Safety passport adalah suatu buku yang berfungsi sama seperti id card / passport yang biasanya dikeluarkan oleh perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di lepas pantai. Fungsi utama dari passport ini adalah sebagai pengganti id card jika misalnya karyawan tersebut hanyut di laut dan terdampar di negara lain. Di passport tersebut biasanya juga di-record mengenai HSE dan juga training yang telah dijalaninya.

Tanya – adi.dwinanto@exxonmobil

Mohon pencerahannya mengenai apa yang disebut Safety Passport Offshore?
Apakah ada penyelenggaranya di Indonesia. Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Rachman Ardiansyah

Pak Adi,

Saya coba menjawab pertanyaan bapak.

Safety passport adalah suatu buku yang berfungsi sama seperti id card / passport yang biasanya dikeluarkan oleh perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di lepas pantai. Fungsi utama dari passport ini adalah sebagai pengganti id card jika misalnya karyawan tersebut hanyut di laut dan terdampar di negara lain. Di passport tersebut biasanya juga di-record mengenai HSE dan juga training yang telah dijalaninya.

Beberapa oil & gas company saat ini banyak yang sudah menerapkan / mengimplementasi penggunaan safety passport pada karyawannya, terutama yang bekerja di lepas pantai (offshore).

Semoga info saya ini bisa membantu bapak.

Mungkin ada rekan lainnya yang ingin menambahkan.

Tanggapan 2 – Rana Manggala

Pak Adi Dwinanto,

Salah satu penyelenggara untuk Safety, HUET and Sea Survival training adalah:

1. PT. Jakarta Offshore Training Centre (JOTC)

Wisma Bhaita, Lantai 3, Cilosari No.33-Menteng,Jakarta Pusat.

2. PT. Industrialindo Konsultrain Service (IKS)

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP)

Jl Marunda Makmur-Cilincing, Jakarta Utara.

Telp. 88991618

Email :stip@indosat.net.id

3. PT. Darma Seta Karya – Primkop Pusdiklat Dephan RI

Jl. Salemba Raya No. 14, Jakarta Pusat 10430.

Telponnya saya tidak tahu tetapi bagi rekan-rekan yang tahu nomor telponnya, bisa infokan juga ke milis ini.

Tanggapan 3 – Dirman Artib

Rekan-rekan,

Bagaimana kriteria keberterimaan ‘acceptance criteria’ untuk sebuah perusahaan penyedia jasa training Sea Survival, HUET, Fire Fighting, First Aid, dll. yg biasanya disebut BOSIET Training tersebut.

Apakah ada relevant International/National codes and standard yang dianut untuk Assurance system?/p>

Mohon pencerahan.

Tanggapan 4 – Nugroho Wibisono

Pak Dirman,

Saya kurang begitu mengetahui mengenai standar yg dianut untuk assurance system-nya, tetapi kok kelihatannya sangat bergantun pada regulasi pemerintah setempat.

Contohnya kayak Petronas Malaysia yang memberlakukan safety passport-nya harus dilengkapi dengan sertifikat BOSIET (HUET, Fire Fighting, First Aid,etc.) dari provider lokal Malaysia. Kalo sertifikat dari Indonesia atau UK? Engga laku lah… padahal menurut rekan-rekan yang pernah mengikuti BOSIET di Indonesia atau UK masih lebih ‘berat’ dan fasilitasnya lebih bagus daripada ngambil sertifikat di Malaysia. Efeknya mungkin cukup lumayan lah buat nambah2 devisa pemerintah Malaysia.

Tanggapan 5 – Imam Dermawan

ya malaysia pinter juga bikin regulasinya, selain BOSIET juga sebelumnya harus Medical Checkup di Rumah sakit lokal malaysia, provider di luar malaysia tidak diapprove. Jadi kalau ada yg mau ke offshorenya malaysia hrs training di malaysia dan medical checkup di malaysia.,jadi nambah devisa.

Tanggapan 6 – Henry Lumbantoruan

Saya kira ini hanya strategy bisnis aja.

Pengalaman Medical Check-up di Thailand nggak berlaku di Malaysia, semangat ASEAN hanya di mulut aja. Menurut teman yang ikutan safety disono medicalnya biasa2 aja tapi yah itu tadi udah merupakan paket jadi.

