit, dcan jendela dapur dibuka lebar lebar agar gas yang sudah keluar tidak terbakar dan sampai saat ini hasilnya baik.

Jadi disamping apa yang disampaikan dibawah, perlu diperhatikan seal tsb, apakah bocor dan harus diganti dengan seal baru.

Tanggapan 13 – sugeng

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, mohon jika ada salah satu anggota milis yang ikut dalam proses penyusunan SNI komponen ‘karet’ tabung LPG 3 kg untuk memberikan konfirmasi di forum ini pada hal berikut: ‘Apakah semua parameter dalam SNI tersebut teruji secara teknis?

Jika iya mohon dipublikasikan hasilnya disini’.

Karena sampai saat ini saya belum menemukan kajian mengenai SNI tersebut. Perhitungan saya terhadap mekanisme kerja rubber gasket (lihat posting saya yg lalu) sedikit banyak menyadarkan saya kalau secara mekanisme itu ‘dapat dipertanggungjawabkan’ akan tetapi very critical karena semuanya tergantung hanya pada elastisitas karet gasket. Kurang tahu komponen yg lain?