Over experienced atau over degree tidak jadi pertimbangan untuk masalah rekruitmen, yang menjadi masalah adalah tidak sesuai kriteria dan tidak sesuai kebutuhan bisnis. Perusahaan manapun akan memberikan kompensasi yang sangat besar untuk orang yang mempunyai kualifikasi tinggi dan dibutuhkan secara bisnis.

Tanya – U D

Dear All,

Saya mau tanya nih, berhubung saya masih tergolong fresh grad dan pengen apply ke chevron.

Sekitar 1 taun lalu (februari 2009) saya pernah apply dan ikut aptitude test, tapi gagal. setau saya, masih ada kesempetan buat coba 1x lagi sebagai fresh grad asal lebuh dari 1 tahun.

Setelah itu saya coba apply lagi sampai saat ini selalu ada comment ‘resume do not match with this job’.

saya rasa dengan kualifikasi saya masih bisa untuk apply ke chevron lagi.

apakah bermasalah ya kalo S2 apply ke yang requirement S1?

buat temen2 yang udah di chevron, tolong donk share pengalamannya mengenai masuk ke chevron.

apakah issue bisa test 1x lagi setelah lewat 1 tahun itu benar adanya???

terima kasih

Tanya – Johanes Anton Witono

Rekan UD,

Sebagai fresh graduate alangkah baiknya emailnya dilengkapi nama dan account emailnya juga mengindikasikan identitas yang benar.

Pengamatan dan opini saya untuk kasus aplikasi ke Chevron via EXPERD adalah semata-mata karena screening awal via web, (tampaknya) menggunakan sistem, artinya kalau memang spesifikasi pendidikan, pengalaman kerja, dll tidak benar2 cocok langsung ditolak, tidak peduli jika itu over-spesifikasi.

Maaf analisanya terlalu dangkal, belum dibuktikan secara ‘ilmiah’

Tanggapan 1 – Adhia ‘James’ Utama

Betul sekali Bung Anton, memang rekrutmen via sistem screening awalnya adalah data administrasi. Bila tidak sesuai kriteria dan requirement yang dibutuhkan maka secara otomatis akan di drop dari list applicant.

Over experienced atau over degree tidak jadi pertimbangan untuk masalah rekrutmen, yang menjadi masalah adalah tidak sesuai kriteria dan tidak sesuai kebutuhan bisnis. Perusahaan manapun akan memberikan kompensasi yang sangat besar untuk orang yang mempunyai kualifikasi tinggi dan dibutuhkan secara bisnis.

Tanggapan 2 – U D

Dear all,

memang salah satu alasan yang sangat logis adalah mengenai data administrasi.
mungkin bukan saya saja yang mengalami kasus demikian, masih banyak teman-teman seperjuangan saya yang mengalami kasus serupa. bahkan ada pula kasus yang lebih ekstrim dari apa yang saya alami mengenai kasus apply ke chevron ini.

Tanggapan 3 – yandhinur

Menambahkan komen bung James, di General Qualification-nya (dr website chevron.experd.com) ada keterangan seperti ini:

S1 Degree (S2/Master degree will be an advantage)

Jadi kalau bapak apply dengan ijazah S2, tidak masalah, malah mungkin akan menambah kompensasi yg diterima, jika pada akhirnya bapak di-hire..

Tanggapan 4 – iwan saputra

Mas U D,

Saya pernah ikut test Chevron 3 kali

1. Tahun 1996 sewaktu fresh engineer , gagal di Psikotest.

2. Tahun 2003 , lulus di Psikotest tapi gagal di wawancara, karena alasan mereka
saya tidak bekerja di lingkungan Oil & Gas. Memang waktu itu saya masih kerja
di Perkebunan Sawit.

3. Tahun 2007, gagal di wawancara, karena pada waktu itu yang ada posisi nya
hanya ada di Kalimantan sedangkan saya pengennya di Riau. disamping itu
tawaran kerjanya di offshore sedang saya biasa di Onshore.

4. Tahun 2009 dan 2010 , ini saya mencoba lagi tapi kayaknya nggak lulus administrasi.

Dan saya rasa Mas HD , harus menunggu minimal 2-3 tahun lagi lah atau istilahnya hilang dulu data-data kita yang pernah gagal test di Chevron. Baru bisa kita ikut lagi.

Pengalaman test Chevron.

Kalau Psikotestnya, umum-umum saja, dan banyak dijual buku-buku mengenai Psikotest.

Yang penting kalau test di Chevron, harus lulus Psikotest Dulu.

Dan kalau interviewnya :

1. Dalam Bahasa Inggris bila User ada yang bule, tapi bila User orang Indonesia.
biasanya ada Indonesianya juga.

2. Yang hadir dalam wawancara. 1 orang User , 1 orang HRD tapi kadang kala ada 1 orang

User lagi. Tapi berdoa saja Usernya cuma 1 orng.

