Tidak ada code atau standard yang mengatur spesifik untuk pemilihan CRA ini dari batas laju korosi nya. Pertimbangan utamanya biasaya lebih ke arah economical (CAPEX dan OPEX), bisa dikonstruksi atau tidak? dan reliability nya.

Tanya – nasrizal

Dear rekan migas,

Mungkin ada yang bisa berbagi ilmu tentang pertimbangan pemilihan material CRA (Corrosian Resistant Alloy), berikut kasusnya ;

Saya akan meng-assess material dengan kondisi dimana NACE MR0175 sudah harus diterapkan, namun saya belum tahu dimana batasan ketika CS sudah tidak dapat diaplikasikan dan harus memakai CRA.

Ketika coba saya hitung laju korosinya dengan menggunakan formulasi de Waard and Milliams, didapat prediksi laju korosi sebesar 1.4 mm/y, dengan design life time selama 20 years, tentunya CA yang diperlukan akan sangat besar sekali. Nah sebenarnya dimana batasan laju korosi sehingga CS sudah tidak memadai lagi dan beralih ke CRA ?

Terima kasih atas tanggapannya.

Tanggapan 1 – viko yuza diputra

Saya hanya ingin sdikit menambahkan…

utk pemilihan material suatu equipment (pipeline, piping, atau facilities equipment), biasanya kita memprediksikan berapa kira2 laju korosi yg akan terjadi akibat interaksi equipment dengan fluida yg dibawanya (utk internal corrosion). beberapa metode prdiksi korosi bisa digunakan utk mnghitung laju korosi ini, sprti metode DeWaard- Milliams yg pak Rizal gunakan atau bbrpa software lain sprti Norsok M-501 atau yg lainnya.

Dari penjelasan Pak Rizal mngenai hasil CR 1.4 mm/yr, apakah CR ini sudah memperhitungkan inhibitor availability nya atau belum? kalau belum, mubjin dgn mengaplikasikan inhibitor dgn inhibitor availability nya 95%, mungkin prediksi CR nya bisa diturunkan.

Hasil hitungan saya, dgn menggunakan residual corrosion rate (laju korosi yg diinginkan stelah penggunaan inhibitor) sebesar 0.1 mm/yr dan inhibitor availability nya 95%, maka CR nya akan menjadi:

0.1*0.95+1.4*(1-0.95) = 0.165 mm/yr

shingga CA nya utk 20 tahun design life adalah 3.3mm atau dibulatkan ke atas 4mm. (klo mnurut saya masih memungkinkan utk menggunakan CS, walaupun mungkin perlu dilakukan perhitungan ulang utk CR nya dgn mempertimbangkan apakah ada faktor lain yg bisa menyebabkan CR yg sbenarnya bisa tinggi, sperti adanya Acetic acid, atau mercury, bisa dilihat dari hasil water analysis nya)

Mengenai batasan kapan penggunaan CRA dibutuhkan, sebenarnya tergantung pada laju korosi nya dan dan dari sisi cost analysis sperti yg dijelaskan pak Yusuf (CAPEX dan OPEX).

Sbagai contoh, penggunaan CRA lebih efektif daripada penggunaan CS+3mm CA+inhibitor utk pipa spanjang 3 km. Slain itu pemakaian CRA juga bisa lebih murah apabila kita memakainya sbagai CRA lined/clad pipe. tapi utk pipa yg sangat panjang, dibutuhkan cost analysis yg lbih dlm utk pemilihan material ini.

Jadi ketika memutuskan ingin menggunakan CRA, yg perlu dipertimbangkan adalah efektifitas perbandingan antara cost penambahan CA (maksimum skitar 6-8 mm) pada CS utk panjang pipa yg dibutuhkan (CAPEX) + biaya penggunaan inhibitor (OPEX) dibandingkan dgn cost pemakaian CRA (CAPEX saja). Kalau dari hasil cost analysis, CRA lebih hemat ya pemakaian CRA mungkinlebih tepat.

Catatan: penjelasan diatas utk kondisi general corrosion yg menghasilkan laju korosi yg tinggi akibat P, T, CO2 yg tinggi, dan juga kmungkinan adanya organic acids atau mercury. Apabila ada H2S, maka NACE MR0175 mungkin harus dtiterapkan krena CS rentan thadap cracking.

Pembahasan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Juli 2010 ini dapat dilihat dalam file berikut: