Select Page

Kalau melihat dari pengertiannya, maka antara kontrak EPCM dengan EPC itu sendiri memang cukup berbeda. Dalam artian kontrak EPC itu sendiri menganut prinsip bahwa keseluruhan liabilities ditanggung oleh si kontraktor dalam pelaksanaan proyek. Biasanya kontrak ini bersifat ‘turn key’ project dimana dari mulai keseluruhan detail engineering sampai dengan construction itu seluruhnya dilakukan oleh si kontraktor itu sendiri. Lain halnya dengan EPCM, pada EPCM si kontraktor yang ditunjuk itu mewakili klien untuk melaksanakan pekerjaan daripada P dan C. Kenapa hanya Procurement dan Construction? Karena acuan daripada klien terhadap kegiatan itu adalah berasal dari detail engineering yang harus dilakukan oleh si kontraktor pada tahapan engineering. Jadi dalam kontrak EPCM ini kegiatan engineering akan sepenuhnya dilakukan oleh kontraktor, namun untuk P dan C bisa jadi dua skenario.

Tanya – herliana jahja

Dear Milister Migas Indonesia,

Salam kenal,,,saya herliana dan baru satu tahun bergabung dalam industri migas ini.
Mohon maaf sebelumnya kalau subject ini sudah pernah dibahas dalam milis ini sebelumnya,,karena sependek pengalaman saya bergabung di milis ini (yg umurnya jg baru seumur jagung, saya coba search dari posting sebelumnya yg relevant dengan hal yg ingin saya tanyakan,,namun belum menemukan jawaban yg detail (kalau ad yg punya info, mungkin bisa kirim link spy bisa saya jadikan referensi,,) Sekarang saya sedang mencoba memperluas pengetahuan khususnya mengenai jenis2 contract dalam industri konstruksi.

Maksudnya seperti ini, istilah EPC (eng, proc, and const) sepertinya sudah sangat dikenal oleh semua orang, dan biasa disebut sebagai main contractor (bertanggung jawab dalam menjalankan tiga fungsi diatas). Kemudian ada PMC (project management consultant) yg bertugas sebagai wakil dari company (client) untuk perform project. Kemudian ada lagi istilah EPCM (eng, proc, cons, management) yg di hire oleh client utk menjalankan fungsi eng, proc services and CM (mgk salah satu fungsinya membantu client memilih construction contractor dalam proses bidding). Ada juga istilah EPCS (eng, proc, conts supervision) dan EPCC (eng, proc, const, comm). (..please cmiiw).

Sependek pengetahuan saya lagi, beberapa company yg salah satu servicenya adalah sebagai EPCM contohnya Fluor, Worley parsons, SKM. Pertanyaannya adalah:

1) apakah EPCM contract ini adalah common practice dalam construction industries di Australia? (krn saat mencoba searching mengenai Australian project, most of the contract disana berdasarkan tipe ini) dan apa yg menjadi alasan utama dipakainya sistem ini di Australia (apakah ada hubungan dengan labor union di sana,, atau ada Australian law yg menjadikan hal ini sebagai standar?)

2) siapa saja top 5 companies yg provide EPCM ini?

Mohon info dan bantuannya untuk mencerahkan masalah ini,, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih dan salam sejahtera untuk semuanya,,,semoga sehat selalu.

Salam hangat,Herliana-Anggota milis yg perlu banyak belajar dari senior2nya.

Tanggapan 1 – Ari Kurniawan

Dear Mbak Herliana

Saya beranikan diri untuk menjawab, tapi untuk para anggota millist mohon pendapat atau koreksinya lebih lanjut kalau kurang tepat, karena saya sendiri masih baru di bidang ini..

Kalau melihat dari pengertiannya, maka antara kontrak EPCM dengan EPC itu sendiri memang cukup berbeda.

Dalam artian begini kontrak EPC itu sendiri menganut prinsip bahwa keseluruhan liabilities ditanggung oleh si kontraktor dalam pelaksanaan proyek. Biasanya kontrak ini bersifat ‘turn key’ project dimana dari mulai keseluruhan detail engineering sampai dengan construction itu seluruhnya dilakukan oleh si kontraktor itu sendiri.

Lain halnya dengan EPCM, pada EPCM si kontraktor yang ditunjuk itu mewakili klien untuk melaksanakan pekerjaan daripada P dan C. Kenapa hanya Procurement dan Construction? Karena acuan daripada klien terhadap kegiatan itu adalah berasal dari detail engineering yang harus dilakukan oleh si kontraktor pada tahapan engineering. Jadi dalam kontrak EPCM ini kegiatan engineering akan sepenuhnya dilakukan oleh kontraktor, namun untuk P dan C bisa jadi dua skenario:

1. Skenario yang pertama adalah bisa saja klien memberikan keleluasaan kepada kontraktor atas nama klien untuk untuk melakukan pekerjaan procurement dan construction

2. Skenario yang kedua kontraktor hanya akan memberikan assist terhadap kegiatan procurement dan construction. Jadi tidak akan terlibat secara penuh dalam pelaksanaan pekerjaan procurement dan construction ini. Tetapi dari skenario diatas, apapun yang dipilih , karena konsep kontraknya adalah EPCM maka direct commitment (tanda tangan kontrak, liabilities, dan warranty) akan dibuat langsung antara klien dengan owner. Biasanya dalam kontrak ini liabilities dari si EPCM kontraktor hanya terbatas pada lingkup pekerjaan yang di detail engineering saja, misal design error, atau mistakes itu jadi tanggung jawab si kontraktor.

Menyangkut dengan pertanyaan mbak mengenai dunia konstruksi di australia yang biasanya menggunakan EPCM, menurut pendapat saya itu hanya terbatas dari nature si project saja apakah si klien lebih memilih menggunakan konsep ‘turn key’ project atau klien lebih memilih untuk tetap terlibat dalam proses Procurement dan Construction dari proyek tersebut.

Mohon pencerahan dari para anggota millist yang lain untuk masukan dan pendapatnya lebih lanjut.

Tanggapan 2 – herliana jahja

Pak Ari,

Terima kasih banyak atas penjelasannya. Sepertinya semua memang tergantung dari owner masing2 yang menginginkan jenis kontrak seperti apa.

Kalau ada yg berminat, kemarin saya menemukan link menarik yg relevan dengan topik ini,,singkatny disini dibahas definisi dari EPC dan EPCM serta perbandingan antara kedua jenis kontrak tersebut dari berbagai segi. mudah2an bisa bermanfaat juga buat yg lain.

http://www.prodigyengr.com/front/showcontent.aspx?fileid=73

Mohon pencerahan dan masukan dari anggota milist yg lain dan terima kasih sebelumnya.

Share This