Kalau kebutuhan daya mekanis membutuhkan motor dengan kapasitas 7.5hp secara kontiniu, maka 5hp motor (standard motor) yang ditawarkan sebaiknya tidak bapak pilih. Pertimbangkan juga torsi yang harus dibangkitkan oleh motor saat starting-full loaded, bandingkan kebutuhan mechanical dengan technical spec. dari motor yang ditawarkan, idealnya kapasitas motor harus lebih tinggi.

Tanggapan 1 – antonius_mprjkt

Mohon advice dari rekan2 electrical engineer buat kasus dibawah ini :

ada kebutuhan elektrik motor dengan spesifikasi

7.5hp 380v 50hz 1425rpm SF 1.00 insulation class F explotion proof framesize 184T

ada penawaran dari dua brand dengan spesifikasi sbb:

1. 5hp 380v 50hz 1425rpm explotion proof insulation H
(tem rise dinaikkan dari 80 derajat C menjadi 105 derajat C ) frame 184T

2. 7.5hp 380v 50hz 1425rpm explotion proof insulation F frame184T

mohon advice dari rekan2 electrical engineer atas kasus diatas , apakah memungkinkan pilihan pertama untuk aplikasi di oil & gas ?

Untuk aplikasi di hazardous area , batasan toleransi overheating yang hingga 105 derajat C masih diperkenankan?

Terima kasih atas masukan rekan2.

Tanggapan 2 – DANIEL SOMBE

Halo Pak Antonius,

Saya coba analisa berdasarkan informasi dari bapak ya, (Asumsi saya spesifikasi itu sudah melalui proses engineering calculation ya).

Kebutuhan Motor berdasarkan Specification:

Daya Motor = 7.5 hp

Tegangan System = 380 V

Frequency System = 50 Hz

Putaran per menit = 1425 rpm

Service Factor = 1

Insulation Class = F

Nema Frame Size = 184 T

Penawaran 1

Daya Motor = 5 hp

Tidak Sesuai karena daya motor dibawah besaran yang ditetapkan oleh spesifikasi.

Yang di khawatirkan adalah daya tersebut tidak dapat “mengangkat” beban entah itu pada saat normal, atau lebih lagi pada saat starting atau pada saat peak load.

Tegangan System = 380 V, sesuai dengan spesifikasi

Frequency System = 50 Hz, sesuai dengan spesifikasi

Putaran per menit = 1425 rpm, sesuai dengan spesifikasi

Insulation Class = H, lebih besar dari Specification

Katakanlah dengan mengacu pada Nema standard, ambient temperature = 40 oC, kenaikan temperaturnya = 125 oC, sehingga maksimum winding temperaturnya adalah =125 + 40 = 165 oC. Kadangkala masih ada marginal yang biasa disebut hot spot untuk class H sekitar 15 oC sedangkan untuk class F sekitar 10 oC.

Insulation class ini kita perlukan untuk menjaga motor tetap bekerja tidak melebihi limit temperature isolasinya karena akan berpengaruh pada efisiensi operasi dan umur pemakaian.

Nema Frame Size = 184 T, Sesuai dengan spesifikasi

Enclosure = Explotion Proof, sesuai dengan Specification

Penawaran 2

Daya Motor = 7.5 hp, sesuai dengan spesifikasi

Tegangan System = 380 V, sesuai dengan spesifikasi

Frequency System = 50 Hz, sesuai dengan spesifikasi

Putaran per menit = 1425 rpm, sesuai dengan spesifikasi

Insulation Class = F, Sesuai dengan Specification

kenaikan temperaturnya = 105 oC, sehingga maksimum winding temperaturnya adalah =105 + 40 = 145 oC

Nema Frame Size = 184 T, Sesuai dengan spesifikasi

Enclosure = Explosion proof, sesuai dengan spesifikasi

Kembali ke diskusi kita,

…” , apakah memungkinkan pilihan pertama untuk aplikasi di oil & gas ?”…

Menurut saya memungkinkan karena memenuhi standard dimana enclosure nya adalah Explosion Proof. Sepengetahuan saya enclosure jenis ini memberikan jaminan dimana gas atau vapor tidak akan masuk kedalam enclosure serta semisal terjadi spark atau short di dalam winding atau di terminalnya maka enclosure jenis ini menggaransi bahwa energinya dapat diredam sehingga paparan radiasi yang sampai diluar sudah tidak sanggup lagi untuk meng ignite gas atau vapor di sekitar tempat tersebut.

