Untuk melakukan hydro-test, khususnya untuk pipeline / flowline, alat yang dibutuhkan adalah barton chart selain pressure gauge untuk merekam kondisi pressure secara continue dalam waktu tertentu, sehingga tidak harus melototi pressure gauge terus.
Lalu untuk menentukan tekanan yang diberikan pada pipa / pipeline harus dilihat apakah pipa / pipeline tsb baru atau lama yang dibuka / dilepas. Jika itu pipa / pipeline baru, maka pressure yang diberikan adalah 1.3 sampai 1.5 x MAWP. MAWP ini adalah maximum allowable pressure. Nilai MAWP ini diperoleh dari rating class nya pipa tsb. Namun jika pipa / pipeline itu lama (existing) maka biasanya cukuo diberi tekanan 1.1 sampai 1.3 x MOP. Dimana MOP adalah maximum operating pressure, atau pressure yang tertinggi dicapai dalam pengoperasiannya.
Sedangkan untuk fluida pengetesannya, bisa dilihat sesuai kebutuhan dan ketersediaan. Misalnya pipa / pipeline itu digunakan sebagai penghantar gas (MGL : Main Gas Line) tentu akan dihindari fluida water sebagai fluida test, baik fresh water maupun sea water. Jika penggunaan N2 tidak dimungkinkan, yang lebih mungkin adalah service test, maksudnya menggunakan gas produksinya sendiri sebagai fluida test.

Tanya – mol

Dear Rekan MIGAS….

Kebetulan saya menemui kesulitan dalam perhitungan Pipeline Hydrotest.Contoh Perhitungan ini saya ambil dari buku Pipeline Design and COnstruction Appendix D (M.Mohitpour,H.Golshan, A.Murray.

Data Material Pipeline yang kita hydrotest adalah sbb:

*Material = API 5L X65 dengan properti material sbb,

– Alfa (Linear Thermal Expansion Coefficient)=1.17×10^-5/C

– Modulus Elasticity = 200×10^6 kPa

– v (poisson ratio) = 0.3

– c (…………….) = 4.86×10^-7/kPa

Pertanyaan saya adalah, koefisien c di atas adalah koefisien apa????dan di mana saya bisa mendapatkan data tersebut????

Mohon info dari rekan2 MIGAS……

Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – yusuf sopyan

Pak,

Kebetulan saya tidak mempunyai bukunya, tapi kalau dilihat dari parameter2 yang bapak sebutkan (linear thermal expansion, Poison ratio, dll) dan satuan dari C itu KPa, menurut saya bapak sedang mencari Kenaikan Tekanan akibat kenaikan temperature yang terjadi. sehingga nantinya bisa dicari perubahan volume air yang dibutuhkan.

Tebakan saya C itu sama dengan water compressibility (CMIIW). untuk nyarinya tergantung asumsi nya pak, biasanya isothermal. Tapi saya pikir dengan Googling aja bisa nemu tuh Pak nilai C nya.

Tanggapan 2 – tosrifizal tosri

Saya gak tau posisi usaha anda , apakah anda perancang atau apakah anda yang mau melaksanakan pengetesan pipa.

Kalau anda seorang perancang/designer anda harus mencari sampai ketemu semua kualifikasi,,jenis, schedule, material apa, harus di ikut sertakan/dicantumkan, termasuk perhitungan nya.

Tapi kalau anda hanya mau melaksanakan pengetesan Hydrotest, semua jenis pipa mulai dari pipa air sampai pipa migas/ paralon pipe, iron pipe, stenlees steel pipa begitu juga schedule nya bisa di lakukan untuk hydrotest.
Saya pernah melaksanakan nya di beberapa daerah project simple saja, dan selesai setelah di tunggu paling lama 24 jam dengan tidak bocor bisa di terima dan di approv oleh consultan/owner, menjelang bisa ditunggu selama 24 jam tentu ada proses yang di ketahui dengan pressure gate.

Pelaksanaan

Pertama sambil anda mempersiapkan installasi pipa 1/4′-1/2’untuk pressure gate dan cek semua pipa yang akan di test seperti kekuatan ikatan dudukan pipa, tumpuan pada elbow dan kalau anda test untuk under ground pipe, yang tidak ada fitting harus ditimbun sebab kalau ini tidak di perhatikan pada waktu pengisian water pressure pipa-pipa tsb akan terangkat semua.
Setelah semua OK anda bisa mengisi water pressure dengan temperatur min 10*C yang dibantu dengan small comperessor menurut yang di minta berdasarkan spesifikasi misal nya 100 psi, setelah mencapai 100 psi jika pressure gate turun dari 100 psi bearti pipa masih bocor. untuk itu perlu pebaikan pipa sampai tidak bocor.
Setelah pressure gate tidak turun lagi seketika baru anda tungu berpa lama diminta dari spesifikasi nya misal nya 3 jam, 6 jam, 12 jam atau 24 jam, kalau selama itu anda menunggu pressure gate tidak turun bearti test anda bisa di approv oleh consultan dan pekerjan anda selesai untuk 1 section.

Terima kasih,

Tanggapan 3 – yusuf sopyan

Menanggapi sedikit Pak, mungkin yang dimaksud penanya, lebih ke arah kebutuhan total air yang harus dipakai untuk Hydrotest Pipeline, mengingat Pipeline kan panjang-panjang, dan kebanyakan juga lokasinya offshore, kayanya banyak Perusahaan yang keberatan Hydrotest dengan air laut, heheh.. jadi Airnya harus bawa sendiri dan dalam jumlah yang cukup banyak, kalau kurang nanti bisa repot, dan kalau bawa terlalu banyak juga malah merepotkan bawanya.

