Jika memang ingin memonitoring kebocoran secara terus menerus maka yang bisa dilakukan adalah memasang Leak Gas Detector pada setiap tempat/ruangan yang ingin dipantau, biasanya dengan Fix System. Tapi jika memang hanya untuk menginspeksi, maka bisa menggunakan gas detector yang portable.

Tanya – fahrul rozi

Jika pressure gas alam dalam tekanan 225-250 bar diturunkan ke 80 bar kemudian diturunkan lagi ke 4-6 bar dalam sistem pressure reducer.
bagaimana mendeteksi jika terjadi kebocoran dan bagaimana caranya – apakah ada peralatan yang bisa mendeteksi ?

Kondisi pressure reducer di luar ruangan dan di dalam ruangan.

Tanggapan 1 – And Riawan

PAk, Mohon diskripsi proses nya agar lebih jelas . . .

untuk bocor halus biasanya langsung ke pipa nya: di siram pake air sabun (mungkin sudah jadul tapi msh cukup baik untuk deteksi awal), setelah ketahuan, baru di cek pake gas detektor untuk mengetahui asal gas nya . . .

mohon saran yg lain juga.

Tanggapan 2 – hanif Perdana

Dear Pak Fahrul,

Menurut saya, jika memang ingin memonitoring kebocoran secara terus menerus maka yang bisa dilakukan adalah memasang Leak Gas Detector pada setiap tempat/ruangan yang ingin dipantau, biasanya dengan Fix System.

Tapi jika memang hanya untuk menginspeksi, maka bapak bisa menggunakan gas detector yang portable,,,

Atau saran dari Pak Andi bisa digunakan,,,meskipun memang seperti kata beliau itu cara klasik,,,

Demikian yang bisa saya infokan pak,mohon masukan dari yang lain,,,

Tanggapan 3 รขโ‚ฌโ€œ Aditytianto

Pak Fahrul,

saya rasa kebocoran pada pressure reducer jarang terjadi pak (walaupun kemungkinan itu tetap ada), yang mungkin terjadi di pressure reducer jika tekanan yang lewat disitu melebihi kaapasitas atau tekanan, maka dia biasanya memiliki pressure relief valve.

kebocoran yang mungkin terjadi adalah daerah sambungan, dan carapaling ampuh untuk mengecek bocor ya dengan metode menoleskan air sabun. ๐Ÿ™‚

kalau cara lebih modern ya, dengan gas leak detector yng permanen, walaupun untuk aplikasi outdoor, rsaanya tidak perlu yang permanen.

Tanggapan 4 – fahrul rozi

Dear All

terima kasih atas informasinya memang cara yang paling standard utk tes kebocoran halus ( > 1 mm) dengan buble tetapi khan tiap hari tuh alat mesti diusap2, sedangkan pressure reliev valve pastinya tidak akan bekerja kalau kena bocor > 1 mm.

Gas detector efektif hanya diruangan untuk luar ruangan kurang begitu mendukung, memang kebocoran dibawah > 1 mm layak utk diabaikan ? apakah ada standard yang mengatakan hal tersebut.

Tanggapan 5 – Bondan Caroko

Pressure relief valve yang di mana ini, Pak? Apa hubungannya dengan adanya kebocoran > 1 mm?

Mohon dijelaskan.

Tanggapan 6 – yoga_esa

Dear Pak Fahrul Rozi

Kalau ingin lebih presisi lagi, ada yang namanya Smart LDAR, untuk mendeteksi kebocoran pada fugitive emission,
saya dipabrik bisa mendeteksi kebocoran dari bocor ‘ngowos’ luar biasa sampai bocor sekelas rambut sebesar 12 ppm of HC; bisa juga dibuat videonya untuk memudahkan maintenance group.

cuma masalahnya investasi Smart LDAR ini masih tergolong mahal dan barang langka.

Tanggapan 7 – Aditytianto

Pak Hanif,

bocor halus atau bukan, tetap saja bocor (terlepas dari ukurannya > 1mm atau < 1mm), saya rasa potensi bahaya-nya sama saja.

dan tetap metode air sabun juga tetap akan bisa mendeteksi bocor halus sekalipun. jadi jika pak hanif menemukan bubble pada saat pengetesan, segera buka lagi dan kencangkan sambungan, atau jika hal tersebut terjadi di pressure reducer, segera ganti saja pak.

Tanggapan 8 – And Riawan

Maaf Pak,

kl >1mm berati besar ya? mgkn maksukdnya <1 mm . . . ya seharusnya tetap tidak boleh bocor. Gas isi 3 kilo saja kl ada gelembungnya di tabungnya, langsung saya tukar . .. .

kemarin waktu pemasangan LBCV 28′, kami juga di repotkan dengan bocor halus tersebut karna tidak boleh ada bocor sedikit pun di flens nya . …

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Mas Adi,

Dari mana mas Adi merasakan potensi bahaya akan sama? Potensi bahaya apa saja yang dimiliki oleh kebocoran halus? Apakah perasaan anda didasari oleh argumen yang mumpuni?

1. Apa dasar pengalaman anda? Jika anda berpengalaman dengan fasilitas yang meledak luluh lantak karena sebab tunggal: bocor halus, mohon disebutkan di mana fasilitasnya? kapan kejadiannya?

2. Kecelakaan besar apa sih yang melibatkan kebocoran halus seperti ini yang anda ketahui pernah terjadi di Industri minyak? sebutkan lima diantaranya jika anda mengetahuinya? Agar kami juga bisa belajar dari kecelakaan yang anda ketahui itu.