Tanggapan 7 – adi.dwinanto@exxonmobil

Pak Ardi,

Terima kasih atas pencerahannya. Tadinya saya berpikir ini merupakan suatu certificate dari hasil training yang harus diikuti oleh karyawan yang akan bertugas ke offshore. Jikalau demikian berarti Safety Passport Offshore tersebut hanya dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan bukan?

Tanggapan 8 – Rachman Ardiansyah

Benar. Namun orang yang akan berangkat ke offshore tersebut harus ikut mandatory training dulu, seperti sea survival, first aid, fire fighting training. Jika orang tersebut ke offshore-nya dengan menggunakan helicopter (bukan dengan boat) maka harus ada tambahan HUET (Helicopter Underwater Evacuation Training), namun jika ke offshore-nya hanya menggunakan boat, maka orang tersubut tidak perlu mengikuti HUET.

Semua training, terutama yang mandatory training, harus dicantumkan di dalam safety passport tersebut.

Jika misalnya ada orang yang berkunjung ke offshore, namun tidak untuk bekerja dan dalam waktu yang relative singkat, misalnya untuk kunjungan saja (misalnya seperti management visit, BP MIGAS visit), maka orang tersebut hanya butuh basic sea survival training saja, karena orang tersebut tidak mungkin dilibatkan dalam team fire fighting.

Tanggapan 9 – Imam Dermawan

tapi biasanya kalau mau ke offshore harus pernah mengikuti : HUET (helicopter underwater evacuation training), fire fighting, first aid,sea survival.

Tanggapan 10 – ridwan@sempecindonesia

Benar, sedikit tambahan anda bisa melakukan training di alamat bawah ini

Jakarta Offshore Training Center (JOTC)

(PT. Binasentra Muliatata)

Wisma Bhaita, 3rd floor,

Jl. Cilosari no. 33. Menteng, Jakarta

telepon saya lupa tuch……

sea survival & HUET saya lakukan disana untuk izin kemasuk/kerja di offshore
(certificate)

Tanggapan 11 – Administrator

Mas Dirman,

Kebetulan di bulan Mei 2005, saya mengikuti Kursus BOSET (Basic Offshore Safety Emergency Training) di JOTC Depok sebagai refresher untuk seluruh modul : HUET, Sea Survival, Fire Awareness dan Basic Life Support. Ngobrol-ngobrol sama pelatihnya sih rasanya belum ada standard internasional yang harus diikuti. Di JOTC sewaktu sea survival, saya diwajibkan loncat dari ketinggian platform 4 meter dengan life jacket terpasang. Menurut Pak Elwin, kursus sea survival di Paris loncat dari ketinggian 10 meter (wuih….. serem…..).

Untuk syarat kelulusannya, ada beberapa kriteria. Saya berikan contoh untuk
HUET :

– Complete a written assessment with a minimum score of 70%.

– Complete 2 unassisted inverted escape from the SWETS of minimum 3 drills.

Bila dalam 3 latihan, nilai kita kurang dari 70, maka harus mengulang kembali keesokan harinya tanpa bayar. Ada beberapa latihan yang tidak dinilai, seperti sewaktu kita dibalikkan selama 10 detik di dalam air, simulator dimasukkan ke dalam air dengan semua jendela / pintu darurat terbuka semuanya. Penilaian diberikan hanya pada latihan simulator dimasukkan kedalam air dengan semua jendela / pintu tertutup, simulator dibalikkan 180 derajat dan semua pintu / jendela terkunci, dan terakhir simulator dibalikkan dengan kita keluar melalui pintu/jendela alternatif. Jadi nunggu nasib kepada teman kita yang berada di dekat jendela. Makin lama dia keluar, nasib kita jadi taruhan.

Sempat terjadi disorientasi sewaktu mencari kait pembuka pintu dalam 10 detik pertama didalam air. Disorientasi berikutnya pernah juga terjadi yaitu sewaktu keluar dari jendela darurat. Bukannya ke atas, malahan berenang makin dalam. Untung ada pelatih yang ngasih isyarat salah, sehingga buru-buru berenang ke atas dengan nafas yang sudah dalam status alarm.

Ah…. betapa nikmatnya bila kita bisa bernafas setiap saat tanpa adanya kendala.

