Kenapa dikes (orang biasa juga bilang “bundwall”) diperlukan? Saya menganggap storage tank yang dipermasalahkan di sini adalah untuk keperluan meyimpan minyak tanah ( crude oil) yang merupakan flammable. Sejatinya perlu tidaknya dikes ini digunakan/dibangun adalah bergantung pada persepsi resiko yang dianut oleh manajemen atau lingkungan setempat. Jika emamg manajemen setempat/penduduk sekitar menganggap bahwa kebakaran dan pencemaran lingkungan adalah hal yang bisa diterima yah tidak perlu susah susah lah membangun dikes. Pernah dalam satu acara TV swasta dikisahkan tentang para penambang minyak tradisional di Cepu/Bojonegoro yang bekerja dengan menggunakan fisik. Saya melihat penampungan minyak mentahnya hanya berupa kubangan biasa saja dan cara mentransportasikan minyak dari satu tempat ke tempat lain yah dengan membuat selokan atau menciduknya dengan ember jika secara gravitational tidak/susah dialirkan. Dalam kasus ini sama sekali mereka tidak membangun dikes-dikes an.

Tanya – Fahmie

Rekan-rekan milis migas,

Nama saya arief fahmi, saya sudah lama mengikuti perkembangan di miils namun baru kali ini memberanikan diri untuk bertanya ke forum milis ini. aya mengalami masalah dalam mendesain tangki penyimpanan (storage tank). yang menjadi kendala adalah perlu tidaknya pemasangan ‘Dike’. apakah rekan2 mengetahui standar yang digunakan untuk menentukan perlu tidaknya sebuah storage tank dipasang dike? apakah ini kaitannya dengan safety issue atau environmental issue?

Terima kasih bantuan dan informasinya.

Tanggapan 1 – Suryanto, Slamet

Arief,

Bergantung kepada isi tanki dan di lokasi seperti apa. Kalau berkaitan dengan hazardous materials, hukumnya wajib silakan merujuk ke NFPA 30 (umum), 59 dan 59A (LNG) maupun standar lain, seperti DOT 49, peraturan migas nasional kalau tidak keliru juga ada. Isu yang diangkat adalah keduanya, safety dan environment.

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Dear All,

Kenapa dikes (orang biasa juga biasa bilang ‘bundwall’) diperlukan?
Saya menganggap storage tank yang and permasalahkan di sini adalah untuk keperluan menimpan minyak mentah (crude oil) yang merupakan flammable.

Sejatinya perlu tidaknya dikes ini digunakan/dibangun adalah bergantung pada persepsi resiko yang dianut oleh manajemen atau lingkungan setempat. Jika memang manajemen setempat / penduduk sekitar menganggap bahwa kebakaran dan pencemaran lingkungan adalah hal yang bisa diterima yah tidak perlu susah susah lah membangun dikes. Pernah dalam satu acara TV swasta dikisahkan tentang para penambang minyak tradisional di Cepu/Bojonegoro yang bekerja dengan menggunakan fisik. Saya melihat penampungan minyak mentahnya hanya berupa kubangan biasa saja dan cara mentransportasikan minyak dari satu tempat ke tempat lain yah dengan membuat selokan atau menciduknya dengan ember jika secara gravitational tidak/susah dialirkan. Dalam kasus ini sama sekali mereka tidak membangun dikes-dikes an…

Sedikit melebar dari yang diutarakan Mas Slamet saya melihat keuntungan membangun dikes adalah sangat banyak dari sekedar safety + environmental, antara lain:

Environmentally Greener, dalam hal ini konsideran yang paling masuk akal adalah memitigasi/membatasi efek dari bencana kebocoran minyak mentah yang terjadi menjadi hanya tertampung dalam dikes saja. Disamping itu dengan membangun dikes, kebocoran bisa dialirkan dengan terkontrol menuju satu titik tertentu di dalam dikes. Pencemaran lingkungan dan ‘seepage’ minyak mentah ke lingkungan bisa diminimalisir dengan dikes ini.

