Penyebab terjadinya fluktuasi tegangan karena ketidakmampuan PLN untuk menangani beban-beban motor yang menggunakan belitan dan induksi elektromagnetis. Jika motor menarik beban, Beban akan bersifat induktif dan butuh supplai VAR dari PLN, namun jika tak terpenuhi maka tegangan akan drop kemudian tegangan akan naik lagi ketika beban motor berkurang atau lepas.

Tanya – Nuklindana Darma

Dear Rekan2,

Saya yg awam thd permasalahan electrical ini ingin bertanya :

Singkat cerita di suatu daerah di pulau jawa, supply listrik dari PLN sering mengalami fluktuasi tegangan.

Sehingga mengakibatkan suatu pabrik sering mengalami permasalahan di beberapa equipment listrik
terutama yg berada di ‘bagian hulu’ dari sistem listrik di pabrik tsb.
Mulai dari capacitor bank yang meledak hingga kerusakan pada fuse cubicle outgoing.

Pabrik tersebut tidak menggunakan peralatan elektronik pada mesin2 produksinya.
Mainly adalah motor2 induksi yg ‘bandel’ thd fluktuasi tegangan.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah :

Apakah pemasangan voltage regulator dapat menjadi solusi dr permasalahan di atas?

Terima kasih,

Tanggapan 1 – ahyan a.sofyan1977

Pak Nuklin Dana,

Untuk industri pemakaian motor berdaya besar sangat mempengaruhi stabilitas tegangan terutama di peak loadnya.

Pengaruhnya ini dirasakan oleh installasi penerangan dan office yang memakai satu fase Line-Neutral.

regulator adalah salah satu stabilizer yang baik untuk perlengkapan electronic per item, yang lebih stabil dlm satu group office dilengkapi UPS
untuk melayani satu grup.

Tanggapan 2 – DANIEL SOMBE

Pak Nuklin,

Saya juga orang yang awam di dalam masalah ini….

Saya hanya mencoba memancing ahlinya untuk memberikan sumbangsih pemikiran atas kasus ini…

Adanya fluktuasi tegangan di dalam sistem dapat berupa short duration atau long duration. Short duration merupakan kondisi yang normal tapi terlihat seolah2 merupakan gangguan akibat phenomena2 di dalam khazanah kelistrikan. Untuk kondisi ini sistem proteksi tidak perlu bekerja. Short duration ada juga yang berupa Voltage Sag, untuk kondisi ini biasanya brekaer kerja. Kemudian, pada kondisi long duration seperti overvoltage atau undervoltage tentu alat proteksi akan bekerja jika sudah mencapai Time Operatingnya sehingga dianggap gangguan yang perlu di putuskan. Tolak ukurnya adalah variasi terhadap tegangan RMS dan waktu lebih dari 1 menit (Refer: ANSI C84.1). PLN sebagai pemasok kelistrikan di Indonesia tentu punya aturan main di dalam menjalankan bisnisnya bersama dengan pembangkit swasta lain dan konsumennya.
Katakanlah bapak sebagai pihak pelanggan 20 kV, disepakati bahwa PF yang sampai ke sisi Gardu PLN katakanlah minimum 0.8. Jika ternyata yang sampai di sisi Gardu bapak lebih kecil dari 0.8 berarti bapa punya hak untuk komplen ke PLN. Begitupun sebaliknya jika operational pabrik bapak membuat PF drop sampai katakanlah 0.75, sebagai pelanggan menengah bapak akan kena denda dari PLN. Biasanya untuk memperbaiki PF bapak meninstall Kapasitor bank. Denda itu perlu di mengerti karena semakin kecil PF di tempat operational bapak, akan membuat energi yang perlu dibakar di sisi pembangkit akan jauh lebih besar.

Sistem kelistrikan yang di gunakan di Indonesia menggunakan sistem Interkoneksi dari beberapa sistem pembangkit yang menyuplai kedalam suatu Ring yang terdiri dari Transmisi dan Distribusi. Kelebihannya karena dapat di manage menjadi sistem yang ekonomis yang di sesuaikan dengan load deman dan trending load. Tetapi kekurangannya adalah fluktuasi akan sering terjadi. Istilah fluktuasi ini tentu sudah dipikirkan oleh teman2 PLN yang expertise didalam dunia kelistrikan.
Mungkin yang perlu kita lakukan adalah mengimprove sistem kelistrikan sendiri, misalnya kita sinkronkan. Kalau parameter dari incoming PLN dibawah requirement kita bisa alihkan ke sistem lokal kita yang di supplai dari pembangkit sendiri. Atau misalnya ada maintenance atau pemadaman dari PLN.
Memang buntut2 nya adalah cost. Tetapi, bukankah untuk investasi itu hanya bahagian kecil dari keseluruhan sistem? Bukankah yang paling besar itu operational costnya??

Wah…sory pengantarnya terlalu banyak..

Kembali ke diskusi…

..Yang menjadi pertanyaan saya adalah :

Apakah pemasangan voltage regulator dapat menjadi solusi dr permasalahan di atas? …

Saya agak ragu kalau dikatakan voltage regulator dapat menjadi solusi?? Kalau dikatakan salah satu upaya saya bilang Iya.
Saya sendiri belum berani mengidentifikasi apa iya akar permasalahannya semata2 dari fluktuasi tegangan. BIsa juga kan fluktuasi tegangan itu hanya follower??
Sebagai contoh, naiknya tegangan dapat diakibatkan switching beban misalnya ada beban besar yang di lepas dari sistem atau misalnya mengenergise capacitor. Kondisi seperti ini bisa juga di akibatkan karena kesalahan tap setting di sisi transformer.

