Mengenai bisakah engineer menjadi supervisor, jawabannya bisa saja. Tetapi masalahnya adalah, jabatan supervisor atau manager, adalah jabatan dimana kita harus memimpin sekelompok orang (kecuali sekarang ini banyak jabatan yang judulnya aja manager tetapi kerjanya solo alias sendirian, tidak ada team atau department yg harus dipimpin) dan pekerjaan memimpin itu tidak mudah, dan tidak mudah pula dipelajari sebagaimana kita mempelajari rumus2 teknik. Tingkat kesulitannya sebetulnya tergantung, salah satunya adalah pada, siapa yg kita pimpin.

Tanya – Antonius Pandiangan

Halo teman2 oil&gas,

Apakah mungkin tugas seorang supervisor dihandle engineer begitu juga sebaliknya, seperti juga designer thd supervisor?
Ditunggu lho koment2nya dan terima kasih banyak sebelumnya.

Tanggapan 1 – dimas yudhanto

Pak Antonius,

ya bisa aja mas,

kalo Anda kerja di proyek konstruksi lapangan, Anda bisa temui supervisor/inspector dari kontraktor atau main kontraktor, background nya sarjana sastra Inggris, ekonomi atau administrasi.

saya sering menemuinya.

Tanggapan 2 – MiKiRoni Wijaya

Jawaban saya adalah bisa, seorang engineer itu harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah didesignnya pada saat engineering supaya dia pun teu apakah yang didesign itu sesuai dengan kondisi lapangan atau tidak..

Selain itu,juga akan menaikkan kompetensi engineer itu sendiri agar tidak dibohongi oleh orang-orang yang lama berkecimpung dilapangan..

Sekian tanggapan saya

Tanggapan 3 – Eko Drajat, Nugroho

Pak Antonius,

bisa saja tergantung kumpeni nya.

di kumpeni yg kecil ……. biasa nya satu orang bisa pegang semuanya. mulai tahap engineering nya, bahkan merangkap jd drafter juga …….. follow sampai fabrikasi ….. merangkap juga sampai construction dan commissioning ……………

tp utk kumpeni besar yg sdh establish, setiap job sdh ada personnel tersendiri yg bertanggung jawab.

Tanggapan 4 – muhammad rifai

Seharusnya nggak bisa….

Seseorang bisa mempunyai kemampuan (karena pengalaman) sbagai engineer dan supervisor juga designer… seperti pak Eko… beliau mungkin bisa suatu saat sbagai engineer, disaat lain jadi designer… tapi kalau seseorang hanya punya satu spesifikasi engineer (berkemampuan engineer saja).. dia tidak bisa ditugasi sbagai designer dan sebaliknya….

atau kalau pun bisa, kemungkinan besar kerjaannya tidak semulus kalau dikerjakan oleh yang berkompeten…

coba deh…

Tanggapan 5 – Eko Drajat, Nugroho

pak Rifai,

ideal nya memang seharus nya tidak bisa.

contoh saja ada displin sbb:

disipin engineer (mechanical/e & i/process/structure engineer => bagian perancangan menyusun feed, datasheet package, dll.

project engineer => yg mengkoordinir semua tahap kegiatan dari feed sampe commissioniong

construction engineer => coord semua pekerjaan lapangan spt fabrication ataupun site installasion sampai commissioning

commissioning engineer => coord semua kegiatan menjelang comissioning sehingga bisa lancar

ideal nya kurang lebih nya seperti itu. tapi di beberapa kumpeni ada mechanical engineer yg merangkap semua disiplin tsb ……………

Tanggapan 6 – riksha lenggana

Betul Pak Eko, saya sependapat.

Untuk level perusahaan dengan skala karyawan <50 orang, biasa nya satu orang merangkap bermacam-macam jabatan. Untuk meng-handle pekerjaan Supervisor yg sejatinya kita adalah Engineer, dibutuhkan pemahaman yg mendalam dari masing-masing job scope. yah, sukur-sukur 2 kerjaan yg di handle masih ada korelasinya, jadi tidak capek belajar sambil kerja.