3. Anda memiliki pengalaman pribadi mengetes kebocoran halus dengan sabun?? Jika yah, di mana dan kapan?? Berapa persen keberhasilannya?? Merk sabunnya apa dan berapa persen sabun terlarutnya? (pertanyaan terakhir sih ga usah dijawab)

4. Anda menyarankan jika mengalami kebocoran halus ada segera membuka sambungan dan mengencangkannya kembali?? Tanpa terlebih dahulu dilihat tekanan sistemnya berapa? Apa anda pikir tekanan 200 barg tidak berbahaya jika sambungan langsung dibuka tanpa melihat tekanan?? membukanya apakah sebagian atau seeluruhnya? Apakah sambungan dibuka begitu saja tanpa menshutdownkan system dan mendepressurise tekanan?

5. Apakah pihak operasi/produksi mengijinkan anda membuka dan mengencangkannya kembali (mengingat ada potensi kerugian karena berhentinya operasi/produksi)??

6. Anda pikir mengganti itu hal yang gampang di industri migas?? jika harga reducernya 0.5 juta dollar, apakah anda akan mengganti begitu saja??

Jadi sebaiknya tidak asal menyarankan tanpa ada bukti pengalaman yang mumpuni dan ilmu yang cukup buat menjawab persoalan…

Mohon maaf jika ada kata kata yang cukup keras, semua dituliskan untuk membantu menyelesaikan persoalan.

Tanggapan 10 – Haryono

Just sharing:

Menyadari adanya hazard dari kebocoran gas, maka di tempat saya bekerja setiap hari dilakukan pengukuran LEL di beberapa titik flange, stem valve dari jarak 0 cm. Apabila di temukan LEL 100 % (CH4 atau H2) maka team maintenance dan inspeksi akan melakukan pengikatan. Jika proses pengikatan sudah maksimal dan masih ada nilai LEL maka dilakukan steaming untuk mendilute gas, tentunya proses produksi tetap berjalan terus.

Tanggapan 11 – Crootth Crootth

Dear Fachrul,

Kebocoran halur adalah bahaya laten yang selalu ada di Industri Minyak (saya tidak tahu industri nya tempat mas Fachrul kerja apa). Beberapa merefer kebocoran ini sebagai fugitive emission, beberapa lagi dengan sebutan lain.

Tidak menjadi penting sebutannya, akan tetapi effect dan impact nya seperti apa?

1. Jika kebocoran halus terjadi di area fasilitas yang terbuka dengan pertukaran udara kurang lebih 100 kali volume fasilitas tersebut per hari, tentu kebocoran halus (saya kurang suka dengan sebutan halus atau besar, mari mengasumsikannya dengan laju kebocoran 0.001 kg/s) seperti ini tidak akan membawa pengaruh besar baik efek (dispersi) maupun impak (akibat radiasai kebakaran (terhadap – manusia maupun aset – jika dispersi gas terpantik sumbernyala) yang ditimbulkan. Tidak percaya? silahkan gunakan software software process safety yang ada di pasaran (PHAST, FRED, Cirrus, CANARY atau lainnya). Kebocoran 1 mm pada tekanan gas alam 4 barg, jika dihitung dengan menggunakan PHAST 6.5.4 anda akan mendapatkan profile ‘dispersi ringan’ sejauh 15 cm dari titik kebocoran saja, artinya jika anda menggunakan gas detektor, jarak yang dimungkinkan agar gas detektor anda mendeteksi kebocoran adalah maksimum 15 cm (untuk gas alam dengan lubang bocoran 1 mm, tekanan 200 bar g, jangkauan dispersinya yang bisa diukur gas detektor pun cuma 120 cm!). Itupun jika alat deteksi gasnya terkalibrasi dengan baik. Impact dari kebocoran seperti ini adalah minim, kalaupun ada api, ia tak akan melukai karena radiasinya yang minim. Ingat saya mengasumsikan kebocorannya berdiameter 1 mm, padahal seharusnya jauh lebih kecil dari ini!!

2. Jika kebocoran terjadi di dalam ruangan tertutup, tentu akan terjadi akumulasi gas jika tidak ada pertukaran udara yang patut. Jika menggunakan pertukaran udara 100 kali per hari, tentu ini bisa dimisalkan seperti terjadi di luar ruangan (lihat penjelasan 1 di atas), jika pertukaran udaranya kurang dari 50 kali per hari misalnya, kemungkinan akan terjadi akumulasi gas, meski harus diverifikasi dengan software dispersion (maaf, yang ini saya belum sempat melakukannya, silahkan lakukan sendiri).

Pengalaman saya kurang lebih 10 tahun sebagai Process Safety Engineer menyimpulkan, bocor bocor halus seperti ini tidak terlalu serius baik efek dan dampaknya, kecuali terjadi di ruangan tertutup.

Jadi untuk apa mengeluarkan usaha berlebihan untuk bocor bocor halus semacam ini??

Kalau bocornya 5 mm, 30 mm, 65 mm, 150 mm dan seterusnya, bolehlah dipikirkan!

Tanggapan 12 – basuki_ririn

Mas Darmawan

Apakah sudah dipertimbangkan jika gas alam mengandung komoponen beracun?? Tq

Tanggapan 13 – Crootth Crootth

Mas Basuki,

Tidak ada pernyataan Sdr. Fachrul yang secara spesifik dan meyakinkan menyatakan gas alam dia mengandung senyawa toxic (contoh: mercaptan dan H2S), kalau mengandung toxic tentu ada simulasi toxic dispersion yang dilakukan.

Silahkan mas Basuki hitung sendiri..tentu saja jika mas Basuki punya datanya…