Untuk menyusun program kerja Maintenance asset perusahaan, bisa dimulai dengan program PM (Preventive Maintenance). PM ini bisa diistilahkan service rutin, baik berdasarkan waktu maupun running hours. Filosofinya : PM dilakukan utk mencegah terjadinya kerusakan tiba-tiba. Keterangan ini bisa didapat dari buku manual yang bida dilengkapi dengan info dari buku kuliah, internet maupun general/best practice. Misalnya emergency genset : PM bisa dilakukan weekly, monthly, quarterly & annually.

Tanya – Teddy Tommo

Saya seorang junior electrical engineer yang sedang menyusun program kerja untuk maintenance di perusahaan saya, saya ingin bertanya apabila ada senior – senior di milis migas yang dapat berbagi dengan saya, terima kasih.

Tanggapan 1 – nurul_kahir nurul_kahir@lintech

Dik Teddy:

Berarti wellcome to maintenance management.

Yang dik teddy perlukan:

1. List semua electrical equipment yang perlu dimaintain; daily or periodically

2. Identify type maintenance apa yg diperlukan: check routine, cleanup, repair atau replacemenT dan seberapa sering

3. Create workorder utk record pekerjaan yga dilalukan utk masing2x equipment, dan parts dan manhours dan specs pekerja yg dibutuhkan dan record yg complete dan backlog.

4. Google’maintenance management’ keluar banyak software untuk membantu. Silahkan dowload gratisan atau beli atau bikin pakai excell atau aCcess atau VB. Tgt kebutuhan.

Mudah2xan membantu;

Tanggapan 2 – Aries A. Yusuf

Mas Teddy,

Utk menyusun program kerja Maintenance asset perusahaan, bisa dimulai dengan program PM (Preventive Maintenance). PM ini bisa diistilahkan service rutin, baik berdasarkan waktu maupun running hours. Filosofinya : PM dilakukan utk mencegah terjadinya kerusakan tiba-tiba. Keterangan ini bisa didapat dari buku manual yang bida dilengkapi dengan info dari buku kuliah, internet maupun general/best practice.

Misalnya emergency genset : PM bisa dilakukan weekly, monthly, quarterly & annually.

Selanjutnya lengkapilah dengan check list. Untuk PM weekly, bagian (spare part) mana saja yg perlu dibaca / diadjust / dibersihkan / diganti / dst. Demikian juga untuk monthly PM dst.
Catatlah kegiatan tsb pada check list agar bisa ditrace back historical nya di kemudian hari.
Akan lebih bagus lagi jika setiap asset / equipment memiliki sebuah SOP Maintenance.

Shg secara total dalam periode setahun (bahkan long term), kita dapat susun due date / schedule PM dari masing2 equipment yang terdapat di plant kita. Ini akan membantu kita dalam penyediaan spare part, terutama utk mission critical equipment. Harapannya, jika terjadi down time, waktu perbaikan tidak terlalu lama gara-gara spart tidak ready.

Demikian semoga dapat sedikit membantu.

Tanggapan 3 – Taufiq Firmansyah

Salah satu cara yg umum biasanya:

1. Mengidentifikasi equipment2 yang termasuk kategori critical baik secara safety maupun finansial. hal ini dilakukan dengan risk assessment sederhana.

2. Setelah kategorinya dibagi antara non-critical dan critical, maintenance program dikembangkan dengan merujuk pada best practices perusahaan utk equipment tersebut, industrial standard, manufacturer’s recommendation dan historical performance (kalau ada). Program ini memiliki kumpulan tugas (tasks) yang harus dilakukan sebagai bagian dari preventive maintenance/PM (mis. function test)

3. Selama maintenance program dijalankan, kumpulkan historical data hasil pengetesan yang akan senantiasa dievaluasi sebagai continuous improvement process. Yang dievaluasi biasanya adalah jenis2 tugas yang dilakukan maupun frekuensinya.

4. Kalau ternyata performance equipment anda cukup bagus, boleh dipertimbangkan untuk mengurangi frekuensinya secara bertahap sehingga manhour untuk PM bisa dioptimalkan. Boleh juga menyederhanakan tugasnya.

