Walaupun namanya Humidity Room, biasanya untuk menyimpan barang barang kritis tersebut diperlukan ruang yang ‘tidak humid’ lho, coba lihat requirement dari masing masing barang kritis tersebut karena biasanya berbeda beda yaitu kalau mekanikal cenderung se rendah rendahnya supaya tidak berkarat sedangkan yang elektronics tidak boleh terlalu rendahdan tidak boleh terlalu tinggi agar tidak berkarat dan tidak menimbulkan potensi elektrostatik. Karena referensinya dari iklim diluar negeri yang kebanyakan humidity nya rendah, maka dinamakan Humidity Room. Sedangkan di Indonesia, kondisi Humidity diluar sangat tinggi yaitu diatas 70%, jadi yang jadi masalah disini adalah infiltrasi udara luar yang masuk kedalam ruangan penyimpan. Untuk barang barang kritis anda, solusi yang paling murah adalah dengan mengisolasi ruang penyimpan anda dan juga tidak perlu ada fresh air (kecuali kalau ada orang yang selalu bekerja didalamnya) dan gunakan Portable deHumidifier sehingga biaya listriknya juga murah.

Tanya – Yohanes Subono – EGD

Rekan – rekan Milis Yth.,

Saya sedang menyiapkan design sebuah Humidity Room yang rencana untuk menyimpan Rotor Turbine dan critical equipment yang lain. Sekiranya ada rekan – rekan yang mau sharing knowledge memberi pencerahan sangat saya harapkan.
Terima kasih ata perhatiannya.

Tanggapan 1 – Agus Top

Kelembaban dan suhu udara dalam laboratorium saya di Jerman di kontrol melalui mekanisme yang hampir serupa dengan mekanisme pengontrolan kelembaban dan suhu udara pada ‘simple climate chamber’. Kalau pengaturan suhu ruangan menurut saya tidak terlalu sulit dan istimewa. Pengaturan kelembaban udara dapat dilakukan dengan mencampur udara kering dan udara basah dengan kecepatan pengaliran yang diatur dengan teliti. Sensor kelembaban udara ditempatkan dalam ruangan untuk mengukur kelembaban udara sebenarnya yang kemudian dengan mekanisme ‘closed loop’ memberikan ‘feedback’ kepada pengatur kelembaban udara. Kalau pengatur kelembaban udaranya saya kurang tahu jenisnya tapi sensor pengukur kelembaban udaranya bisa dipakai produk dari Vaisala (Finlandia). Coba saja dicek di websitenya (www.vaisala.com) kalau-kalau pengontrol kelembaban udaranya juga tersedia.

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 2 – Rama Royani

Menurut pendapat saya, walaupun namanya Humidity Room, biasanya untuk menyimpan barang barang kritis tersebut diperlukan ruang yang ‘tidak humid’lho, coba lihat requirement dari masing masing barang kritis tersebut karena biasanya berbeda beda yaitu kalau mekanikal cenderung se rendah rendahnya supaya tidak berkarat sedangkan yang elektronics tidak boleh terlalu rendahdan tidak boleh terlalu tinggi agar tidak berkarat dan tidak menimbulkanpotensi elektrostatik. Karena referensinya dari iklim diluar negeri yang kebanyakan humidity nyarendah, maka dinamakan Humidity Room. sedangkan di Indonesia, kondisi Humidity diluar sangat tinggi yaitu diatas70%, jadi yang jadi masalah disini adalah infiltrasi udara luar yang masukkedalam ruangan penyimpan.Untuk barang barang kritis anda, solusi yang paling murah adalah dengan mengisolasi ruang penyimpan anda dan juga tidak perlu ada fresh air (kecuali kalau ada orang yang selalu bekerja didalamnya) dan gunakan Portable deHumidifier sehingga biaya listriknya juga murah. Kalau ruangannya gede dan tidak bisa di cover oleh humidifier tersebut, ya pakai AC biasa untuk mendinginkan dan menurunkan kelembaban ruangan plus Heater untuk mengontrol Temperaturnya.atau kalau begitu kritisnya pakai yang lebih mahal dan canggih, pakai dehumidifier.

semoga ini bisa memberikan pencerahan.

Tanggapan 3 – Sutanto

Mas Rama ysh.,

Sekedar informasi, Pak Nurudin dan tim-nya berhasil membuat ‘silica-gel’ dari sekam padi.Silica-gel yang biasanya untuk mengurangi kelembaban pada paking barang-barang elektronik. Saya sudah lihat sendiri di Lab. Bahan TF. Info lebih lengkap tentunya dari ybs.

Terima kasih

Tanggapan 4 – Agus Top

Sebetulnya metode yang sederhana untuk mengontrol kelembaban udara adalah dengan menggunakan larutan garam. Sebagai informasi larutan jenuh garam dapur (NaCl) mempunyai kelembaban uap air di atasnya sebesar 75.3%. Tetapi tentunya perlu juga diperhatikan factor higienisnya. Soalnya kalau kita menggunakan larutan tersebut dengan jumlah yang cukup banyak maka kemungkinan larutannya bisa menjadi tempat berkembang biak bakteri-bakteri. Kalau menggunakan AC memang kelembaban udara bisa diturunkan tetapi permasalahannya adalah tidak bisa dikontrol. Untuk peralatan-peralatan yang membutuhkan control kelembaban udara yang cukup akurat seperti di laboratorium saya, penggunaan AC menurut saya tidak cocok. Menurut saya pengaturan kelembaban udara dengan menggunakan metode pencampuran udara basah dan udara kering tidak terlalu mahal. Setelah saya perhatikan selama saya di sini, pembuatan alat pengontrol kelembaban udara ruangan bisa dilakukan juga di tanah air, kecuali mungkin sensor kelembabannya yang harus diimpor. Tetapi secara tidak sengaja saya sudah menemukan perusahaan pembuat sensor kelembaban yang harganya sangat murah yaitu seharga 12 euro perbuah
(jauh lebih murah dari vaisala yang kemarin saya usulkan) tetapi sensor ini kurang bagus untuk mengukur kelembaban udara di atas 95%.