…” Untuk aplikasi di hazardous area , batasan toleransi overheating yang hingga 105 derajat C masih diperkenankan?”…

Consideration tentang temperature di dalam pemilihan equipment yang akan di install di hazardous area, menurut saya karena adanya kekhawatiran temperature equipment tersebut ketika beroperasi normal atau saat peak atau gangguan dapat mencapai nilai temperature yang meng ignite gas atau vapor di sekitarnya. Seperti kita ketahui bersama ignition temperature gas atau vapor berbeda2 menurut jenisnya.

Secara umum temperature class di bagi kedalam beberapa class sesuai dengan maximum temperature yang diijinkan a.l: T1, T2, T3, T4, T5, dan T6.

Untuk lebih jelasnya silahkan download di:

http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=168&Itemid=42

Data ini yang belum tercantum di spesifikasi bapak.

Setau saya sih, pemakaian T3 dari sisi teknikal dan ekonomis umum di dapatkan di Oil & Gas kecuali untuk kebutuhan2 yang spesifik.

Semakin besar kemampuan enclosurenya meredam panas tentu semakin baik akan tetapi akan diiukuti dengan kenaikan harga yang mungkin “gila2 an kali ye…”

Selama maximum temperature yang dapat dihasilkan oleh surface equipment lebih kecil dari rating ignition temperature gas atau vapor disekitarnya maka menurut saya itu masih layak. Secara practical, sering di temukan kondisi proteksinya di buat lebih besar dari spec, katakanlah dengan T2 sudah mencukupi tetapi yang di purchase adalah T3. Tentu pertimbangannya sudah dikaji dari beberpa aspek. Aspek technical, cost, peraturan, keselamatan, asset, dll.

Silahkan download di:

http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=168&Itemid=42

Bapak bisa diskusi juga dengan teman2 Instrument, Process Engineer atau Process Safety dengan masalah ini. Lebih banyak diskusi akan lebih baik.

Selamat berdiskusi ya Pak…

Kalau ada saran, koreksi, tambahan, monggo di share..

Tanggapan 3 – puput aryanto

Tambahan dikit dibawah……

…….Kembali ke diskusi kita,

…” , apakah memungkinkan pilihan pertama untuk aplikasi di oil & gas ?”…

Menurut saya memungkinkan karena memenuhi standard dimana enclosure nya adalah Explosion Proof. Sepengetahuan saya enclosure jenis ini memberikan jaminan dimana gas atau vapor tidak akan masuk kedalam enclosure serta semisal terjadi spark atau short di dalam winding atau di terminalnya maka enclosure jenis ini menggaransi bahwa energinya dapat diredam sehingga paparan radiasi yang sampai diluar sudah tidak sanggup lagi untuk meng ignite gas atau vapor di sekitar tempat tersebut.

Koreksi dikit, proteksi jenis explosion proof Ex’d’ adalah jenis proteksi dengan selungkup (enclosure) yang sanggup menahan ledakan dan membatasi dampak ledakan sehingga tidak menyebar ke lingkungan di luar (yang umunya berupa gas/debu berbahaya alias hazardous area). Jadi selungkup ini masih memiliki celah sehingga gas/debu bisa masuk, tapi kalau terjadi ledakan dampaknya tidak akan membahayakan lingkungan di luarnya. Metode ini adalah metode awal proteksi terhadap ledakan (explosion protected) yang diterapkan pada peralatan listrik, metode ini awalnya digunakan pada tambang bawah tanah (underground mining).

Jenis selungkup motor menurut NEMA sebenarnya terbagi atas

OPEN : Open Drip Proof (ODP), Open Drip Proof Guarded (ODPG), Wheather Protected Type I atau II (WP I / WP II)

TOTALLY ENCLOSED : TE Non Ventilated (TENV), TE Fan Cooled (TEFC), TE Air Over (TEAO), TE Fan Ventilated / Blower Cooled (TEFV / TEBC), TE Pipe Ventilated (TEPV), TE Air-Air Cooled (TEAAC), TE Water-Air Cooled (TEWAC).

Umumnya, untuk daerah berbahaya, jenis yang digunakan adalah TEFC yang tersertifikasi untuk penggunaan di daerah berbahaya. Lembaga sertifikasi untuk motor NEMA adalah UL / FM / CSA, karena itu motor jenis explosion proof biasanya disertai label ‘UL Certified’. Namun tidak semua motor NEMA explosion proof adalah TEFC dan sebaliknya. Misalnya untuk motor yang dikendalikan inverter ( VFD / ASD ), bisa berupa TEFV untuk menjaga suhu motor tetap dingin meskipun motor dioperasikan pada putaran rendah.

Demikian, sedikit tambahan, kalau ada komentar / koreksi lagi, monggo lho…..

