Untuk analisa bearing tidak bisa menggunakan ISO 10816 atau 7919 karena ISO tersebut mencakup motor, pompa dsb kecuali yang mau dilakukan hanya analisa getaran biasa. Seingat saya malah ISO 10816 tidak mencakup mesin-mesin dengan RPM rendah, ISO tersebut mencakup motor industri, pompa, motor hidrolik, turbin gas, mesin resiprokating. Untuk analisa bearing butuh metode khusus seperti shock pulse, peakvue, enveloping, dsb. Metode2 tersebut ampuh buat mengukur vibrasi rolling bearing (ball dan needle/roller).
Cacat awal bearing muncul pada frekuensi tinggi sehingga tidak bisa dipakai proximity probe atau velocity. Harus pakai accelerometer untuk medapatkan data yang akurat.

Tanya – awang

Mohon bantuan rekan-rekan yang punya stantard atau reference/pengetahuan mengenai vibratiion limit (displacement) untuk bearing (rpm <500). Terimakasih atas bantuannya .

Tanggapan 1 – Ronny Hendra

Lama ga buka milis nih… Saya liat2 blm ada yang respon ya Pak ? Atau sudah ?

Mesinnya apa ya ? bearingnya apa ? awal2 bisa menggunakan ISO 10816 atau ISO 7919. Di situ di atur vibrasi berdasarkan daya mesin.

< 500 rpm, speed rendah bgt. Perlu analisa ekstra tuh Pak, atau nanti bakal dapat vibrasi yang smooth banget sepanjang masa, padahal mesin dah kepayahan. Boleh tau kenapa ngukur pakai displacement ? atau jangan2 probes nya proximity, dengan speed segitu?

Tanggapan 2 – Bimo Pratomo

Pak Ronny,

Analisa ekstra di sini maksud-nya analisa apa ya Pak ?

Asumsi saya roller bearing yg digunakan dalam case Pak Awang ini.

Sorry, malah menambah pertanyaan.

Tanggapan 3 – David Christian

Berhubung tugas akhir saya berhubungan dengan getaran dan bearing, saya coba bantu jawab. Untuk analisa bearing tidak bisa menggunakan ISO 10816 atau 7919 karena ISO tersebut mencakup motor, pompa dsb kecuali yang mau dilakukan hanya analisa getaran biasa. Seingat saya malah ISO 10816 tidak mencakup mesin-mesin dengan RPM rendah, ISO tersebut mencakup motor industri, pompa, motor hidrolik, turbin gas, mesin resiprokating. Untuk analisa bearing butuh metode khusus seperti shock pulse, peakvue, enveloping, dsb. Metode2 tersebut ampuh buat mengukur vibrasi rolling bearing (ball dan needle/roller).

Cacat awal bearing muncul pada frekuensi tinggi sehingga tidak bisa dipakai proximity probe atau velocity. Harus pakai accelerometer untuk medapatkan data yang akurat. Kalau boleh tahu, merk alat penganalisa getarannya apa ya? Soalnya tiap2 pabrikan punya metode sendiri-sendiri untuk menganalisa bearing (SKF–> enveloping, CSI–>Peakvue, SPM–>Shock pulse).

Tanggapan 4 – Ronny Hendra

Mas David,

Sebenarnya bisa saja menggunakan angka-angka limit ISO 10816 atau ISO 7919 untuk ‘analisa bearing’, bukan cuma ‘analisa getaran biasa’, asal dengan catatan jeli. Harus di bedakan antara limit dan diagnostic. ISO 10816 dan ISO 7919 cuma mengatur limit, namun tidak mengatur secara ‘spesifik’ diagnostic getaran.

Dari pengamatan saya, tidak juga selalu harus menggunakan accelerometer probes untuk melihat cacat awal bearing, hal ini bergantung juga kepada speed mesin, jenis bearing yang akan di analisa dan lain-lain (‘pakem’ yang di anut si penganalisa misalnya ?).

Memang menarik kalau kita diskusi soal diagnostic getaran mesin dan teknologinya. Kadang kala (kadang ini lho, jd blm tentu benar) hal ini juga berhubungan sisi komersil. Probes manufacturer misalnya ingin agar probes nya laku.. jadi di buatlah pakem bahwa jika anda menganalisa speed rendah, gunakan probes accalerometer dengan sensitivitas tinggi 500mV/g misalnya, dengan segala argumen yang mereka kemukakan. Atau pernah dengar teknologi REBAM bently ? itu lho modified eddy current probes untuk analisa roller element bearing ? menurut mereka itulah yang harus di lakukan. Tidak ada yang salah dengan itu, mereka punya argumen masing2, namun ujung2 nya penggunalah yang menentukan yang paling mereka percaya. Ada yang mau komentar ? monggo, dah lama nih ky-nya ga ada diskusi vibrasi atau saya yg kelewatan ya ?

Tanggapan 5 – santoso_ilham

Untuk analisis getaran..kunci utama nya adalah..pada si penganalisa..apa yang dia mau lihat atau cari..berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dia..setelah jelas apa yang dia mau..tinggal dipilih sistem sensor, pengukuran dan data akuisisi yang diperlukan. Apa yang mau dicari dan dilihat harus terdefinisikan dengan jelas..karna semua sistem sensor, pengukuran dan data akuosisi..memiliki keterbatasan range pengukuran dan parameter yg diukur. Untuk pemilihan sensor dan lain-lain sesuai dengan apa yg mau kita cari..baru kita bisa memanfaatkan info dari produk vendor..atau mendevelop sendiri..bisa kok.

Tanggapan 6 – JONO

(Ronny Hendra)

Sebenarnya bisa saja menggunakan angka-angka limit ISO 10816 atau ISO 7919 untuk ‘analisa bearing’, bukan cuma ‘analisa getaran biasa’, asal dengan catatan jeli. Harus di bedakan antara limit dan diagnostic. ISO 10816 dan ISO 7919 cuma mengatur limit, namun tidak mengatur secara ‘spesifik’ diagnostic getaran.

Mas Ronny,

ISO 10816-…. Berapakah yang bisa di jadikan parameter untuk ‘analisa Bearing’, saya belum pernah menemukannya ataupun ISO 7919 , saya juga belum menemukan hal-hal yang berhubungan dengan impact energy bearing ataupun gear , saya tidak pernah menjadikan ISO standard untuk menjadikan parameter dalam hal kerusakan bearing ataupun gear. Karena memang tidak ada standard secara internasional parameter tersebut, seperti yang saya tulis di email sebelumnya.

Tanggapan 7 – David Christian

Dear Pak,

Sepengetahuan saya, jika cacat awal bearing, getarannya sangat kecil dan akan bercampur dengan sinyal noise. Sejeli apapun kita membaca sinyal getarannya, saya akan ragukan itu adalah sinyal bearing yang rusak. Pengukuran getaran biasa hanya mengukur kisaran 10-1000 Hz. Cacat awal bearing muncul pada kisaran frekuensi 30 kHz. Karena itu gak bisa memakai velocity atau proximity karena keduanya punya sensitivitas di kisaran 1000 Hz. Jika frekuensi kerusakan bearing (BPFO, BPFI, BSF atau FTF) keluar dalam pengukuran getaran biasa (kisaran 1000 Hz) dan bersifat dominan maka saya pastikan bahwa bearing sudah rusak tahap 3 ( bisa dilihat cacatnya dengan mata telanjang).

Saya tidak setuju kalau harus menggunakan ISO 10816 untuk analisa bearing sejeli apapun membaca sinyal getarannya karena yang diatur dalam ISO adalah getaran mesin secara overall. Ketika bearing mendapatkan cacat awal yang tidak dapat dilihat oleh mata getarannya punya level yang rendah. Kalau menggunakan ISO 10816 sinyal ini pasti kalah oleh sinyal-sinyal unbalance, misalignment, dsb padahal sebenarnya bearing sudah rusak.

Saya setuju kalau tidak ada ISO yang mengatur batasan kerusakan bearing atau roda gigi. Semuanya tergantung pabrikan alat pendeteksi getarannya. Setiap pabrik punya standar yang berbeda-beda. Untuk modified eddy current saya belum pernah dengar karena menurut saya eddy current terjadi ketika ada gap antara bearing sleeve. Jadi ketika gapnya berubah-ubah maka arus eddynya jg berubah-ubah. Perubahan arus eddy yang dicatat dan diplot sebagai orbit. Kalau untuk roller bearing yang gapnya tetap gimana cara ngukurnya?

Teknik yang populer menurut saya adalah enveloping (SKF), peakvue (CSI) dan shockpulse (SPM). Hmmm terima kasih udah share banyak. Mudah2mudahan menambah ilmu atau meluruskan pengetahuan saya yang keliru.