Penggunaan HC sebagai penumatic gas itu sebenarnya cukup umum. Namun apakah ini didukung dengan risk assessment yang mumpuni atau tidak, itu yang perlu dicaritahu. Apakah regulasi mensyaratkan itu? Apakah ini sudah termasuk dalam CEMS?

Tanya – layangkulo

Dear Bapak2,

Saya baru bergabung dengan salah satu perusahaan oil and gas explorasi di indonesia, sebelumnya saya bekerja di salah satu petrochemical di banten.
Di tempat saya terdapat instrument yang di supply dengan natural gas hasil separasi dari separator dari well. Apakah penggunaan natural gas untuk pneumatic instrument supply itu sudah umum di pergunakan? Dan bagaimana pandangan dari sisi HSE, tentunya pasti ada release ke udara dari instrument tersebut? Yang saya sendiri mengkawatirkan dari sisi kesehatan.
Yang saya tahu di petrochemical kita tetap menggunakan udara kompressi dan ada aplikasi yang menggunakan Nitrogen untuk backup.

Tolong di bantu dari pengalaman bapak2/Ibu2 mengenai hal ini.

Tanggapan 1 – andriawan

di lapangan banyak juga yg pakai pak, untuk pompa chemical di kepala sumur gas. . . cm hrs di perhatikan H2S yang ada dalam gas tersebut, jika diatas 1 ppm maka sebaiknya tidak menggunakan gas tersebut sebagai pneumatic instrument supply . . .

Tanggapan 2 – sugeng.hariyadi

Methoda ini sebetulnya sudah diterapkan oleh total e&p indonesie, hampir semua sumur ato gts platform memakai fluida ini sbg alat penggerak pneumatik instrument.
Mungkin kawan 2x maintenance dari total bisa bantu ato ex. IKL ato sofresid ato teknip yg dulu sudah pernah design platformnya total di kaltim.

Tanggapan 3 – sasthana bslukita

Mostly platform NUI di PHE-ONWJ (ex BP/ARCO) sudah mengutilize natural gas untuk instrument pneumatic supply. Dan AFAIK belum pernah ada complaint yang berhubungan dengan Health karena setahu saya sih natural gas yang direlease ke udara jumlahnya tidaklah signifikan.

Tanggapan 4 – gusti04

Cuma ingin ikut berinteraksi.

Sebenarnya kembali ke dasar, setiap platform di remote (yang tidak berpenghuni) memerlukan suatu power yang digunakan untuk mengoperasikan peralatan, baik untuk menjaga pressure (pompa) atau mengatur proses (instrumentasi devices termasuk valve, baik control valve maupun shutdown valve).
Di laut Jawa, Pertamina PHE-ONWJ misalnya, untuk dibagian barat, hampir semua platform remote (apalagi yang flowstation) menggunakan power yang berasal dari listrik, karena setiap platform remotenya terhubung dengan kabel bawah laut. Sehingga power ini bisa digunakan untuk kebutuhan diatas, sehingga semua kebutuhan power yang berupa fluida angin bisa diperoleh dari air compressor yang digerakkan oleh tenaga listrik. Dengan demikian, tidak dibituhkan lagi gas sebagai sumber tenaga anginnya. Sedangkan dibagian timurnya, kebanyakan platform remotenya tidak terhubung dengan kabel bawah laut, sehingga terpaksa sumber powernya menghandalkan potensi sendiri (bisa juga disuplai dari platform lain), dan yang tersedia adalah gas, sehingga gas inilah yang dimanfaatkan sebagaitenaga untuk peralatan pompa (misal wilden pump) dan peralatan instrument.
Namun, gas yang digunakan harus memiliki spec tertentu, misalnya dari sisi tekanannya dan kekeringannya, makanya akan ada proses terlebih dahulu sebelum gas ini digunakan, misalnya scrubber untuk memisahkan liquidnya.
Intinya, adalah untuk menyiasati ketidakadaan tenaga listrik maka digunakan yang lain, baik dengan menggunakan gas sendiri maupun nitrogen, biasanya untuk platform yang design baru, menggunakan N2 untuk sumber powernya.

Permasalahan penggunaan gas hidrokarbon ini sendiri bertentangan dengan HSE regulasi, ‘keep hydrocarbon in pipe’ karena peralatan instrument pasti akan merilis gasnya untuk tiap aksinya, sehingga memang betul gas hidrokarbon akan keluar ke udara bebas, namun berapa banyak yang masih ditolerir ini yang ‘agak’ abu-abu.

Mungkin cukup sekian, mohon koreksinya, maklum masih terus belajar.. Gak nyampe nyampe ke expert level…

Tanggapan 5 – Akh. Munawir

Pendapat saya,

Case ini memerlukan HAZOP study sebelum dieksekusi. HC release dr instrument akan berimpact pada Hazardous Area Classìfication layout dan properties NG impactnya pada operability dan korosi pada material tubing/device.

Tanggapan 6 – Crootth Crootth

All,

Penggunaan HC sebagai penumatic gas itu sebenarnya cukup umum. Namun apakah ini didukung dengan risk assessment yang mumpuni atau tidak, itu yang perlu dicaritahu. Apakah regulasi mensyaratkan itu? Apakah ini sudah termasuk dalam CEMS?

Kalau ngomong besar apa kecil sebaiknya didukung denga quantitative study, kalau engga ya diskusi ngalor ngidul ga jelas.. seperti ngomongin gajinya SMI yang 3 M itu.

Tanggapan 7 – Dafi

sepakat om garonk,

GOV (Gas Operated Valve) umum digunakan, memang perlu risk assessment yg comprehensif. di pipeline kami, LBCV menggunakan GOV (gas-nya sendiri) karena selain di remote area, jg bukan control valve (continous throttling), LBCV ini dipasang di sekian mile pipeline sbg safety device (shut-down valve) sesuai requirement codes/spec. salam

Tanggapan 8 – heru suprapto

Nimbrung aja, starter untuk Turbin juga pakai gas, direlease ke atmosfir dalam perhitungan aman.

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Dear Mas Heru,

Aman karena belum kejadian mas.. lucky you…

Tanggapan 10 – Dafi

sepakat om garonk,

GOV (Gas Operated Valve) umum digunakan, memang perlu risk assessment yg comprehensif. di pipeline kami, LBCV menggunakan GOV (gas-nya sendiri) karena selain di remote area, jg bukan control valve (continous throttling), LBCV ini dipasang di sekian mile pipeline sbg safety device (shut-down valve) sesuai requirement codes/spec. Salam

Tanggapan 11 – Gustiyanto

Betul,

Semua perlu adanya assessment yang comprehensif, misalnya ada Hazid, hazop dll. Bahkan diluar koteks penggunaan gas sebagai source of power, tetap saja diperlukan adanya assessment yang mendalam.

Saya hanya mengatakan dari sisi phylosopi penggunaan gas sebagai source of power di platform/area yang memang tidak ada power lain.