Capacitor Bank sampai terbakar dan beberapa alat di bagian hulu rusak, termasuk Fuse juga terbakar…..Bagaimana kalau kita challenge pertanyaannya: ‘ Apa iya Fuse Power di sisi Cubicle Out (LBS) sampai terbakar karena fluktuasi ??’

Kenapa waktu Capacitor Bank dan beberapa equipment terbakar kok alat proteksinya tidak beroperasi?? Harusnya jika itu pure karena gangguang kelistrikan harusnya sistem proteksinya kerja dunk??

Mudah2an diskusinya semakin menarik ni…

Kalau ada salah mohon dikoreksi kalau ada keliru mohon diluruskan…

Tanggapan 3 – abdul aziz

Sekedar informasi , biasanya PLN kalau di daerah terpencil memang menambah AVR ( Auto Voltage Regulator ).Sebab saya pernah memasang di daerah Jawa,dan Sumatera Barat. Memang pak,pemasangan AVR sangat membantu kestabilan tegangan. Jadi kalau input tegangan kurang ,mereka akan mengatur sendiri tegangannya. Jadi kalau tegangan inputnya 17 kV atau 21 kV, AVR akan mengatur menjadi 20 kV.AVR yang saya pasang outputnya ada yang 100 A dan 200 A.Mungkin kalau untuk keperluan pabrik agak lebih besar.

Tanggapan 4 – Saleh Rustam

Penyebab terjadinya fluktuasi tegangan krn ketidakmampuan PLN untuk menangani beban-beban motor yg menggunakan belitan dan induksi elektromagnetis. Jika motor menarik beban, Beban akan bersifat induktif dan butuh supplai VAR dari PLN, namun jika tak terpenuhi maka tegangan akan drop kemudian tegangan akan naik lagi ketika beban motor berkurang atau lepas. Kalau dari ceritanya, wah kayaknya parah betul nih. Untuk meredakan fluktuasi tsb, saran dari teman-2 menggunakan AVR cukup baik, namun kebanyakan AVR responnya agak lambat terkecuali kalau AVRnya menggunakan teknologi elektronik (Thyristor). Untuk pabrik dgn kapasitas power yg besar, saya pernah lihat teknologi yg menggunakan Thyristor sebagai stabilizer seperti teknologi DC link dan Smart Predictive Line Controller. Teknologi ini banyak dipakai pd sistem yg menggunakan electric arc furnace yg notabene teganganx sangat fluktuatif akibat arc di furnace. Tegangan line mampu distabilkan terhadap fluktuasi.

Tanggapan 5 – Dedy edy_rakhmat

Dear Rustam & All,

Benar apa yang disampaikan oleh pak Rustam, PLN saat ini hanya mengejar quantitas saja sedangkan kualitas diserahkan kepada masing-masing pemakai sehingga pemakai harus memperbaiki kualitas dari listrik PLN agar perangkat elektronik yang menggunakan listrik akan aman dari kerusakan. Semakin canggih perangkat elektronik yang digunakan maka kebutuhan kualitas listrik untuk menjalankan perangkat tersebut semakin besar.

Tapi jangan takut pak, sudah ada penemuan teknologi untuk meningkatkan kualitas listrik hasil penemuan & pengembangan anak-anak bangsa Indonesia (temen-teman ITB) yaitu ETS- Electricity Treatment System dan hanya satu-satunya di Indonesia bahkan di Dunia yang memiliki 5 fitur dalam 1 perangkat berikut ini :

1. Over Voltage Protector : Melindungi adanya tegangan ekstrim (petir) / liar dari PLN.

2. Electric Surges Protector : Melindungi pada saat listrik dari PLN hidup mati.

3. Voltage Stabilizer : Menstabilkan tegangan, 160V ke 220V atau 240V ke 220V

4. Ground Quality Improver : Memperbaiki kualitas nilai Ground / Pentanahan dibawah 1va

5. NLP / Network Line Protector : Melindungi gangguan pada kabel jaringan data.

Bahkan saat ini sedang dikembangkan perangkat yang bisa menstabilkan tegangan dibawah 100V. Teknologi ETS ini sudah dipatentkan dan sudah terjual sebanyak 1000 unit. Kita harus bangga dengan hasil penemuan teknologi anak bangsa Indonesia. Kapasitas dari ETS ini mulai 500 VA sampai Unlimited. Saat ini kami sedang mengerjakan pesanan beberapa unit kapasitas besar untuk rumah sakit & perusahaan printing dengan kapasitas diatas 30KVA.

Alat ini sudah terbukti bisa melindungi perangkat elektronik dari kerusakan yang disebabkan kualitas listrik yang kurang baik serta dari rambatan PETIR dan SURGE. Alat ini sangat berbeda dengan perangkat proteksi yang sudah beredar dipasaran seperti UPS, AVR, IT-Isolator Transformer, ARESTER dll.

JIka temen-temen ingin mengetahui lebih jauh mengenai produk ini dan ingin presentansi serta DEMO Produk dapat menghubungi bapak Edy di 6221-7666844 atau 0817177150. Terlampir adalah brosur dari produk ETS (Asli hasil karya anak bangsa).

Demikian sharing Informasi yang dapat disampaikan terima kasih atas perhatiannya.