Pressure-relief valves should be mounted in a vertical upright position. Installation of a pressure relief valve in other than a vertical upright position may adversely affect its operation. The valve manufacturer should be consulted about any other mounting position, since mounting a pressure relief valve in other positions may cause a shift in the set pressure and a reduction in the degree of seat tightness.

Tanya – Hendra Messa

Halo rekan2 sekalian,

Saat ini sy sedang mempersiapkan utk melakukan safety review pada big petrochemical project yg siap utk start up.( PSSR ) .

Ada hal yg menarik, bahwa apa yg dirancang dg rancaknya by design dan dinyatakan dalam P&ID, saat instalasi di lapangan tak semudah spt di atas kertas, khususnya mengenai piping system dan instrument spt valve / actuator dll.

Ada sedikit perdebatan mengenai posisi pressure safety valve / relief valve, yg setahu saya harus selalu dalam posisi vertikal, namun karena keterbatasan lokasi pada piping system pada beberapa lokasi posisinya horizontal , saya coba remind tapi kontraktor menyerah juga, karena tak menemukan tempat yg pas utk penempatan nya secara vertikal, dan balik bertanya apa ada dasar standard nya , mungkin dari API , atau reference lain nya, sy nggak tahu juga hal tsb, krn hanya tahu secara teknis di lapangan.
mungkin ada teman yg bisa sharing, di reference standar yg mana yg menyatakan bahwa PSV harus dipasang dalam posisi vertikal ?

Hal lain, ialah pemasangan control valve atau actuator pada flare line, yg malah harus dalam posisi horizontal , karena kalau vertikal ada potensi menutup krn gravitasi ( kegagalan alat ) dan itu akan menyumbat flare ?( fail close position) , benarkah ?

Mungkin bisa share, darimana reference standard nya , bahwa utk hal tsb, malah valve harus dipasang dalam posisi horizontal.

Sy lihat juga dalam instalasi control valve, XV valve, actuator yg besar ukuran nya, tapi dipasang pada pipa yg kecil ukuran nya, sehingga potensial terjadi vibrasi bila terjadi pressure tinggi, selain itu juga banyak ditemukan pada satu pipa dipasang beberapa buah actuator/control valve, spt janggal juga dan secara akal sehat tidak rigid ( tidak kokoh konstruksi nya ) , sekali lagi hal yg mudah di P&ID, ternyata rumit juga saat instalasi riel nya , mungkin ada yg tahu, apakah ada standard juga mengenai perbandingan ukuran valve/actuator dg ukuran pipa utk mencegah jgn sampai terjadi valve/actuator ukuran besar dipasang pada pipa yg kecil,

Rekan2 yg kerja di refinery, gas processing atau petrochemical , sy kira banyak menemui hal tsb di lapangan, mohon sharing nya dan sy kira akan jadi pelajaran berharga juga bagi kita, betapa hal yg sederhana di kertas ( P&ID ) menjadi begitu rumit dan tak praktis dalam realita nya.

Terima kasih banyak.

Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah

Hmm kasus menarik Mas Hendra …

Sebelum melakukan PSSR biasanya kalo saya akan walk down seluruh fasilitas termasuk manjat2 jika diperlukan. Cari tahu apakah posisi semua valve itu accessible, handlenya apakah terjangkau dan sudutnya memungkinkan untuk dioperasikan. Tekniknya saya ambil foto jika ada temuan, cocokkan dengan risk matrix, sesuaikan dengan safety in design atau ergonomic approach termasuk relief valve dan buat laporannya berikut rekomendasinya. Sebelum laporan diluncurkan cross check dengan expert process, mechanical, QA/QC, piping sesuai keperluan agar rekomendasinya memang bisa diterapkan.

Saya tidak tahu perusahaan Mas Hendra mengacu pada standard apa, namun kalo di tempat saya saat ini Alhamdulillah ada panduan ergonomic approachnya dan valve itu diklasifikasi sehingga jenis valve katakan valve no. 1 maka valve ini harus dipastikan akses, kemudahan operasional, aspek operasional (akibat dari plug, wax, dll.) harus diperhatikan lebih jeli dan sesuai peruntukkannya. Kalo class valve 2 mungkin dapat dikatakan aturannya bisa lebih longgar. Harusnya plot plan, isometrik bahkan jika ada PDMSnya dilihat saat kontraktor tersebut akan memasang, jika ada perubahan maka tidak akan seextrim tersebut harus diubah.

Jika memang begitu dan harus diubah, coba ajukan teknikal query ke mechanical dan process engineernya dengan maksud menanyakan servicenya apakah akan tetap terjaga dengan perubahan routing yg dilakukan ?

Setidaknya cross check dengan expert lain perlu dilakukan sebelum kita mengajukan rekomendasi ini dan itu. Maaf, saya tidak bisa to the point memberi saran karena tidak tahu kondisi real termasuk bagaimana kondisi fluida dan processnya.

Mengenai sumbatan mungkin fluidanya berpotensi nge-plug line dan jam actuatornya walau akan dibuang ke flare kalo dipasang vertical, ini mungkin argumen teman tersebut. Mungkin specnya perlu dipikirkan apakah perlu diubah agar sesuai dengan kondisi instalasinya.

Ini hanya sekedar urun rembug saja, maaf mungkin tidak sempat memberi yg to the point karena keterbatasan waktu penulisan. CMIIW.