3. Yang ditanya kebanyakan mengenai uraian kata-kata kita yang tertulis dalam CV.

4. Ada 1 pertanyaan kunci :’Apa kelebihan dan Kekurangan Saudara’
Dan kalau jawabnya terlalu jujur pasti tidak keterima.

5. Berdoa sebelum memulai interview.

6. Interview berjalan minimal 30 ment

7. Dan lain-lainnya bisa di lihat di www.migas-indonesia.com yang berhubungan dengan
cara-cara interview.

itulah pengalaman saya mengikuti test Chevron.semoga ada manfaatnya buat teman-teman yang pengen mencoba ke Chevron.

Intinya test di Chevron itu gampang kok, yang penting tahu cara menjawab pertanyaan yang diberikan pasti lulus deh. Istilahnya tahu tip and triknya.

Walau saya gagal sudah 3 kali di Chevron, tetap saya akan saya coba terus. Mungkin 2012 saya coba lagi. tapi mungkin sudah ketuaan he..he..he…

Mohon maaf bila kurang berkenan.

Tanggapan 5 – Crootth Crootth

Luar biasa sekali Mas Iwan ini

Gagal lagi … coba lagi…

Ingat, tuhan selalu bersama sama orang yang berusaha KERAS

Impossible is Nothing!

Coba terus mas! (tapi mbok yah jangan spesifik dulu maunya di Riau tanpa memberikan fleksibilitas, wong kalau anda diterima di Kalimantan pun bisa saja nanti pindah ke riau dalam beberapa bulan saja… jadi straterginya mending diubah, yang penting masuk dulu, penempatan mah bisa belakangan).

Tanggapan 6 – ivran amriadi

Mas UD

kalau dari pengalaman test di chevron dan akhirnya gabung dengan chevron sih tidak seberat yang dibayangkan, interview sekali terus lanjut medical. kalau yang saya lihat, sepanjang perusahaan tempat kita bekerja sebelunya cukup ‘bonafit’ pasti kepanggil intervew. sudah lebih 25 orang semenjak 2008 teman2 di tempat saya kerja sebelumnya yang joint ke chevron. Tapi memang semuanya tergantung nasib, saya yang CVnya cuman 1 lembar aja dipanggil, terus ada teman yang CVnya sangat lengkap malah ndk kepanggil. Ndk ngerti juga, seleksi administrasinya seperti apa??

Tanggapan 7 – rio.hendiga@akersolutions

Mumpung belum di closed diskusinya, mau nanya bagi yang pernah lowongan di Chevron.

Semisal kita lulusan D3 atau Poltek, namun sudah cukup experience di Migas, dan kita confidence dg lowongan yang requirementnya S1.
Apakah sebaiknya kita melamar posisi tsb walau secara administrasi tidak memenuhi syarat atau kita melamar yang sesuai requirement administrasi ?

Mengingat sayang sekali kalau gugur di level administrasi dan belum sempat ke level interview/test selanjutnya. Sebab kalau gagal, harus nunggu beberapa th lagi untuk ikut lowongan selanjutnya.
Atas sarannya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 8 – Eko Prasetyo

Saya dulu masuk Chevron cuman interview sekali dan tes kesehatan serta probabation period 3 bulan.

Pas interview sore2, dan sempat kaget dalam hati begitu ngeliat yang interview 3 bule dan 3 pribumi. 6 orang bo! Tapi memang masuk interview dengan tenang tanpa beban (sudah punya kerja) dan tanpa target (masuk ya sukur, gak masuk ya masih ada tempat lain) jadinya interviewnya lancar2 saja. Saya sampai sekarang berpikir mungkin itu kuncinya: interview tenang meyakinkan.

Tanggapan 9 – hotma parasian

Pak Iwan masih boleh bersyukur karena sudah 3 kali dipanggil ikut test, saya yang sudah tiga kali apply tak jua di-panggil2, boro2 ikut psikotest apalagi wawancara jadinya saya sudah males melamarnya. Dan kalau saya telusuri semua lamaran yg pernah saya lempar ke oil kompani yg bonapit khusus ditanah air, tak satupun yg pernah mengundang saya utk ikut test, saya tak abis pikir, apakarena nasib jebolan swasta atau hal lain? Tapi saat ini tetap enjoy dgn pekerjaan sekarang sambil tetap melirik peluang yg lebih baik….biar tak bonafide yg penting salary diatas rata2!hehehe.

Tanggapan 10 – murdi santoso

Saya rasa rejeki hanya yg diatas yg mengetahui yg terbaik untuk hamba2 nya.
saya lulusan Physiscs instrumentasi, tapi menurut saya hanya 5% yg meresponse cv saya di oil company sedangkan 95% lainnya yg merespon lebih banyak dari IT company. Maka jadilah saya seorang pekerja IT dengan spesialist database administrator di sebuah telco company.

