Saya bermaksud menanyakan perbedaan spesikasi Oil Lubricant untuk engine besin dan engine diesel, apakah dengan SAE number yang sama boleh dilakukan subtitusi antara keduanya? Sebagai contoh: – 15W/40 SJ untuk mesin bensin; – 15 W/40 CF untuk mesin bensin.

Tanya – agus

Dear Rekan2 Migas,

Saya bermaksud menanyakan perbedaan spesikasi Oil Lubricant untuk engine besin dan engine diesel, apakah dengan SAE number yang sama boleh dilakukan subtitusi antara keduanya?

Sebagai contoh

– 15W/40 SJ untuk mesin bensin

– 15 W/40 CF untuk mesin bensin

Mohon penjelasan, selengkap-lengkapnya dari rekan2 MIGAS.
Terima kasih & Salam MIGAS,

Tanggapan 1 – Muzakkir Budiman

Saya coba jawab perbedaan semoga tidak salah, untuk type SJ adalah dikhususkan untuk motor bensin yaitu S=spark sedangkan J adalah grade yg dikeluarkan oleh API test.

CF adalah type oil yang khusus digunakan untuk mobil diesel C= Compresi sedangkan F adalah grade yg dikeluarkan oleh API test.

Jelas dengan perbedaan tersebut maka berbeda juga kandungan bahan additive untuk ke dua jenis oil . Serta makin tinggi grade nya yang di hitung dari adjad A sampai Z maka makin bagusnya qualitas oil tersebut. mungkin ada yang menambahkan atau mengoreksi.

Tanggapan 2 – Gd.Mahendra.Eka.Pradnanya@Newmont

Pak Agus,

Memang benar apa yang disebutkan oleh Pak Muzakkir di bawah. Kalau boleh saya tambahkan pengetahuan saya mengenai lubricant yang berkaitan dengan substitusi antara keduanya. Oli mesin diesel dengan API Service CH-4 (misalnya) dapat saja digunakan pada mesin bensin pada keadaan darurat/sementara waktu saja. Apabila diperhatikan pada kemasan oli mesin diesel tersebut biasanya akan tertera API CH-4/SL yang berarti oli mesin itu diperuntukkan untuk diesel tapi dapat juga digunakan untuk mesin bensin secara temporary. Pada dasarnya yang membedakan antara oli mesin diesel dengan bensin adalah kandungan TBN (Total Base Number) pada kedua jenis oli tersebut. TBN adalah kandungan alkali pada oli yang dimunculkan karena ada penambahan aditif detergent (pembersih)dan dispersant (pengikat kotoran). Mesin diesel yang beroperasi dengan bahan bakar solar yang mengandung kandungan sulfur lebih tinggi disbanding bensin akan membutuhkan alkali untuk menetralkan asam yang terbentuk di ruang bakar. Kandungan alkali pada oli yang dinyatakan dengan TBN ini yang akan membantu menetralkan asam tadi. Makin lama TBN makin berkurang dan itulah salah satu parameter penggantian oli.Sementara TBN pada oli mesin bensin lebih rendah karena kandungan sulfur pada bahan baker bensin lebih kecil disamping itu pada mesin bensin tidak terjadi pembentukan soot (jelaga) sehebat mesin diesel yang mengharuskan adanya detergent dan dispersant dalam jumlah banyak. Perlu diperhatikan soot yang menggumpal dapat membuat filter oli tersumbat.

Oleh karena itu sudah jelas bahwa oli mesin bensin tidak direkomendasikan untuk penggunaan di mesin diesel karena TBN-nya kurang. Tapi oli mesin diesel masih dapat digunakan pada mesin bensin tapi hanya untuk jangka waktu tertentu saja. Mengapa demikian karena dengan kandungan alkali yang berlebih padahal jumlah sulfur yang dinetralkan tidak terlalu banyak, akan mengakibatkan adanya residu alkali yang justru bersifat abrasif pada mesin bensin.

Semoga penjelasan saya cukup membantu. Apabila ada pertanyaan berkaitan dengan lubricant atau lubrication silakan ajukan ke saya. Mudah-mudahan saya dapat membantu memberikan solusi.

Terima kasih,

Tanggapan 3 – Nurudin

Untuk spek viskositas, property kedua pelumas (bensin dan diesel) adalah sama. Perbedaan kedua pelumas ini adalah kadar detergency (pembersihan kotoran) dan dispersancy (melarutkan kotoran), yang dinyatakan sebagai Total Base Number (TBN), memiliki satuan mg KOH/g.

Pelumas bensin pada umumnya didesain dengan TBN = 6-8 mg KOH/g

Pelumas diesel pada umumnya didesain dengan TBN = 11-50 mg KOH/g

Efek kekurangan TBN:

– pelumas tidak mampun menahan keasaman hasil pembakaran yang menjadi katalis untuk terjadinya korosi pada engine

Efek kelebihan TBN:

– Filter kemungkinan besar tersumbat, karena sebenarnya detergent dan deispersant ini adalah molekul padat polar (biasanya Mg dan Ca).

– Terjadi foaming, karena sifat detergent adalah membentuk foam, jadi perlu treatment anti foam. Jika terjadi foam maka lapisan2 film akan tergeser oleh foam yang tidak memiliki sifat lubrisitas. Jadi akan terjadi metal to metal contact.

Semoga bisa membantu.