5. Sebaliknya, jika ternyata dalam satu tahun berjalan ada failure pada critical equipment Anda, maka maintenance program Anda harus dievaluasi supaya tugasnya diganti dengan yang lebih efektif dan/atau frekuensinya ditambah.

Untuk hitung2an detailnya ada banyak buku di industri yang membahas masalah reliability ini, mis. seri buku2nya Heinz Bloch untuk machinery dan rotating equipments dan series buku2nya William M Goble untuk instrument reliability.

Tanggapan 4 – ivran amriadi

Untuk menuju suatu konsep modern maintenance, sebaiknya harus ada proporsi yang sesuai antara ORDC, PdM dan PM. Sebisa mungkin PM memilikiki proporsi yang paling kecil sehubungan dengan maintenance cost. Evaluasi terhadap ORDC, PM dan Pdm memang harus juga dilakukan tahunan berdasarkan equipment failure dan maintenance cost.

Tanggapan 5 – Aries A. Yusuf

Sedikit tambahan dari keterangan Pak Ivran, bahwa Maintenance Program adalah sebuah proses bertahap yang berkelanjutan dan tidak ada jalan pintas utk melakukannya.

Jadi, jika kita belum memiliki data base atau track record mengenai kegiatan maintenance, maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah PM.

Materi presentasi (terlampir) dari sebuah training ini mungkin bisa sedikit membantu memberikan gambaran teori pengimplementasian strategi modern maintenance.

Tanggapan 6 – Rosmana Eko Saputra

Yups, Untuk memulainya banyak metode yang bisa digunakan sehingga anda bisa mendapatkan apa yang disebut Maintenance Program, dimana nanti terdiri dari PM, PdM, dan ORDC. ORDC di sini maksudnya bukan task pengoperasian alat, tapi lebih ke arah task maintenance sederhana yang bisa dilakukan oleh seorang operator (jadi seperti pendelegasian tugas dari maintenance engineer ke operator). Misalnya untuk memonitor
temperatur suatu kontrol listrik, atau mengamati kondisi kabel dan koneksinya, atau ada beberapa hal basic lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan dengan skill operator, tentunya dengan definisi yang sudah dijelaskan (tertulis dalam ORDC).

Saat ini, dengan kemajuan teknologi PdM baik untuk mekanikal dan PM, kemungkinan PM memiliki proporsi kecil tapi ini tergantung dari konsekuensi equipment yang ada di sana. Kl memang lebih banyak berhubungan dengan safety dan environment, biasanya proporsi PM akan lebih banyak (tapi tidak melulu seperti itu). Namun, tidak sedikit saat ini sudah bisa dicover dengan PdM, walau itu sederhana… jadi jangan terfokus kl PdM harus memakai tool yang canggih. dan sebaiknya memang dievaluasi rutin, sekarang banyak metode2 untuk membuat Maintenance program, misalnya dengan metode reliability centered maintenance.

Seperti Pak Taufiq, sebelum merujuk ke scheduling, sebaiknya persiapan di planning harus bagus. yaitu step2 pelaksanaan maintenance (taskcard), material yang dibutuhkan, peralatan khusus, hazard, dan lain2. Yang terpenting adalah jarak inspeksi yang dibutuhkan dapat menggunakan dua hal: yaitu berdasarkan umur equipment atau berdasarkan P-F interval.

Setelah ini siap, maka anda akan mudah melakukan scheduling, bisa dikelompokkan berdasarkan waktu, atau event2 tertentu… misalnya plant shutdown, line shutdown, dsb…. Dan jangan lupa memang untuk mereview maintenance program kita baik atau tidak berdasarkan dari pengumpulan data yang sudah dilaksanakan. Karena itu, mintalah rekan2 engineer anda dalam pelaksanaannya selalu mengisi taskcard dengan baik dan isi segala temuan yang didapatkan.

Tanggapan 7 – Teddy Tommo

thanks untuk semua teman2 senior yang sudah memberi saya info tentang maintenance, skrg saya coba untuk menerapkan metode2 yang didapat untuk mendapatkan hasil yang optimal, regards to all.