Tapi masih ada keinginan untuk bisa joint di oil company dengan spesialist yg dikuasai saat ini.

mungkin rekan2 senior di UEA bisa meng-informasikan jk ada lowongan engineer di bidang IT.

Tanggapan 11 – iwan saputra

Pak Hotma,

Terima kash atas pencerahannya.

Kalau mengenai Pak Hotma, ada kemungkinan posisi yang Bapak lamar tidak sesuai dengan backgrund pendidikan Bapak. atau cara penulisan CV yang kurang mantep atau IPK yang kita punya tidak masuk hitungan Client. karena minimal di Chevron , untuk teknik IPK nya min 2,75 , untung IPK saya 2,76 jadi masih bisa kepanggil.

Jadi ada baiknya Bapak melamar sesuai dengan pendidikan Bapak. Tapi pendidikan dengan experiences harus sesuai. Kalau tidak sesuai yach tetap agak susah masuk ke
Oil Company semacam Chevron, Total, dll sebagai tenaga kerja permanent.
Khan kerja itu tidak harus yang permanent tapi yang kontrak-kontrak pun banyak Pak.

Dan satu lagi Chevron kayaknya menerima lulusan S1 dari Universitas yang akredetasi A, kalau B mungkin dipertimbangkan, kalau C kayaknya tidak. Dan saya tidak tahu kraterianya gimana.

Tapi kerja khan nggak harus permanent di Oil & Company, khan bisa kerja kontrak juga.
Coba aja ambil training & exam QC baik WI atau NDT Inspector semacam PCN, CSWIP, API , ASNT agar jalan menjadi Client bisa lebih cepat walau Client Contrak.
karena ada teman, temannya saya, yang S1 Ekonomi tapi dia langsung ubah jalur jadi QC Inspector karena dia ambil training seperti yang dimaksud diatas. Sekarang kalau nggak salah dia ada di Angola.

Tetap semangat Pak!

Mohon maaf bila kurang berkenan.

Tanggapan 12 – hotma parasian

Betul pak, ipk saya tinggal 0.5 lagi menembus angka 3, dan dari akreditasi A from jkt, dan yg saya lamar fifty-fifty, pertama sesuai jalur dan kedua beda jalur, karena cara pertama tidak ada respons maka saya buat cara kedua. Kalau pengalaman saya selama ini mechanical-electrical field tapi cuma sekitar 35% aja yg berbasis oil&gas, artinya yg bisa diterapkan ke oil&gas diatas kertas(based on experiences, lho)! Memang rejeki, umur and so on ada ditangan TUHAN, contohnya saya punya teman yang punya teman yg skng kerja di total, dulunya pernah kerja di btm, kuliah di swasta yg tdk pake akreditasi, malah dia skng yg menentukan utk beberapa tenaga perncis utk diterima ditotal balikppn….ceritanya(entah gelap entah benar)! Dan satu lagi dizaman yg serba cepat informasi& teknologinya, kita yg sudah pada tua, apalagi yg menginjak usia mulai 40-an lebih arifnya mengacu pada job yg lebih kearah manajemen atau design karena lebih membutuhkan penajaman pemikiran dan kebijaksanaan, biarlah yg muda2 yg lebih dinamis mengejar bidang2 seperti yg bapak sebutkan dibawah, dan mohon maaf juga bila tidak berkenan ya pak.

Tanggapan 13 – Alvin Alfiyansyah

Mas-mas,

Rejeki itu sudah ada pada masing-masing orang. Saya kira kuncinya tetap semangat saja Pak. Kalo sudah punya track record yg baik, InsyaAllah oil gas company manapun pasti manggil, Nama universitas tidak akan jadi masalah lagi.
Saya lulusan swasta IPK pas saja, gerilya sejak thn 2003 hunting pingin masuk oil gas company, akhirnya 2007 bisa masuk. Modalnya track record dan networking. Jadi sebagai bangsa besar, lulusan apapun harus menghindari sifat inferior.
Keep it simple aja Pak, kalo tidak jodoh di chevron masih banyak yg lain.
Kalo perlu ikut jejak Pak Sapto, payu di luar – kayaknya asyik juga tuch. Thn 2007 sempat diantara 2 pilihan, mau ke Nigeria atau di oil gas company aja. Karena lebih suka tempe dan sate padang akhirnya masih di sini saja.

Satu kunci yg lain adalah banyak berdoa…

Tidak usah pikirin nama almamater dech jika anda merasa yakin bisa berkompetisi secara professional.