Maintenance Easier, Dikes mampu mencegah masuknya bocoran minyak mentah ke sewer atau open drain system. Masuknya minyak mentah ke open drain system akan menambah beban peralatan pemisah minyak yang ada di hilir seperti misalnya corrugated plate interceptor (CPI) separator atau gas flotation unit (GFU). Crude oil surge ini berpotensi merusak kedua peralatan tersebut, setidaknya membutuhkan beaya perawatan (maintenance). Lebih ke arah hilir, crude oil surge ini akan membuat asap pada burn pit lebih pekat yang pastinya akan mencemari lingkungan dan menyebabkan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas)

Costly Cheaper, Dikes menyediakan proses pemulihan bocoran minyak yang lebih baik. Proses bioremediasi terhadap tanah yang tercemar minyak diyakini selain membutuhkan waktu yang lama juga kurang efisien dan membutuhkan banyak beaya (buat ngasih makan bakteri). Dengan dikes, proses pemulihan bocoran minyak bisa dilakukan dalam unit pemisah yang diletakkan di hilir atau dengan mentransportasikannya dari unit penampung yang diletakkan di samping dikes ke tempat lain di mana minyak ceceran tersebut disa diolah.

Inherently Safer, dikes dapat mencegah terjadinya BLEVE (boiling liquid expanding vapor) dalam kasus ada jet fire/pool fire. Cairan minyak mentah yang dibocorkan dari tangki akan dapat dengan segera dikurangi/dikosongkan sedemikian hingga ekspansi uap oleh minyak yang mendidih bisa diminimalkan.

Operability Simplier, dengan membangun dikes pengoperasian tangki atau kerangan dan pipa pipa yang berhubungan dengannya menjadi lebih sederhana dan mudah. Dalam kondisi emergency karena terdjadinya kebocoran, sang operator tidaklah perlu susah susah berjalan berjinjit atau tidak menyebabkan red-wing terbarunya basah dalam minyak sehingga dia bekerja dalam keadaan tenang dan fokus. Sebagai persyaratan dibangunnya dikes, kerangan (valve), fitting dan perpipaan harus diletakkan di luar dikes (as per NFPA 30)

Psycological Awarer, membangun dikes tentu saja akan membuat operator makin mahfum (aware) dengan keberadaan potensi bahaya dari unit storage tank, sehingga dalam bekerja di area tank farm, dia akan lebih berhati-hati. Ciri orang Indonesia yang umumnya sangat ceroboh (Mochtar Lubis, 1978) sehingga bisa menyebabkan kecelakaan atau kejadian hampir celaka (near miss) dapat dikurangi dengan membangun dikes yang secara psikologis menciptakan semacam ketergugahan untuk bekerja dengan selamat.

Catastrophic Avoider, Dikes berpotensi menyebarkan awan uap minyak yang flammable yang lebih kecil dibanding sistem tanpa dikes. Semakin besar dikes, semakin besar awan uap yang terbentuk. Studi oleh Brown dan konco-konconya, menunjukkan sistem yang tidak dilengkapi dengan dikes akan mengalami perbesaran (magnitude) sebesar 21 kali lipat dari suatu sistem yang dilengkapi dikes selebar 200 ft x 200 ft untuk tangki penyimpan propane yang bocor dengan laju pancar 250 lb/s.

Di samping keuntungan, tentu saja pembuatan dikes tidaklah lepas dari keterbatasan atau bahkan bisa jadi malah membahayakan sebagaimana uraian di bawah ini:

Berpotensi menampung air hujan/air pemadam. Dalam keadaan hujan deras dan sistem tangki penyimpan mengalami kebocoran maka minyak mentah yang notabene lebih ringan dari pada air akan berada di lapisan paling atas dan berpotensi menembus bundwall yang tingginya paling rendah 18 inch (0.46 m), dalam kasus ini, pembangunan dikes malah membahayakan. Kasus yang identik adalah jika terjadi kebocoran dan diikuti dengan kebakaran (pool fire), dan saking gugupnya tim bomba (pemadam kebakaran) menyemprot kebakaran tersebut dengan brutal sedemikian hinga air memnuhi dikes dan malah menyebarkan api ke luar dikes, WOW, akan menyebabkan terjadinya efek domino.

Dalam kasus angin setempat bertiup cukup kencang (lebih dari 6 m/s) kejadian sebaliknya dari keuntungan nomor 7 di atas akan terjadi, semakin lebar dikes semakin berpotensi menyebarkan awan uap. Maka patut dipertimbangkan keadaan cuaca ini.

Terlepas dari standar standar yang dinukil pak Slamet di bawah ini, suatu Quantitave Risk Assessment (mungkin) perlu dipertimbangkan untuk dilakukan (sebenarnya tergantung dari rekomendasi PHA (Process Hazard Analysis) yang telah dilakukan sebelumnya).

Semoga memberi gambaran!

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut :