Proses bongkar muat berhubungan erat dengan stabilitas kapal, setiap kapal mempunyai hydrostatic properties yang berbeda, jadi jika hendak mengetahui ada tidak softwarenya, cek saja ke autoship, GHS, GLM, SeaSafe ataupun program program stabilitas lainnya. Mereka akan customize softwarenya agar bisa dipakai langsung, ataupun kita customize sendiri seperti pada GHS misalnya.

Tanya – Fariz Maulana (Chicco)

Kepada semua anggota milist Migas,

Saya mohon bantuan untuk literatur tentang cargo handling (bongkar muat ) untuk kapal tanker, dengan muatan crude oil. literatur itu bisa mengenai standart-standart yang dibutuhkan, masalah cargo oil treatment, international shore connections, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan cargo handling untuk kapal tanker dengan muatan crude oil.
litaretur tersebut akan sangat membantu, untuk menyelesaikan tugas kuliah saya.

Tanggapan 1 – Sholeh Sudjarwoko

Bisa dilihat a.l. di Recommendation for Oil Tanker Manifolds and Associated Equipment dari OCIMF (Oil Companies International Marine Forum), 1991.

Tanggapan 2 – trika pitana

Hallo Faiz,

Mengenai standar dan prosedur secara garis besar saja bisa dilihat di IMO website (tidak detail), seperti masalah LOT (load on top), perlu apa tidaknya slop tank, kemudian COW (crude oil washing). Ini semua dapat dilihat dalam MARPOL annex 1 oil pollution prevention.Perlu atau tidak adanya reception facility di tiap port, apa yang harus dilakukan jika tidak ada reception facility.

Berapa kandungan oil yang diperbolehkan untuk dikeluarkan ke laut dalam ppm, semua bisa dilihat dalam MARPOL 73/78 annex 1. Dan peralatan apa saja yang harus dilengkapi semua dijelaskan dalam annex 1.

Mengenai inert gas system dapat dilihat dalam ISGOT book, ini udah sangat cukup dan komplet. Menegai regulasi yang harus dilakukan bisa dilihat dalam SOLAS, tergantung berapa besar kapal (ton deadweight) dan apa saja persyaratnnya.

itu aja faiz, kalo masih ada pertanyaan, saya akan berusaha menjawab.

Tanggapan 3 – onei

Ada software simulasi namanya ‘ProSched’ untuk tanker load scheduling & production bisa download demonya di www.ingenious.cc

Tanggapan 4 – Ruddy Setiawan

Mas _//Onei,

Kalau software simulasi untuk Bongkar-Muat Kontainer ada gak?

Tanggapan 5 – onei

Mas Ruddy,

Bongkar-Muat kontainer saya belum pernah tahu, tapi kayaknya bisa pakai SAP, atau perhitungan optimasi pakai Visual Basic bisa juga.

Tanggapan 6 – rozaq

Pak Rudy,

Proses bongkar muat berhubungan erat dengan stabilitas kapal, setiap kapal mempunyai hydrostatic properties yang berbeda, jadi kalo mo tau ada nggak softwarenya, pak rudy coba cek aja ke autoship,GHS,GLM,SeaSafe ataupun program program stabilitas lainnya. Mereka akan customize softwarenya agar bisa dipakai lansung, atupun kita customize sendiri seperti pada GHS misalnya.

Tanggapan 7 – iwan aryawan

Mas Ruddy mas Onei,

Hanya ngingetin lagi kalau setiap distribusi beban di kapal itu sangat mempengaruhi stabilitas dan kekuatan kapal. Kita bisa melakukan optimasi berdasarkan variabel yang dikehendaki (waktu untuk bongkar muat misalnya). Tapi kita harus tau pasti tentang margin yang diperbolehkan untuk stabilitas dan kekuatan kapalnya.

Untuk kontainer, faktor stabilitas mungkin lebih sensitif. Soalnya lokasi cog (centre of gravitasi)-nya biasanya tinggi diatas keel. Selain longitudinal strength, tosional strength juga patut diperhitungkan. Karena kapal kontainer itu biasanya open deck. Untuk tanker, faktor stabilitas ‘biasanya’ tidak terlalu masalah. Tapi harus tetap hati2 karena tanker stability marginnya terbatas, karena biasanya freeboardnya juga terbatas. Selain longitudinal strength, local strengths seperti bulkheads, frames dan stringers harus diperhitungkan.

Saran saya, untuk real case jangan menggunakan software sembarangan karena kesalahan sedikit bisa berakibat fatal. Untuk kapal-kapal yang ber CLASS (oleh salah satu biro klasifikasi: ABS, DNV, LR dll), setiap stowage plan harus diverifikasi oleh biro klasifikasinya. Dari sini bisa diartikan betapa pentingnya stowage plan tersebut.

Tanggapan 8 – onei

Mas Iwan,Mas Ruddy

Saya setuju tentang penjelasan dari Mas Iwan. Memang kalo masalah loading tanker harus banyak sekali yang dihitung dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Kita juga tidak bisa sembarangan berpatokan terhadap hasil simulasi atau perhitungan yang dilakukan oleh software. Namanya komputer dan softwarenya sebenarnya hanya alat bantu saja, yang jelas semua hal tersebut harus diverifikasi oleh biro klasifikasinya Tentang software untuk scheduling bongkar muat kontainer, saya ingat pernah baca review tentang software yang bisa menghitung kapasitas & beban untuk kelayakan/kecukupan order pengiriman. Faktor2 yang diinput antara lain : ukuran dimensi, beban, isi, biaya, kapasitas angkut. Saya lupa namanya, mungkin rekan2 ada yang tahu nama softwarenya?

Tanggapan 9 – setyo nugroho

Mas Iwan, Mas Rudy, Mas Onei, Mas Rozak dkk
Temanya menarik, terlebih lagi dekat dg pekerjaan. Mhn dikoreksi jika ada yang tidak tepat.

Untuk angkutan peti kemas world-service: ada dua pekerjaan stowage planning untuk kapal, satu buat terminal dan yang kedua buat perusahaan pelayaran. Yang pertama bersifat jangka pendek. Pada saat kapal menjelang tiba, terminal membuat stowage plan berdasara draft stowage plan yg disarankan oleh perusahaan pelayaran. Mereka akan mengkoreksi dimana perlu, biasanya jika berhubungan dengan barang berbahaya. Barang berbahaya yg diatur oleh IMDG Codes di praktek masih memerlukan interpretasi, terutama jika dlm satu kontainer ada beberapa kelas brg berbahaya. Di sini peran terminal untuk mengkoreksi dan mengecek dg syahbandar atau instansi yg berwenang untuk urusan ini. Ini menyangkut otoritas pula, kapal yg berangkat harus dlm keadaan laik laut.

Yg berikutnya, spt yg disinggung di atas, stowage plan dibuat pula oleh perusahaan pelayaran. Ini berjangka lebih panjang. Krn loading list tidak pernah akurat dan tidak pernah persis. Apa lagi jika di dalamnya ada barang breakbulk. Dan dipersulit jika tidak ada batasan waktu akhir barang harus masuk (closing time) seperti di kebanyakan terminal kontainer di Eropa dan di terminal pelabuhan antar pulau di Indonesia.

Menambahkan yg disebut mas Iwan kemarin: faktor fasilitas terminal, seperti kedalaman air dan crane split. Crane split menyangkut ketersediaan kran (berikut performance-nya, kecepatan b/m, poss. breakdowns, kemampuan angkat dua box ber-sama2).

Situasi di atas analog untuk angkutan barang cair (kimia, atau minyak) atau barang curah kering (batubara, padi2an), dg beberapa perbedaan.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Tanggapan 10 – trika pitana

Dear Teman semua,

Untuk sofware cargo handling yang mempertimbangkan stabilitas dapat didapat di :

kockum sonic, coba liat di websitnya http://www.kockumsonics.com/ dan http://www.napa.fi/

semoga bisa membantu, ada versi demo untuk napa website, untuk perencanaan cargo, baik itu tanker, bulk carrier maupun container.