Tanggapan 14 – EG Giwangkara S

Pak UD

‘apakah bermasalah ya kalo S2 apply ke yang requirement S1?’

Ya iya lah pak, jika bapak menggunakan ijazah S2 untuk apply ke posisi utk S1…
Itu yang namanya over qualification..
Kecuali kalau bapak menggunakan S1 nya saja.

Spec pak UD (namanya siapa sih) terlalu tinggi untuk posisi yg dibutuhkan.

Btw, penulisan yg benar adalah ‘attitude’, bukan ‘aptitude’.

Tanggapan 15 – rat_miko

Koreksi pak, udah bener kok test aptitude.. Hehe. Yg artinya test tulis n logika, cmiiw.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya ama chevron rekrutmen via experd… Walaupun background edukasi dan years of working experience nya dah masuk, tp tetep aja klo over experience tidak diterima. Alasannya minder nawarin gaji lah, takut ga cocok kitanya dll yg menurut saya gak logis.

Parahnya, tidak dikabarin per telp or email sampe lebih dari 3bln sampe saya cari tahu sendiri lwt telp mrk via experd.

Kecewa iya, tp saya nothing to loose aja.. Saya udah punya kerja jg tp krn di service co jd pgn cari kerjaan yg punya schedule aja..

Pengen nyoba lg, tp pesimis aja krn skrg dah lbh over experience lg… Bakal ketakutan lg kyknya hehe..

Tanggapan 16 – joko_sosiawan_trikukuh

Pak Giwangkara,

benar aptitude pak..bukan attitude 🙂 aptitude test itu semacam test IQ

Tanggapan 17 – septian77

Pak Giwangkara,

Memang ada yang namanya aptitude test masih termasuk kedalam tes psikologi.

Aptitude test :’examination that attempts to determine and measure a person’s ability to acquire, through future training, some specific set of skills (intellectual, motor, and so on). The tests assume that people differ in their special abilities and that these differences can be useful in predicting future achievements.General, or multiple, aptitude tests are similar to intelligence tests in that they measure a broad spectrum of abilities (e.g., verbal comprehension, general reasoning, numerical operations, perceptual speed, or mechanical knowledge). The Scholastic Assessment Test (SAT) and the American College Testing Exam (ACT) are examples of group tests commonly used in the United States to gauge general academic ability; in France the International Baccalaureate exam (le bac) is taken by secondary-school students. Such tests yield a profile of scores rather than a single IQ and are widely used in educational and vocational counseling. Aptitude tests also have been developed to measure professional potential (e.g., legal or medical) and special abilities (e.g., clerical or mechanical). The Differential Aptitude Test (DAT) measures specific abilities such as clerical speed and mechanical reasoning as well as general academic ability’.

Tanggapan 18 – anggara.darma

Pak Giwangkara,

Saya rasa yang salah bukan karena s2 apply ke lowongan ke s1, mungkin dalam spesifikasi yang dibutuhkan tidak mencukupi, Maaf sebelumnya, kalau misalnya gpa s2-nya tidak mencukupi ada baiknya menggunakan gpa s1. Atau mungkin ada spek lainnya yang berada dibawah yang dibutuhkan.

Btw, test aptitude memang ada, hampir sama dengan test IQ dan sejenisnya.

Tanggapan 19 – akhmad.sahir

‘Aptitude’ nya dah bener koq, ini yaa semacam psiko test/kemampuan alamiah.
sebaiknya Pak UD pake yg S1 nya aja.
Saya juga termasuk yg lagi ngejar kesempatan kedua. Semoga ada hasil yg lebih baik ^_^

Selamat mencoba kembali.

Tanggapan 20 – Eko Drajat, Nugroho

sharing pengalaman beberapa kali interpiu di kumpeni EPC atau KPS, saya lebih PD kalau interpiu dg User ……… biacara relatip lancar menjawab semua sual ………….

justru kalau interpiu dg HR malah sering kedodoran dg berbagai pertanyaan mendasar yg sulit dijawab ….. apa kelemahan ? apa kelebihan ? bagaimana kalau ini ? bagaimana kalau itu ? apa pandangan anda ? bla bla bla ……….. sering belepotan dan belibet jawab nya …….. ha ha ha …….

Kalau psikotest alhamdulillah so far baek2 saja tdk pernah ada masalah ……………….. dan biasa selalu lolos di tahap ini.

Tanggapan 21 – Sketska Naratama

Dear pak Eko

Jika untuk hal-hal seperti email bapak dibawah, memang hal ini domain nya HR. Apa yang saya pahami ini lebih kepada uji mental dan challange kita me-reply dengan dialogis dan elegan. Dalam artian, tidak terlalu polos tetapi juga tetap memperhatikan norman serta kejujuran. Negosiasi diplomatis bukan berarti harus berbohong toh.

Anyway, success to all.