Vibrasi pada frekuensi 1xrpm bisa di sebabkan oleh unbalance & misalignment. Biasanya mis-alignment akan menghasilkan vibrasi pada arah axial yg besar pula.

Tanya – Bimo Pratomo

Rekan2x Migas Yth,

Kami mempunyai ‘centrifugal pump’ dengan motor 200 HP – 1500 RPM sebagai penggerak. Fluida yg dipompa adalah air.

Pompa dan motor mengalami vibrasi yg besar (mencapai 18 mm/sec) pada arah vertikal. Sedangkan vibrasi pada arah horisontal hanya 3 – 5 mm/sec.

Kami sudah melepas kopling dan menjalankan motor saja, dan hasilnya vibrasi di motor kecil, berkisar 1-2 mm/sec.

Spectrum FFT dari instrument vibration analysis menunjukkan amplitude yg tinggi pada 1X RPM. Apakah mungkin ada un-balance pada impeller pompa ? Dan kalau ada un-balance di impeller, kenapa vibrasi yg terbesar hanya pada arah vertikal saja (tidak pada vertikal dan horisontal) ? Atau ada penyebab lain ?

Mungkin rekan2x ada yg pernah mengalami hal tersebut dan bisa share di milis ini ?

Terima kasih,

Tanggapan 1 – Novilham m

Pak Bimo,

Vibrasi pada frekuensi 1xrpm bisa di sebabkan oleh unbalance & misalignment..

biasanya mis-alignment akan menghasilkan vibrasi pada arah axial yg besar pula..(CMIIW) berdasrkan informasi bapak vibrasi bukan bersumber dari motor, melainkan dari pompa itu sendiri yg perlu dilakukan:

1. Coba dilakukan alignment ulang dimana max tolerance (as per vendor recomendation untuk toleransinya atau bisa merefer to API RP 686).

2. Check vibrasi di arah vertikal, horizontal dan axial, dan coba lihat vibrasi di frekuensi nxrpm.

3. Jika vibrasi masih tetap ada dan hanya ada di 1 rpm pada posisi Horizontal dan vertical kemungkinan adalah unbalance, lakukan impeller balancing & check run-out shaft.

4. Jika vibrasi tidak hanya di 1 rpm, melainkan juga di n x rpm kemungkinan vibrasi berasala dari blade impeller..contact vendor untuk minta advisenya.

Tanggapan 1 – Roni.Hidayat.Komara@Newmont

Pak Bimo,

Itu pernah terjadi pada salah satu fasilitas water supply kami beberapa waktu yang lalu, 4 pump di pontoon. Kasusnya sama dimana paling dominant adalah base / structural weakness, dimana yang ‘berat’ bagi kami waktu itu ‘menyadarkan’ pihak engineering construction bahwa itu bersumber dari mechanical looseness tsb. Setelah redesign, stiffener yang didesain sedemikian rupa untuk menambah rigid struktur/ pondasi, alhasil
alhamdulillah langsung running sangat smooth. Sesuai referensi yang ada dari Technical Associate of Charlotte yang disadur oleh ASNT sebagai standar baku, 1X hor > 1X ver berarti looseness dan 1X hor kurang dari sama dengan 1X ver berarti unbalance pada pengukuran velocity.
Thanks

Tanggapan 2 – Abdul Qodir

Pak Bimo,

Hal yang tersebut sering terjadi di plant kami untuk pompa centrifugal, ditemukan 1X RPM yang tinggi kadang dominan di arah vertikal, kadang di horisontal dan kadang axial. Hal yang paling sering kami temukan dari 1X RPM pada pompa sentrifugal adalah mechanical looseness seperti baut support kendor maupun patah, base frame rusak/patah. Oleh karena itu jika kami menemukan kasus 1X rpm yang tinggi baik pd arah vertikal, horisontal maupun axial prosedur yang kami lakukan adalah memeriksa kondisi baut, base frame, pondasi apakah ada yang kendor, retak atau patah. Kemudian memeriksa kondisi kopling apakah ada yang sobek atau aus (untuk jenis tyre coupling), terus alignment. Jika baut, frame, kopling dan alignment tidak ada masalah, maka kami lanjutkan ke pemeriksaan soft foot.

Tanggapan 3 – Anas Rosyadi

Pak Bimo,

Rule of thumb : untuk kasus mesin dgn posisi horizontal di mana tidak ada perbedaan stiffness yang jauh antara vertikal dan horizontal, pada umumnya vibrasi horizontal > vibrasi vertikal. Maksimum rasio vibrasi H/V kurang dr 3.

Pada kasus di mana vibrasi vertikal lebih besar daripada horizontal ada kemungkinan structural weakness related problem ataupun directional resonance atau excessive clearance pd sleeve bearing. Stiffness bisa berubah karena beberapa hal : looseness, karat, baut kendor dll. Untuk memastikannya, bapak bisa ambil pengukuran data lebih lanjut :

1. Visual inspection pada pondasi

2. Ambil data fasa (loseness akan menghasilkan fasa yg tdk stabil)

3. Bump test (utk melihat natural frequency)

4. ODS (Operational Deflection Shape), untuk memvisualisasikan gerakan/vibrasi mesin. Dgn ODS akan terlihat jelas bagaimana mesin (atau bagian mesin) bergoyang pada kondisi operasinya.

5. Coba cek di pipanya, apakah ada excessive piping strain (terjadi bila flange / konduit tidak match).

Semoga membantu.

Tanggapan 4 – Zainal Abidin

Pak Anas Yth,

Ini sedikit koreksi:

Rotor horizontal yang ditumpu oleh bantalan fluida (sleeve bearing) memiliki kekakuan vertical yang lebih besar dibandingkan kekakuan horizontalnya, akibatnya getaran arah horizontal akan lebih besar dari getaran arah vertical (kecuali pada 4 pad jounal bearing dengan posisi pada 45 derajad).

Rotor horizontal yang ditumpu oleh bantalan gelinding (jounal bearing) memiliki kekakuan vertical yang lebih besar dibandingkan kekakuan horizontalnya, tetapi karena kekakuan bantalan gelinding cukup besar, maka kemungkinan arah yang menghasilkan getaran besar tergantung pada kekakuan struktur penyangganya.

Yang lain saya setuju 100%.