Tanggapan 7 – Heru Afiat

Betul juga dengan apa yang dikatakan bung Eko.

Saya pernah mengalami sebagai mechanical engineer, ketika ada kerjaan dilapangan jabatan saya menjadi Site Manager. Bahkan pernah juga ketika dilapangan jabatan saya sebagai safety.
Jadi jangan kuatir bung Antonius….., selama gaji/ bayarannya tidak diturunkan jalankan saja dengan penuh keihlasan. Yang penting kita ambil hikmahnya saja yaitu jadi banyak pengalaman.

Tanggapan 8 – patra putra

Kalo baca Subyeknya seakan tidak percaya yaa pak? ๐Ÿ™‚

tapi ini benar benar terjadi di Kumpeni saya, Bukan kumpeni yang kecil, karena hampir di Setiap jalan layang ada namanya.

tapi kenyataannya seperti itu, Untuk design Mulai pekerjaan Drafter, Design MTO,Inspeksi hingga Supervisi Construction di pertanggung jawabkan kesaya sebagai engineer.

mungkin nanti diwaktu akan Commisiioning saya juga yang akan ditunjuk.

memang sukar dipercaya, tapi ini kenyataan yang terjadi, dan proyeknya bukanlah proyek kecil tapi proyek ratusan milyar.

bukan bermaksud sombong, tapi ini memang yang dialami oleh saya.

sekian sharing dari saya. mungkin ada yang memiliki pengalaman serupa.

Tanggapan 9 – Don Chicio

Apa yang saya alami mirip dengan Pak Patra, bahkan bisa dikatakan hampir sama. Sebagai engineer, malah sempat mengerjakan sebagian dutynya Personalia, Keuangan, Buyer, dll. Sedihnya, sempat harus membeli solar utk equipment dan kasur untuk para pekerja, pakai uang sendiri pula. (maaf, kok jadi curhat begini).

Sebenarnya memang dari sisi pembelajaran dan pengalaman ada keuntungannya, namun saya sempat merasa apa yang saya dapatkan kan tidak sebanding bila dibandingkan dengan tanggung jawab yang diterima.

Saat-saat mengerjakan hal-hal ini, saya merasa seperti kartu joker, yang bisa disisipkan dimana saja.

kalau bahasa proyeknya, kerjaannya prasmanan, makanannya nasi kotak. Atau, tepatnya lagi, All you can eat dengan flat price. hehe..kidding.

Tanggapan 10 รขโ‚ฌโ€œ jbsiagian

Tapi Pak kalo saya lihat sisi positifnya saja yaitu ilmu atau pengalaman kita nambah diluar bidang yg jd tanggung jawab kita. Bisa jadi nilai tambah kan in case pindah ke tempat baru. Misalnya kita sebagai engineer jadi dapat ilmu kepemimpinan lapangan jika harus turun ‘jadi’ supervisor. Memang tidak mengenakkan tapi bisa jadi modal untuk kedepannya…

Tanggapan 11 – Indra Prasetyo

Saya sependapat dengan Mas Johanes. Malah kalau saya, waktu jadi engineer dulu, saya yang minta kursus misalnya profitability and risk analysis supaya ngerti soal keekonomian dan analisa resiko, dan setelah kursusnya selesai, saya minta dikasih kerjaan yang berhubungan dengan itung2an keekonomian dan analisa resiko, kemudian saya banyak melibatkan diri dalam proses pembuatan kontrak dan prosedur (mulai dari kontrak pengadaan barang dan jasa, kontrak jual beli gas, prosedur pengiriman gas, kontrak BOO/BOT, dsb) serta pengadaan barang dan jasa, dari situ saya banyak dapat ilmu dan pengalaman mengenai seluk beluk kontrak dan pengadaan barang. Saya mendapati hal tsb sangat bermanfaat dan ilmu serta pengalaman tsb justru menjadi kelebihan dan (spt kata Mas Johanes) menjadi modal saya.