Oh ya, saya punya soft copy presentasi dari semua module training di atas. Dapat atas seijin pelatihnya. Cuma jangan minta untuk dikirimkan via Milis Migas Indonesia, karena untuk HUET aja sudah sebesar 27 MB. Belum modul training yang lainnya, meskipun lebih kecil, tapi tetap saja dalam orde MB.

Tanggapan 12 – adi.dwinanto@exxonmobil

Pak Budhi,

Apakah training tersebut dapat diikuti oleh perseorangan atau kah ada batasan minimum peserta agar training dapat dilakukan, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan serta berapa lama pelaksanaan training tersebut? Apakah certificate yg telah di terima (bila dinyatakan lulus) dapat dipergunakan (diakui) di luar negeri atau kah hanya di dalam negeri? Terima kasih untuk informasinya.

Tanggapan 13 – Administrator

Mas Adi,

Training dapat diikuti oleh individu atau corporate. Setiap class room rata-rata sekitar 15 – 20 orang. Waktu pelaksanaan setiap modul training adalah 1 hari. Pagi sampai siang adalah belajar teori, siang sampai sore melakukan praktek. Biaya rasanya tergantung pada provider. Untuk JOCT sebagai gambaran biaya training per hari adalah USD 500 🙁 karena investasi untuk simulatornya juga mahal.

Selama kondisi perairannya sama, rasanya akan berlaku. HUET yang saya terima adalah untuk perairan tropis dengan suhu air sekitar 28 C. Kalau anda ke North Sea, maka sertifikat HUET ini tidak akan berlaku karena prosedur penyelamatannya akan berbeda juga. Untuk perairan dingin, anda diharuskan menggunakan pakaian khusus, tidak cukup hanya sekedar menggunakan life jacket.

Satu pelajaran penting sesudah mengikuti kursus ini adalah jangan lupa untuk mensosialisasikan dan menerapkannya di lingkungan terdekat anda, terutama keluarga. Percuma anda belajar memadamkan api, tapi di rumah tidak diperlengkapi dengan fire extinguisher. Jangan lupa untuk selalu mengencangkan seat belt karena akan terasa bedanya apabila anda diputar 180 derajat.

Tanggapan 14 – Rachman Ardiansyah

Pak Adi,

Untuk mengikuti training tersebut, tergantung organizernya. Ada yang mengharuskan batasan minimum peserta sekitar 20 orang peserta, tetapi dapat juga total 20 peserta tersebut bukan dari satu perusahaan kita (contohnya seperti yang dilakukan oleh IKS, dengan lama training sekitar 1-3 hari). Ada juga yang tidak mengharuskan batasan minimum peserta karena mereka selalu ready untuk melakukan training (contohnya yang dilakukan oleh fasilitas Pertamina yang ada di Pulo Gadung, dengan lama training sekitar 6-8 hari).

Mengenai harga, tergantung negosiasi perusahaan anda dengan organizernya. Tetapi harga tiap orang sekitar 1 sampai 3 juta rupiah.

Tanggapan 15 – Hendrata Tjoeng

Rekan-rekan,

Biasanya yang digunakan sebagai standard untuk BOSIET Training adalah OPITO (Offshore Petroleum Industry Training Organisation) accreditation dari UK dan juga STCW 95 (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers) dari IMO. Certificates yang dikeluarkan dari training centers dimanapun asalkan mempunyai akreditasi dari OPITO dan STCW 95 seharusnya dapat diterima di berbagai oil companies.

Kebetulan saya berurusan dengan Petronas di Vietnam, dan mereka menerima BOSIET certificate yang dikeluarkan oleh JOTC dan juga dari training centers lain (eg. RGIT Montrose, Alert Singapore dan IFAP Australia).

Tanggapan 16 – Dirman Artib

Pak Hendarata,

That are what I mean.

Di dalam Assurance System itu seperti alat ukur yang perlu dikalibrasi dan mampu telusur kepada kalibratornya di Paris. Sistem dalam sebuah organisai akan saling percaya dan dikalibrasi dengan sistem organisasi lainnya. Misalnya, sistem perusahaan A akan mempercayai sistem produksi pada suppliernya yang perusahaan B yang memberikan pelayanan/produk yang mempercayai metode asosiasi C yang mempublish metode, codes, standard dalam memproduksi tsb. A dan B menerima untuk percaya kepada C, tentunya.

Semoga berguna.