…” Untuk aplikasi di hazardous area , batasan toleransi overheating yang hingga 105 derajat C masih diperkenankan?”…

Consideration tentang temperature di dalam pemilihan equipment yang akan di install di hazardous area, menurut saya karena adanya kekhawatiran temperature equipment tersebut ketika beroperasi normal atau saat peak atau gangguan dapat mencapai nilai temperature yang meng ignite gas atau vapor di sekitarnya. Seperti kita ketahui bersama ignition temperature gas atau vapor berbeda2 menurut jenisnya.

Secara umum temperature class di bagi kedalam beberapa class sesuai dengan maximum temperature yang diijinkan a.l: T1, T2, T3, T4, T5, dan T6.

Untuk lebih jelasnya silahkan download di:

http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=168&Itemid=42

Data ini yang belum tercantum di spesifikasi bapak.

Setau saya sih, pemakaian T3 dari sisi teknikal dan ekonomis umum di dapatkan di Oil & Gas kecuali untuk kebutuhan2 yang spesifik.

Semakin besar kemampuan enclosurenya meredam panas tentu semakin baik akan tetapi akan diiukuti dengan kenaikan harga yang mungkin “gila2 an kali ye…”

Selama maximum temperature yang dapat dihasilkan oleh surface equipment lebih kecil dari rating ignition temperature gas atau vapor disekitarnya maka menurut saya itu masih layak. Secara practical, sering di temukan kondisi proteksinya di buat lebih besar dari spec, katakanlah dengan T2 sudah mencukupi tetapi yang di purchase adalah T3. Tentu pertimbangannya sudah dikaji dari beberpa aspek. Aspek technical, cost, peraturan, keselamatan, asset, dll.

Tanggapan 4 – puput aryanto

Kalau pertanyaannya mungkin apa enggak, jawabannya mungkin.

Batasan toleransi overheating dari motor jelas tergantung insulation class-nya. Kalau H bisa sampai 180 C (max ambient + temp rise).

Yang perlu diperhatikan, berapa temperature class motor tersebut dan aplikasi di hazardous area seperti apa. Pastikan temperature class motor (dan spesifikasi motor tersebut) lebih kecil dari temperature class hazardous area.

Tanggapan 5 – bontor edison

pak Antonius,

kalau kebutuhan daya mekanis membutuhkan motor dengan kapasitas 7.5hp secara kontiniu, maka 5hp motor (standard motor) yang ditawarkan sebaiknya tidak bapak pilih. tolong pertimbangkan juga torsi yang harus dibangkitkan oleh motor saat starting
-full loaded, bandingkan kebutuhan mechanical dengan technical spec. dari motor yang ditawarkan, idealnya kapasitas motor harus lebih tinggi.

Untuk kebutuhan winding insulation class & contruction, opsi nomor 2 sudah memenuhi requirement bukan?

kalau motor ini akan dikendalikan oleh vsd/vvvf drive, sebaiknya bapak memastikan bahwa motor yang akan dibeli adalah motor yang didesign untuk itu namun abaikan saja kalau motor ini akan dihasut secara konvensional semisal direct on line, star/delta, etc..

semoga membantu.

Tanggapan 6 – kuwat riyanto

Pak Antonius,

Saran pak Bontor saya setuju, mengingat pembebanan yang kontinyu. untuk aplikasi hazardous area tergantung dari spesifikasi motornya TEFC atau TENV, kalau untuk temp 105 degree Celsius itu kan maksimum yg diijinkan berdasarkan insulation class motor tersebut. untuk lebih detail silahkan hub lewat japri saya ada panduan memilih motor.

Tanggapan 7 – Rachmadi Indrapraja

Salam kenal Pak Kuwat,

Berkaitan dengan email bapak dibawah..mohon kira nya saya juga ikut kebagian sharing ilmu pemilihan motor..Terima kasih.

Tanggapan 8 – kuwat riyanto

Pak Antonius,

Saran pak Bontor saya setuju, mengingat pembebanan yang kontinyu. untuk aplikasi hazardous area tergantung dari spesifikasi motornya TEFC atau TENV, kalau untuk temp 105 degree Celsius itu kan maksimum yg diijinkan berdasarkan insulation class motor tersebut. untuk lebih detail silahkan hub lewat japri saya ada panduan memilih motor.

Tanggapan 9 – ahyan

Pak Antonius,

Mau menambahkan neeh, kalo explotionroof adalah type protection dan permited class nya Class 1, divisi 1 dan untuk permited groupnya mulai dari A,B,C,D….serta perlu dilihat untuk temperature classnya kalo berdasarkan EU, IEC max 100 degree C adalah T5 kalo NEC 500,CEC Anex J adalah T4A itu max 120 degree C. Jadi bisa dilihat class dari motor tersebut berdasarkan Zone 0 dan Zone 1.