Selain itu sebagai pembanding juga Pak, kalau kita tahu total debit air yang masuk, bisa diprediksi tekanan nya, kan saat hydrotest menaikan tekanan nya tidak langsung 1.25xDP atau 1.5xDP, tapi di naikan secara bertahap, tahan sesuai holding time nya, lalu naikan lagi.. tahan lagi sampai tekanan akhir yang diharapkan, demikian juga saat menurunkan tekanan nya.

Tanggapan 4 – Dafi

Kalo yg ditanya berapa volume air yg dibutuhkan, di buku ‘pipeline rule of thumb’ itu ada cara ngitungnya, jg berapa volume air yg dibutuhkan utk pressurize dr tekanan 0psi ke tekanan tertentu, ada constanta factor-nya,

Volume of water required to fill test section (gallons)

V=L(3.1416d2 4) 12 231

V = 0.0408 d2 L

Where: L = Length of test section, feet.

d = Inside diameter of pipe, inches.

V = Gallons required to fill @ 0 psig.

utk kebutuhan volume air utk pressurizing, tergantung panjang pipanya, temperatur berapa dan test pressure berapa, bisa dihitung juga dg factor/tabel factor, namun kalo resource air tdk menjadi masalah, ya estimasi aja tambahan volume air kira-kira 5 – 10%.

untuk pemakaian air laut utk hidrotes, saya pernah melakukan hidrotes dg air laut yg diinject corrosion inhibitor, mungkin bisa jd solusi jika setelah dihitung lebih ekonomis daripada bawa fresh water dari darat. cmiiw

Tanggapan 5 – gusti04

Dear,

Hanya menambahkan sedikit.

Untuk melakukan hydro-test, khususnya untuk pipeline / flowline, alat yang dibutuhkan adalah barton chart selain pressure gauge untuk merekam kondisi pressure secara continue dalam waktu tertentu, sehingga tidak harus melototi pressure gauge terus.
Lalu untuk menentukan tekanan yang diberikan pada pipa / pipeline harus dilihat apakah pipa / pipeline tsb baru atau lama yang dibuka / dilepas. Jika itu pipa / pipeline baru, maka pressure yang diberikan adalah 1.3 sampai 1.5 x MAWP. MAWP ini adalah maximum allowable pressure. Nilai MAWP ini diperoleh dari rating class nya pipa tsb. Namun jika pipa / pipeline itu lama (existing) maka biasanya cukuo diberi tekanan 1.1 sampai 1.3 x MOP. Dimana MOP adalah maximum operating pressure, atau pressure yang tertinggi dicapai dalam pengoperasiannya.

Sedangkan untuk fluida pengetesannya, bisa dilihat sesuai kebutuhan dan ketersediaan. Misalnya pipa / pipeline itu digunakan sebagai penghantar gas (MGL : Main Gas Line) tentu akan dihindari fluida water sebagai fluida test, baik fresh water maupun sea water. Jika penggunaan N2 tidak dimungkinkan, yang lebih mungkin adalah service test, maksudnya menggunakan gas produksinya sendiri sebagai fluida test.

Tapi jika pipa / opipeline itu untuk pengantar crude/liquid, water adalah yang lebih murah. Fresh water adalah yang lebih baik dibanding sea water, tapi karena keterbatasan, banyak yang menggunakan sea water sebagai fluida test, masalah yang akan membuat korosi, nanti akan dibantu dengan chemical injector.

Tanggapan 6 – Don Chicio

dear Bapak2,

berhubung sedang membahas mengenai hydrostatic test, ada beberapa pertanyaan yg muncul dalam pikiran saya.

saya berfikir bahwa tujuan dari hydrostatic test ini adalah untuk mengetahui kebocoran (leak test).

untuk underground pipeline,

apabila terjadi kebocoran yg tidak diharapkan ternyata terjadi pada pipa yg di test, bagaimana cara mengetahui titik bocor dari pipa itu? adakah alat untuk mengetahui posisi kebocoran pada pipa?

kemudian timbul pertanyaan dlm pikiran saya, apakah leak test ini dilakukan setelah pipa seluruhnya di backfill? ataukah leak test ini dilakukan sebelum pipa dibackfill? dampaknya adalah…jika terjadi kebocoran pada pipa yang sudah di backfill, maka pipa yang telah di backfill itu harus di bongkar…

apakah memang begitu?

adakah aturan/code yang menjelaskan mengenai pekerjaan ini?

atas pencerahan yang diberikan saya ucapkan terimakasih.

Tanggapan 7 – Don Chicio

dear milister migas,

pertanyaan saya dibawah sudah tidak perlu lagi ditanggapi, krn jawabannya sudah ada di Pipeline Leak Detection Study by Bechtel Limited. Thanks MI

Tanggapan 8 – muhamad syafrudin

mohon pencerahannya…

, pertanyaan dari bpk HDW blum di jawab ni,

tentang kl seandainya terjadi kebocoran pipanya pd jalur pipeline, bagaimana kita bisa mencari /lokasi dari titik kebocoran pipa tsb apakah di girth weldnya/body pipanya seandainya pipa sudah di backfill dengan kedalaman 2 meter misalnya di lok (onshore/ofshore)dan apa nama alat untuk mendeteksinya.kl dengan barthon chart yg di record , saya rasa hanya sepanjang test apakah itu di acceptance atau tidak.

mudah2 an ada yang bisa membantu.