Mengenai bisakah engineer menjadi supervisor, jawabannya sebetulnya ya bisa saja. Tetapi masalahnya adalah, jabatan supervisor atau manager, adalah jabatan dimana kita harus memimpin sekelompok orang (kecuali sekarang ini banyak jabatan yang judulnya aja manager tetapi kerjanya solo alias sendirian, tidak ada team atau department yg harus dipimpin) dan pekerjaan memimpin itu tidak mudah, dan tidak mudah pula dipelajari sebagaimana kita mempelajari rumus2 teknik. Tingkat kesulitannya sebetulnya tergantung, salah satunya adalah pada, siapa yg kita pimpin. Saya, misalnya, pernah memimpin tim proyek yg terdiri dari engineer2 ‘cabutan’, maksudnya meskipun dalam proyek tsb mereka bekerja untuk saya, tetapi mereka bukan anak buah saya sungguhan karena mereka di-‘supply’ oleh/dari department lain atau perusahaan lain (kontraktor), dan setelah proyeknya selesai, ya timnya pun dibubarkan. Dalam case ini, meskipun kemampuan kepemimpinan (leadership skill) kita akan diuji, misalnya, dalam memberikan pengarahan, penjelasan, petunjuk, mendengarkan dan merangkum pendapat serta mengambil keputusan, dsb. tetapi saya tidak perlu memikirkan mengenai karir, masa depan dan kesejahteraan para anggota tim tsb karena toh mereka bukan anak buah saya. Yang lebih sulit adalah seperti sekarang dimana saya harus memimpin department sendiri. Artinya karir, perkembangan skill atau kemampuan, masa depan, dan kesejahteraan masing2 anak buah saya ada di tangan saya.

Bagaimana saya harus dapat memberikan motivasi, bimbingan, bersikap dan memberikan penilaian yang adil, berempati kepada bawahan, dan banyak lagi, itu semua menjadi tantangan tersendiri yang tentunya tidak pernah saya alami kalau atau ketika jadi engineer dulu. Yang paling berat adalah ketika saya harus mengambil keputusan untuk mem-PHK salah satu bawahan saya. Sebetulnya saya tidak ingin itu terjadi. Jadi ceritanya, sebelum saya masuk di perusahaan terakhir ini, orang tsb sudah kena SP 2 kali. Ketika saya masuk dan menjadi atasannya, sebetulnya saya sudah coba memberikan kesempatan kepada orang tsb untuk memperbaiki sikap dan kinerjanya, tetapi tidak ada perbaikan, malah menjadi semakin buruk. Meskipun demikian, ketika pada akhirnya manajemen mengambil keputusan (salah satunya adalah keputusan saya) utk memutuskan hubungan kerja dengan orang tsb, dan saya harus duduk berhadapan dengan orang tsb untuk memberitahukan kabar tsb, tetap hal tsb merupakan salah satu hal terberat yang pernah saya lakukan. Apalagi saya tahu bahwa orang tsb mempunyai keluarga, punya istri dan anak yg usianya hampir sama dengan usia anak saya. Kadang saya sering berpikir, apakah hal tsb terjadi karena saya bukan pemimpin yg baik? bukankah seharusnya saya mampu memberikan motivasi untuknya supaya kinerja dan sikapnya menjadi lebih baik??

Bagaimana pun pekerjaan memimpin itu tidak mudah, jauh lebih sulit daripada pekerjaan teknik. Pekerjaan teknik jauh lebih mudah dipelajari dan dipraktekkan. Artinya, apakah seorang engineer bisa menjadi seorang supervisor atau manager, jawabannya bisa saja, tetapi engineer yang paling baik, paling hebat dan paling berpengalaman sekalipun belum tentu dapat menjadi seorang supervisor atau manager yang baik.

Tanggapan 12 – uci20032000

Kalo engineer yg dari lulus sudah di oil co. Biasanya menguasai beberapa disiplin sekaligus. Misal dia mechanical, dia ngerti rotating, static, instrumen dan elektrikal. Padahal disiplin2 tersebut kalau di EPC co, ga ada yg merangkap. Semua disiplin sendiri2.