Tanggapan 2 – Weby

Halo juga Pak Hendra Messa,

Saya sudah lama tidak menangani PSV dan agak-agak lupa sedikit. Rujukan yang paling sering dipakai mengenai relief valve di industri migas adalah API 520 dan untuk kasus pak Hendra sepertinya bisa merujuk ke bagian 9.4 mengenai Mounting Position. Disitu disebutkan:

‘Pressure-relief valves should be mounted in a vertical upright position. Installation of a pressure relief valve in other than a vertical upright position may adversely affect its operation. The valve manufacturer should be consulted about any other mounting position, since mounting a pressure relief valve in other positions may cause a shift in the set pressure and a reduction in the degree of seat tightness.’

Ada kemungkinan terjadi seperti yang disebutkan API, namun – seperti dugaan saya sebelum membaca ulang API-520 – perlu berkonsultasi dengan manufacturer terlebih dahulu. Ada kemungkinan juga manufacturer tidak mau ambil resiko dengan mengatakan ‘tidak bisa menjamin pemasangan seperti ini’, yang pusing akhirnya perusahaan pak Hendra/pak Hendra sendiri. Saya bukan ahli PSV, tetapi jika konfigurasi pipa seperti ini sudah tidak bisa diubah, jalan lain meyakinkan semua pihak bahwa PSV tetap berfungsi adalah mempersering frekuensi pengetesan lebih dari PSV lain yang terpasang vertikal. Dalam pengetesannya bisa sekalian diperiksa kondisi pipa inlet dan material seat-nya untuk mengetahui tightness-nya. Ini pemikiran saya saja lho, bukan best practice atau pengalaman saya. Karena pada akhirnya kita semua berharap PSV berfungsi sebagaimana mestinya ketika diperlukan, begitu tho? Mungkin rekan-rekan lain ada masukan lain?

Mengenai fail status control valve harusnya sudah dipikirkan oleh plant designer apakah fail-close atau fail open. Kalau memang control valve itu mengalami kegagalan dan malah berbahaya kalau menutup, ya berarti fail-open adalah modus yang dipilih. Saya belum pernah menemui orientasi control valve diharuskan untuk horizontal dalam kasus ini. Mungkin rekan-rekan lain ada pengalaman/ide?

Mengenai ukuran control valve sebaiknya dikembalikan ke fungsi dasarnya. Fungsi control valve adalah meregulasi aliran/tekanan proses. Jika control valve itu membuka penuh (100% opening), maka control valve itu seperti layaknya pipa saja, logikanya ya harusnya ukuran control valve maksimum adalah sebesar pipanya. Jika control valve itu dikalkulasi/disizing, biasanya memang sering ditemui ukuran control valve lebih kecil dari pipanya, sekitar 1/2 atau 1/3-nya. Ukuran control valve yang sama dengan ukuran pipa sepertinya belum pernah saya temui, tetapi sangat mungkin ada di pabrik-pabrik lain. Kalau control valve lebih besar dari pipanya, yang harus dicek justru pipanya, jangan-jangan pipanya sebenarnya tidak cukup kapasitasnya..

Saya persilahkan rekan-rekan lain jika ingin mengoreksi atau menambahkan.
Terima kasih.

Tanggapan 3 – hotma parasian

Pak Hendra,

Saya coba bantu sedikit, biasanya sewaktu melakukan instalasi piping dilapangan, kita berpegang dengan isomatrik drawing, karena ini yang mendekati real dilapangan seperti ukuran dimensi dari alat(termasuk instrument), spool dan elevasi, sedangkan utk P&ID sebagai refer utk membenarkan apa yg telah kita pasang, CMIIW.

Tanggapan 4 – patra putra

Pak Hendra,

Memang tidah semudah itu pak.

P&ID tidak bisa langsung diterapkan begitu saja dilapangan, karena harus dikombinasikan dengan Plot-Plan, top view, side view.

Untuk mengetahui Posisi pipa dan valve tidak bisa dari P& ID kita bisa lihat dari gambar plan, potongan dan Isometric.

saya juga sedang membangun power plant dari awal,yang bukan reconstruction.

tapi saat saya mendesign terbentur dengan design Civil, yang sudah berjalan paralel. sehingga ‘kondisi Ideal’ tidak tercapai. jangankan menurut standart, mau dipasang saja tidak ada tempat. karena access, biasanya hal ini mengorbankan arrangement pipanya.

selama sistem masih berfungsi meski tidak sesuai standart, tidak apa-apa.

mengenai standart, saya belum menemukan standart yang baku, untuk design. hanya merefer kebeberapa buku saja.

Tanggapan 5 – M. Teguh

Pak Hendra,

Sependek pengetahuan saya, memang ada standard yang merekomendasikan (kata ‘should’) pemasangan PRV posisinya vertikal, yaitu ASME Section VIII div.1 di appendix M, Para M-12. Tapi memang tidak mandatory. Pemasangan berbeda, misalnya horizontal, diperbolehkan kalau terbukti sistem pressure reliefing nya bisa bekerja dengan baik. Coba didiskusikan saja dengan engineer yang mendesign sistem atau vendor PSV nya sapa tahu berbeda.

Tanggapan 6 – sugeng

Poin menarik masalah standard…

saya selalu tekankan kepada mahasiswa saya bahwa dalam keteknikan segala sesuatu harus selalu merujuk kepada standard yang ada. Menurut saya itu adalah cara menyelamatkan diri paling elegan dari jeratan hukum seandainya terjadi sesuatu.

Nah, jika ternyata standard keteknikan tidak mengatur, saya selalu katakan :
‘ You have to perform detail analysis on the problems, using mathematics if necessary ‘

Saran saya, lakukan detail analisis terhadap masalah tersebut dibawah untuk mengurangi ketergantungan kita kepada ‘keberuntungan’.