Bagi rekan-rekan milis, bila ada yang punya pengalaman membuat surat Force Majeure untuk pekerjaan konstruksi yang terlambat karena adanya musim hujan dan terjadi tanah longsor. Data-data apa saja yang diperlukan untuk alasan terjadinya Force Majeure tersebut, mohonlah kiranya bisa sharing.

Tanya – hadi muttaqien

Dear rekan2 Milis,

Bagi rekan-rekan milis, bila ada yang punya pengalaman membuat surat Force Majeure untuk pekerjaan konstruksi yang terlambat karena adanya musim hujan dan terjadi tanah longsor. Data-data apa saja yang diperlukan untuk alasan terjadinya Force Majeure tersebut, mohonlah kiranya bisa sharing.
Sebelumnya di ucapkan terimakasih.

Tanggapan 1 – Cahyo Laksono Hadinoto

Salam kenal Rekan Hadi M.,

sekedar sharing aja ya, dulu sempat di proyek saya sebelumnya terkadi Force Majeure yg sifatnya Public Diease, Flue Babi H1N1, yg awalnya bermula di Mexico City dan merembet ke kota2 sekitarnya (kejadiannya amatlah cepat). Pada awal Announcement dari Local Authorities, dari pihak Field Control Department (Site PMT) sudah mulai melayangkan bahwa sesuai dengan Çontract kejadian tersebut sdh dapat dinyatakan sebagai Force Majeure kepada Clients. Surat itu tentunya di backup dengan data2 yg ada dalam hal ini pernyataan2 pemerintah setempat melalui surat kabar dan sebagainya. Selain itu kita juga tetap memonitor impact dari Force Majeure tersebut terhadap pelaksanaan konstruksi dilapangan yg tentunya dapat kita Claim kepada pihak Clients; sekali lagi tentu dengan bukti2 yg nyata berupa report2 harian, foto2 dan lain2nya.

Saran saya, sebelum menyatakan sebagai sebagai Force Majeure, pelajari dulu pasal demi pasal yg tercantum didalam Contract, apakah curah hujan yg tinggi dapat digolongkan kedalam Force Majeure? coba diskusikan kembali secara internal selain mempelajari pasal2 yg ada secara lebih detail.

Semoga informasi tersebut bermanfaat.

Tanggapan 2 – Alex Iskandar

Betul sekali pak Cahyo, semuanya dikembalikan lagi kepada pernyataan di kontrak terhadap pengertian force majeure (FM), sebagai dokumen bersama yang berisi kesepakatan para pihak. Dan tentunya hal ini memerlukan konsultasi dengan legal diperusahaan bapak tentang menyampaikan pernyataan ‘keadaan yang memaksa’ ini.

Sebenarnya komen ini harus dilakukan oleh pakar hukum dan contract specialist, namun AFAIK sekedar menambahkan diskusi ttg hal ini:

Pak Hadi,

Curah hujan yang tinggi, accesibiltas yang terganggu karena jalan yang becek dan rusak, biasanya (di perusahaan kami) sudah dinyatakan tersendiri dalam SOW kontrak dan ditambah lagi pada exhibit tersendiri mengenai jadwal kerja (Schedule). Dan disana kami dalam membuat kontrak juga sudah memberikan ‘pagar’ yang jelas tentang hal ini. Dimana kontraktor sudah harus mempertimbangkan faktor cuaca dan accesibilitas jalan dst. disitu kami tuliskan bahwa ‘contractor shalll consider and put allowance for weather downtime on the work schedule dst….’ Sehingga claim terhadap hujan akan sangat sulit bila disampaikan sebagai claim FM. Namun kembali lagi hal ini sangat tergantung T&C contract bapak.

Untuk tanah longsor, kemungkinan besar dapat dikategorikan sebagai FM.

Dan menyambung contoh yang disampaikan oleh pak Cahyo tentu bagi saya pribadi melihatnya sebagai FM, dan tentunya tepat sekali yang dilakukan adalah memonitor perkembangan, mencatat setiap efek terhadap schedule dan effect2 yang lain (estimated cost impact misalnya) yang ditimbulkannya, dengan memberikan data-data pendukung yang lain (seperti laporan cuaca dari lembaga yg resmi, foto dst…). Tentu hal ini perlu dilaporkan secara punctual kepada line management dan owner.

(Ini juga merupakan contoh yang nyata dari RISK Management, response and mitigition plan, dan merupakan bagian yang nyata dari Change Management.)

Kembali ke tanah longsor, bisa saja disampaikan melalui surat pemberitahuan kepada owner terhadap hal ini, di waktu yang tidak terlalu jauh, sehingga baik owner maupun kontraktor dapat memprediksi impact terhadap impact ini.

Karena harapan saya adalah dapat menerapkan change management dengan baik, mudah-mudahan case ini bukan sekedar ‘excuse’ yang dilakukan setelah menyadari bahwa project telah terlambat.

Tanggapan 3 – hadi muttaqien

Pak Alex dan Pak Cahyo, Terimakasih untuk sharing-nya.

Data2 yang saya pakai dari BMG dan foto-foto tanah longsor.

Dasar perhitungannya adalah ; karena kejadian tanah longsor terjadi 10 hari bulan bersangkutan, data yang saya pakai juga data curah hujan 10 hari bulan bersangkutan berbanding dengan 10 hari bulan pada tahun tahun sebelumnya, didapat Nilai Perbandingan = 230%, berarti diatas curah hujan diatas normal yang Nilai Perbandingan-nya diatas 115% (Nilai Perbandingan Normal= 85% s/d 115%).
Mohon koreksinya bila perhitungan diatas perlu di perbaiki, atau mungkin teman2 punya pendapat lain?